Antara Cinta Dan Sahabat (Cinta Segi Tiga)

Antara Cinta Dan Sahabat (Cinta Segi Tiga)
Persiapan pemakaman sang ibu..


__ADS_3

Kabar yang mengejutkan pun yang di berikan oleh dokter membuat Mentari merasakan kehidupannya seolah berhenti sejenak, ia meyakinkan dirinya sendiri yang tidak salah saat mendengar kabar tersebut.


Mentari memegang tangan Dokter itu dan meyakinkan lagi dan bertanya berulang-ulang kali.


"Dokter gak salah kan, dokter jangan bercanda, ibu saya baik-baik saja saat saya tinggalkan sebentar," sahut Mentari yang menanyakan perihal informasi tentang ibunya.


Dokter itu pun menggelengkan kepalanya tanda ia benar menyampaikan informasinya pada keluarga pasien, ia sebenarnya merasa janggal saat memeriksanya, ibu Tiara sebelumnya sudah lebih baik saat memeriksanya lebih dulu saat masih ada Mentari yang menemani dirinya.


"Itu benar, Nona. Saya sudah memastikannya bahwa pasien yang bernama ibu Tiara sudah meninggal dunia," ucap dokter lagi untuk meyakinkan pihak keluarganya.


Mentari menggelengkan kepalanya tanda tidak setuju, ia berlari dan meninggalkan Dokter tersebut.


"Bu... Bangun, ibu..." panggil Mentari pada sang ibu yang sudah di tutup dengan kain putih. Mentari yang tidak kuat saat sang ibu terbujur kaku dengan wajah yang pucat. Ia merutuki dirinya sendiri yang meninggal sang ibu saat ingin membeli makanan.


Mentari menangis sekencang-kencangnya, ia yang tidak kuat dengan keadaan seperti ini, di tinggalkan seorang diri di dunia ini. Hanya sang ibu lah yang ia punya di dunia ini, mengadu, meminta saran, dan meminta perlindungan saat dirinya terpuruk dengan keadaan.


"Bu, jangan tinggalkan Tari, Tari di sini sama siapa?" lirih Mentari yang masih menangis sesenggukan. Dan mengguncangkan tubuh sang ibu agar bisa bangun dari tidur panjangnya.


Seorang suster pun masuk dan memberitahukan kepada keluarga pasien agar mengurus jenazah untuk di makamkan. Mentari yang enggan beranjak sedikit pun dari sisi sang ibu, ia belum bisa mengikhlaskan kepergian sang ibu yang begitu mendadak. Belum sempat ia membahagiakannya dan membanggakan dirinya saat ia menjadi orang sukses nanti. Dan melihat perjuangan untuk meraih cita-citanya yang sudah ia impikan bersama dengan sang ibu.


Tuhan sudah mengambilnya darinya, entah setelah ini Mentari harus mengadu dan meminta tolong pada siapa selain sang ibu, Mentari selalu mencurahkan segala sesuatu perasaannya pada wanita yang tak henti memberikan kasih sayangnya.


"Bu, ayok bangun jangan tinggalkan Tari, Tari sama siapa selain ibu," lirih Mentari yang sudah frustasi saat sang ibu masih setia dengan tidurnya.


Tak berapa lama pintu itu di buka, Reyhan masuk kedalam ruang rawat sang ibu Mentari yang penuh dengan kesedihan. Reyhan yang sudah tahu tentang hal ini, ia menanyakan kepada dokter tersebut.

__ADS_1


Hatinya hancur saat mendengar kabar yang di katakan oleh seorang dokter, ia langsung melihat keadaan kekasihnya yang sedang terpuruk. Dan benar saja dugaannya, Mentari yang masih menangis sambil memeluk ibunya.


Reyhan pun menghampiri sang kekasih dan menariknya untuk ia peluk, dan memberi kekuatan dan ketenangan yang di butuhkan oleh Mentari.


Mentari yang kaget saat tubuhnya di tarik dan di peluk dengan erat, ia yang butuh sandaran dan kekuatan saat melewati cobaan yang bertubi-tubi.


Mentari menangis di dalam pelukan Reyhan, ia tumpahkan kesedihannya pada pria yang selalu bikin ia tenang dan nyaman. Reyhan biarkan kekasihnya menangis dan menumpahkan air matanya yang begitu mendalam, ia yang merasakan kesedihan yang di rasakan oleh Mentari yang di tinggalkan oleh ibunya sendiri.


"Sabar ya, ada aku di sini, jangan sedih aku akan ada di samping mu," ucap Reyhan yang meyakinkan kekasihnya agar lebih tenang.


Dan, seketika kesadaran Mentari pun hilang, Mentari pingsan di dalam pelukan Reyhan.


Reyhan pun menyadarinya dan mengangkat tubuh sang kekasih yang sudah tidak sadarkan diri.


"Sus, tolongin sayang." panggil Reyhan yang meminta seorang perawat untuk memeriksa kondisi kekasihnya.


Reyhan mengangguk dan menggendong Mentari, ia begitu kasihan melihat Mentari dengan keadaan seperti ini.


Reyhan merebahkan tubuhnya di atas ranjang dan membiarkan seorang perawat untuk memeriksanya.


"Gimana, sus?" tanya Reyhan untuk memastikan Mentari baik-baik saja.


"Dia hanya syok saja, Tuan. Hanya butuh istirahat saja," jawab seorang perawat tersebut.


Reyhan mengangguk paham, ia mendekat dan menggenggam tangan wanita pujaannya.

__ADS_1


"Aku akan selalu ada untukmu, sayang. Saat ibu mu pun meninggalkan kamu seorang diri, aku yang akan menjaga dan melindungi kamu sekarang," ucap Reyhan yang berjanji pada dirinya sendiri.


Pemakaman ibunya Mentari sudah di urus oleh Reyhan, ia memerintahkan anak buahnya untuk mempersiapkan segala sesuatunya untuk pemakaman ibunya Mentari, ia tidak mungkin meninggalkan Mentari saat dirinya membutuhkan dirinya.


Kabar tentang kematian ibu Tiara pun terdengar oleh keluarga pak Ibrahim dan yang lainnya, Pak Ibrahim yang begitu terkejut dan syok ada kabar itu terdengar olehnya.


Segera pak Ibrahim pun datang dan menemuinya di rumah sakit tempat di rawatnya ibu Tiara. Ia ingin memastikannya sendiri kondisi wanita tua itu bersama dengan Mentari.


Pak Ibrahim pun tidak datang sendirian ia pun datang bersama sang istri ke rumah sakit. Dan langsung menanyakan tentang perihal informasi yang ia dapat barusan.


Setelah menanyakan pada suster yang lagi lewat, Pak Ibrahim pun segera berlari dan meninggalkan istrinya yang merutuki suaminya.


Sesampainya di depan ruangan yang sedang mengurus jenazah untuk segera di pulangkan dan di makamkan. pak Ibrahim yang ikut andil dalam mengurus jenazah tersebut. Ia ingin mengurusnya untuk terakhir kalinya.


Di dalam ruangan, Mentari yang belum sadarkan diri dari pingsannya. Reyhan yang selalu menemani tanpa meninggalkannya sedikit pun. Ia tidak akan meninggalkannya saat tadi ia pulang sebentar. Reyhan genggam tangan Mentari dan mengecupnya dengan lembut.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Tolong bangun, sayang. Jangan bikin aku cemas...


__ADS_2