
Ucapan anaknya yang kemarin malam terus terngiang-ngiang dalam pikirannya, apa ia tega melihat raut wajah sang anak yang memohon dan mengiba padanya, harus kah ia membela sang anak yang ingin mempertahankan hubungannya atau sebaliknya melarang dan mengalah demi anak majikannya.
Ia bimbang dengan keputusan ataupun langkah yang ia harus ambil. Ia hanya memiliki Mentari yang bisa mengobati luka yang masih belum bisa terlupakan dengan kejadian yang amat sangat menyedihkan.
Flashback...
"Mas, jangan tinggalkan aku." rengek Tiara yang sedang mengandung Mentari yang masih berumur satu bulan.
"Maafkan aku, Tiara. Ini bukan maunya aku, ini demi kebaikan kita bersama," ucap Pak Rahmat yang sudah menarik koper untuk keluar dari rumah kontrakan ini.
Pak Rahmat dan Ibu Tiara yang menikah tanpa restu dari orang tuanya Pak Rahmat, memilih untuk menikah diam-diam tanpa pengetahuan orang tuanya. Beberapa bulan keluarga Pak Rahmat yang mengetahuinya dan meminta sang anak untuk menceraikan istrinya sekarang juga. Pak Rahmat yang tidak mau terjadi sesuatu pada istrinya lebih memilih untuk meninggalkan dari pada istrinya dalam bahaya.
Orang tuanya mengancam akan menghabiskan nyawa Tiara kalau masih berhubungan dengan dia. Mau tak mau pak Rahmat pun menyetujuinya. Keluarga pak Rahmat pun tergolong keluarga yang berada.
"Tapi, Mas. Aku sedang mengandung anak kamu," ucap Tiara yang mengelus perutnya agar sang suami tidak meninggalkannya. Ia yang tidak mau di tinggalkan oleh suaminya, hanya sang suami yang ia punya di dunia ini karena ia anak yatim piatu.
"Maafkan aku sekali lagi, Tiara. Aku tidak mau terjadi sesuatu pada kalian, jaga anak kita baik-baik iya," pesan pak Rahmat dan seketika ia langsung meninggalkannya tanpa menoleh lagi kearah sang istri.
Tiara yang menangis dan duduk di lantai, ia memandang punggung suaminya yang semakin menjauh dari pandangannya. Ia yang harus berbuat apa setelah ini dan melanjutkan hidupnya yang tidak lagi berarti lagi.
Tiga bulan Tiara selalu mengurung diri di dalam kontrakannya, ia selalu menangis dan menangis, sepanjang harinya selalu memikirkan tentang sang suami yang ia rindukan.
Tiga bulan sudah Tiara hidup tanpa suami, ia hanya diam dan sesekali membayangkan wajah sang suami yang masih belum bisa ia lupakan, bayangan dan kenangannya selalu melekat di dalam hatinya.
Tiara keluar dari rumah untuk membeli makanan, sampai di tempat yang ia tuju Tiara melihat suaminya yang sedang bersama wanita yang begitu cantik dan seksi. Hatinya hancur saat wanita itu bergelanjut manja di tangan sang suami. Ia ingin sekali menghampirinya tapi menjual makanan itu memanggilnya dan seketika suami dan wanita itu sudah tidak terlihat lagi entah kemana.
Sepulang mencari makanan, Tiara kembali ke kontrakannya ia kaget melihat tasnya sudah ada di depan pintu. Segera Tiara mengambil dan memeriksa tas tersebut, dan ibu kontrakan itu datang dengan wajah yang marah.
__ADS_1
"Pergi dari kontrakan saya, dan jangan pernah menginjakkan kaki kamu ke sini, mengerti," teriak ibu kontrakan yang mengusir Tiara yang belum membayar tagihan kontrakan.
"Beri saya keringanan, Bu. Saya akan membayarnya, kasihan saya Bu, saya harus kemana? Saya sedang hamil." rengek Tiara meminta belas kasih pada ibu kontrakan.
"Tidak bisa, saya sudah berbaik hati pada kamu, sudah tiga bulan kamu belum bayar kontrakan ini, janji saja yang kamu ucapkan," jawab ibu kontrakan yang tidak mau menampung Tiara lagi.
Tiara tertunduk, ia menangis dengan nasibnya yang seperti ini. Di tinggalkan suami dan sekarang hidupnya susah tanpa ada yang menolongnya. Tiara mengelus perutnya yang sudah mulai membuncit, ia hanya memiliki sang buah hati hasil dari cintanya bersama suaminya.
Tiara mengambil tasnya dan meninggalkan tempat yang banyak kenangannya bersama sang suami. Ia menangis sepanjang perjalanan yang tidak tahu akan kemana, berjalannya yang tidak tahu arah dan tujuan Tiara hanya menatap dengan tatapan kosong.
Malam semakin larut, Tiara yang masih berjalan entah kemana, ia yang menjinjing tasnya dengan perut sang sudah membuncit.
Ketika Tiara yang ingin menyebrang tiba-tiba dari kejauhan ada mobil yang melaju dengan kecepatan sedang. Tiara seolah tidak menyadari dan ingin mengakhiri hidupnya yang penuh dengan penderitaan yang tak hentinya. Dan seketika mobil itu pun mengerem sekaligus dan Tiara yang syok dan tidak sadarkan diri.
Pengendara mobil tersebut pun turun dan melihat keadaan wanita tersebut. Ia membawanya pulang ke rumahnya bersama istrinya.
Tiara pun tinggal di tempat kediaman Pak Ibrahim dan berkerja di rumahnya, sebagai tanda terima kasihnya yang sudah menolong dan menampungnya.
Kalau bukan keluarga pak Ibrahim yang menolongnya, Tiara dan sang anak akan seperti apa, dan hidupnya yang penuh dengan penderitaan yang diberikan oleh suaminya.
Ia bertekad untuk merahasiakan identitas suaminya pada sang anak, ketika sang anak menanyakan sosok seorang Ayah. Ia berjanji tidak akan mengingat dan melupakan bayangan masa lalunya bersama suaminya.
Flashback...
Bayangan masa lalunya yang begitu menyakitkan dan tidak boleh terjadi pada Mentari, ibu Tiara pun melarang putrinya bergaul dengan orang kaya, ia tidak mau nasibnya seperti dirinya yang di tinggalkan demi orang tuanya.
Ketukan pintu membuyarkan lamunan ibu Tiara, ia beranjak dan melangkah menuju ke pintu. Ia membuka dan melihat Pak Ibrahim yang sudah ada di depan pintunya.
__ADS_1
"Bisa bicara sebentar," tanya Pak Ibrahim.
Ibu Tiara pun mengangguk dan keluar dari kamarnya, ia mengikuti langkah majikannya dari belakang.
Sampai di ruang tamu yang sudah ada Mama Lita yang muka yang tidak suka dan kesal.
"Duduk," titah Pak Ibrahim pada ibu Tiara.
Ibu Tiara pun menurut dan duduk di sofa ruang tamu yang begitu mencengkram. Hatinya was-was karena takut akan membicarakan tentang masalah anaknya dan anak majikannya.
"Kamu tahu kan, Tiara. Saya panggil ke sini," sahut Pak Ibrahim yang memulai pembicaraan.
Ibu Tiara pun mengangguk sambil tertunduk, ia harus bagaimana untuk menjelaskan tentang masalah pada majikannya.
.
.
.
.
.
.
Saya akan pindahkan Mentari ke luar negeri untuk melanjutkan studinya di sana...
__ADS_1