
Ucapan Reyhan yang begitu tulus mencintainya, Mentari yang tersenyum dan memandangi sesaat. Hatinya menghangat saat ungkapan perasaan Reyhan pada dirinya, ia yang beruntung atau sebaliknya di cintai oleh pria di sampingnya tanpa melihat statusnya hanya sebagai orang biasa, ia yang malu kalau berdampingan dengan Reyhan yang orang berada dengan kekayaan orang tuanya yang berlimpah. Mentari yang sudah tahu tentang statusnya yang selalu di katakan oleh Mama Lita ketika ia memarahinya.
Pelajaran yang kedua pun sudah selesai, semua mahasiswa berhamburan keluar untuk pulang ataupun mengerjakan tugas lain. Mentari yang lagi membereskan buku-bukunya yang ingin di masukin ke dalam tasnya. Vina menghampiri dan menariknya dengan kasar.
"Ada apa, Vin?" tanya Mentari yang belum selesai memasukkan bukunya.
Vina tidak menghiraukan ataupun rengekan Mentari yang ingin di lepaskan tangannya. Ia hanya ingin mengatakan sesuatu pada Mentari sebelum Reyhan melihatnya dan melarangnya.
Sampai di belakang kampus, Vina menghempaskan tubuh Mentari dan mendorongnya sekuat tenaga. Ia sudah menahan emosi sejak tadi ia melihat kemesraan Mentari dan Reyhan yang membuat ia meluapkan amarahnya.
"Aw, ada apa, Vin. Kenapa kamu kayak gini, sakit Vin," rengek Mentari yang bangun dari tanah tersebut, ia membersihkan tubuhnya yang sudah kotor di dorong oleh Vina.
"Masih bertanya, hah. Gimana senang ya di perhatiin dan di manja sama Reyhan," ujar Vina yang nada tinggi, ia ingin memberi pelajaran pada sahabatnya yang sudah terlalu dan mengabaikan peringatannya dan ucapannya.
Mentari tidak menjawab, ia memandang sahabatnya dengan emosi yang masih meluap-luap. Mentari yang ingin mengatakan sesuatu pada Vina, suara dari arah belakang mengagetkan keduanya. Dan seketika keduanya menoleh bersama melihat orang itu.
"Jangan pernah lukai Mentari sedikit pun, aku yang akan melindunginya," sahut Reyhan yang baru tiba , setelah ia di beri tahukan oleh mahasiswa lain tentang wanita pujaannya di seret oleh Vina dan di bawa ke belakang kampus.
Vina yang kaget dengan kedatangan Reyhan yang tiba-tiba, bukannya pria itu sudah berlalu pulang lebih dulu dan pamit pada Mentari. Apa yang di hadapannya sekarang Reyhan muncul dengan tiba-tiba membuat ia takut Reyhan semakin membencinya dan tidak mau bersama lagi dengannya.
"Rey, kapan kamu datang," tanya Vina yang syok.
"Itu bukan urusanmu, Vin. Jadi kayak gini kamu memperlakukan Mentari seenaknya. Dan menuduhnya kalau dia yang merebut aku dari kamu, seharusnya kamu sadar dengan kelakuan kamu seperti itu yang selalu ingin menang sendiri tanpa memperdulikan Mentari yang selalu mengalah demi kamu, dan saya suka sudah peringatkan sama kamu cinta itu tidak bisa di paksakan, begitu juga cinta aku terhadap Mentari. Aku mencintai Mentari dari hatiku sendiri." jawab Reyhan dengan tegas, ia menghampiri Mentari dan menolongnya yang jatuh dari tanah.
Vina mematung mencerna ucapan Reyhan padanya, ia hanya melihat Reyhan yang membantu Mentari untuk bangun dan membawanya entah kemana.
__ADS_1
Vina yang belum sempat membalas ucapan Reyhan hanya memandang punggung keduanya dengan tatapan yang sinis dan marah. Ia semakin membenci Mentari setelah ucapan Reyhan barusan.
.
.
.
.
Di depan kampus, Mentari yang bopong oleh Reyhan sampai parkiran mobilnya. Rasa malu dan tak enak hati pada orang yang melihat kearahnya.
"Makasih, Rey. Sudah tolongin aku, aku akan pulang sendiri," cegah Mentari pada Reyhan yang ingin mengantarkan ia pulang.
"Tapi, Rey. Aku gak enak sama Vina, pasti dia lagi marah sama aku,"
"Kamu lebih pentingkan Vina dari pada diri kamu sendiri, apa Vina juga memikirkan perasaan kamu, hah." oceh Reyhan yang membukakan pintu mobil untuk Mentari, ia yang sudah di buat emosi dengan tindakan Vina barusan yang ingin melukai wanita pujaannya.
Mentari terkekeh, ia menuruti perintah Reyhan tanpa menyahut lagi omongan Reyhan tentang masalah ini. Ia yang pasrah dan hanya mengikuti perintah pria yang selalu posesif terhadapnya.
Reyhan menjalankan mobil dengan kecepatan sedang, ia akan mengantarkan Mentari sampai rumah dengan selamat. Sempat Reyhan menawarkan rumah untuk pindah dari rumah Vina, tapi Mentari terus dan terus menolaknya. Ia yang tidak enak selalu merepotkan Reyhan untuk kesekian kalinya, ia akan bertahan di rumah itu walaupun dengan keadaan yang berbeda dari sebelumnya. Vina dan Mama Lita sudah tidak menganggapnya lagi di rumah itu hanya Pak Ibrahim lah yang selalu baik terhadapnya tanpa memikirkan tentang keluarganya.
Sesampainya di kediaman rumah Vina, Mentari turun dan mengucapkan terima kasih. Mentari tidak memperbolehkan Reyhan untuk mampir sekedar menyapa ibunya ataupun orang-orang di rumah ini. Ia sadar dengan statusnya yang menumpang dan hanya anak seorang pembantu.
Reyhan pun memahami keadaan Mentari, ia pamit dan melaju dengan kecepatan kencang. Setelah mobil itu tidak terlihat, Mentari pun masuk yang ingin membersihkan tubuhnya yang kotor oleh Vina barusan.
__ADS_1
Sampai di depan pintu samping Mentari bertemu dengan Vina yang sudah sampai duluan pulang ke rumah. Mentari berhenti sejenak dan melihat sahabatnya yang muka yang masam dan kacau.
Plak...
Tamparan yang di layangkan oleh Vina pun membuat Mentari langsung terhuyung ke samping, ia yang kaget dan syok dengan tindakan yang dilakukan oleh Vina tanpa bertanya ataupun berpikir Vina berbuat seperti itu, emosinya yang di layang dari tadi siang pun terlaksana sekarang, emosi dan kesalnya terhadap Mentari ia luapkan hari ini di rumahnya tanpa ada yang membela ataupun mengasihi Mentari, ia bebas berbuat sesuka hatinya.
"Vin," panggil Mentari yang pelan, ia yang takut dengan sahabatnya yang sudah melakukan kekerasan terhadapnya.
"Senang ya, di bela sama Reyhan dan di anterin pulang sama dia, kamu tuh tidak tahu diri sudah menumpang juga, gak salah bertingkah laku seperti nyonya di rumah ini, sadar Tari kamu hanya anak seorang pembantu dan tidak punya seorang Ayah yang tidak tahu siapa," hina Vina yang yang selalu di hindari sejak dulu, Vina yang selalu marah tidak sampai menghina sampai begini.
Deg...
Hati Mentari seketika sakit saat ucapan Vina yang mengatakan bahwa dirinya tidak memiliki seorang Ayah yang entah itu siapa.
.
.
.
.
.
Jaga mulut mu, Vin. Biar pun aku tidak memiliki seorang Ayah, aku masih punya Ibu yang akan menggantikan sosok seorang Ayah yang menggantikannya. Bagi ku ibu sudah cukup untukku tanpa kehadirannya...
__ADS_1