
"Untuk apa, Rey? Semuanya sudah jelas," jawab Mentari yang meronta dari pelukan Reyhan. Mentari yang risih saat di peluk di tempat umum ini banyak orang yang melihatnya secara langsung ia tidak ingin menimbulkan kekacauan saat tahu bahwa Reyhan masih bersamanya.
Semua orang sudah tahu tentang pertunangan Reyhan dan Vina yang di selenggarakan di hotel berbintang punya Papahnya Reyhan. Pertunangan yang di lakukan oleh kedua pihak keluarga yang terpengaruh di kota ini. Mentari takut akan ada masalah lagi saat Vina tau kalau dirinya bersama dengan tunangannya.
"Tolong jangan menghindar, Tar. Aku bisa jelasin semuanya," lirih Reyhan yang masih memeluk tubuh Mentari, ia enggan untuk melepaskan pelukan ini. Entah sampai kapan dirinya dan Mentari bisa melewati cobaan untuk hubungannya.
Benteng restu yang tak pernah di berikan oleh Papah Bagas membuat Mentari ingin mundur. Tapi, lagi lagi Reyhan selalu menyemangati kalau hubungan ini akan berlanjut dan mendapatkan restu dari sang Papah. Tapi apa sekarang bukan restu yang keduanya dapat tapi sebelum kejutan yang mengejutkan sebuah perpisahan yang tidak pernah Reyhan dan Mentari inginkan.
Belum sempat Reyhan menjelaskan tentang kemarin pada Mentari seseorang dari arah samping datang dan menghampiri mereka.
Plak...
Tamparan keras di layangkan oleh Vina yang entah datang dari mana dan tahu dengan keduanya ada di belakang sekolah. Reyhan menarik Mentari dari dalam perpustakaan untuk menjelaskan semuanya, Mentari pun menurut lebih tepatnya di tarik dan memohon.
"Dasar wanita tidak tahu diri, emang gak ada lagi cowok, hah," ucap Vina yang memarahi Mentari seenaknya. Ia tidak perduli lagi terhadap mantan sahabatnya yang dulu ia perjuangkan kalau ada yang membulinya.
Tapi apa sekarang, Vina tak lagi melindungi gadis malang yang tidak pernah merasakan kasih sayang seorang Ayah ini.
"Apa apaan kamu, Vin," ujar Reyhan yang tidak terima dengan kelakuan Vina terhadap kekasihnya.
"Kamu seharusnya yang apa apaan, hah. Sudah punya tunangan juga masih saja menemui cewek gatel ini. Dan kamu seharusnya tahu diri, Tar. Sekarang Reyhan sudah milikku bukan milik mu lagi," ucap Vina dengan nada tinggi, ia akan memperlihatkan pada semua orang agar semua orang simpati padanya dan lebih membenci Mentari.
__ADS_1
Mentari hanya terdiam, ia enggan untuk menjawab pertanyaan yang terlontar dari mulut Vina. Rasa perih yang ia rasakan tidak sebanding dengan sakit yang ia rasakan, ini pertama kalinya Vina menamparnya dengan tatapan kebencian.
"Ini semua gara-gara kamu, Vin. Kamu kan yang memaksa Papah ku untuk merencanakan sesuatu yang tidak pernah aku pikirkan, kamu tau kalau aku sangat mencintai Mentari bukan kamu."
"Cukup...," teriak Mentari yang pusing mendengar percakapan antara Reyhan dan Vina, ia malu harus berbicara tentang ini di tempat umum seperti ini.
Cukup sudah, ia merasakan orang orang membulinya dan menghinanya sesuka hatinya. Mentari tak pernah merespon ia akan fokus pada tujuannya yaitu menjadi orang yang sukses keinginan mendiang sang ibu.
Keduanya terdiam dan menatap kearah Mentari dengan derai air matanya. Saat Reyhan ingin menghapus air matanya Mentari langsung menepisnya dan menatapnya.
"Cukup, Rey. Aku sudah bilang sama kamu kan hubungan kita tidak bisa lagi di pertahankan, karena terlalu tinggi untuk ku gapai sebuah restu dari orang tuamu. Aku sadar, aku hanya seorang anak pembantu dan tidak tau asal usulnya seorang pria yang telah menghadirkan aku ke dunia ini. Jadi, aku mohon tinggalkan aku dan berbahagialah bersama Vina, mungkin kita tidak berjodoh, Tuhan akan memberikan pendamping hidup mu yang jauh lebih baik pada mu, yaitu Vina," ucap Mentari yang berbicara panjang lebar. Ia ingin segera pulang dan beristirahat.
Reyhan menggelengkan kepalanya, ia tidak ingin berpisah dengan orang yang ia cintai ini. Dirinya mencari dan menemui Mentari untuk berjuang sekali lagi mendapatkan restu dari Papahnya yang keras kepala itu. Sempat pernah terpikir olehnya untuk pergi dan membawa Mentari jauh jauh dari kota ini untuk memulai hidup baru tanpa ada orang yang menggangu hubungannya. Belum sempat ia merencanakan itu idenya sudah tercium oleh suruhan Papahnya, Reyhan hanya bisa pasrah dan menerima semua yang diinginkan oleh Papahnya.
"Apa apaan kamu, Vin. Jangan Tar ku mohon kita bisa melewati semua. Aku janji aku akan mendapatkan restu dari Papah," mohon Reyhan yang masih menggenggam tangan wanita yang ia cintai ini.
"Dengan cara gimana lagi, Rey. Semuanya sudah jelas, kamu hanya omong kosong, semua janji yang pernah kamu katakan itu anggap saja hanya angin yang berlalu. Dan mulai sekarang tolong jangan ganggu aku anggap saja kita tidak pernah saling kenal," lirih Mentari sambil berlalu meninggalkan tempat ini dengan sejuta perasaan yang hancur.
"Tar.. Tari... Mentari...," panggil Reyhan, ia tidak ingin ditinggalkan olehnya. Rasa sayang yang luar biasa yang pernah Reyhan rasakan saat ini harus menerima kenyataan hubungan harus berakhir.
Saat Reyhan ingin mengejar Mentari pun di cegah oleh Vina.
__ADS_1
"Apa sih, Vin. Lepaskan tanganku," ucap Reyhan dengan tatapan dingin.
"Kalau kamu sampai berhubungan lagi dengan Mentari aku akan mengadu pada Papah Bagas," ancam Vina.
"Kamu selalu mengancam ku, apa semua ini adalah kelakuan kamu, iya." ujar Reyhan yang memicingkan matanya.
"Iya, memang kenapa? Aku akan lakukan demi orang yang aku cintai, yaitu kamu, Rey. Aku sangat mencintaimu sangat, kamu tidak pernah melihat betapa besarnya cintaku padamu, Rey." ucap Vina yang mencurahkan isi hatinya pada pria yang ada di hadapannya sekarang.
"Tapi itu bukan cinta, Vin. Melainkan hanya obsesi mu saja, cinta itu tidak kayak gini,"
"Masa bodoh yang penting aku sudah memiliki kamu seutuhnya," jawab Vina.
"Apa kamu bahagia dengan semua ini tidak di cintai dan membalas cinta mu?" tanya Reyhan sambil melepaskan tangan Vina dari lengannya.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Akan ku pastikan nama Mentari akan tergeser dan hilang dari hatimu, hanya ada namaku saja di hatimu..