Antara Cinta Dan Sahabat (Cinta Segi Tiga)

Antara Cinta Dan Sahabat (Cinta Segi Tiga)
meyakinkan..


__ADS_3

"Ngapain melamun, Sayang? Ada apa! Bilang sama aku," ucap Reyhan yang membuyarkan lamunan Mentari.


Mentari tersadar dari lamunannya dan menatap kearah Reyhan yang sudah makan, rasa bersalah pun menghampiri Mentari yang tak tega untuk mengungkapkan niatnya untuk meninggalkan Reyhan. Apakah ia egois setelah cinta yang diberikan Reyhan untuknya begitu tulus dari dalam hatinya.


"Kamu gak makan? Pengen aku suapin?" goda Reyhan di sela-sela makannya, ia perhatikan Mentari hanya memandang makanan tanpa menyentuhnya.


"Aku masih kenyang, Rey. Kamu saja yang makan," tolak Mentari yang sebenarnya ia juga merasakan lapar tapi ia tahan karena ingin mengucapkan sesuatu yang begitu sulit untuk ia ungkapkan.


"Kasihan loh, makanannya di anggurin kayak gini, kamu makan ya! Aku suapin deh," rayu Reyhan yang tahu Mentari ingin mengatakan sesuatu tetapi ia tahan.


Rasa malu yang luar biasa ia tahan Mentari menolak tawaran Reyhan untuk makan tapi perutnya mengkhianatinya, bunyi suara perutnya yang begitu nyaring dan langsung di dengar oleh Reyhan.


Reyhan terkekeh dengan kelakuan Mentari yang menolak mentah-mentah tapi tidak dengan perutnya yang meminta jatah untuk di isi.


"Itu tandanya minta di suapin loh, sini aaa...," ucap Reyhan yang terkekeh dan menyodorkan makanan yang sudah ada di tangannya.


Mau tak mau Mentari pun menyambutnya dan membuka mulutnya Karena malu di lihatin orang-orang pengunjung kafe tersebut, Reyhan selalu memaksa dan suapan pertama pun masuk ke dalam mulut.


"Enak kan!" tanya Reyhan pada Mentari.


Mentari mengangguk mengiyakan ucapan Reyhan, makanan di kafe ini di bilang rame banyak pengunjungnya karena masakan dan hidangan menggugah selera.


Selesai mengisi perutnya, Reyhan mengajak Mentari untuk berkeliling taman agar lebih lama lagi bersama Mentari. Jarang-jarang Mentari keluar bersamanya untuk sekedar makan bersama dan jalan bersama, ada saja alasannya untuk menghindari ajakannya.


"Ngapain ke sini, Rey?" tanya Mentari yang sudah turun dari mobil Reyhan.


"Kenapa? Gak suka!" tanya Reyhan yang bertanya balik.


Mentari menggelengkan kepalanya, bukan ia tidak suka dengan ajakan Reyhan tapi ia yang tidak enak hati yang sudah terlalu lama diluar bersama Reyhan, ia hanya meminta izin pada ibunya untuk keluar sebentar saja.


"Kita jarang-jarang kan, keluar kayak gini menghabiskan waktu bersama tanpa ada gangguan, aku seneng banget hari ini." ucap Reyhan melirik kearah Mentari yang begitu senangnya.


Mentari terdiam, ia harus menjawab apa tentang ucapan yang di lontarkan oleh Reyhan, sesenang itu kah Reyhan bertemu dengannya, dan ia yang akan merusak hari ini dengan keputusannya.


"Tar," panggil Reyhan yang memegang tangan gadis pujaannya.


Mentari melirik dan melihat tangannya di genggam oleh Reyhan, ada getaran yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Kenyamanan yang diberikan Reyhan pun begitu nyata di rasakan Mentari.

__ADS_1


"Kamu kenapa? Dari tadi kita bertemu kamu selalu diam," tanya Reyhan yang ingin memastikan bahwa Mentari tidak apa-apa.


Mentari menggelengkan kepalanya lalu tersenyum kearah Reyhan, ia tidak boleh egois demi dirinya sendiri, ia akan bertahan di sisinya walaupun masalah menghadangnya.


"Aku ingin bertanya," lirih Mentari yang tertunduk.


"Apa?"


"Seandainya hubungan ini harus berhenti, apakah menurutmu--" belum Mentari menyelesaikan ucapannya Reyhan pun berkata.


"Hubungan ini akan tetap berlanjut, walaupun masalahnya seberat apapun, kita akan menghadapinya bersama-sama, mengerti." jawab Reyhan dengan tegas dan tatapan mata kearah Mentari untuk meyakinkan bahwa hubungan antara ia dan Mentari akan baik-baik saja.


"Tapi, Rey. Kita banyak perbedaan, dan masih banyak lagi yang tak menginginkan hubungan ini," balas Mentari juga menatap wajah Reyhan.


"Siapa? Vina maksud kamu, iya." tanya Reyhan.


Mentari terdiam, ia bingung harus menjawab apa tentang pertanyaan yang diberikan oleh Reyhan. Mentari menarik napas dan membuangnya perlahan.


"Jawab, Tar. Siapa? Berarti Vina, dia mengancam apa sama kamu, bilang sama aku," tanya Reyhan lagi.


Mentari menggelengkan kepalanya, ia tidak mungkin memberitahukan tentang Vina yang selalu mengancamnya untuk meninggalkan Reyhan, ia akan memberi alasan agar Reyhan tidak marah pada Vina sahabatnya.


"Cukup, Tar. Aku tidak mencari seorang wanita yang sepadan denganku, yang aku cari adalah kenyamanan dan ketulusan cinta yang kamu berikan untukku, itu sudah cukup. Aku sudah nyaman dan bahagia setiap ada di dekatmu, ku mohon jangan membahas tentang aku berasal dari mana dan harta yang aku punya, itu semua hanya punya orang tuaku." sahut Reyhan meyakinkan Mentari agar gadis di hadapannya bisa berjuang bersama-sama.


Ia cukup bahagia dengan ungkapan Reyhan yang begitu tulus mencintainya, bahagia di cintai oleh Reyhan dengan statusnya hanya sebagai seorang anak pembantu.


.


.


.


Di kediaman rumah pak Ibrahim, Vina membanting kan pintunya dengan kencang, ia marah dan kecewa dengan sikap dingin dan tak acuhnya Reyhan terhadapnya. Diam-diam ia mengikuti mobil Reyhan sepulang dari kampus dan sampai di kafe Reyhan turun dan Vina menyusul masuk ke dalam. Ia senang melihat Reyhan duduk sendirian di kafe tersebut. Tapi, rasa senang hancur seketika melihat kedatangan sahabatnya yang tak lain adalah Mentari kearah kursi tamu di duduki oleh Reyhan.


Kecewa dengan Mentari yang masih berhubungan dengan Reyhan, ia sudah berbicara dengan baik-baik agar meninggalkan Reyhan demi dirinya dan meminta Mamanya untuk berbicara pada Mentari. Tapi apa yang ia lihat sekarang Mentari diam-diam masih menemui Reyhan di belakang tanpa sepengetahuan dirinya.


Melihat keduanya mengobrol dengan mesra dan bahagia dari rawat wajah Reyhan selalu tersenyum saat memandang Mentari. Hati Vina hancur dan mengepalkan tangannya, ia tidak sanggup untuk melihatnya dan berlalu meninggalkan kafe tersebut.

__ADS_1


"Vina kamu kenapa, Nak?" tanya Mama Lita yang khawatir dengan keadaan putrinya tiba-tiba datang langsung membanting pintu dengan keras.


Tok... Tok... Tok...


"Vina, buka pintunya Sayang," rayu Mama Lita lagi agar putrinya membukanya.


"Ada apa, Mah?" tanya pak Ibrahim yang baru datang dari kantornya melihat istrinya mengetuk pintu putrinya begitu kencang.


"Gak tahu, Pah. Tiba-tiba Vina datang dan marah-marah lalu membanting pintu, Mama jadi khawatir," adu Mama Lita pada suaminya.


"Biarkan saja, Mah. Biar Vina menenangkan dirinya sendiri, walau sudah tenang baru kita tanya," balas pak Ibrahim.


Mama Lita pun mengangguk dan mengiyakan ucapan suaminya, ia meninggalkan kamar putrinya dan masuk kedalam kamarnya.


.


.


.


"Rey, ini sudah malam, aku harus pulang." pamit Mentari.


"Aku anterin ya, ingat pesan aku kita akan hadapi bersama-sama, dan jangan cemaskan Vina biar aku yang bicara padanya,"


Mentari mengangguk dan beranjak dari duduknya, ia yang sudah menyampaikan sesuatu yang selalu mengganjal di dalam hatinya kini sudah ia sampaikan, walaupun keputusan Reyhan tetap akan mempertahankan hubungannya.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Jangan cemas dan khawatir, kita akan hadapi bersama-sama...


__ADS_2