Antara Cinta Dan Sahabat (Cinta Segi Tiga)

Antara Cinta Dan Sahabat (Cinta Segi Tiga)
Mentari memberi harapan..


__ADS_3

[Hay, cantik. Lagi ngapain?] pesan masuk dari nomor Reyhan.


Mentari mengerutkan keningnya, kapan ia menyimpan nomor telepon Reyhan? Pikirnya, memang nomor Reyhan selalu mengganggunya disaat yang tidak tepat.


Mentari enggan untuk membalas chat dari Reyhan ia mengabaikannya dan berjalan menuju ranjangnya. Ia ingin segera beristirahat karena tubuhnya yang merasa lelah ditambah dengan kejadian tadi membuat ia ingin segera tertidur pulas melupakan kejadian tadi.


.


.


.


Keesokan harinya, Mentari bangun lebih dulu ia ingin membantu sang ibu yang beberapa hari tidak membantunya. Selesai membersihkan diri Mentari menghampiri ibunya yang lagi memasak sarapan pagi.


"Pagi, Bu." ucap Mentari pada ibunya yang sedang fokus memasak.


"Astagfirullah, Tari. Bikin ibu kaget saja." jawab Ibunya yang kesal pada anaknya.


"Maaf, Bu. Tari gak niat mau mengagetkan ibu, Tari ke sini ingin membantu ibu saja." bela Mentari, yang merasa bersalah.


"Ibu masak apa?" tanya Mentari lagi.


"Ibu cuma masak nasi goreng saja, Tar. Badan ibu tidak enak badan." jawab Ibunya.


Segera Mentari mengambil alih pekerjaan ibunya, ia tidak mau terjadi sesuatu pada wanita tua satu-satunya yang melahirkannya dan membesarkan dirinya seorang diri.


"Biar Tari saja, Bu. Ibu duduk saja di sana." titah Mentari yang menuntun ibunya untuk duduk, dan mengambil alih masakan yang tadi ibunya buat.


Ibunya merasa senang telah memiliki seorang anak yang begitu pengertian dan penyayang, sempat ia ingin menggugurkan kandungannya disaat hamil Mentari, karena sangat benci dengan keadaan yang ditinggalkan oleh suaminya sendiri. Sekarang ia menyadari kehadirannya adalah anugerah yang paling berharga didalam hidupnya.


..."Maafkan ibu, Nak. Yang menyembunyikan identitas Bapak kamu, ibu tidak mau mengulang kejadian yang sudah kelam dan ibu kubur selama, tidak ingin mengingat atau pun menceritakan tentang kehidupan bapakmu." lirihnya didalam hatinya....


Ibunya bangga diusia mudanya, Mentari bisa melihat keadaan sang ibu yang tak pernah meminta sesuatu ataupun menyusahkannya. Ia menjadi sosok yang mandiri walaupun Pak Ibrahim selalu memanjakannya seperti anaknya sendiri.


"Ibu..," panggil Mentari, ia melihat ibunya yang sedang melamun, entah apa yang dipikirkan oleh sang ibu.


"Ibu," panggil Mentari lagi.

__ADS_1


"Eh, ada apa, Nak?" tanya Ibunya yang baru merespon.


"Ibu kenapa? Lagi mikirin apa? Cerita sama Tari, Bu." tanya Mentari yang mulai khawatir dengan keadaan sang ibu yang tidak enak badan.


"Ibu tidak apa-apa, Nak. Ibu hanya membayangkan kamu, sekarang putri ibu sudah besar dan sebentar lagi akan lulus kuliahnya." jawab Ibunya yang tersenyum, ia tidak mau melihat keadaan seperti ini, sang anak tidak boleh memikirkannya, anaknya harus fokus belajar dan sekarang sang anak lagi berkerja, ia tidak mau membebankan pikirannya lagi.


"Kita berobat saja, Bu. Tari tidak mau terjadi sesuatu pada ibu." ucap Mentari yang khawatir.


"Ibu tidak apa-apa, Tari. Jangan khawatir ya," jawab Ibunya yang meyakinkan sang anak.


"Beneran, Bu." tanya Mentari lagi.


Ibunya mengangguk dan tersenyum, ia beranjak dari duduknya ingin melihat masakan sang anak yang sudah selesai apa belum. Ia bangga diusia yang masih muda Mentari sudah pintar memasak makanan untuk keluarga pak Ibrahim dan sekeluarga.


"Enak gak, Bu." tanya Mentari yang menghampiri ibunya sedang mencicipi masakannya.


"Enaklah, siapa dulu yang ngajarin nya!" jawab Ibunya yang membanggakan dirinya.


"Ibu Mentari," sahut Mentari yang memeluk ibunya dari samping. Sang ibu pun membalasnya dan mengelus rambut sang anak.


"Eh, malah peluk pelukan, jadi iri." sahut Mbak Marni yang tiba-tiba muncul dari arah belakang.


"Peluk Mang Dadang saja sana," titah Mentari pada Mbak Marni.


"Enak saja, neng Tari. Mendingan peluk kambing deh, dari pada Mang Dadang." protes Mbak Marni.


"Beneran ya, mau peluk kambing, Tari cariin ya?" tantang Mentari.


"Jangan atuh neng, Mbak cuma bercanda." protesnya lagi, membayangkannya saja menurutnya merinding apa lagi kenyataan.


Mentari yang melihatnya hanya tertawa kecil, wajah Mbak Marni yang begitu pucat setelah ia mengucapkan itu.


"Iya, Mbak. Tari juga cuma bercanda, disini kan gak ada kambing," ucap Mentari yang tidak tega melihat wajah pucat Mbak Marni.


"Sudah-sudah, ngapain pada debat kayak gini, mendingan kalian bawa makanan ini untuk disajikan, sebentar lagi sarapan akan dimulai." sahut Ibunya.


.

__ADS_1


.


.


Setelah menyajikan makanan di atas meja, Mentari berlalu meninggalkan dapur ia segera ingin bersiap untuk pergi ke kampus.


Dering ponsel mengalihkan pandangan Mentari yang ingin mengambil tasnya di atas mejanya. Siapa yang pagi-pagi sekali menghubunginya.


Mentari menghempaskan napasnya, nama Reyhan selalu mengganggunya. Mentari dengan ragu mengangkat telepon dari pria yang semalam menolongnya, dengan ragu Mentari mengangkatnya.


"Asalamualaikum, cantik." ucap Reyhan diseberang sana.


"Waalaikumsalam, ada apa?" tanya Mentari.


"Kamu sudah berangkat belum?" tanya Reyhan.


"Belum, kenapa?


"Aku jemput ya," ucap Reyhan mengajak Mentari.


"Gak usah, Rey. Aku ingin berangkat sendiri." jawab Mentari.


"Plis, Tar. Aku udah tolongin kami ya semalam,"


"Gak ikhlas ceritanya," protes Mentari.


"Bukan gitu, bukannya semalam kita sudah menjadi teman," ucap Reyhan yang mengingat kejadian semalam, kalau Mentari sudah menerima ia menjadi temannya.


"Ya udah, iya," ucap Mentari yang terpaksa, kalau tidak mengingat kejadian semalam pernah menolongnya, mungkin ia tidak mau berangkat bersama dengan pria yang nyebelin kadang baik kadang bikin kesel.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Yes, akhirnya bisa jemput bidadari cantik...


__ADS_2