
Pagi harinya, Reyhan bangun dengan wajah yang kacau. Dari semalam ia menelpon Mentari ingin mendengar keadaan Mentari yang sekarang ini merasakan sakit juga atas janjinya yang telah mengingkari untuk mempertahankan hubungannya yang pernah terucap saat pemakaman mendiang ibu Mentari.
Berjanji akan melindungi dan menjaga hingga akhir hayatnya. Tapi, apa yang dilakukan oleh Reyhan sekarang dirinya mengkhianati ucapannya sendiri. Reyhan yang sudah menolaknya terus di ancam oleh Papahnya sendiri akan menghabiskan nyawa orang yang ia sayangi yaitu Mentari.
Lebih baik ia menuruti keinginan papahnya dari pada harus kehilangan Mentari untuk selama-lamanya.
"Rey..," panggil Mamah Sarah yang melihat putranya yang lagi turun dari tangga.
Reyhan tidak menjawab, ia enggan untuk mengapa atau menengok ke arah orang tuanya yang telah egois memisahkan dirinya dengan Mentari.
"Reyhan, sarapan dulu, nak?" panggilnya lagi, melihat raut wajah sang putra pagi ini yang tidak semangat di pagi ini.
Reyhan berlalu, ia harus pergi berburu-buru untuk menemui Mentari dan menjelaskan tentang pertunangannya dengan Vina, ia akan berkata jujur apa yang terjadi dengan dirinya. Agar Mentari percaya dan hubungan bisa berlanjut untuk di pertahankan.
"Gimana ini, Pah? Kenapa harus memaksa Reyhan kayak gini, Pah?" ujar Mamah Sarah pada suaminya. Ia tidak ingin anak satu-satunya harus melakukan apa tidak suka oleh Reyhan.
"Ini demi kebaikan Reyhan juga, mah," balas Papah Bagas yang fokus memakan sarapannya.
"Ini kebaikan Reyhan apa Papah?" tanya Mamah Sarah, sebenarnya ia tidak setuju dengan keinginan suaminya yang memaksa putranya harus mengikuti keinginan suaminya. Dirinya kasihan harus memisahkan kedua orang yang saling mencintai itu.
"Jangan bikin keributan di meja makan, Mah," ucap Papah Bagas dengan tatapan dingin. Ia tidak ingin di bantah atau ada yang menolak keinginannya walaupun itu istrinya juga.
__ADS_1
.
.
.
Diperjalanan Reyhan mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi, ia ingin segera datang ke kampus dan bertemu dengan Mentari. Dirinya begitu merindukan sosok Mentari yang selalu membayangi harinya yang begitu kacau karena pertunangan kemarin.
Sampai di parkiran tempat kampusnya, Reyhan turun dengan tergesa-gesa ingin segera bertemu dengan Mentari karena merindukan ingin bertemu dan ingin menjelaskan tentang kemarin.
Ia mengedarkan pandangannya untuk mencari sosok Mentari yang entah datang atau tidak ke kampus, dari kemarin ia menelpon Mentari tapi tidak diangkat oleh sang empunya dan sekarang nomor telponnya juga tidak aktif menambah khawatiran Reyhan sekarang. Ia bertanya pada orang yang lewat untuk menanyakan keberadaan Mentari.
Di dalam perpustakaan, Mentari sebenarnya enggan untuk masuk ke kampus. Ia belum bisa bertemu atau melihat kekasihnya yang sekarang menjadi milik orang lain walaupun hubungannya dengan Reyhan belum ada keputusan diantara dirinya dan Reyhan.
Reyhan berkeliling mencari Mentari ia bertanya pada orang yang lewat untuk menanyakan keberadaan Mentari saat ini.
"Di perpus Kak," ucap adik kelas yang tahu keberadaan Mentari.
Reyhan tersenyum, ia bahagia saat ini bisa menemukan keberadaan Mentari yang saat ini ia cari-cari. Segera Reyhan berlari untuk sampai ke sana melihat keadaan Mentari.
Saat Reyhan sudah ada di ruangan perpustakaan, ia edarkan pandangan untuk melihat Mentari dan melangkah menyusuri sudut sudut ruangan perpustakaan ini. Ia tersenyum saat melihat punggung sosok yang ia cari selama ini.
__ADS_1
Ehemm...
Deheman Reyhan membuyarkan keseriusan Mentari saat membaca salah satu buku yang ia pegang. Mentari terdiam, ia enggan untuk menoleh kebelakang untuk melihat siapa yang tadi bersuara.
Mentari sudah tahu dengan suara tersebut, ia enggan untuk mengapa atau pun menoleh saat ini. Bayangan Reyhan bersama Vina saat Vina menunjukkan foto pertunangannya bersama orang yang ia cintai saat ini.
Untuk menghindari pun Mentari tidak bisa lagi karena orang yang ia hindari pun sudah ada di dekatnya. Apakah ia sanggup untuk melihatnya Reyhan saat ini, rasanya Mentari tidak sanggup lagi untuk berhadapan dengannya.
Saat ingin melangkah untuk menghindari tiba-tiba Reyhan memeluknya dari belakang dan berkata.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Maafkan aku, Tar. Aku bisa jelaskan....