
Tok.. Tok.. Tok ..
Ketukan pintu yang begitu keras membuat sang pemilik kamar membuka dengan segera, Papah Bagas bingung dengan kelakuan putranya yang tidak sopan saat mengetuk pintunya.
"Ada apa?" tanya Papah Bagas pada putranya.
"Jawab dengan jujur, Pah. Hilangnya Mentari apa ada sangkut pautnya dengan Papah?" tanya Reyhan yang penuh selidik, ini pasti ada hubungan dengan ancaman Papahnya yang kemarin.
"Jangan menuduh Papah sembarangan, Rey. Dari kemarin Papah di rumah saja," jawab Papah Bagas, ia akan memperlihatkan wajah biasanya agar sang putra tidak curiga dengannya.
"Papah pasti bohong, jawab, Pah. Dimana Papah sembunyikan Mentari? Reyhan sudah lakuin apa yang di inginkan Papah, jadi Papah juga harus menempati janji Papah itu," ujar Reyhan, walau sampai papahnya yang sembunyikan Mentari ia akan membencinya seumur hidupnya. Ia sudah mengikuti keinginannya untuk bertunangan dengan wanita pilihannya.
"Terus kemana hilangnya Mentari, Pah?" tanya Reyhan lagi, ia belum puas dengan jawaban yang diberikan oleh Papahnya.
.
.
.
Rasa frustasinya membuat ia tidak masuk kuliah, hari harinya selalu mencari keberadaan Mentari, ia masih belum percaya pada Papahnya yang masih bungkam dengan perkataan yang kemarin.
Menanyakan pada Vina pun percuma karena wanita pasti sudah bersekongkol dengan Papahnya sendiri. Tapi, Reyhan tidak akan menyerahkan untuk menemukan wanita yang selalu ada di dalam hatinya ini. Ia percaya dengan kekuatan cintanya akan menyatukan dirinya dengan Mentari, ia hanya berdoa meminta pada Tuhan agar dijodohkan dengan wanita yang ia cintai.
__ADS_1
Sampai rumah tengah malam membuat mamah Sarah begitu khawatir dengan keadaan putranya yang tiap hari mencari keberadaan wanita yang ia cintai itu. Ada rasa ingin membantunya tapi suaminya selalu memarahi dan mengancam keselamatan ia dan putranya.
"Rey..," panggil Mamah Sarah yang sedang menunggu di ruang tamu, duduk seorang diri untuk menunggu kepulangan putranya.
Reyhan terdiam, ia masih merasakan kesal pada mamahnya juga tidak bisa membantunya atau membujuk Papahnya untuk memberi tahukan dimana Mentari berada.
"Jangan kayak gini terus, Rey. Mamah jadi sedih melihat kamu seperti ini," lirih Mamah Sarah.
"Ini semua gara-gara kalian, kalian yang menghilang dan menghancurkan semua yang sudah Reyhan rancang untuk masa depan Reyhan, Mah. Bersama Mentari orang yang kalian benci itu," ucap Reyhan dengan lantangnya, ia kecewa dengan sikap sang Mamah yang merestui dirinya dan Mentari tapi enggan untuk menolong atau memberi informasi tentang keberadaan kekasihnya.
Plak...
Sebuah tamparan keras terbayang ke pipi kanan putranya, ia yang terbawa emosi saat sang anak melayangkan protesnya pada dirinya. Bukan ia tidak merestui ataupun tidak membantunya karena ia juga merasakan ancaman suaminya terhadapnya. Hanya bisa pasrah dengan keadaan dan ia hanya melihat tanpa melakukan apapun.
"Maafkan Mamah, sayang." ucap Mamah Sarah menyadari kesalahannya telah menampar orang yang ia sayangi.
Reyhan hanya terdiam lalu pergi meninggalkan Mamah seorang diri dengan sejuta perasaan yang berkecamuk dalam benaknya. Reyhan mengurung diri di dalam kamar, ia lebih menghabiskan waktunya dari pada harus berkumpul dan berbicara dengan keluarganya.
Semangatnya selama ini telah hilang saat kekasihnya pergi tanpa jejak itu. Sekarang ia pasrah dengan kehidupannya sekarang.
Ceklek...
Pintu itu dibuka oleh Papah Bagas, masuk kedalam kamar sang anak dan duduk di tepian ranjang. Melihat putranya yang masih berbaring di atas ranjang.
__ADS_1
"Sampai kapan kamu begini?" tanya Papah Bagas yang sudah frustasi melihat sang anak selalu murung tidak mau beraktivitas seperti biasa dan sekarang pun Reyhan tidak pernah masuk kuliah lagi.
"Sampai papah mengembalikan Mentari pada Reyhan," ucap Reyhan dengan pelan tapi masih di dengar oleh Papahnya.
"Sudah Papah bilang, itu semua bukan Papah yang lakuin, dia pergi sendiri." jawab Papah Bagas.
"Aku tidak percaya, Pah. Bukannya Papah berjanji pada Reyhan tidak akan menyentuh Mentari kalau Reyhan menuruti keinginan Papah?" tanya Reyhan kembali mengingatkan perjanjian yang telah di sepakati keduanya.
Pak Bagas terdiam, ia bangun dan berkata.
.
.
.
.
.
.
Bulan depan adalah pernikahan kamu dengan Vina, jadi jangan pernah kecewakan Papah...
__ADS_1