Antara Cinta Dan Sahabat (Cinta Segi Tiga)

Antara Cinta Dan Sahabat (Cinta Segi Tiga)
Kali ini..


__ADS_3

Ucapnya Mentari yang di iringi pamitnya pada keluarga pak Ibrahim pun membuat suasana menjadi hening, Mentari menyeret kopernya untuk keluar dari rumah ini. Pak Ibrahim memanggilnya pun tidak di hiraukan oleh Mentari, ia enggan untuk melihat kebelakang dan melihat wajah melas pak Ibrahim.


Sampai di gerbang menjulang tinggi, Mentari meminta menjaga untuk membukakannya karena ia tidak berhak lagi tinggal di kediaman rumah ini. Sahabatnya pun sudah tidak menganggapnya lagi dan sekarang akan fokus menata dirinya sendiri.


Reyhan yang sudah menunggunya membukakan pintu mobil untuk kekasihnya, ia akan menemani dan mencari kos'an untuk Mentari.


Mentari yang menolak mentah-mentah tawaran pun dengan pasrah Reyhan menuruti keinginannya untuk mandiri tanpa bantuan siapapun.


Kendaraan pun melaju dengan kecepatan sedang, Reyhan sesekali melirik kearah wanita yang ada di sampingnya dengan begitu iba.


"Kita mau kemana?" tanya Reyhan yang membuyarkan keheningan di dalam mobil sambil menyetir mobilnya.


"Cari kos'an dekat kampus saja, Rey. Jadi gampang pulang perginya." sahut Mentari yang fokus menatap kearah depan.


Reyhan pun mengangguk paham, ia membelokkan dan mulai mencari kos'an dekat kampusnya sesuai permintaannya.


Sampai di tempat kos'an yang di minta Mentari, kedua turun untuk menemui yang punya kos'an tersebut.


"Aku gak masih belum rela kamu di sini, Tar. Ke apartemen ku saja, itu lebih aman dan aku tidak khawatir dengan kamu," tawar Reyhan lagi, semoga tawaran kali ini Mentari mau dan menerimanya.


Tetap saja, Mentari kekeh dan menggelengkan kepalanya untuk menolak keinginan Reyhan untuk tinggal di tempat yang tadi Reyhan tawarkan, ia tidak ingin berurusan lagi dengan Reyhan. Cukup ia selalu merepotkan dan meminta Reyhan yang selalu ada untuknya.


Ada hati yang harus ia jaga dan butuh dirinya, ia tidak ingin jadi dalang yang memisahkan antara anak dan Ayahnya. Cukup dirinya yang tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ayah. Kadang Pak Ibrahim selalu memberikan kasih sayangnya melebihi anak kandungnya, ia tidak pernah membeda-bedakan dirinya dan Vina.

__ADS_1


Mentari yang merindukan masa-masa di mana ia dan Vina selalu menghabiskan waktu bersama dengan keluarganya. Bercanda, jalan-jalan, dan melewati hari-hari yang begitu bahagia. Itu yang selalu Mentari rindukan tanpa mengingat dan memikirkan sosok Ayah kandungnya.


Pak Ibrahim yang sudah menggantikan menjadi sosok ayah bagi dirinya.


"Yuk turun," ajak Reyhan yang sudah sampai.


Mentari pun mengangguk dan turun dari mobil, ia akan menemui yang punya kos'an itu.


"Permisi, Bu. Kalau yang punya kos kos'an ini siapa ya?" tanya Mentari yang sudah ada di depan rumah aga besar dekat kos'an tersebut.


"Saya sendiri, ada perlu apa ya?" tanya Bu kos'an itu.


Mentari tersenyum, ia berucap Alhamdulillah karena bertemu dengan pemilik kos'an ini.


"Saya ingin ng'kos Bu," pinta Mentari.


Mentari bahagia dan beruntung bisa dapat kos'an dekat kampusnya, ia tidak akan susah saat ia kesiangan atau pun ada keperluan lain, karena jarak kos'an ini dengan kampus ya pun tidak memakan waktu lama.


"Alhamdulillah, boleh saya lihat," ajak Mentari yang antusias.


Reyhan hanya jadi pendengar saja, ia enggan untuk berkomentar atau pun menanyakan sesuatu walaupun ia kecewa dengan ajakan untuk tinggal di apartemennya.


"Ayok neng," ajak ibu pemilik itu.

__ADS_1


Ketiganya berjalan beriringan, Reyhan yang berjalan di belakang kedua wanita yang berbeda usia itu.


Sampai di tempat kos'an tersebut Mentari pun mengecek dan melihat sekeliling ruangan itu, walaupun ruangan ini sempit tapi ia nyaman. Dan ia akan memulai di tempat ini menjadi sosok wanita mandiri.


"Saya setuju, Bu. Dan saya mengambilnya,"


"Berapa, Bu?" sambungnya lagi, Mentari yang akan membayarnya pun di cegah oleh Reyhan.


"Biar aku saja, Tar." cegah Reyhan, ia yang sudah berjanji pada dirinya sendiri akan melindungi dan menjaga Mentari segenap jiwanya.


"Tapi, Rey?"


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Plis, kali ini saja biar aku menempati janjiku padamu, Tar. Aku tidak akan pernah bisa membayangkan bagaimana cara untuk bisa menjaga mu...


__ADS_2