
"Itu beneran anak Tante?" tanya Mentari. Untuk meyakinkan bahwa pendengarannya masih bisa ia dengar.
"Iya, memang kenapa?" jawab Mama Reyhan yang merasa bingung dengan wanita di hadapannya.
"Tidak ada apa-apa, Tante. Saya tidak yakin saja, kalau itu benar anak Tante, jauh banget sama Tante."
"Maksudnya gimana?"
"Tante kan orang baik, ramah, gak bikin orang kesal terus, beda sama dia mah Tan," ucap Mentari yang begitu polos dan jujur.
Mama Reyhan yang mendengarnya hanya tersenyum, ia melihat wanita yang begitu ceria dan polos.
"Memang benar dia orang kayak gitu, susah sekali di aturnya, Tante juga suka kesal dengan anak Tante, mau gimana lagi dia anak Tante satu-satunya."
"Beneran kamu teman kampusnya Reyhan?"
"Iya, Tante. Dia sekelas dengan saya."
Mama Reyhan hanya mengangguk, ia begitu suka dengan wanita muda di hadapannya. Ceria, sopan, selalu ramah. Dan merasakan kenyamanan di saat ia mengobrol dengannya.
"Butik Tante mewah juga ya, baju-bajunya juga bagus, pasti mahal banget. Rame juga, pantesan Mama Lita sering beli baju ke sini." ucap Mentari yang masih takjub dengan kemewahan butik ini.
"Biasa aja, jangan berlebihan, butik Tante sama seperti butik lainnya."
"Setelah lulus nanti, aku juga pengen seperti Tante, membuka usaha untuk masa depan ku nanti, kasihan ibu, selalu berkerja siang dan malam."
"Kamu ingin berkerja?"
"Pengen sih, Tante. Tapi, siapa yang mau mengerjakan saya yang masih kuliah. Ada perkejaan tapi harus pull satu hari, sedangkan jam waktu saya untuk ke kampus tak menentu."
"Kamu boleh bantu-bantu Tante di sini, setelah pulang dari kampus, bagaimana?" ucap Mama Reyhan yang menawarkan pekerjaan pada wanita di hadapannya yang baru ia kenal, ia juga tidak tahu kenapa bisa sedekat ini dan begitu nyaman dengan gadis di hadapannya.
"Tante serius?"
"Iya, Tante serius."
"Terimakasih, Tante." ucap Mentari yang menyalami tangan wanita baya yang masih cantik itu.
"Sama-sama, mulai besok kamu boleh bekerja setelah pulang dari kampus."
__ADS_1
"Iya Tante, ya udah saya permisi dulu, takut di tungguin sama Mama Lita." pamit Mentari.
Mama Reyhan mengangguk dan tersenyum, ia mengantarkan gadis itu sampai pintu. Mentari berlalu meninggalkan tempat ini dengan wajah yang begitu bahagia, bisa mendapatkan pekerjaan sampingan untuk membantu meringankan beban Ibunya.
Di perjalanan yang begitu ramai, membuat Mentari berhenti sejenak atas kemacetan yang ia lalui. Mentari yang merasa khawatir dengan Mama Lita yang menunggunya terlalu lama.
.
.
.
.
Satu jam berlalu, Mentari sampai di depan rumah, ia turun dan membawa pesanan yang sudah ia bawa, akan memberikan kepada Mama Lita.
Tok .. Tok... Tok...
Mentari yang sudah ada di depan pintu kamar Mama Lita segera mengetuknya, dan memberikan pesanannya. Pintu itu terbuka oleh sahabatnya bukan Mama Lita sendiri.
"Ada apa, Tar?" tanya Vina yang ada di depan pintu kamar Mamanya.
"Oh, masuk saja, Mama ada di dalam lagi gak enak badan." ucap Vina pada sahabatnya.
Mentari segera masuk ke dalam kamar Mama Lita, ia melihat Mama dari sahabatnya sedang berbaring untuk istirahat.
"Mama sakit apa?" tanya Mentari yang sudah duduk di samping ranjang.
Mama Lita yang menoleh ke arah suara itu hanya tersenyum, ia mendudukkan dirinya di sandaran tempat tidurnya. Mentari yang membantunya untuk duduk.
"Mama hanya pusing saja, Tar. Tadi tiba-tiba kepala Mama jadi sakit. Gimana pesanan sudah ada belum?" tanya Mama Lita.
"ini, Mah. Sudah ada, maaf baru nyampe, soalnya tadi macet banget Mah."
"Tidak apa-apa,"
"Pesanan apa, Mah?" tanya Vina yang masuk.
"Pesanan baju Mama, yang akan di gunakan besok malam acara kantor Papa."
__ADS_1
Vina hanya mengangguk, tiba-tiba datang ibunya membawa makanan dan minuman untuk Nyonya yang akan meminum obatnya.
"Silahkan Nyonya, minum obatnya, tapi sebelum minum obat makan dulu Nya."
"Terimakasih, Sari."
"Sama-sama, Nyonya. Saya permisi dulu." pamit ibu Mentari.
Setelah berlalu, Mentari menyusul sang ibu yang berada di ruang belakang. Ia menghampiri ibunya yang sedang mencuci piring.
"Bu...," panggil Mentari.
"Apa Tar?"
"Tari, ingin berkerja, Bu!" ucap Mentari yang begitu pelan.
"Kamu kan masih kuliah, Tari. Gimana kuliah kamu, kalau kamu berkerja?" tanya Ibunya
"Ibu tenang saja, kuliah Tari gak akan terganggu, Bu. Setelah pulang baru berkerja di tempat itu,"
"Memang bisa?"
"Bisa, Bu. Pemiliknya juga baik banget, dia teman Mama Lita."
"Terserah kamu, Tar. Tapi, ibu hanya menyarankan jangan sampai mengganggu kuliah kamu, hanya kamu satu-satunya harapan ibu nanti,"
"Siap, Bu." ucap Mentari yang begitu senang telah diizinkan oleh ibunya.
"Tapi, ingat pesan ibu."
.
.
.
.
.
__ADS_1
Iya, Bu. Tari janji akan selalu ingat pesan ibu..