Antara Cinta Dan Sahabat (Cinta Segi Tiga)

Antara Cinta Dan Sahabat (Cinta Segi Tiga)
Pinta Mentari...


__ADS_3

"Mentari jahat, Mah. Dia yang bikin Vina kayak gini, dia ambil punya Vina." teriak Vina didalam kamarnya. Dengan begitu Mamahnya akan membelanya.


"Buka dulu pintu, sayang," sahut Mama Lita.


Vina beranjak dari ranjangnya, ia membukakan pintu dengan derai air matanya, seolah-olah ia yang jadi korban atas perbuatan mereka.


Ceklek...


Ketika pintu dibuka, pandangan pertama tertuju pada wajah putrinya dengan derai air mata, siapa yang akan tega melihat putrinya sampai begini. Segera Mamanya memeluk dan mengusap kepala putrinya untuk menenangkan keadaan Vina.


"Kamu kenapa, Sayang? Cerita sama Mama ya," ajak Mama Lita dan mendudukkan putrinya ditempat ranjangnya.


"Hiks.. Hiks... Tari jahat, Mah. Dia nusuk aku dari belakang," adunya pada sang Mama.


"Maksudnya? Mama gak ngerti!" balas Mama Lita.


"Dia ambil Reyhan dari Vina, Mah. Jelas-jelas Vina yang duluan suka sama Reyhan, kenapa Tari merebutnya dari Vina," lirih Vina dengan tangisan yang menyedihkan.


"Bukannya kamu pacaran sama si Rio ya?" tanya Mama Lita, hubungan putrinya dan seorang pria yang di tentang oleh suaminya, ia hanya tahu hubungan diam-diam putri terhadap pria yang ia juga tidak suka.


"Aku udah putusin, Mah. Ini beda, dia pria baik-baik, satu kelas dengan Vina, anak orang kaya juga, Mah." jawab Vina sambil membenamkan wajah didalam pelukan sang Mama.


"Mama baru denger deh, siapa sih Reyhan itu," tanya Mama Lita.


"Dia anak baru, Mah. Pindahkan luar negeri,"


Mama Lita hanya mengangguk paham, ia menghapus air mata putrinya.


"Jangan nangis dong, anak Mama kan cantik, pasti bisa dapatkan pria yang lebih baik dari.. Siapa tadi Mama lupa?" tanya Mama Lita.


"Reyhan, Mah. Aku gak mau titik. Vina hanya menginginkan Reyhan tidak mau sama pria lain, Vina sudah jatuh cinta pada Reyhan, mah," rengek Vina agar Mamanya mengabulkan permintaannya.


Mama Lita menghela napas panjang, ia tahu sipat keras kepala sang anak yang tidak bisa di ganggu gugat, ia harus bagaimana untuk membantunya, melihat sosok pria yang disebut oleh putrinya pun tidak tahu.


"Mama harus bagaimana, Vin?" tanya Mama Lita yang pasrah dan mengikuti apa maunya putrinya.


"Mama harus bilang pada Tari agar meninggalkan Reyhan untuk Vina," pinta Vina yang memohon agar Mamanya bisa mengabulkan permintaannya kali ini.


"Tapi, sayang."


"Gak mau tahu, pokoknya Mama harus mengabulkan permintaan Vina, kalau tidak Vina akan mogok makan," ancam Vina.

__ADS_1


Mama Lita membuang napas kasarnya, ia beranjak dari ranjang putrinya.


"Ya udah, Mama akan usahakan ya, tapi Mama tidak janji," ucap Mama Lita member keputusan pada putrinya satu-satunya, agar bisa tenang dan tidak menangis dan merengek meminta yang tidak-tidak, ia juga bingung dengan masalah yang dihadapi oleh putrinya dan Mentari anak dari pembantunya, tidak pernah seperti ini dan merebutkan hal yang tidak masuk akal. Hanya karena satu pria kedua putrinya sampai bertengkar.


.


.


.


Di ruang tengah Mama Lita menghampiri suaminya yang dengan fokus membaca koran, ia duduk disamping suaminya sambil menghela napasnya.


"Mama kenapa?" tanya Papa Ibrahim yang menyimpan koran tersebut.


"Itu, Pah. Mama pusing mau menjelaskan bagaimana, Vina sama Mentari lagi berantem," sahut Mama Lita.


"Berantem karena apa? Gak biasanya mereka kayak gitu," balas Papanya yang heran dengan kelakuan kedua putrinya.


"Ini masalah cowok, Pah. Keduanya merebutkan satu cowok." adunya pada suaminya.


"Rio, maksudnya, apa Vina masih berhubungan dengan pria yang tak jelas asal usulnya, sampai kapan pun Papa tidak akan merestui ataupun menerima pria yang bernama Rio," oceh Papa Ibrahim yang tak terima putrinya masih berhubungan dengan pria tersebut.


"Bukan dia, Pah. Kata Vina, dia sudah putus dengannya. Tapi ini merebutkan cowok baru pindahan dari luar negeri," jelas Mama Lita.


"Syukurlah Papa lega dengernya, kalau Vina tidak berhubungan lagi dengan pemuda itu, tapi lelaki mana yang mereka ributkan ?" tanya Papa Ibrahim.


"Namanya siapa ya, Mama lupa, Pah." jawab Mama Lita yang berpikir nama yang disebutkan oleh putrinya tadi.


"Tapi Papa harus cari tahu, Vina meminta Mama untuk membicarakan pada Tari soal ini."


"Papa jadi penasaran dengan sosok pemuda tersebut, Tari kan tidak gampang jatuh cinta atau dekat dengan pria manapun, kecuali.." ucap papa Ibrahim yang memutuskan ucapannya.


"Kecuali apa, Pah?" tanya Mama Lita yang penasaran.


"Entah lah, Papa juga belum yakin. Tapi papa akan mencari tahu sosok pemuda itu yang membuat kedua putri kita jadi kayak gini."


Mama Lita mengangguk paham, ia akan menyerahkan masalah ini pada suaminya. Karena ini menyangkut kedua putrinya walaupun Mentari bukan putri kandungnya, tapi ia sudah dianggap menjadi putrinya.


.


.

__ADS_1


.


Sekitar jam lima sore, Mama Lita menghampiri Mentari yang akan masuk ke dalam kamarnya.


"Tari..," panggil Mama Lita yang mencegah Mentari yang akan masuk.


Mentari menoleh dan membalikkan badannya. "Iya, Mah," jawab Mentari.


"Bisa bicara sebentar?" tanya Mama Lita.


Mentari mengangguk pelan, dan mengikuti langkah Mama Lita yang akan menuju halaman samping rumah ini.


Keduanya duduk dalam keheningan sesaat. "Mama ingin bertanya sama kamu, Tar."


"Mama ingin bertanya apa?" tanya Mentari ingin memastikan bahwa pertanyaan itu tidak membahas tentang ia, Reyhan, dan Vina.


"Coba ceritakan ada masalah apa kamu dengan Vina? tanya Mama Lita.


Mentari pun menceritakan dari pertama sampai akhir, ia tidak menutupi dan menambahkan cerita sedikit pun. Membuat Mama Lita bisa menyimpulkan masalah ini.


"Mama tidak membela Vina sebagai anak Mama. Tapi, menurut Mama kamu juga salah dan tidak mengakui perasaan itu pada Reyhan, setelah Vina menyukai pemuda tersebut." sahut Mama Lita yang sudah mendengar penjelasan Mentari tentang masalah ini.


"Maaf," lirih Mentari dengan wajah yang tertunduk.


"Mama hanya minta sama kamu, tolong mengalah lah demi Vina, Vina yang lebih dulu mengutarakan perasaannya dari pada kamu, jadi tolong mengerti lah demi persahabatan kalian dan keluarga ini." pinta Mama Lita pada Mentari.


Deg ..


Ucapan Mama Lita membuat ia kaget dengan permintaan yang harus meninggalkan Reyhan yang baru saja memulai hubungannya dengan pemuda tersebut, ia harus bagaimana untuk memberitahukan kepada Reyhan dan menjelaskan tentang masalah ini.


"Kamu bisa kan? Demi Mama Tari," pintanya lagi.


Mentari menunduk dengan air matanya yang ingin keluar, apakah ia sanggup berpisah dengan orang yang ia cintai itu, ini adalah cinta pertamanya dengan seorang lawan jenisnya. Mentari yang cuek pada lelaki manapun ketika ia melihat Reyhan datang di kehidupannya, ada yang berbeda dengan perasaan ini. Walaupun hari pertama membuat ia kesal dan benci.


.


.


.


.

__ADS_1


Tapi, Mah. Boleh kah Tari hari ini egois, dan memilih apa yang Tari inginkan tanpa mengalah...


__ADS_2