
"tolong Oliver, anak kita oliver tolong, ada banya darah, sakit sekali Oliver" ucap Alisia ia sudah mulai menangis memegang perutnya.
Oliver mendekati, ia pun berjongkok di dekat Alisia.
"kamu mau mati pun aku tidak peduli" ucap oliver, ia kemudian berdiri berjalan meninggalkan Alisia.
Selang beberapa saat datang para bodyguard oliver masuk ke dalam kamar dan membawa Alisia keluar secara paksa.
"antarkan dia ke rumah sakit, aku akan menghubungi kekasihnya" ucap oliver
Oliver menghubungi Hanz ia meminta Hanz untuk menghubungi Aefar dan mengurus Alisia.
sekarang Oliver sudah berada di dalam mobil ia melajukan mobilnya ke arah rumah mama Maharani, ia berharap agar Maha memberi nya kesempatan untuk menjelaskan,
"kenapa aku tidak menjelaskan padanya dari dulu, kenapa aku tidak berfikir bahwa suatu saat Alisia pasti akan menjebak ku lagi, maha maaf kan aku yang tidak peka", oliver merasa perjalanan nya begitu jauh padahal biasanya bila bersama Maha ia merasa apapun terasa dekat.
yang lebih membuat nya frustasi adalah ponsel maha yang tidak bisa dihubungi, dan ia tidak dapat melacak sinyal ponsel maha, sedang kan mama Maharani tidak menerima panggilan telepon nya.
*******
Oliver memarkir kan kendaraan nya secara sembarangan, ia berlari menuju pintu rumah dan mengetuk nya tanpa jeda.
__ADS_1
Maharani begitu terkejut melihat Oliver sudah berada didepannya. "untuk apa kamu kemari, belum puas kah menyakiti anakku?" ucap Maharani berteriak.
"mama dimana istri ku?" , "masih ada muka kamu berani memanggil anakku dengan sebutan istriku" ucap Maharani.
"ma aku mohon ma, MAHA...MAHA.. AKU DATANG SAYANG, KU MOHON DENGAR KAN PENJELASAN KU MAHA" oliver berteriak memanggil Maha karena Maharani yang tidak mempersilahkan nya masuk.
"Maha tidak ada di sini, dia pergi" , ucap Maharani
"pergi?? pergi kemana?, Maha..." teriak Oliver sekali lagi, ia pun menerobos masuk kedalam rumah mertuanya berharap mendapatkan istri nya di dalam rumah itu.
Oliver mencari kesegala ruangan dan segala sudut rumah itu, bahkan di kebun belakang rumah juga tidak ketinggalan dari mata nya.
Oliver menemui Maharani yang sedang duduk di kursi ruang tamu, ia melipat tangan nya di atas perutnya, Maharani menatap oliver dengan menahan emosi.
"ma aku mohon katakan dimana Maha? dimana istri ku? ia harus mendengarkan penjelasan ku" ucap oliver ia sudah duduk bersujud di lutut Maharani.
"untuk apa mencari nya lagi? apa belum cukup kamu menyakiti nya? aku hanya memiliki Maha dalam hidup ku, aku menjaga nya dan memberikan semua kasih sayang yang melimpah padanya, aku selalu memprioritaskan Maha di atas segala urusan ku" Maharani menarik nafas panjang, kemudian ia melanjutkan ucapannya
"kuserah kan ia padamu agar kamu juga bisa memberikan kasih sayang yang melimpah padanya. bahkan aku berharap kau lebih menyayangi nya dan memprioritaskan maha diatasi segala kepentingan mu, tapi apa yang kulihat, Maha selalu saja menderita ia selalu saja menjadi no kesekian, kau bahkan lebih mengutamakan wanita yang berulang kali mengkhianati mu, kau bahkan meninggal kan Maha malam malam demi mengantarkan wanita itu. padahal kau tidak kekurangan anak buah serta bodyguard, jika kamu menyayangi maha kau bisa memerintahkan salah satu dari mereka untuk mengantarkan wanita itu, bukannya malah meninggalkan Maha dirumah"
"aku berjanji ma, akan menjaga Maha dengan segala yang aku miliki, aku ingin menebus semua rasa sakit yang maha rasakan saat bersama dengan ku, aku sungguh sungguh mencintai maha, dan aku benar-benar merindukan nya, aku mohon beritahu aku dimana maha berada" ucap oliver ia benar benar memohon dan menangisi segala kebodohan nya selama ini.
__ADS_1
maha sudah berulang kali memberikan dia kesempatan tapi apa yang ia lakukan berkali kali itu juga ia menyakiti hati wanita cantik yang baik hati itu, yang rela masa Depan nya dihancurkan karena hamil anak nya.
"maha saat ini sedang menata hati nya, biar kan dia sendiri dulu. bila ia sudah siap bertemu dengan mu maka aku akan memberi tahu mu, dimana dia berada"
"tapi ma, dia sudah hamil tua, sebulan lagi ia akan melahirkan, tidak bisakah aku menjaga nya di hamil nya yang sudah mendekati melahirkan itu, apa dia akan baik baik saja di tempat nya, bagaimana bila terjadi sesuatu pada kandungan nya?, aku mohon ma paling tidak berikan aku no telepon nya agar aku bisa mendengar suara nya, hanya suara nya untuk memastikan dia baik baik saja!"
Maharani kembali ke kamar nya ia pun keluar dengan membawa ponsel nya, lalu melakukan panggilan telepon ke ponsel Maha, selang beberapa menit terjawab lah panggilan telepon tersebut.
"*halo.. mama" ucap maha di seberang telepon, Maharani men loud speaker ponsel nya, "hai nak, bagaimana kabar mu sayang" oliver menutup mulutnya air matanya tidak berhenti mengalir, katakan lah ia laki laki cengeng tapi sungguh dia merindukan suara itu
"kabar maha baik ma, disini semua orang di panti baik baik pada Maha apalagi bunda Maryam dia sangat memperhatikan Maha"
"apa kamu tidak merindukan oliver nak"
"untuk apa aku merindukan laki laki yang bukan milikku ma"
"apa kamu yakin kamu bisa menjaga anak mu sendiri" , sunyi sejenak kemudian terdengar Isak tangis maha dari seberang telepon.
"maha harus apa ma, maha yakin maha sanggup menjaga anak maha sendiri, lagi pula ada bunda Maryam disini, dan mama pasti tidak akan pernah meninggalkan ku"
"tidak akan nak mama tidak akan pernah meninggalkan mu, mama menyayangi mu melebihi mama menyayangi hidup mama sendiri, ya sudah nak istirahat lah jangan terlalu lelah, kasian cucu Oma di dalam kandungan mu"
__ADS_1
"iya ma,.. jaga diri mama ya, maaf maha menyusahkan Mama"
Maharani memutuskan panggilan telepon tersebut, ia pun ikut menangis mendengar suara isakan tangis putri kesayangannya itu*.