Baby Inseminasi

Baby Inseminasi
Mencari Maha 3


__ADS_3

Diandra menghentak hentak kan kakinya ia benar benar kesal pada rekan kerja nya satu ini. mau tak mau ia pun mengambil semua berkas yang ia banting tadi dan membawa nya kepada Hanz yang duduk di sofa.


Diandra berjalan dengan kesal mulutnya komat Kamit membaca mantra, ha-ha-ha.. maksud nya mengomeli hanz namun dalam hati.


karena Diandra berjalan menggunakan kaki bukan mata 🙈🙈 alhasil kaki Diandra pun tersandung kaki Hanz yang dengan santai nya menyelonjor kan kaki panjangnya ke samping. Diandra pun tersandung dan terjatuh hingga tumpukan berkasnya terjatuh dan menimpa kepala Hanz. 😅😅


Hanz begitu kesal apalagi kini tubuh Diandra yang sudah jatuh dipangkuan nya, alhasil mereka berdua terjatuh di lantai dengan posisi tubuh Diandra di atas tubuh Hanz, dan bibir mereka tepat menempel.


ceklek... suara pintu terbuka


Oliver memasuki ruangan nya, ia terkejut ketika masuk mendengar suara barang jatuh. ia ingin tertawa melihat kedua sekertaris nya yang terjatuh dengan posisi absurd. Namun karena suasana hatinya yang lagi galau resah gundah dan gelisah, akhirnya ia pun mengomeli kedua sekertaris nya itu.


"hai.. kalian berdua kalau ingin berbuat mesum jangan diruang ku" teriak Oliver.


Hanz dan juga Diandra begitu terkejut mendengar suara atasannya. Diandra berusaha berdiri namun karena ia tergesa gesa membuat kepala nya membentur meja dan akhirnya kepala itu lagi lagi menempel kali ini bukan di bibir Hanz melainkan dipipi Hanz karena kepala Hanz yang sedang menoleh kesamping.

__ADS_1


sedangkan lutut kanan Diandra menyentuh area pribadi milik Hanz, membuat Diandra begitu malu karena ia merasakan ada pergerakan didekat lututnya dan kini terasa membesar dan mengeras.


"ya sudah lah kalian lanjut kan, aku akan kembali lagi, seperti nya perut ku lapar" ucap oliver ia ingin berjalan keluar, namun terdengar suara teriakan Hanz.


"tunggu tuan, ini tidak seperti yang anda lihat, ini hanya sebuah kecelakaan" Hanz membantu Diandra untuk bangun karena memang tempat mereka sempit sekali. Hanz mendorong tubuh Diandra perlahan lahan, ia tidak ingin ada pergerakan yang membuat bagian tubuh lainnya bangun dan menginginkan sesuatu.


Hanz berdiri setelah Diandra berdiri, ia menuju kearah meja Oliver, dia menanyakan beberapa file kemudian mengirimkan ke email nya. ia sesekali melirik kearah Diandra yang sedang memunguti berkas berkas yang berserakan.


Jantung Diandra tidak henti hentinya berdetak, dan wajah nya juga memerah. "maaf tuan oliver saya akan menata ulang semua berkas ini, saya akan membawa nya kembali ke meja saya" ucap Diandra ia membungkuk didepan oliver.


"ya ya.. keluar lah" ucap Oliver, tangannya bergerak gerak mengusir Diandra, sedangkan hanz masih berdiri didepan meja kerjanya.


Mata Oliver berbinar, "dimana alamat nya" , "ini tuan" ucap Hanz, dia mengambil selembar kertas yang ada dibawah laptop Oliver, oliver kemudian membaca isi kertas tersebut dan membaca alamat yang tertera di kertas putih tersebut.


"kita kesana sekarang, jika aku menemukan istri ku, akan kuberikan bonus dua kali lipat" ucap oliver dia meraih jas yang ia taruh di Sandaran kursi nya.

__ADS_1


Oliver berjalan cepat menuju pintu, Hanz pun mengikuti nya, ketika sampai luar pintu Diandra berdiri dan menyapa oliver, namun ketika tatapan nya beralih ke Hanz, Diandra langsung menunduk, wajahnya menjadi merah merona.


*******


"Hanz pesankan mobil baru sekarang" ucap oliver, "hai tuan yang benar saja, untuk apa mobil baru nya?", tanya Hanz


"kau banyak tanya sekali, yang aku bayar pakai uang ku bukan uangmu kenapa kau yang ribut" , "bukan begitu tuan, anda baru saja mengganti mobil dan baru beberapa bulan ini" , "aku tidak mengganti aku ingin beli yang baru" ucap oliver


"apa kamu bodoh, bila aku menggunakan semua mobil yang ada di rumah, istriku akan hafal pasti dia akan sembunyi dan menghilang lagi, aku akan memakai mobil yang berbeda"


"bagaimana kalau kita menyewa saja tuan, akan lebih cepat proses nya" , "apa kamu kira aku tidak mampu membeli sebuah mobil baru" Oliver memincing kan matanya menatap ke arah Hanz.


"baik baik tuan kita pergi sekarang" ucap Hanz, 'hduhhh... sultan mah bebas' batin Hanz, tidak apalah siapa tahu yang ini jadi milikku, batin Hanz lagi, hingga membuat nya tersenyum senyum sendiri.


"Hanz apa kau mulai gila, hingga tersenyum senyum sendiri?" tanya oliver.

__ADS_1


"astaga tuan seperti nya anda senang sekali bila memiliki Sekertaris gila" jawab Hanz, "saya tersenyum karena senang sudah menemukan nyonya Maha" Hanz memberikan ponsel nya kepada oliver yang kebetulan baru saja anak buah utusannya yang berada di panti asuhan Jalinan Kasih tempat dimana istri tuannya berada.


Di ponsel itu terdapat foto maha yang sedang menyirami tanaman dihalaman depan panti asuhan. Oliver merasakan sakit di hatinya, saat melihat wajah cantik istri nya yang tidak lagi bersinar dan terlihat begitu murung.


__ADS_2