Baby Inseminasi

Baby Inseminasi
Menjaga Maha


__ADS_3

"maaf nyonya tadi wanita itu berpesan jika ia kembali ke rumah nya" Oliver tersenyum mendengar penjelasan dari maid rumah nya.


sebenarnya ia melihat maha yang berada di depan kamar nya melalui cermin disebelah nya, namun oliver malah sengaja memperlihatkan tubuhnya pada Maha.


'baguslah wanita itu tidak tinggal dirumah ini' , batin Oliver


"ahhh... bagaimana ini mengapa ia malah pergi dari apartemen dan kembali ke rumah nya" ucap Alisia, "Oliver kau harus mencari nya membujuknya agar mau tinggal bersama kita" , ucap Alisia manja,


"sayang ada baiknya ia dirumah nya sendiri, kau bisa menghubungi nya jika kau memerlukan nya"


"lagi pula kita bisa menjaga nya meski ia tidak bersama kita" ucap oliver lagi.


*******


Oliver akhirnya mencari keberadaan Maha atas permintaan Alisia, wanita itu benar benar merepotkan nya dan alasan Alisia ia tidak ingin maha kabur dengan membawa anak nya


oliver akhirnya membenarkan ucapan istri nya, tidak mungkin ia akan melepaskan anaknya pada wanita seperti Maha.


Oliver mengetuk pintu rumah minimalis yang terlihat unik dan klasik namun hingga kaki nya pegal belum ada yang membukakan pintu, ia berinisiatif memutar kenop pintu yang ternyata tidak dikunci.


Oliver segera berjalan masuk kedalam rumah, ia mencoba mencari keberadaan Maha. saat ia melihat yang diyakini nya sebagai kamar milik Maha ia pun memutar kenop pintu itu. dan sama halnya di depan pintu kamar tersebut tidak dikunci. Oliver segera masuk ke dalam ruangan tersebut.


Oliver menatap wajah maha yang kini tertidur pulas, ternyata wanita itu cantik walaupun wajah nya polos tanpa makeup seperti Alisia, kenapa aku membandingkan nya dengan Alisia batin oliver tentu saja Alisia lebih baik dari wanita murahan itu.


Oliver menatap lagi wajah maha kini matanya turun ke bibir merah maha yang sedikit terbuka, oliver tersenyum geli ia mengambil ponsel milik nya, lalu memotret maha yang sedang tidur.


Andai kan yang hamil itu Alisia aku pasti sangat bahagia. ada perasaan iba dihati oliver menatap wajah maha, ia mengandung anakku, padahal dia sama sekali belum pernah melakukan hubungan intim. Tuhan rencana apa yang telah kau beri kan pada ku.


oliver masih menunggu maha tidur hingga jam 9 malam, gadis ini seperti kerbau, atau jangan jangan... Oliver segera berdiri dan memegang dahi maha, belum selesai ia memeriksa tubuh maha. terdengar suara pintu kamar terbuka.


"siapa kau" tanya Sarah ia terkejut melihat Oliver berada di kamar Maha "kau Oliver kan si kambing congek, eh... maaf anda suaminya Alisia kan, apa yang anda lakukan di kamar Maha" tanya Sarah penuh curiga.


"kau sendiri siapa??" tanya oliver dengan arogannya, ia masih duduk di ranjang sebelah maha yang masih tertidur pulas.


"aku Sarah sahabat maha, ia menelpon sore tadi dan mengatakan tidak enak badan memintaku mengantar kan ke klinik"


Oliver segera menyentuh kening Maha yang tadi sempat tertunda karena kehadiran sarah, benar saja tubuh itu panas sekali, kenapa ia begitu bodoh, apa yang ia lakukan Berjam jam dikamar wanita ini, dan tidak sadar jika tubuh nya sepanas ini.


"jangan sentuh maha sembarangan" ucap Sarah ia mendekati oliver dan menjauh kan tangan oliver dari tubuh Maha.


"maha gadis baik baik ya, tolong deh jangan samakan dengan istri mu yang doyan itu" ucap Sarah, ia muak sekali mengingat Alisia.


"nona apa maksud ucapan mu?" tanya oliver, "hah.. dasar bucin, sudah lah, jangan banyak tanya dulu bantu aku membawa maha ke mobilku, aku akan membawa maha ke klinil" ucap Sarah ia lalu memakai kan jaket ditubuh sahabat nya itu.


"tidak perlu aku akan menghubungi dokter pribadi ku" ucap oliver.


"astaga.. Oliver jangan bikin kepala saya pusing, cukup untuk hari ini, silahkan anda meminta sopir anda untuk menjemput anda, biar aku yang mengurus maha kalau begitu" Sarah benar benar dibuat jengkel.


"tidak bisa wanita itu tengah hamil anakku" ucap oliver, ia pun melakukan panggilan telepon yang diyakini oleh sarah jika itu adalah dokter yang laki laki itu maksud.


"whattttt????" Sarah seketika berteriak, membuat oliver menutup telinga nya.

__ADS_1


"kau jangan bercanda, sahabat ku ini disentuh laki laki pun tidak pernah bagaimana bisa hamil dan itu anakmu, sungguh tidak masuk akal" Sarah tidak terima atas tuduhan Oliver atas sahabat polos nya tersebut.


"ya dia hamil melalui proses inseminasi buatan, bukan dari hasil berhubungan badan dan pastinya dia sendiri pun setuju" oliver menjawab pertanyaan Sarah dan menatap nya sinis


"bagaimana bisa? dan untuk apa??" kini Sarah dibuat nya bertanya tanya. oliver yang merasa dipersalahkan oleh Sarah akhirnya bercerita alasan yang membuat maha mengambil keputusan dengan menyewakan rahim nya, kini sarah mengerti, tapi kenapa maha tidak bercerita pada nya atau pun Lily.


*******


tlilinggg... suara pintu terbuka


"selamat pagi Maha", sapa Oliver


"uhuukkkk... astaga apa yang kamu lakukan disini dan sepagi ini" maha yang terkejut akan kedatangan Oliver sepagi ini dan juga dengan santai nya menyapa Maha sehingga membuat ia tersedak.


Oliver segera menyambar gelas berisi air putih hangat untuk diberikan kepada Maha, maha kemudian menyambar gelas tersebut dari tangan oliver dan meneguk nya hingga habis.


"tentu saja karena ingin menjaga mu dan atas keinginan Alisia, karena kamu membawa anak saya dalam rahim mu nona Maha" kini oliver sudah berada disebelah maha dan tanpa malunya ia duduk di samping nya, dan merebut sendok yang ada di tangan Maha. kemudian menyuapi Maha dengan sereal yang menjadi menu maha pagi ini. maha sendiri hanya melongo dan tanpa sadar makan ketika Oliver menyuapi nya.


"apa kamu ada kuliah pagi ini nona Maha? biar aku antar sekalian aku berangkat kerja", tanya oliver


"kenapa mesti kesini sih, ngapain juga gak langsung berangkat kerja'" jawab maha dengan ketusnya.


"aku hanya memastikan anakku selamat". jawab oliver santai


"kenapa? kau takut aku mencelakai anak ini" ucap maha ia menunjuk perut datar nya.


"Maha aku ayah dari anak yang kamu kandung, sewajarnya aku mengantar mu kemana pun agar kau tidak kelelahan" oliver memberikan penjelasan pada Maha.


suasana lengang dan sunyi diruang makan, Maha sendiri enggan mengajak bicara Oliver, sedangkan Oliver bingung ingin memulai bicara, mengingat maha begitu cuek dan dingin terhadap nya. setelah selesai makan Maha pun beranjak berjalan dengan membawa piring dan gelas kotor menuju wastafel


"hah...??" aku hanya melongo, ini seorang Oliver Lo yang benar saja dia mau cuci piring gitu "gak perlu Oliver duduk saja, ini sudah tugasku",


"tapi anda sedang hamil muda, sedangkan dokter Hannah berpesan agar anda tidak boleh capek dan mengangkat berat berat" oliver pun tak ingin kalah berdebat dengan gadis didepannya.


"eh...!!!! Oliver ini cuma piring dan gelas loh, berat dari mana lagi pula aku gak merasa capek" jawab Maha.


"oh.. ya sudah" Oliver kembali duduk dan mengawasi Maha dari belakang, dia berfikir andai kan itu adalah Alisia dia pasti akan memeluk nya dari belakang memberikan kecupan kecupan cinta dipagi hari usai sarapan bersama, betapa bahagianya dia bila hal itu nyata.


Setelah selesai mencuci piring dan gelas, maha kemudian membasuh kedua tangan nya, setelah selesai ia pun menuju kamar nya untuk mengambil tas serta buku buku kuliah miliknya


"Oliver ayo berangkat sekarang!! haloooo.... Oliver" maha pun menggoyang goyangkan tangan nya didepan wajah Oliver


"eh ya ada apa Maha", maha hanya menarik nafas panjang dan bersidekap kedua tangan di atas perutnya.


"aku ingin berangkat ke kampus, kau jadi mengantar ku atau tidak, kalau tidak segera pergi lah aku akan mengunci rumah ku dan memesan Abang ojol langganan ku",


"oh.. ayo saya antar, tidak ada Abang ojol dan aku tidak mengharapkan kau dekat dengan laki laki manapun, termasuk ojol, taksi atau kendaraan lain, cukup aku atau orang orang kepercayaan ku yang mengantar kan mu kemana pun yang ingin kau tuju" Oliver mengikuti Maha dari belakang.


maha seketika membalikkan tubuhnya, "whatt...???, kamu kira kamu berhak melarang ku untuk dekat dengan siapapun, ingat ya perjanjian ku hanya berlaku antara aku dan Alisia bukan dengan mu dan tidak ada hubungannya dengan mu tuan oliver yang terhormat" ucapnya dengan menunjuk dada lebar milik oliver.


Oliver memegang tangan maha yang menyentuh dada nya ada gelenyer aneh yang dirasakan saat telunjuk maha menyentuh nya padahal ia mengenakan kemeja yang ditutupi dengan jas milik nya.

__ADS_1


"tentu saja kau lebih berhubungan dengan ku dari pada Alisia, karena aku lah yang menyumbang kan ****** ku di dalam rahimmu" ucap oliver ia mengecup punggung tangan Maha, ternyata maha memiliki wajah oriental seperti wanita Jepang. cantik sekali batin Oliver.


Maha yang sadar akan perlakuan oliver segera menarik tangan nya, namun ketika tanganya terlepas Oliver sudah lebih dulu menarik nya hingga tubuh mereka menyatu tanpa celah hanya kedua tangan maha yang kini menahan agar dadanya tidak bersentuhan dengan dada besar milik oliver.


"aku tidak menerima penolakan apapun nona Maha, jadi jangan pernah membantah ku" ucap oliver ia begitu gila berada di dekat wanita itu, padahal sebelumnya ia begitu membenci wanita itu. dengan beraninya oliver mengecup bibir merah maha yang sedikit terbuka akibat syok dan terkejut dengan kelakuan oliver.


plakkk... satu tamparan keras mendarat di pipi oliver hingga terlihat lah merah dikulit putih pucat milik oliver.


maha segera kembali ke luar rumah dan diikuti oliver yang tersenyum, bukannya marah malah oliver merasa senang wanita itu menampar nya, berarti ia wanita baik baik pikir oliver.


maha mengunci pintu rumah nya, segera setelah oliver keluar dari pintu rumah nya.


"kamu tenang saja ada dua bodyguard ku yang akan menjaga rumahmu, biarkan pagar nya terbuka, aku juga sudah melapor pada pejabat di sekitar lingkungan rumah mu" ucap oliver ia berjalan mendahului Maha dan membuka kan pintu mobil untuk Maha "ayo segera masuk lah, kau akan terlambat masuk kelas mu nanti" ucap oliver lagi.


maha berjalan mendekat kearah mobil oliver dan masuk, ia duduk dengan tenang "loh Pak Hanz anda di sini", tanya maha ya ia mengenal sekertaris oliver karena pernah menjadi pembicara di kampus nya.


Hanz tersenyum melihat maha dari kaca spion tidak disangka wanita milik tuannya mengenali nya bahkan sebelum mereka berkenalan.


"iya nona saya mengantar tuan muda Oliver", jawab Hanz tersenyum


"terus kenapa tadi gak masuk ke dalam", tanya maha


"tidak apa-apa nona kebetulan tadi saya menerima panggilan telepon" Hanz menatap wajah oliver sebelum menjawab


"Hanz antar nona maha ke kampus nya dulu" perintah oliver pada Hanz


"baik tuan muda" jawab Hanz hormat


"apa ada sesuatu yang anda butuhkan nona", tanya oliver


"aduh Oliver please deh cukup panggil Maha saja jangan pake nona berasa aneh deh" jawabnya.


"baiklah Maha apa ada yang kamu butuhkan atau ada sesuatu yang kamu inginkan, seperti ingin makan sesuatu" tanya oliver entahlah ia merasa senang berbicara dengan maha meskipun jawaban maha selalu saja ketus dan terkesan ogah ogahan.


"gak perlu Oliver terima kasih, aku sudah kenyang habis sarapan, lagian kamu juga lihat sendiri kan" jawab maha, ini cowok kenapa cerewet sekali sih batin Maha.


"oh..oke... jangan sungkan untuk mengatakan apapun yang kamu inginkan pasti akan ku kabulkan, biasanya ketika hamil wanita cenderung mengidam bukan?" oliver mendekat ke arah Maha, membuat maha menggeser pantatnya hingga mepet ke arah pintu.


"oh ya... termasuk aku ingin jet pribadi apa kamu sanggup" ucap maha asal, sungguh diluar dugaan ketika Oliver meng iyakan ucapan maha dan dengan santai nya meminta Hanz untuk memesan sebuah jet pribadi untuk maha sebagai hadiah atas kehamilannya.


Oliver pun kini sibuk dengan ponselnya "Hanz urus semua berkas kepemilikan jet pribadi atas nama Mahabbah"


"eh...eh... stop stopppp" Maha pun merebut ponsel milik oliver kemudian menekan tombol merah yang masih terdengar suara dari seberang line telepon.


"aku hanya bercanda Oliver, aku tidak butuh jet pribadi, dan ini maaf jika aku tidak sopan merebut ponsel mu" maha pun mengembalikan ponsel Oliver dengan canggung. sedangkan Oliver hanya menatap heran wajah Maha, maha yang merasa bersalah dan terus menerus ditatap oleh Oliver akhirnya memalingkan wajahnya ke arah kaca jendela disampingnya.


"tuan muda ada telepon dari Kemenhub apa anda benar benar akan membeli jet pribadi" sekertaris Hanz menatap tuanya melalui kaca spion didepan nya


sedangkan Oliver masih menatap Maha, maha yang mendengar ucapan Hanz akhirnya ikut kelabakan.


"tentu saja jadi seperti yang saya katakan tadi, maha menginginkan nya mungkin itu keinginan bayi ku yang ada di rahim nya" jawab oliver kemudian

__ADS_1


"ehhhhh....... tidak tidak tuan Hanz tolong batalkan aku hanya bercanda, jangan dianggap serius oliver maaf maaf" maha menatap oliver.


"Hanz tetap pesan kan satu" ucap oliver, ia memalingkan wajahnya ketika maha menatap wajah nya dengan wajah yang benar benar membuat oliver gemas, ia merasa wajahnya merah karena malu.


__ADS_2