
"Turunkan cucuku" suara bariton menggelegar didepan pintu masuk, Arata sudah membawa Samurai miliknya, oliver tidak terkejut sama sekali dengan sikap Arata, namun berbeda dengan Maha ia tidak menyangka bila sambutan sang papa se horor itu.
"papa apa yang papa lakukan" ucap Maha ia segera membentengi oliver dengan tubuhnya. "tidak apa apa sayang, papa mertua tidak akan mungkin membunuh ku" ucap oliver pelan namun masih terdengar ditelinga Arata.
"siapa yang jadi papa mertua mu??" bentak Arata, hal itu bukan membuat oliver takut namun dengan santai nya dia membungkuk memberi hormat dan menyapa papa mertua nya yang tentu saja tidak mengakui nya.
"salam Papa, selamat pagi menjelang siang maaf semalam istri dan anak saya, ah maksud saya anak dan cucu anda menginap dirumah saya"
"aku bukan papa mu, dan jangan cari muka dihadapan ku" ucap Arata ia menatap sinis ke arah pria di hadapannya.
"Oliver... apa kabar kamu nak!!" Maharani yang baru saja keluar langsung menghampiri oliver, sebelum sampai tubuh nya sudah ditarik oleh Arata, seketika mata Maharani melotot ke arah Arata.
__ADS_1
"sayang mau apa kamu?" ucap Arata memelas dan perlahan melepaskan pinggang Maharani yang ia peluk, melihat bola mata Maharani seolah ingin keluar dari kelompak matanya.
Maharani tidak menjawab pertanyaan Arata, ia melanjutkan aksinya menghampiri oliver. bagi Maharani Oliver sosok yang bertanggung jawab terbukti ia menikahi putri nya yang hamil gara gara uang pengobatan nya waktu itu, padahal bisa saja oliver tidak menikahi Maha. karena perjanjian antara maha dan Alisia yang hanya sebatas menyewa rahim saja. namun oliver memilih menikahi maha dan menceraikan istrinya Alisia.
Maharani memeluk tubuh menantu nya yang tinggi menjulang karena ia hanya sebatas dada oliver sama seperti Maha. maka dari itu bila oliver berjalan bersama maha seperti kakak adik namun bisa dilihat dari perlakuan romantis Oliver orang dapat menyimpulkan jika mereka sepasang kekasih.
"Oliver baik baik saja sekarang ma, mama apa kabar" ucap oliver ia mencium punggung tangan mama mertua nya. jangan tanyakan lagi bagaimana wajah Arata saat itu melihat istrinya memeluk tubuh laki laki lain di depan matanya sendiri.
"Arata mengapa kau keluarkan samurai mu??, kau ingin membunuh ku hah??" teriak Maharani yang baru menyadari jika suaminya sedang membawa Samurai dan mengarahkan nya pada tubuh Maharani karena posisi Maharani yang berada didepan tubuh Oliver.
Maha sendiri menahan tawanya dengan tersenyum, ia tau segalak galak papa nya dan segarang garangnya papa Arata, ia akan takluk dengan mama Maharani. untung saja mama Maharani adalah wanita yang penyayang dan sabar, ia tidak pernah membuat Arata malu didepan anak buah nya. bagaimana pun Maharani menghormati dan menuruti kata kata Arata ketika berhadapan dengan banyak orang.
__ADS_1
"sayang bukan seperti itu, aku hanya menghardik laki laki tidak bertanggung jawab itu, yang telah menelantarkan anakku ketika ia hamil. bahkan anak mu rela menjadi orang tua tunggal padahal banyak sekali anak anak dari para kolega ku yang menginginkan putriku jadi menantu mereka" ucap Arata tidak Terima bila istri nya membela laki laki yang di benci nya itu.
"diam Arata, bagaimana pun mereka saling mencintai dan aku sebagai ibu nya maha tidak akan pernah memisahkan mereka berdua!! aku akan pulang ke negara ku lagi dan jangan pernah membawa ku atau berjumpa dengan ku dan maha!!" ucap maha ia sudah berkacak pinggang didepan suaminya dan terus saja mengomel.
"aiyooo... sayang baik baik jangan marah lagi oke, jangan melotot seperti itu sayang!! aku mencintaimu sayang!!" Arata memeluk tubuh istrinya namun berusaha ditepis oleh Maharani.
"ayolah Rani jangan seperti anak kecil sayang!!" ucap Arata ia memberi kan ciuman di kening Maharani Secara bertubi-tubi. "Maha tolong hentikan mama mu" ucap Arata yang menatap ke arah Maha yang saat ini sedang berpaling wajah menatap kearah lain, maha menahan tawanya ia tahu bahwa itu hanya lah akting mama nya, mana mungkin mama nya meninggalkan papa lagi.
"ok.. ok... aku akan memberi kesempatan kepada laki laki tidak bertanggung jawab itu" ucap Arata,
"siapa yang tidak bertanggung jawab, seharusnya kamu berkaca dahulu, apa kaca dirumah mu masih kurang besar hah?" tanya Maharani ia merenggangkan pelukan Arata, dan berusaha sekuat tenaga untuk menahannya dengan kedua telapak tangan nya saat Arata dengan kokoh memeluk tubuh nya erat.
__ADS_1
Arata memcium bibir istrinya dengan gemas, ia tidak ingin mulut wanita di hadapan nya ini terus terusan saja mengomel.
"astaga papa apa yang kau lakukan ada Haru disini" byboy tertawa cekikikan melihat betapa paniknya sang mommy yang berusaha menutupi kedua matanya.