Balas Dendam Bodyguard Kampungan

Balas Dendam Bodyguard Kampungan
Pahlawan gak jadi (Special Episode)


__ADS_3

Di perjalanan pulang.


Zeno meminta Bambang untuk menyetir mobilnya karena dia ingin melepas kerinduan yang mendalam kepada Zaenudin. Zaenudin terlihat masih ngambek dan tak mau memandang wajah Zeno.


Bambang dan Bang Ismed yang duduk di depan pun hanya saling menatap nanar dan geleng-geleng kepala.


"Zae? Jangan marah, dong ... semua ini memang salah gua karena udah mengabaikan lo waktu di Mall," ungkap Zeno.


Zaenudin masih tidak peduli dan melengos. Zeno mencoba meyakinkan Zaenudin dengan mencium ceker Zaenudin.


Bambang dan Bang Ismed pun makin merasa heran karena sikap bucin Zeno kepada Zaenudin makin menjadi-jadi. Mereka tidak tahu lagi harus berkata apa. Bagaimana nanti jika seandainya Zaenudin mati?


***


Mereka sengaja melewati jalanan yang cukup sepi yang merupakan jalan pintas, agar bisa sampai ke kediaman keluarga Wijaya dengan cepat.


Ditengah perjalanan, tak sengaja mereka melihat ada sebuah mobil yang tiba-tiba menghalangi jalan mobil yang lain. Dari dalam mobil itu, keluar lah tiga orang pria kekar dengan kepala botak. Gerak-gerik ketiga pria itu sungguh mencurigakan.


"Itu ngapain tiga pentol korek muka sangar berhentiin mobil orang?" ujar Bambang.


Bang Ismed tak menyahut karena sedang tertidur pulas. Zeno yang sedang sibuk dengan Zaenudin pun ikut memperhatikan gerak-gerik ketiga pria botak itu.


"Jangan-jangan ini penculikan, Bang," kata Zeno sambil memegang dagunya.


"Lah kayaknya iya, Zen," sahut Bambang.


Tiba-tiba keluarlah sosok wanita dari mobil yang dihalangi oleh ketiga pria botak kekar tersebut. Wanita itu terlihat sedang dipaksa dan diseret oleh ketiga pria kekar itu untuk masuk ke mobil mereka.


Tak lama kemudian, dari dalam mobil yang ditumpangi wanita itu, keluarlah seorang pria kurus mirip batang jerami yang berumur sekitar 30an. Pria itu terlihat seperti seorang supir wanita itu. Pria itu terlihat ketakutan dan bersembunyi dibalik batang pohon.


"Wah emang gak ada otak kali tuh orang, masa majikannya diculik dia malah nyumput," decak Bambang heran.


"Ya kan, Zen?" tanya Bambang.


Tak ada jawaban dari Zeno, ternyata Zeno sudah berkelahi dengan ketiga pria kekar botak itu.


Bambang pun membangunkan Bang Ismed sedang tertidur sambil encesan itu.


"Bang! Bangun!" seru Bambang di telinga kanan Bang Ismed.


Bang Ismed sontak terkejut dan bangun.


"Ngagetin aja lu ini, Bambang!" sahut Bang Ismed.


"Tuh liat!" Bambang menunjuk kearah Zeno dan ketiga pria kekar yang sedang berkelahi memperebutkan wanita yang hendak diculik itu.


"Waduh! Gawat ini, Bang!" ujar Bang Ismed.


"Ikut gua! Kita kesana!" ajak Bambang.


Bukannya menolong Zeno, mereka berdua malah ikut-ikutan bersembunyi bersama sopir batang jerami itu dibalik pohon.


"Itu kenapa kok mau diculik?" tanya Bang Ismed tiba-tiba kepada sopir tersebut.


"Astaghfirullah! Ngagetin aja!" pekik si sopir.


Bang Ismed hanya nyengir kuda.


"Iya kenapa tuh bisa diculik?" tanya Bambang lagi.


"Saya juga gak tau ... saya akan coba telepon bos saya," jawab si sopir.


***


Sementara itu Zeno masih sibuk berkelahi dengan dua pria kekar, pria kekar yang satunya sedang sibuk menyeret wanita yang hendak diculik ke dalam mobil. Salah satu pria kekar itu menjambak rambut Zeno dan pria yang satunya memukul perut Zeno.

__ADS_1


Zeno hendak menjambak rambut pria kekar yang menjambak rambutnya tapi tidak bisa karena kepalanya botak.


Kurang ajar! Gua gak bisa maen jambak-jambakan karena mereka botak, sial!


Zeno pun menendang lutut pria kekar yang menjambak rambutnya itu dan melepaskan diri. Dia pun menendang pelipis pria kekar yang memukul perutnya dengan tendangan yang mengagumkan.


Kedua pria kekar botak itu pun dipukul habis-habisan oleh Zeno. Mereka berdua hampir menangis dan minta ampun. Mereka sampai berlutut di kaki Zeno.


"Ampun, Bang! Jangan pukul lagi," mohon pria kekar yang menjambak Zeno.


"Iya, Bang! Ampun!" sahut pria kekar yang memukul perut Zeno.


Zeno pun tersenyum smirk dan hendak menolong wanita itu dari pria kekar botak yang satunya. Namun takdir berkata lain, fokus Zeno terpecah ketika melihat Zaenudin hendak kabur lagi.


"Zaenudin!" Zeno pun tak memperdulikan penculikan itu dan mengejar Zaenudin yang sudah terbang menjauh, Zeno tidak ingin kehilangan Zaenudin untuk kedua kalinya.


Kesempatan itu pun digunakan untuk penculik untuk kabur dan membawa wanita targetnya itu.


Bambang, Bang Ismed, dan supir batang jerami itu pun tak habis pikir dengan kelakuan Zeno. Padahal sudah mau berhasil, malah gagal gara-gara Zaenudin kabur. Emang ayam tidak berakhlak sama sekali.


"Waduh! Gagal total," ujar si sopir.


Sementara Zeno masih sibuk mengejar Zaenudin yang kabur itu. Datanglah sosok pria tampan yang terlihat kaya raya dengan memakai setelan jas mewah. Pria itu pun berjalan menghampiri mereka bertiga.


"Bagaimana Gea bisa diculik?" tanya pria kaya raya itu kepada si sopir.


"Saya juga gak paham, Tuan," jawab si sopir sambil menunduk.


Bambang yang sepertinya mengenal sosok pria tersebut pun langsung menyapanya.


"Eh! Lu kan Arga Hutama?! CEO perusahaan Montana Grup," sapa Bambang sedikit ragu.


Pria yang bernama Arga itu mengeryitkan dahinya berusaha mengingat sosok Bambang.


"Lo kan Bambang Gentolet! Anak Pak Gatot Gentolet, CEO Gentolet Corp?!" sahut Arga.


Setelah beberapa saat, Arga tersadar bahwa salah satu karyawatinya telah diculik. Dia pun langsung berpamitan kepada Bambang dan Bang Ismed.


***


Setelah Arga dan supir batang jerami itu pergi, Bambang dan Bang Ismed pun mencari keberadaan Zeno yang mengejar Zaenudin entah kemana.


"Lu, sih! Kenapa pintu mobilnya gak ditutup?!" pekik Bambang kepada Bang Ismed.


"Kok lu nyalahin gua? Salahin aja tuh ayam bar-bar yang pake acara kabur-kaburan segala!" protes Bang Ismed.


"Lama-lama gua jadi makin kesel sama itu ayam!" geram Bambang.


"Gua juga ... gimana kalo kita bikin rencana buat jadiin si Zaenudin sayur opor?" saran Bang Ismed.


"Hm ... gua setuju," sahut Bambang.


Mereka pun saling tersenyum penuh arti dan memasuki mobil. Mereka hendak mencari keberadaan Zeno yang menghilang itu.


.


.


.


***


Griffin Island.


Kediaman keluarga Griffin.

__ADS_1


Tuan Abraham yang baru saja pulang dari London pun langsung mendatangi kamar Fox. Raut wajahnya terlihat sangat marah saat itu.


Brak!


Tuan Abraham membuka dengan kasar pintu kamar Fox hingga membuat suara gaduh.


"Fox!" pekik Tuan Abraham.


"Ayah?" sahut Fox sembari bangkit dari tempat tidurnya.


"Apa yang kau lakukan?! Mengapa kau menculik putri Tuan Frans Wijaya?!" tanya Tuan Abraham dengan mata yang berapi-api.


"Mengapa ayah ribut sekali? Biasanya ayah tidak pernah peduli saat aku berbuat masalah," seloroh Fox.


"Kau boleh mengganggu siapa pun, tapi tidak dengan keluarga Wijaya!" ujar Tuan Abraham.


"Kenapa?! Aku hanya melampiaskan rasa sakit hatiku kepada gadis itu!" protes Fox.


"Buang rasa sakit hatimu jauh-jauh karena itu akan membuat masalah yang besar untuk kita!" seru Tuan Abraham.


"Ayah adalah mafia yang ditakuti di Inggris dan bahkan seluruh dunia, mengapa ayah harus takut dengan keluarga Wijaya? Seharusnya mereka yang takut dengan ayah," ujar Fox.


"Kau tidak perlu tahu! Kau boleh mengganggu siapa saja, asal jangan keluarga Wijaya," pungkas Tuan Abraham.


Tuan Abraham pun beranjak pergi meninggalkan kamar Fox.


"Apa alasannya adalah karena masalah 20 tahun yang lalu?" celetuk Fox.


Tuan Abraham menghentikan langkahnya, dia pun terkejut karena anaknya bisa mengetahui masalah 20 tahun yang lalu.


"Dari mana kau tahu masalah itu?" tanya Tuan Abraham.


Fox tersenyum smirk.


"Ayah tak perlu tahu, lagi pula apa peduliku dengan hal itu," jawab Fox.


"Kalau Tuan Frans sampai tahu kebenaran tentang 20 tahun yang lalu, keluarga kita bisa hancur berkeping-keping!" jelas Tuan Abraham.


"Aku tidak peduli, yang aku inginkan hanyalah Jessie, putri Tuan Frans Wijaya," ujar Fox.


"Kau!" pekik Tuan Abraham.


Kemarahan Tuan Abraham terhenti saat salah satu asisten pribadinya menghampirinya.


"Maaf, Tuan ... ini ada panggilan dari Tuan Frans Wijaya," ucap asisten pribadinya.


Ada apa Frans meneleponku? Semoga saja dia belum mengetahui kebenaran 20 tahun yang lalu.


.


.


.


***


Next episode comming soon 😁👍


Penasaran dengan Arga sang CEO tampan yang merupakan sahabat kecil Bambang? Kuy kepoin ceritanya di novel ini 👇


Terpaksa Menikahi Tuan Posesif - Nafasal



Arga

__ADS_1



__ADS_2