Balas Dendam Bodyguard Kampungan

Balas Dendam Bodyguard Kampungan
Dilema


__ADS_3

Setelah kejadian-kejadian yang diluar nalar, akhirnya Key mengantarkan Zeno kembali ke kediaman keluarga Wijaya. Key mengantarkan Zeno tidak sampai di depan gerbang, melainkan hanya sampai jalan sepi yang berjarak sekitar satu kilometer dari rumah tempat Zeno bekerja itu.


"Gua anter sampe sini, ya?" kata Key sembari mengerem mobilnya.


"Eh? Ini masih jauh keles! Tega banget lo ini!" protes Zeno.


"Ntar kalo ada yang curiga gawat," desis Key sembari melihat ke sekeliling.


"Iya-iya ... udah makasih!" Zeno turun dari mobil dan menutup pintu mobil dengan kasar.


Brak!


"Weh! Santuy aja keles!" pekik Key.


"Bodo!" sahut Zeno sembari terus berjalan dan menenteng jasnya. Pria itu merasa gerah memakai jas seharian.


Key terkekeh melihat reaksi Zeno. Dia pun terburu-buru pergi agar tidak ada yang melihatnya. Padahal kalau ada yang lihat juga tidak apa-apa, karena status Key adalah tunangan Jessie. Bukan hal aneh jika Key bersama salah satu bodyguard Jessie. Dasar saja dia ingin mengerjai sepupunya itu.


***


Zeno terus melangkah menyusuri jalan menuju ke kediaman keluarga Wijaya. Waktu sudah menunjukkan pukul setengah enam sore, mungkin saja teman-temannya yang sadar kalau dia menghilang akan panik.


Sedang fokus berjalan, ada sebuah mobil yang meng-klakson Zeno dengan kencang.


Tin-tin-tin!


Zeno tersentak kaget karena suara klakson mobil itu.


"Weh! Gak ada akhlak banget, dah!" umpat Zeno.


Zeno menoleh kearah mobil tersebut. Mobil itu berhenti tepat di sampingnya. Dari mobil itu turunlah seorang wanita cantik nan seksi berambut panjang dengan memakai kacamata gaya yang terlihat mahal.


Masya Allah ! Siapa cewek ini? batin Zeno sedikit kagum dengan wanita itu.


Wanita itu mendekati Zeno yang masih mematung dan shock. Dia membuka kacamatanya sehingga membuat Zeno mengenali sosok wanita itu.


"Depe?!" pekik Zeno setengah tidak percaya. Pasalnya wanita yang bernama Depe itu tinggal di kampung halamannya yang berada di Jogja.


"Eh? Lu kenal gua? Emang lu siapa?" Depe mengeryitkan dahinya.


"Lah ... kirain lo kenal gua? Makanya klakson-klakson gitu," ujar Zeno.


"Gua gak kenal lu, lagi pula gua klakson-klakson itu karena lu itu menghalangi jalan mobil gua," tukas Depe.


"Jalan masih luas gitu! Parah banget, dah!" seru Zeno.


Depe memperhatikan penampilan Zeno dari atas kebawah. Dia merasa kalau pria yang berada di depannya tampan juga. Tapi berulang kali dia mencoba mengingat, dia tidak juga dapat mengenali Zeno.


"Ngapain liat-liat!" ketus Zeno.


"Biasa aja! Gua heran ... emang lu itu siapa?" tanya Depe dengan segala rasa penasarannya yang membuncah.


Zeno menghela napasnya kasar. Dia pun akhirnya menjawab pertanyaan wanita yang merupakan salah satu wanita yang pernah menolak cintanya saat di kampung dulu. Lebih tepatnya saat Zeno masih burik, dekil, kumuh, norak, dan kampungan.

__ADS_1


"Gua Zeno Umbul Jaya... masa lupa?" tutur Zeno.


Depe merasa tidak percaya, wanita itu menutup mulutnya yang sontak terbuka dengan kedua tangannya. Dia merasa terkejut karena melihat Zeno yang sudah tampan. Terlebih lagi dia sedang keringatan, sehingga menambah tingkat keseksian pria itu.


"M-m-masa, sih?!" pekik Depe tak percaya.


"Terserah lo aja, lagian gua inget banget dulu lo nolak gua dengan alasan yang gak logis. Kalo lo bilang karena gua kumuh dan burik masih gua terima. Nah ini, lo bilang karena gua gak berbulu dan lincah," decak Zeno dengan nada suara kesal.


Depe masih membeku, dia bingung harus berkata apa. Dulu memang dia menolak Zeno dengan alasan yang aneh macam itu. Tapi itu hanya alasan tiba-tiba saja supaya Zeno tidak mengganggu dirinya lagi.


"Pacaran aja sono sama monyet," gumam Zeno sembari berjalan pergi meninggalkan Depe.


Zeno pun berlari dengan cepat. Dengan lincah dia melewati pagar kediaman rumah keluarga Wijaya. Hal itu membuat Depe menganga.


"Dia lincah banget sekarang ... kira-kira dia berbulu juga gak, ya?" gumam Depe yang seakan menyesal telah menolak Zeno dahulu.


.


.


.


***


Kediaman keluarga Wijaya.


Kamar Jessie.


Jessie terlihat khawatir campur kesal karena sejak tadi pagi, dia tidak melihat batang hidung Zeno sekali pun. Gadis cantik itu mondar-mandir di kamarnya sambil sesekali mengintip jendela kamarnya.


.


.


.


***


Zeno terlihat kesal, dia mencari Bang Ismed yang telah menjebaknya dengan semur jengkol yang diberi obat tidur. Sebenarnya, dia tidak kesal-kesal amat -- hanya saja dia ingin menagih semur jengkol yang tidak pakai obat tidur. Zeno adalah penggemar nomor satu semur jengkol.


"Di mana ini Bang Ismed? Emang lucnut banget dia!" umpat Zeno.


Grep!


Tiba-tiba ada yang meraih lengan Zeno dengan kasar dari belakang.


"Siapa, sih?!" pekik Zeno sembari menoleh.


Wajah kesal Zeno pun memudar karena melihat sosok Jessie yang ada di belakangnya.


"Ke mana aja seharian?" tanya Jessie dengan tatapan mata yang membutuhkan penjelasan.


Zeno melihat ke sekeliling dan menarik lengan Jessie untuk dibawa ke tempat yang lebih aman.

__ADS_1


***


Mereka sampai di dekat kandang Zaenudin. Zaenudin terlihat sedang tidur sehingga tidak akan mengganggu mereka berdua.


Zeno melepaskan genggaman tangannya dan meminta gadis itu untuk duduk di kursi bambu yang ada di bawah pohon jengkol. Hari itu sudah gelap sehingga tidak ada orang yang bisa melihat mereka di tempat itu.


"Kenapa?" tanya Zeno sembari duduk di sebelah Jessie.


Jessie langsung memeluk Zeno yang berada di sebelahnya. Gadis itu terisak sembari memeluk Zeno.


"G-gua kangen," lirih Jessie.


Zeno membalas pelukan Jessie dan mengusap lembut rambut panjang Jessie. Saat itu hatinya sedang dilanda dilema yang cukup pelik. Antara balas dendam dan cinta. Apalagi dia baru saja mengetahui kenyataan yang didengarnya tadi siang. Ayah dari gadis yang dia cintai telah merenggut segala kebahagiaan miliknya, bukan hanya nyawa orang tuanya tapi juga seluruh harta peninggalan orang tuanya -- sehingga selama hampir dua puluh tahun dia dan kakeknya hidup dalam kesengsaraan.


"Saya juga kangen, Non," bisik Zeno.


"Tadi ke mana aja? Gua gak liat lo seharian," tanya Jessie dengan nada suara lirih dan mendongak menatap Zeno.


Zeno melihat ada cairan bening yang keluar dari ekor mata milik Jessie. Pria itu pun dengan lembut mengusapnya. Hatinya terasa perih saat melihat gadis yang dicintainya menangis karenanya.


"Tadi ada urusan sebentar," jawab Zeno.


"Hati gua sakit, Zen...." ucap Jessie tiba-tiba.


"Sakit? Sakit kenapa?" Zeno terlihat panik dan langsung memegang kedua pundak Jessie serta menatapnya.


"Sakit karena harus mendam perasaan ... kenapa gua harus jatuh cinta sama lo? Kenapa lo itu bodyguard gua?" ungkap Jessie sembari menatap lekat dua manik hitam Zeno dengan mata berkaca-kaca.


Zeno membalas tatapan mata Jessie dengan tatapan sendu.


Hati gua juga sakit. Kenapa kita berdua harus ditakdirkan ketemu dengan keadaan kayak gini? Ketemu sebagai dua orang yang mungkin akan saling membenci dikemudian hari, kalo lo tau gua jadi bodyguard cuma buat balas dendam dengan bokap lo.


.


.


.


***


Huhu part ini ada sedihnya ... sedih gak, sih? Apa cuma perasaan aku doang? πŸ₯ΊπŸ˜


Terima kasih buat para readers yang masih setia membaca sampai sini... Love u all πŸ₯°


Next episode comming soon πŸ˜πŸ‘


Depe



Depe adalah penulis kece yang merupakan kakak pertama author di dunia pernovelan. Dia dijuluki sebagai Sun Gokong wkwk... Jangan lupa kuy kepoin karya kakak Gokong ku di novel ini πŸ‘‡


Tentang Hati - Aldekha Depe

__ADS_1



__ADS_2