
Tuan Abraham masih terpaku, dia memutar otaknya untuk menjawab pertanyaan dari Tuan Frans.
"B-bukankah sudah jelas kalau Alfred dan Marina meninggal karena kecelakaan," jawab Tuan Abraham.
Tuan Frans menautkan kedua alisnya. "Lalu bagaimana dengan penjelasan mengenai lambang keluargamu?"
Tuan Abraham mencari alasan untuk menghindar dan membela diri. Jika dia memberitahu Tuan Frans, bahwa Fox yang melakukan penculikan terhadap Jessie -- Tuan Frans akan membuat perhitungan dengannya.
"Mungkin saja itu kebetulan, Frans ... atau bisa jadi itu hanya akal-akalan si penculik untuk memfitnah keluargaku," kilah Tuan Abraham.
Tuan Frans mencoba memahami ucapan Tuan Abraham. Dia berpikir, mungkin ada benarnya kalau penculikan itu adalah hanya akal-akalan untuk membuat hubungan antara mereka menjadi renggang. Lagipula, Jessie juga tidak mengalami cedera apapun.
"Baiklah ... mungkin perkataanmu ada benarnya juga." Tuan Frans nampak memikirkan sesuatu. "Sejujurnya aku masih ragu mengenai kematian Alfred dan Marina, kecelakaan itu seperti tidak masuk akal," ungkap Tuan Frans.
Tuan Abraham berusaha rileks menanggapi ungkapan dari Tuan Frans. Sepertinya pria tua itu tahu kebenaran sesungguhnya dari misteri kematian dua orang sahabatnya itu.
.
.
.
***
Kamar Zeno, kediaman keluarga Sanjaya, London, Inggris.
Zeno menatap selembar foto yang menampilkan potret sebuah sebuah keluarga kecil. Ada ayah, ibu, dan satu orang anak laki-laki yang kira-kira masih berusia 2 tahunan.
Mata Zeno memerah sepanjang menatap foto tersebut. Terlihat jelas raut sedih dan kerinduan yang terpancar dari dua manik hitam miliknya. Sesekali dia mengepal tangannya erat dan menggertakan giginya.
Ayah ... Ibu ... Zeno sudah berada dekat dengan orang yang menyebabkan kematian kalian berdua. Tunggu saatnya Zeno akan membalaskan dendam untuk kematian kalian berdua. Saat ini fokus Zeno terpecah karena putri orang itu. Maafkan Zeno ... Zeno akan lebih serius lagi mulai sekarang.
Tok-tok-tok!
Tiba-tiba suara pintu kamar Zeno diketuk dengan kencang. Zeno pun langsung terburu-buru menyimpan potret keluarganya dibalik bantal dan menghapus cairan bening yang sempat membasahi pipinya.
"Siapa, sih? Ganggu orang lagi melankolis, aja!" gerutu Zeno.
Suara ketukan pintu makin kencang tapi tidak ada suara orang yang memanggil.
"Siapa?" tanya Zeno sebelum membuka pintu.
"Ini gua, Jessie," sahut Jessie dari luar pintu.
Zeno membuka pintu kamarnya dengan segera saat mengetahui kalau itu Jessie. Begitu pintu dibuka Jessie langsung menghambur masuk ke dalam kamar Zeno. Zeno pun langsung menutup pintu kamarnya karena takut ketahuan orang.
"Ngapain Non Jessie kemari?" tanya Zeno dengan raut wajah cemas karena takut ketahuan.
Jessie tidak langsung menjawab, dia malah berjalan mengarah ke tempat tidur Zeno dan duduk disana.
"Gua bosen," jawab Jessie singkat.
Zeno garuk-garuk kepala karena dia bingung menanggapinya.
"Kalo bosen ngapain malah ke kamar saya, Non? Nanti kalau ketahuan bisa gawat, ini kan kediaman keluarga dari Tuan Key," ucap Zeno.
Wajah Jessie terlihat kesal, dia pun bersidekap dan menyilangkan kakinya.
__ADS_1
"Sini!" perintah Jessie.
"Saya, Non?" tanya Zeno sambil menunjuk dirinya sendiri.
"Ya lo, lah! Masa setan yang berdiri dipojokan!" pekik Jessie.
Zeno langsung merasa ngeri dan dengan cepat mendekat ke Jessie. Baru saja Zeno mendekat, Jessie langsung menggapai dan mencengkeram kedua pundak Zeno lalu menghempaskan tubuh Zeno diatas kasur.
Pemandangan yang sungguh ambigu terjadi kala itu. Jessie berada diatas tubuh Zeno dengan Zeno yang terbaring mematung diatas kasur. Zeno berulang kali menelan liurnya karena memandang wajah Jessie yang begitu cantik, lebih serunya -- gadis cantik itu berada diatas tubuhnya.
Baru aja gua mau serius balas dendam, eh malah dapet cobaan kayak gini. Apa memang gua gak boleh balas dendam, ya Lord?
Jessie menatap tajam mata Zeno dengan manik berwarna coklat miliknya. Dari pandangannya terlihat jelas kalau gadis itu membutuhkan sebuah kepastian.
"Jelasin perasaan lo ke gua sebenernya?" desak Jessie.
"M-maksudnya perasaan apa, Non?" Zeno pura-pura bingung karena takut tujuannya akan melenceng.
"Lo suka sama gua apa gak?!" Jessie memperjelas pertanyaannya.
Deg!
Jantung Zeno berdegup kencang dan darahnya berdesir mendengar pertanyaan dari Jessie. Dia ingin menyangkal perasaannya kepada Jessie, tapi hasrat kepada gadis cantik itu tidak bisa dibendung olehnya.
Zeno menyukai Jessie. Ya benar, pria konyol itu memang menyukai anak dari musuhnya itu. Bahkan rasa sukanya sudah hampir memenuhi hatinya. Pertahanannya pun akhirnya runtuh.
Maafin Zeno ... ayah ... ibu ... Zeno gak bisa tahan perasaan Zeno ke cewek ini.
Zeno pun bangkit dan memegang pinggang Jessie lalu membalikkan keadaan. Kini Zeno yang berada diatas tubuh Jessie. Tanpa permisi, Zeno mencium bibir mungil berwarna coral milik Jessie. Ternyata Jessie menanggapi ciuman dari Zeno dengan memegang kepala belakang Zeno.
Kriet!
"Zen ... gu-," ucapan Bambang terjeda karena melihat pemandangan itu.
Bambang langsung terburu-buru menutup pintu kamar Zeno dan langsung memegang dadanya.
Astogeh! Kenapa 'sih gua sering kali liat beginian? Apa dosaku sebenarnya?
Bambang pun buru-buru kabur menuju kamarnya yang berada di sebelah kamar Zeno.
***
Zeno melepaskan pagutannya dari bibir Jessie dan dia beranjak turun dari tubuh Jessie. Zeno langsung berdiri dan merapikan rambut serta jasnya.
"Non Jessie sudah tau jawabannya tapi sepertinya kita tidak bisa bersama," tutur Zeno.
Jessie langsung beranjak dari tempat tidur dan langsung menghampiri Zeno.
"Kok lo bilang kayak gitu? Kenapa kita gak bisa bersama?" lirih Jessie.
Zeno memegang kedua pundak Jessie dan menatap tajam matanya.
"Non ... saya sadar akan status saya sebagai bodyguard, maka dari itu kita tidak akan bisa bersama," jelas Zeno.
Jessie langsung memeluk Zeno dengan erat. Tak disadari olehnya, air matanya pun mengalir dan keluar dari ekor matanya. Gadis itu berpikir kalau ucapan Zeno memang benar, apalagi Jessie sekarang sudah bertunangan dengan Key.
Zeno melepaskan pelukan Jessie dan menghapus cairan bening yang membasahi pipi mulus gadis cantik itu.
__ADS_1
"Non Jessie sebaiknya cepat pergi dari sini sebelum ada yang melihat," saran Zeno.
Jessie pun mengangguk dan pergi meninggalkan Zeno sendirian di kamarnya.
.
.
.
***
Kyla yang baru sampai pun langsung mencari Bambang karena dia mengetahui bodyguard yang mencuri ciumannya itu ikut ke London untuk mengawal Jessie. Dia belum sempat membuat perhitungan pasal kejadian memalukan di tempat penculikan tempo hari.
Ternyata setelah benturan gigi yang dialaminya dengan Bambang -- salah satu gigi depan Kyla pun copot dan harus memakai gigi palsu.
"Gua lupa bikin perhitungan dengan Bambang! Pokoknya dia gak boleh lolos kali ini!"
Kyla langsung menuju kamar Bambang dan tanpa basa-basi langsung membuka kamar Bambang.
"Bambang! Lo harus tang--," ucapan Kyla terhenti karena melihat sosok Bambang yang sedang melakukan sesuatu.
Ternyata Bambang sedang menjahit celananya yang sobek. Anehnya, Bambang hanya menggunakan kaos singlet dan boxer Hello Kitty pink-nya. Maka dari itu Kyla langsung malu melihat keadaan Bambang yang seperti itu.
Kyla langsung kabur, tapi Bambang malah mengejarnya.
"Non Kyla! Ada apa? Kok kabur?" tanya Bambang sembari menarik lengan Kyla.
Kyla memejamkan matanya karena tak ingin melihat Bambang.
"Lo itu malu-maluin, Bambang!" pekik Kyla.
.
.
.
***
Next episode comming soon 😁👍
Epilog episode ini:
Setan yang berada dipojokan kamar Zeno pun hanya menelan liurnya saat melihat ciuman panas antara Zeno dan Jessie.
"Kenapa pas gua hidup, gua gak sempet kayak gitu?"
Ternyata setan itu adalah setan laki-laki yang diidentifikasi bunuh diri karena jomblo akut selama 25 tahun.
.
.
.
***
__ADS_1
Happy Reading 😂✌️