
Hola kita bertemu lagi 😁😁👍
Happy Reading 😁👍
***
Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Jakarta.
Fox telah tiba di Jakarta, dia nampak tampan dan gagah dengan mengenakan topi kupluk merahnya dan sunglasses mahalnya. Baju dengan lengan terbuka membuat otot bisep dan trisep lengannya terlihat jelas, sehingga menambah kesan maskulin dan machonya. Terang saja, hal itu membuat para gadis yang ada di Bandara berteriak histeris saat melihatnya. Dia memang bukan artis tapi aura ketampanannya (bukan Aura Kasih wkwk) terpancar begitu terang dan menyilaukan mata siapa pun yang memandang.
Pria blasteran Indonesia-Inggris itu merasa sangat senang karena bisa menginjakkan kaki di Indonesia lagi. Salah satu tujuannya adalah untuk mendapatkan hal yang seharusnya miliknya. Hal yang dimaksud olehnya adalah Jessie, gadis yang seharusnya menjadi tunangannya. Namun karena suatu hal, pertunangan mereka pun dibatalkan.
Fox berjalan diiringi oleh para bodyguard yang merupakan suruhan ayahnya. Sebenarnya, dia tidak terlalu menyukai jika harus dikawal oleh para pria berbadan besar itu. Namun, statusnya sebagai seorang anak mafia yang paling ditakuti di Inggris mengharuskan dia dikawal demi keselamatan.
Tiba-tiba ada seseorang yang datang menghampiri Fox dengan terburu-buru.
"Maaf ... apa kamu bersedia jadi artis?" suara seorang pria mengagetkan Fox yang sedang fokus berjalan. Pria itu tidak lain dan tidak bukan adalah Claude. Pria aneh yang tempo hari menawarkan Zeno, Bambang, dan Young Flash untuk menjadi artis.
Fox membuka kacamatanya, dia memperhatikan sosok Claude dari atas kebawah. Dia menautkan kedua alisnya karena heran melihat penampilan Claude yang lengkap menggunakan pakaian klasik khas Eropa.
"Bapak ini seorang time traveller ya? Terus nyasar ke Indonesia?" tanya Fox.
"Hah? Maksudnya?" Claude mencoba memahami pertanyaan dari Fox. Setelah melihat penampilannya dari atas kebawah, akhirnya dia paham akan pertanyaan Fox karena dia memang terlihat seperti penjelajah waktu yang berasal dari masa lampau.
"Oh! Pasti karena penampilan saya, kan? Ini namanya style! Saya suka sekali berpakaian seperti ini karena terlihat keren!" jawab Claude antusias.
Dia tadi nawarin jadi artis, kan? Jangan-jangan artis abal-abal atau badut? Nanti kalo masuk agensi punya dia, bisa-bisa gua jadi ketularan aneh, batin Fox sembari memperhatikan Claude.
"Bagaimana? Kamu mau, kan? Saya lihat ada potensi yang besar dalam diri kamu untuk menjadi seorang artis besar!" rayu Claude dengan mata yang berbinar-binar.
"Maaf tapi saya tidak tertarik," tanggap Fox sambil berjalan meninggalkan Claude.
"T-tapi...."
Langkah kaki Claude dihalangi oleh bodyguard yang mengawal Fox sedari tadi. Pria itu nampak sedih karena tidak ada satu pun orang yang mau menerima tawarannya untuk menjadi artis.
"Nasib-nasib ... udah dari kemaren gak ada yang mau jadi artis," ratap Claude sembari memandang punggung Fox yang mulai menjauh dan menghilang.
__ADS_1
.
.
.
***
Keesokan harinya.
Kediaman keluarga Wijaya.
Young Flash ternyata tidak menyerah begitu saja. Sudah dua hari pria lincah itu mengintai dan mengikuti kemana Zeno pergi. Kali ini dia tidak berbekal kamera melainkan berbekal handphone yang diambilnya dari rumah Pak Mahmud. Memang tidak berakhlak, sudah ditolong maling lagi. Kebetulan handphone tersebut adalah milik wanita yang bernama Depe.
Namun, anehnya saat Depe mengetahui bahwa handphonenya diambil oleh Young Flash dia tidak marah dan malah merasa bahagia. Sungguh wanita yang aneh. Dia malah bicara melantur saat Young Flash menelepon nomor Pak Mahmud untuk meminjam sementara handphone tersebut. Wanita itu malah mengatakan jangankan handphone yang dicuri, hati saja dia rela. Haduh ada-ada saja.
Sebenarnya Young Flash berencana mengembalikan handphone milik Depe setelah mendapatkan foto hasil bukti yang akurat tentang kebenaran kisah cinta sang pewaris tunggal keluarga Wijaya -- Jessie dan bodyguard-nya Zeno, yang ternyata adalah sepupu dari tunangan Jessie sendiri, yaitu Key.
Young Flash mendapatkan angin segar ketika melihat sosok pria tampan yang baru saja datang di kediaman keluarga Wijaya. Pria itu adalah Fox.
Fox ternyata berani terang-terangan berkunjung ke rumah Jessie dan hendak menemui Tuan Frans. Satu hari sebelumnya, ayahnya memang sudah menghubungi Tuan Frans dan mengatakan kalau Fox akan berkunjung setelah tiba di Jakarta.
Kedatangan Fox disambut oleh Zeno dan Bambang. Hal itu sontak membuat Fox mengingat kejadian penculikan yang dilakukan olehnya terhadap Jessie waktu itu. Mata Fox menatap tajam kearah Zeno, karena dia tau bahwa Jessie menyukai sosok pria yang berada di hadapannya itu.
"Tuan? Tuan! Halo, Tuan!" sapa Zeno berulangkali dengan nada suara yang meningkat satu oktaf ditiap katanya.
Fox terkejut dan bangun dari lamunannya.
"Ah! Iya ... maaf, jadi di mana saya dapat menemui Tuan Frans?" tanya Fox.
"Tuan Frans ada di dalam ruang kerjanya di paviliun timur," jawab Zeno.
"Mari ikut kami berdua, Tuan," ujar Bambang.
***
Fox pun berjalan mengikuti ke mana Zeno dan Bambang melangkah. Dia memandang ke sekeliling bangunan di kediaman tersebut. Pria muda itu nampak menilai sudut demi sudut bangunan.
__ADS_1
"Psstt ... Zen, lu ngerasa gak asing 'kan sama tuh cowok?" bisik Bambang.
"Iya, kita ketemu dia di London waktu itu," sahut Zeno dengan berbisik juga.
"Sebelum dari London, Zen ... kayak pernah liat dan denger suaranya gitu," ujar Bambang.
"Perasaan lo aja kali," tanggap Zeno malas.
Bambang hanya diam. Dia masih memikirkan, di mana dia pernah bertemu dengan Fox selain di London.
"Ah!" pekik Bambang tiba-tiba.
Pekikan Bambang membuat Zeno dan Fox yang berada di belakang mereka sontak terkejut.
"Apaan sih teriak-teriak?!" desis Zeno kepada Bambang sembari menoleh kearah Fox dan menundukkan kepalanya tanda meminta maaf.
"Zen ... cowok ini posturnya mirip banget sama penculik Non Jessie waktu itu. Pria bertopeng," bisik Bambang.
Mendengar perkataan Bambang, Zeno pun terkejut dan membelalakkan matanya. Sesekali dia menoleh kearah Fox yang masih asyik mengamati sekeliling bangunan.
Bener juga kata Bambang. Posturnya mirip banget ... kenapa gua gak kepikiran, ya? batin Zeno sembari mengerutkan keningnya.
.
.
.
***
Next episode comming soon 😁👍
Jangan lupa kuy mampir ke novel kakak onlen dan adik onlen author 😁👍
Kencan Buta - Tya Gunawan
Menikahlah Denganku - Nafasal
__ADS_1