
Maaf semuanya... update kali ini melenceng dari jadwal karena ada berbagai alasan kesibukan di dunia nyata. Mohon dimaklumi 😉
Happy Reading 😁👍
***
Malam itu Zeno sungguh galau karena baru saja memutuskan merelakan Jessie untuk Key. Dia akhirnya pergi menuju kandang Zaenudin hanya untuk sekedar curhat. Sejak masih tinggal di kampung, dia memang kerap kali mencurahkan isi hatinya kepada ayam kesayangannya itu saat ada masalah.
"Zae ... gua galau banget sekarang. Apa keputusan gua udah bener, ya?"
Zaenudin tidak menjawab karena dia telah tertidur. Lagi pula dia hanya hewan, bagaimana juga dia akan menjawab?
"Aelah! Lo malah tidur, sih! Bangun kenapa, Zae! Gak tau apa majikannya lagi sedih?"
Zeno makin galau karena Zaenudin cuek saja kepadanya. Tiba-tiba ada Bang Ismed yang tidak sengaja melintas di kandang Zaenudin.
"Astaghfirullah! Ngapain lu gelap-gelapan, Zen? Gua kira setan tadi, bikin kaget aja!" pekik Bang Ismed yang terlihat sangat terkejut.
"Gua lagi gegana, Bang ... alias gelisah, galau, merana." Zeno tak bersemangat dan membaringkan tubuhnya di kursi bambu di depan kandang Zaenudin.
"Hari gini masih gegana ... strong dong, Zen!" Bang Ismed memperagakan gerakan memperlihatkan otot bisep layaknya binaragawan dengan mengangkat lengan kanannya. Padahal dia tidak berotot sama sekali.
Zeno bangkit dari kursi bambu tersebut dan mengingat sesuatu.
"Gua harus cabut ... bisa-bisanya gua lupa." Zeno menepuk jidatnya dan berjalan menjauh dari kandang Zaenudin.
"Lupa apa, Zen?" Bang Ismed berjalan mengekor di belakang Zeno.
"Ikut aja kalo mau tau."
Bang Ismed hanya mengangguk dan mengikuti ke mana Zeno pergi.
***
Ternyata Zeno pergi ke kamarnya untuk melihat keadaan Young Flash. Baru saja sampai, dia sudah ditunggu oleh Bambang di depan pintu kamar dengan tatapan mata menyelidik dan curiga.
"Kenapa lo, Bang?" Zeno nampak heran melihat wajah Bambang.
"Ck-ck-ck!" Bambang berjalan memutari Zeno sambil bertopang dagu.
"Ish! Gak jelas banget, sih! Minggir gua mau liat keadaan orang aneh itu," teriak Zeno sembari mendorong Bambang menjauh dari pintu kamar.
Bambang pun tersungkur dan meringis kesakitan.
"Kalo bukan tuan muda ... udah gua buat perhitungan," umpat Bambang lirih.
Bang Ismed yang masih berdiri di situ pun berjongkok dan menatap curiga ke Bambang.
__ADS_1
"Emang lu tau kalo Zeno itu tuan muda?"
Bambang berusaha berdiri dari lantai. Dia langsung berdiri tegak dan mengibas jasnya yang kotor.
"Jangan-jangan ini yang mau lu bilang tapi gak jadi waktu itu?" selidik Bambang.
"He-he-he ... gua takut nanti kena masalah kalo gua bilang hal ini, Bang," kilah Bang Ismed. "Lagian sekarang 'kan lu udah tau, tapi gua aman karena bukan gua yang bilang," tambahnya sambil nyengir kuda.
"Dasar cemen lu! Lagian kalo lu cerita ke gua gak masalah, Bang ... soalnya orang tua gua juga banyak berhutang budi sama keluarga Sanjaya," tukas Bambang.
"Terus kalo hutang budi sama keluarga Sanjaya, kok lu malah kerja jadi bodyguard keluarga Wijaya?" tanya Bang Ismed.
Bambang terlihat bingung bagaimana menjawab pertanyaan Bang Ismed. Tapi akhirnya dia terpikirkan sebuah jawaban yang cukup cocok.
"Ya karena keluarga Wijaya adalah calon besan keluarga Sanjaya."
Bang Ismed manggut-manggut. "Alasan yang masuk akal."
***
Zeno berniat akan melanjutkan mengintrogasi Young Flash. Tapi anehnya, pria lincah itu malah tertidur.
"Hoy! Bangun! Bisa-bisanya tidur disaat kayak gini."
Young Flash tidak merespon karena dia memang sedang tertidur pulas.
"Dia udah gua kasih obat tidur ... Zen," celetuk Bambang.
"Kok lo kasih obat tidur, Bang? Gimana mau interogasi kalo dia tidur." Zeno terlihat kesal dan mengacak rambutnya.
"Ya habisnya dia reseh banget, sih! Gua kesel dan gua inget kalo dari kemaren malem dia belum kita kasih makan atau minum. Jadi gua kasih aja dia sirup yang udah gua campur obat tidur," jelas Bambang. "Lagian kemana aja lu itu dari siang? Untung gak ada yang nyariin gua karena dari kemaren malem gua gak muncul dan gak ikut apel pagi," imbuhnya.
"Iya, deh ...." tanggap Zeno malas.
Bambang menatap Zeno lekat sehingga membuat bodyguard tampan itu merasa geli.
"Ngapa lo liat-liat?" pekik Zeno.
"Tuan muda, Zeno ... apakah benar Anda adalah anak dari Tuan Albert Sanjaya?"
Zeno terkejut mendengar pertanyaan dari Bambang. Sahabatnya itu nampak serius menatapnya dan tidak terlihat sedang bercanda.
"K-kok lo bisa tau? Dia yang bilang?" tanya Zeno sembari menunjuk kearah Young Flash.
Bambang tidak menjawab, dia berjalan perlahan mendekati Zeno. Raut wajahnya masih terlihat sangat serius.
"Ternyata tuan muda masih hidup!" Tiba-tiba Bambang memeluk Zeno erat. Hal itu sontak membuat Zeno bingung.
__ADS_1
"Ngapain lo peluk-peluk gua?! Lepasin!"
Bambang langsung melepaskan pelukannya dari Zeno dan masih nyengir kuda.
"Emang kita pernah ketemu sebelumnya? Perasaan waktu orang tua gua meninggal gua masih kecil dan semenjak itu, gua gak punya hubungan apa-apa lagi dengan keluarga Sanjaya. Kapan gua bisa kenal lo?" Zeno mengeryitkan dahinya seraya berpikir.
"Tuan muda!" Bambang memegang kedua lengan Zeno dan menatap lurus, sehingga bola mata mereka bertemu.
Zeno nampak bingung dan memasang raut wajah seriusnya.
"Gimana akting gua udah keren belom? Muehehe." Bambang tertawa terkekeh melihat reaksi Zeno yang terlihat serius.
"Dasar somplak! Bikin kaget aja!" umpat Zeno dengan kekesalan yang maksimal.
Bambang masih tertawa dan akhirnya berhenti sendiri karena capek.
"Eh? Lu 'kan tuan muda dari keluarga Sanjaya juga. Jadi gak masalah kalo lu yang nikah sama Non Jessie," tukas Bambang sembari mengatur pernapasannya karena habis tertawa.
Zeno menghela napasnya kasar. Dia mengambil posisi duduk di atas ranjang miliknya.
"Gak bisa, Bang ... Key kecelakaan dan koma. Mana mungkin gua egois sedangkan Key memang bener-bener mencintai Jessie," tutur Zeno dengan raut wajah sedih.
"Walau Tuan Key kecelakaan dan koma, memangnya itu ada hubungannya dengan kalian? Lagi pula yang gua liat, Non Jessie sukanya sama lu," seloroh Bambang.
"Ada, Bang ... setelah tau keputusan pembatalan pertunangan, Key jadi frustasi dan akhirnya kecelakaan. Lagi pula gua udah buat kesepakatan dengan Jessie. Gua akan lupain Jessie mulai detik ini."
Suasana seketika menjadi hening, tiba-tiba Zeno teringat sesuatu.
"Lo tau dari mana Tuan Key kecelakaan dan koma? Soalnya lo biasa aja pas gua bilang gitu," tanya Zeno penasaran.
Bambang tersenyum samar, dia lalu menunjukkan layar ponselnya kepada Zeno.
Zeno memicingkan matanya saat melihat dan membaca apa yang tertera di layar ponsel milik Bambang.
"Kita ada di kapal yang sama, Tuan Zeno," ucap Bambang sembari menundukkan kepalanya kepada Zeno.
.
.
.
***
Apakah Bambang merupakan salah satu mata-mata yang dikirim oleh Tuan Kenan Sanjaya? 😁
Next episode comming soon 😁👍
__ADS_1