
"Gua harus kabur," lirih Bambang.
Bambang berlari dengan tergopoh-gopoh karena betis kanannya terkena tembakan. Dia tetap berlari menghindari orang-orang yang masih mengejarnya. Darah segar terus mengalir dari betisnya. Pria itu hanya meringis menahan sakit.
"Kalo darah gua kececeran kayak gini ... bisa-bisa gua bakalan ketangkep."
Bambang melihat sebuah jalan menuju hutan yang berada di depannya. Dia memasuki hutan tersebut untuk menghilangkan jejak. Setidaknya dia beruntung karena hari sudah malam, sehingga jejak darah diatas tanah dan dalam keadaan gelap tidak terlihat.
"Duh ... darah gua masih ngalir aja. Masa 'sih gua harus robek kemeja gua terus dipake buat ngebalut luka tembak? Ish! Rugi lah ... mending gua berdarah-darah dah," gumam Bambang disela-sela pelariannya.
Bambang memutar otaknya agar darahnya bisa berhenti mengalir. Dia melepaskan ikat pinggangnya dan melilitkannya dibagian atas betis yang terkena luka tembak.
Tak jauh dari lokasinya, dia melihat sebuah gubuk kecil yang berada di dalam hutan tersebut. Tanpa pikir panjang, dia langsung memasuki gubuk tersebut.
"Mending gua nyumput di sini dulu sementara."
Bambang dengan segera menutup pintu gubuk itu dan menghela napas lega. Saat dia hendak menoleh kebelakang, dia dikagetkan oleh seorang gadis cantik seksi yang sedang berkacak pinggang dan bertampang masam.
"Siapa, lo?! Kenapa lo masuk rumah orang tanpa izin?"
Buset ... ini cewek cantik-cantik tapi galak. Lagian ini gubuk kecil gua kira gak ada orangnya. Eh ... masa sih ada cewek cantik seksi tinggal di tengah hutan sendirian? Jangan-jangan dia adalah dedemit, batin Bambang bergidik ngeri.
"Woy! Kok lo diem aja? Dasar gak sopan!" Gadis itu nampak kesal dan bertambah marah karena Bambang hanya diam saja.
"Maaf Nyi ... saya bukan orang jahat ... jangan makan saya Nyi, daging saya sedikit karena saya kurus." Bambang memohon sambil bersimpuh di lantai.
Gadis itu melihat darah yang berasal dari betis Bambang berceceran di lantai. Dia pun ikut berjongkok menyamai posisi dengan Bambang dan memeriksa betis Bambang yang terkena tembakan.
Namun, Bambang malah salah fokus dengan belahan dada gadis itu yang terlihat rendah. Dengan susah payah Bambang menelan saliva-nya.
"Betis lo luka ... coba sini gua liat." Gadis itu menarik Bambang agar berdiri, tapi mata Bambang malah masih fokus pada tempat yang seharusnya tidak dia lihat.
Gadis itu merasa kesal karena Bambang malah salah fokus. Akhirnya dia menampar pipi Bambang sehingga membuat bodyguard tampan itu meringis kesakitan.
"Kok saya ditampar, Nyi?" protes Bambang sambil mengusap-usap pipinya.
"Makanya punya mata jangan jelalatan! Udah luka parah masih aja mesum!" sergah gadis itu.
"Lagian ngapain di hutan pake baju begitu? Gak takut digigitin nyamuk apa?" Bambang tidak mau kalah berdebat.
"Suka-suka gua lah! Rumah-rumah gua!" Gadis itu bertambah kesal dan meninggikan nada suaranya. "Dan inget! Jangan panggil gua Nyi karena nama gua itu Nafa! Panggil gua Nafa!" tambahnya.
"Oke Nyi Nafa ... tolong jangan galak-galak, kaki saya sakit ini kena tembak," ringis Bambang.
__ADS_1
Gadis yang bernama Nafa itu menjitak kepala Bambang karena pria itu masih saja memanggilnya Nyi.
"Kenapa saya dijitak, sih? Apa salah saya?"
"Panggil gua Nafa tanpa embel-embel Nyi! Lo pikir gua ini temennya Nyi Roro Kidul atau Nyi Blorong apa?!" tegas Nafa.
Bambang hanya mengangguk karena gadis yang bernama Nafa tanpa embel-embel Nyi itu sungguh galak sekali.
Nafa membopong Bambang menuju kursi kayu yang ada disudut ruangan. Gadis seksi itu mengangkat kaki Bambang agar mempermudahnya melihat luka tembak di betis Bambang.
"Gile! Kaki lo bau sangit banget! Ditambah bau darah jadi campur aduk baunya." Nafa nampak menutup hidungnya karena merasa tak nyaman.
"He-he ... fokus aja sama luka saya jangan dengan bau kakinya," kekeh Bambang.
Nafa merasa tidak senang melepaskan kaki Bambang dengan kasar sehingga membuat Bambang berteriak kesakitan.
"Arrgghh! Pelan-pelan, dong!"
Gadis itu hanya mendengus geli sambil melirik ke Bambang. Dia menuju sebuah lemari dan mengambil sebuah masker dan memakainya. Lalu dia mengambil sebuah kotak besar dari dalam lemari itu.
Nafa mengeluarkan semua alat-alat dari kotak besar itu dan menyusunnya di meja kayu yang sudah dialasi taplak meja berwarna hijau tosca tua. Kotak besar itu ternyata berisikan alat-alat medis yang biasa dipakai untuk mengoperasi seseorang.
Buset! Jangan-jangan ini cewek adalah psikopat yang tinggal di hutan! Ini alat-alat bedah aja dia punya, batin Bambang yang terlihat takut.
"G-gak kok ... cuma itu lengkap amat alat bedahnya," tutur Bambang dengan suara lirih.
"Emang aneh kalo dokter bedah punya alat-alat bedah?" seloroh Nafa sambil menatap tajam Bambang.
Nafa mengambil sebuah gunting dan hendak menggunakannya untuk memotong celana Bambang.
"Mau apa lu?!" pekik Bambang.
"Motong celana lo biar gampang gua operasi angkat pelurunya," sahut Nafa.
"Enak aja! Jangan potong-potong celana gua! Ini celana mahal tau! Lu punya sarung gak? Biar gua ganti sarung dulu."
"Haish! Ini celana lo aja udah sobek kena tembus peluru! Sebelum kelar ganti sarung, yang ada lo keburu tewas kehabisan darah!" Nafa terlihat sangat kesal karena disaat seperti ini, Bambang malah sempat-sempatnya bercanda.
Akhirnya, Bambang pun pasrah dan membiarkan Nafa menggunting celana bagian bawahnya. Belum sempat Nafa melakukan operasi pengangkatan peluru, terdengar suara derap langkah kaki beberapa orang yang berlari menuju ke gubuk itu.
"Pasti itu orang-orang yang ngejer ini cowok," gumam Nafa.
Dengan cepat Nafa membuka kardigan ungunya dan melemparkannya. Hal itu sontak membuat Bambang membelalakkan matanya, karena tubuh seksi Nafa makin terlihat jelas.
__ADS_1
Nafa pun dengan cepat menarik Bambang menuju tempat tidur dan melemparkannya. Bambang hanya bisa pasrah saat itu. Entah apa yang sedang direncanakan oleh gadis itu?
Gadis itu berjalan menuju lemari dan mengambil sebuah selimut tebal. Dia pun berlari dan tiba-tiba langsung mengambil posisi diatas Bambang lalu menyelimuti tubuhnya dengan selimut itu. Lagi-lagi Bambang dibuat tak dapat berkata-kata olehnya.
Brak!
Suara kencang suara pintu dirusak oleh seseorang. Beberapa orang berbadan tegap dan besar masuk ke dalam gubuk tersebut.
Nafa tersenyum smirk dan mulai melakukan aksinya.
"Sayang! Kamu harus lebih kuat kalau tidak tubuhmu akan aku tusuk lagi dengan pisau! Kamu tidak mau mati, kan?" Nafa sengaja membesarkan suaranya agar didengar oleh orang-orang tersebut.
Nafa memberikan kode tatapan kepada Bambang dan mencubit pinggangnya. Bambang yang cerdas pun langsung mengerti maksud Nafa.
"Ampun! Sayang ... kamu sudah membuat aku berdarah-darah sampai gubuk ini penuh dengan darahku. Aku tidak mau mati, Sayang!"
Ketiga orang yang mengejar Bambang sangat terkejut. Apalagi saat melihat Nafa dibalik selimut yang hanya memperlihatkan punggung mulusnya. Mereka tidak bersuara keras dan hanya saling berbisik.
"Waduh ... kayaknya kita salah tempat. Jangan-jangan ini gubuk setan hutan yang mengambil mangsa para perjaka."
"Atau jangan-jangan gubuk wanita psikopat."
"Mending kita kabur ... walaupun gua gak perjaka, gua gak mau mati tragis ditangan setan atau psikopat."
Akhirnya, mereka pun lari meninggalkan gubuk itu.
***
Nafa pun menghela napas lega, dia hendak bangkit dari atas tubuh Bambang. Namun, betapa terkejutnya dia saat melihat hidung Bambang yang mengeluarkan darah.
"Waduh! Kok lo malah berdarah-darah beneran, sih!
Bambang tidak menjawab dan malah pingsan.
"Woy! Bangun!" Nafa terlihat sangat panik karena Bambang pingsan.
.
.
.
***
Bambang
__ADS_1
Next episode comming soon 😁👍