Balas Dendam Bodyguard Kampungan

Balas Dendam Bodyguard Kampungan
Tawaran aneh


__ADS_3

Hola guys lama tak berjumpa... sebenarnya author sedang tidak sehat kondisinya, sepertinya gejala typus atau tipes menyerang diri ini sehingga update melenceng dari jadwal. Jadi kalau update terlambat mohon dimaklumi. Author berusaha untuk menebus rasa kangen kalian terhadap novel ini (emang ada yang kangen🀭) walaupun seluruh badan sakit dan kepala sedikit pusing.


Sebelum membaca jangan lupa pencet tombol likenya ya πŸ₯° dan jangan lupa komentarnya walaupun hanya "lanjut" agar author tahu kalian menunggu novel ini πŸ˜πŸ‘


Happy Reading πŸ˜πŸ‘


***


Zeno masih memasang wajah datarnya. Dia masih saja memandang Jessie yang merintih kelaparan dipangkuannya. Akhirnya dia memanggil Bambang yang masih sibuk menelepon pihak rumah sakit.


"Bang! Buruan ke sini!" panggil Zeno.


Bambang pun langsung berlari mendekati Zeno.


"Tenang, Zen! Udah gua telpon pihak rumah sakit dan bentar lagi mereka dateng," sahut Bambang.


"Bang ... Non Jessie ternyata laper," ungkap Zeno.


"Lah ...." Bambang tak habis pikir dan langsung menelpon pihak rumah sakit agar tak usah datang.


Belum sempat Bambang menelpon pihak rumah sakit ternyata suara sirine mobil ambulans dan suara helikopter terdengar menuju lokasi mereka. Ternyata berita pingsannya Jessie sampai ke telinga Tuan Frans.


"Ada apa dengan Jessie?" Tuan Frans terlihat khawatir melihat anaknya yang terkulai lemas.


Zeno dan Bambang hendak menjelaskan, namun terhalang dengan para perawat medis yang sibuk ingin memindahkan Jessie ke ambulans.


"Tuan ... itu Non Jessie bukan sakit tapi kelaparan," jelas Zeno disela-sela kesibukan para perawat yang hendak mengangkat tubuh Jessie.


"Apa?!" pekik Tuan Frans kaget.


Tuan Frans meminta para perawat-perawat untuk menyingkir dari Jessie.


"Cepat telepon siapa pun yang ada di rumah untuk segera mengambil jengkol di pohon!" perintah Tuan Frans.


"Tapi ... itu pohon jengkolnya tidak ada buahnya lagi, Tuan," sahut Zeno.


Bambang seraya berpikir, dia pun masuk ke dalam mobil dan mengambil tasnya. Dia mengambil kotak bekal dan diberikan kepada Tuan Frans.


"Ini ada rendang jengkol, Tuan!" ujar Bambang.


Tuan Frans langsung mengambil kotak bekal makanan Bambang dan menyuapinya ke Jessie.


"Buka mulutmu, Daddy kasih kamu obat," titah Tuan Frans.


Tanpa malu-malu dan pikir panjang, Jessie langsung mengambil kotak bekal makanan milik Bambang dari tangan Tuan Frans. Dengan lahap dan rakus, Jessie memakan dan menghabiskannya.


Zeno dan Bambang terperangah melihat Jessie yang makan bagai orang kesetanan. Sedangkan Tuan Frans, dia merasa lega karena Jessie sudah terselamatkan.


"Kalian kembali lah ke rumah sakit!" perintah Tuan Frans kepada para perawat medis.


Dengan cepat mereka pun kembali ke rumah sakit karena dirasa tidak perlu berada di situ.


"Kalian berdua, jangan sampai membiarkan Jessie kelaparan lagi!" perintah Tuan Frans.


"Baik, Tuan!" sahut Zeno dan Bambang kompak.


"Kalau sudah sampai pingsan, Jessie hanya bisa diselamatkan dengan makan jengkol. Maka dari itu di belakang kediaman rumah utama, ada pohon jengkol yang ditanam. Namun, kadang ada orang tak tahu diri yang mengambil tanpa ijin," sindir Tuan Frans.

__ADS_1


Zeno dan Bambang merasa tertohok karena mereka bersama Bang Ismed dan Pak Asep, suka sekali mengambil jengkol untuk di semur atau di rendang. Lagi pula sungguh aneh saat seseorang pingsan karena kelaparan hanya jengkol yang bisa menyelamatkan, apa mungkin itu disebut sugesti?


"Saya pergi dulu dan jangan lupa Jessie disuruh sikat gigi," pesan Tuan Frans.


"Siap, Tuan!" sahut Zeno dan Bambang kompak.


***


Selepas Tuan Frans pergi, pandangan mata mereka tertuju kepada Jessie yang sedang mengelus-elus perutnya karena kenyang. Bambang memasang wajah sedih sehingga membuat Zeno yang disebelahnya merasa terganggu.


"Kenapa sedih?" tanya Zeno.


"Bekal gua, Zen," jawab Bambang lirih dan penuh kesedihan.


"Hilih ... udah tenang, nanti gua traktir," ujar Zeno sembari menepuk dadanya.


Bambang terlihat bahagia karena akan ditraktir oleh Zeno.


.


.


.


***


Sesampainya di kampus, Zeno dan Bambang lagi-lagi menjadi bahan perhatian. Gadis-gadis bahkan sampai berteriak histeris dan mengejar mereka karena melihat ketampanan mereka. Kedua pria itu malah merasa ketakutan karena perlakuan ekstrem para gadis itu. Mereka akhirnya berlari dan mencari tempat aman.


"Perasaan pas kita pake baju bodyguard gak gini-gini amat, Zen," ujar Bambang.


Disaat Zeno dan Bambang sedang menghindari kejaran para gadis, Jessie dengan tenang berada di toilet kampus untuk menggosok gigi. Dari dalam toilet ternyata Jessie mendengar kegaduhan akibat Zeno dan Bambang.


"Ribut-ribut apa, sih?" Jessie masih tidak sadar dan masih sibuk menggosok gigi.


***


Zeno dan Bambang yang menghindari kejaran para gadis pun akhirnya selamat. Mereka berdua kelelahan dan duduk di salah satu lorong kampus yang sepi.


"Hahh ... hahh ... selamet kita, Bang," ujar Zeno yang masih ngos-ngosan.


Bambang hanya mengangguk sambil mengusap keringat di dahinya.


Ternyata sedari tadi mereka diikuti oleh seseorang yang misterius.



"Hola para pemuda tampan!" sapa seorang pria yang memakai pakaian klasik khas Eropa lengkap dengan topi dan kipasnya.


"Astaghfirullah! Ngagetin banget," teriak Zeno terkejut karena melihat pria yang berpenampilan tidak lazim itu.


"S-s-siapa Anda?!" pekik Bambang yang telat kaget.


Pria misterius itu mengeluarkan sebuah kartu nama dari saku celananya dan memberikannya kepada Zeno dan Bambang.


"Retro Entertainment? CEO?" Bambang membelalakkan matanya saat membaca kartu nama yang diberikan oleh pria misterius itu.


"Emang ngapa, Bang?" tanya Zeno yang tidak paham akan situasi.

__ADS_1


Bambang masih shock dan tidak sanggup menjawab pertanyaan Zeno.


"Perkenalkan saya adalah Claude Van Damme, saya merupakan CEO Retro Entertainment dan saya menawarkan kalian berdua untuk menjadi artis di agensi saya," ucap pria yang bernama Claude itu.


"Waduh maaf ... tapi kami berdua tidak bisa karena kami sudah ada pekerjaan lain," tolak Zeno secara halus.


Zeno pun menyeret Bambang yang masih terpaku untuk menjauh dari pria yang bernama Claude itu.


"T-tapi ... saya akan membuat kalian berdua terkenal dan kaya!" teriak Claude.


"Gak tertarik! Cari aja orang lain," sahut Zeno sembari pergi menjauh.


Pria yang bernama Claude itu merasa sedih karena telah ditolak mentah-mentah. Tiba-tiba ada seseorang yang mengagetkannya dengan menepuk pundaknya.


"Yang sabar ... ini ujian," nasehat pria yang ternyata Young Flash.


Claude yang sedih itu menjadi sumringah karena melihat Young Flash.


"Kamu saja yang jadi artis! Mau, kan?" tawar Claude.


"He-he ... maaf, cari yang lain aja!" Young Flash langsung menghindar dan langsung memanjat genteng untuk menjauh dari Claude.


.


.


.


***


Kediaman keluarga Griffin, London, Inggris.


"Aku ingin segera kembali ke Indonesia!" teriak Fox kepada Tuan Abraham.


"Kau mau apa lagi?" Tuan Abraham begitu meradang mendengar pernyataan anak bungsunya itu.


"Aku akan merebut yang seharusnya aku miliki," ucap Fox dengan wajah penuh keyakinan sembari meninggalkan ayahnya.


"Kau jangan gegabah, Fox!" pekik Tuan Abraham.


Fox menghentikan langkahnya, dia tersenyum smirk saat mendengar peringatan dari ayahnya.


"Aku bukan anak kecil yang bisa dibodohi, Yah ... jangan menganggap aku remeh," tukas Fox.


Tuan Abraham sudah tidak tahu lagi cara menghadapi Fox. Kali ini pria tua itu sudah menyerah dan terpaksa membiarkan anaknya itu melakukan apa yang dia inginkan.


"Mungkin ini saatnya aku percaya padanya," gumam Tuan Abraham.


.


.


.


***


Next episode comming soon πŸ˜πŸ‘

__ADS_1


__ADS_2