Balas Dendam Bodyguard Kampungan

Balas Dendam Bodyguard Kampungan
Mulai terbongkar


__ADS_3

Perjalanan satu hari penuh membuat Bambang dan kakek Wiro lelah. Akhirnya mereka berdua pun sampai di kediaman milik Nafa. Kakek Wiro sangat bahagia karena ternyata rumah yang mereka kunjungi adalah rumah yang sangat mewah.



"Gak sia-sia kakek ikut ... rumah temen kamu ternyata mewah banget," ucap Kakek Wiro kagum.


"Gak usah norak dan bersikap biasa aja!"


"Gerbangnya aja mahal banget ini keliatannya ... mungkin kalo dikiloin ke tukang loak bisa dapet banyak duit," ujar Kakek Wiro.


"Astogeh! Kakek! Kenapa sih pikirannya aneh-aneh aja?! Pantesan aja Zeno kayak gitu, ternyata ini nih sumbernya," tanggap Bambang sambil menunjuk Kakek Wiro. Dia terlihat gemas kepada kakek tua yang tidak tahu tempat dalam berpikir materialistis.


Mereka berdua datang tanpa menghubungi Nafa terlebih dahulu, sehingga gadis itu tidak tahu kalau mereka datang. Hal itu membuat mereka berdua kesulitan untuk masuk kedalam dan berdebat dengan satpam penjaga.


"Saya ini adalah teman dari non Nafa! Masa gak percaya!" teriak Bambang.


"Maaf ... nona kami mana punya teman dekil seperti kamu! Apalagi berteman dengan kakek-kakek, itu tidak mungkin sekali!" bentak Pak satpam.


"Eh! Lu kok ngejek-ngejek gua? Lu gak tau ya, kalo gua ini adalah sosok laki-laki paling stylish di muka bumi? Cuma gara-gara keadaan gak mendukung gua jadi gini!"


"Oh! Kamu mau ngajak ribut?" Pak satpam itu terlihat emosi dan menggulung lengan kemejanya.


Saat Bambang dan pak satpam akan gelut, kakek Wiro malah sibuk mengukir namanya di tembok pagar rumah Nafa dengan sepotong arang. Entah darimana arang itu datang.


Fokus pak satpam akhirnya beralih ke kakek Wiro yang sedang merusak properti milik majikannya.


"Hey! Berhenti! Dasar kakek tua gak punya aturan! Ngapain corat-coret tembok pagar?!"


Pak satpam berlari kearah kakek Wiro dan hendak melumpuhkannya. Namun nahas, malah satpam itu lah yang dilumpuhkan.


"Buruan panggil temen kamu itu, Bang ... jerit yang kenceng biar dia denger," ucap Kakek Wiro.


Ternyata hal itu dilakukan oleh kakek Wiro dengan sengaja, agar bisa melumpuhkan si satpam reseh penjaga gerbang rumah Nafa. Sungguh cerdas memang si kakek.


Bambang pun teriak-teriak memanggil nama Nafa dari balik gerbang. Namun yang keluar bukanlah Nafa melainkan Young Flash dan Depe yang berjalan bergandengan.


"Siapa sih orang ndeso gak punya aturan? Teriak-teriak di rumah orang kayak di hutan," gerutu Depe.


"Paling cuma orang gila komplek yang suka teriak-teriak itu. Tapi kita harus usir dia, kalo gak makin jadi nanti," tanggap Young Flash.


Bambang mengerutkan dahinya saat melihat kedua pasangan yang mulai datang mendekat kearahnya.


Ngapain juga pasangan pentol korek itu yang muncul? Mereka masih betah numpang lama-lama di rumah Nafa?


"Hoy! Siapa orang yang gak punya aturan ini? Teriak-teriak di depan rumah orang!" bentak Young Flash.


"Gak usah banyak gaya! Numpang aja belagu," sahut Bambang.


Young Flash memicingkan matanya dan mendekat, dia tidak bisa melihat Bambang dengan jelas karena terhalang pintu gerbang.


"Bukain gerbangnya! Ini gua Bambang," teriak Bambang.


"Eh .. lu, Bang?" Young Flash mendekati wajahnya ke gerbang dan mencoba memastikan.


"Cepetan buka! Gua colok juga nih mata lu!" ancam Bambang.


"Sabar ngapa! Pulang dari desa jadi bar-bar gitu, ck-ck-ck."


Akhirnya, Young Flash membukakan gerbang dan mempersilahkan Bambang dan kakek Wiro. Pak satpam yang tadi sudah ngegas akhirnya meminta maaf karena telah menghalangi mereka masuk.


***



Kakek Wiro sangat takjub melihat ruang tamu rumah Nafa yang begitu mewah. Dulu dia memang pernah berkunjung beberapa kali ke kediaman keluarga Sanjaya, tapi itu sudah lama sekali dan dia sudah lupa.


"Wah ... keren banget rumah temen lu ini, Bang!" ujar Kakek Wiro sumringah.


"Hadeh ... gak usah bikin malu ngapa, Kek!"


Young Flash dan Depe hanya terkekeh melihat kelakuan kakek Wiro yang begitu norak.


"Ini kakeknya Zeno, Bang?" tanya Young Flash.


Bambang hanya menganggukkan kepalanya.


Young Flash dan Depe kembali terkekeh sambil menatap kearah kakek Wiro.


Kakek Wiro yang merasa sedang digosipkan alias ditertawakan, langsung naik darah dan emosi jiwa.

__ADS_1


"Ngapa kalian berdua ngetawain gua?! Gak pernah liat kakek-kakek gaul nan tampan, ya?"


"Kakek itu norak soalnya bulunya diem aja, terus pasti gak lincah lagi," celetuk Depe ngawur.


"Hush! Kamu gak boleh gitu, Sayang ... kamu aja belum cek bulu aku lebih dalam," sahut Young Flash.


Entah apa yang kedua pasangan itu bicarakan. Memang sembarangan dan tak berakhlak, ck-ck-ck.


Hampir saja terjadi perang dunia ketiga, untung saja Nafa segera datang menemui mereka.


"Udah lama nunggunya?" tanya Nafa. Dia mengambil tempat duduk di seberang Bambang dan kakek Wiro.


"Belum ... nih," jawab Bambang.


"Jadi kok lo balik lagi ke Jakarta? Belum juga seminggu, terus ini kakeknya Zeno?" tanya Nafa sambil menunjuk kearah kakek Wiro.


Belum sempat Bambang menjawab, kakek Wiro sudah siaga meluncur kearah Nafa dengan kedua lututnya. Lantai yang licin memudahkan dia sampai tepat di dekat Nafa.


"Perkenalkan! Aku adalah Wiro bukan sableng alias tanpa embel-embel apapun, aku adalah kakek dari Zeno," ucap Kakek Wiro sambil mengulurkan tangannya ke Nafa.


Nafa yang melihat hal itu terbengong dan terkejut karena baru kali ini, dia melihat kakek-kakek segaul ini. Dia lalu menyambut uluran tangan kakek nyentrik itu. Setelah bersalaman, kakek Wiro pun kembali ke tempat duduknya.


Setelah beberapa menit suasana yang canggung menjadi normal kembali. Nafa kembali bertanya kepada Bambang, mengapa dia kembali ke Jakarta dengan cepat. Bambang pun menceritakan kronologis kejadian yang menimpanya saat di desa.


"Tuan Kenan yang nyerang keluarga lo?" tanya Nafa memastikan.


Bambang mengangguk dengan wajah yang serius.


"Bukannya keluarga lo itu mengabdi ke keluarga Sanjaya? Kenapa tuan Kenan malah bantai semua keluarga lo?" Nafa bertanya kepada Bambang sekaligus dirinya sendiri.


"Entahlah ... yang jelas, gua mau balas dendam," ungkap Bambang.


"Sebentar, Bang ..." Nafa mengambil ponselnya yang ditaruh di sofa tempat dia duduk. Gadis itu sepertinya menghubungi seseorang lewat pesan singkat.


***


Sekitar sepuluh menit, asisten pribadi Nafa datang. Dia membawa sebuah berkas dokumen dan menyerahkannya kepada Nafa.


"Lo bisa baca ini, Bang ... baru kemaren malam gua dapetin seluruh bukti-buktinya," seloroh Nafa. Dia menaruh dokumen berbalut amplop coklat itu di atas meja.


Bambang mengambilnya dan mulai membaca secara runtut. Matanya terbelalak lebar setiap mendapatkan sebuah fakta dari dokumen itu.


"Ini beneran, Naf?" tanya Bambang.


"Apa?!"


Kakek Wiro, Young Flash, dan Depe berteriak bersamaan.


Bambang yang melihat kelakuan ketiga orang itu langsung memberikan kode tatapan tajam, sehingga mereka bertiga tidak berani berkomentar apapun.


"Kita punya musuh yang sama ... kita harus atur strategi buat menghancurkan tuan Kenan Sanjaya," ujar Nafa.


"Tapi si Zeno cucuku sekarang berpihak dengan Kenan karena dia mau balas dendam dengan Frans," sahut Kakek Wiro.


"Sebaiknya kita selidiki dulu, Kek ... apa benar musuh Zeno yang sebenarnya itu tuan Frans," tanggap Nafa.


"Bener, Kek ... kita udah tau kalo tuan Kenan itu jahat, jadi ada kemungkinan kalau perkiraan balas dendam Zeno salah sasaran," timpal Bambang.


Kakek Wiro tampak memikirkan ucapan Nafa dan Bambang. Akhirnya, dia mempercayakan semuanya kepada mereka.


"Berarti kita harus cari tau yang sebenernya," ucap Bambang.


"Kalau masalah mencari tau ... Young Flash ahlinya," seringai Young Flash percaya diri.


"Oke! Young Flash bisa bekerja sama dengan anak buah gua untuk mencari informasi mengenai kebenaran kematian orang tua Zeno dan siapa pelakunya yang sebenarnya," tukas Nafa.


"Kita harus susun strategi buat nyerang si Kenan itu," tambah Bambang.


"Tadi kan gua udah bilang kalo kita harus susun strategi," sahut Nafa dengan wajah datar.


"He-he-he ... maklum laper jadi gak konsen," cengir Bambang yang ditanggapi gelengan oleh keempat orang yang sedang bersamanya.


Akhirnya, mereka pun bersatu dan mengatur strategi untuk menyerang keluarga Sanjaya terutama tuan Kenan.


.


.


.

__ADS_1


***


Griffin Island.


Fox sedang bersantai sembari melihat layar benda pipih pintarnya. Pria blasteran itu bertekad untuk mulai menyukai Tya seutuhnya. Tahap awal yang dia pilih adalah memandangi foto-foto yang di-posting oleh gadis cantik itu di media sosial pribadinya.


Brak!


Suara pintu kamar Fox dibuka dengan kasar dan pelakunya adalah tuan Abraham, ayah Fox.


"Kau! Apa yang telah kau lakukan?!" pekik Tuan Abraham dengan amarah membara.


"Aku tidak melakukan apapun," jawab Fox santai.


"Kau malah membebaskan anak itu! Apa kau tahu itu akan berbahaya? Kenapa tidak kau habisi saja nyawanya?!" ucap Tuan Abraham emosional.


Fox menaruh ponselnya dan beranjak dari tempat tidurnya. Dia berjalan mendekati ayahnya.


"Ayah sudah tau jati diri anak itu? Ayah pasti memata-matai semua kegiatanku dari jauh," selidik Fox.


"Ayah memang mengetahui semua yang kau lakukan dan informasi apa saja yang kau temukan. Tapi kenapa kau tidak membunuhnya saja saat dia memasuki pulau ini?!"


Fox mendengus geli mendengar perkataan ayahnya. Dia tersenyum sebelum menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh ayahnya.


"Aku tidak mau ikut campur dengan ulah ayah di masa lalu ... tebuslah kesalahan ayah sendiri dan jangan menyeret aku kedalamnya!" tegas Fox.


"Ka--kau!!!"


Tuan Abraham terlihat sangat geram kepada putra bungsunya itu.


Drrt-drrt-drrt!


Suara getaran ponsel di saku jas tuan Abraham membuat kemarahannya terjeda. Pria paruh baya itu mengambil benda pipih pintar miliknya. Matanya terbelalak saat melihat nama si pemanggil. Dengan sedikit rasa ragu, dia menggeser tombol hijau dan mulai berbicara dengan si penelpon.


"Ada apa menelponku?"


"Kau sedang di Indonesia, kan? Datanglah ke kediamanku sekarang ... kita harus membahas sesuatu yang belum usai, kejadian dua puluh tahun lalu."


Tut!


Tuan Abraham menghela napasnya kasar, dia segera berjalan cepat keluar dari kamar Fox. Siapa gerangan yang meneleponnya?


***


Next episode comming soon 😁👍


Bambang



Nafa



Young Flash



Depe



Fox



Kakek Wiro



Kuy mampirin juga novel author yang lain dan sahabat-sahabat author 😁👍





__ADS_1




__ADS_2