Balas Dendam Bodyguard Kampungan

Balas Dendam Bodyguard Kampungan
Pulang kampung


__ADS_3

Zeno dan Bambang akhirnya lega karena setelah penyerangan itu, tidak ada penyerangan lanjutan. Mereka berdua melanjutkan perjalanan menuju Desa Umbul Jaya. Kali ini Bambang lah yang menyetir mobil tersebut.


"Zen ... emang desa lu ada di mana, sih?" tanya Bambang.


"Gua juga kurang paham kalo naik kendaraan pribadi," jawab Zeno sambil garuk-garuk kepala.


"Astogeh! Terus ini kita udah jalan jauh tapi lu gak tau arah dan tujuan kita?" Bambang mendelik kesal kepada sahabatnya itu.


"Gak, he-he."


Bambang terlihat sangat frustasi karena ketidaktahuan Zeno. Dia hanya bisa mengacak-acak rambutnya dengan kasar. Saat itu mereka sedang berada di jalan tol sehingga tidak bisa menepi. Sekitar setengah jam, akhirnya mereka sampai di sebuah rest area. Selain lelah, mereka berhenti karena tidak tahu jalan. Memang dasar orang aneh, ck-ck-ck.


"Terus kita harus gimana?" Bambang menatap tajam kearah sahabatnya itu.


Zeno nampak berpikir keras, dan akhirnya dia mengingat kakeknya.


"Oh iya! Kenapa gak suruh kakek gua aja share lokasi?!"


"Aish! Ngapa gak dari tadi sih, Zen!


"Gua baru inget kalo kakek gua sekarang udah gaul, dia udah punya hape ipon, Bang."


"Beh! Leh uga kakek lu, Zen."


Akhirnya, Zeno menelpon kakeknya untuk meminta mengirimkan lokasi desanya. Karena tidak tahu jalan, Zeno gagal memberikan surprise kepada kakeknya. Memang dasar, Zeno.


.


.


.


***


Setelah hampir seharian berada dalam perjalanan, akhirnya mereka sampai di Desa Umbul Jaya. Desa tempat tinggal Zeno sedari kecil, walaupun dia tidak dilahirkan di sana dia tetap merindukan suasana desa tempat dia dibesarkan. Zeno sangat senang karena sudah lebih setengah tahun dia tidak pulang kampung. Dia juga sangat merindukan kakeknya.


Bambang yang notabenenya adalah orang kota, merasa sangat takjub dengan pemandangan hamparan sawah di sepanjang jalan. Jalanan utama desa juga sudah beraspal halus, sehingga memudahkan mobil yang mereka bawa melewatinya.


Kedatangan mereka menjadi perhatian masyarakat desa, pasalnya tidak pernah ada mobil mewah yang memasuki desa mereka.


"Rumah lu di mana, Zen? Masih jauh?" tanya Bambang penasaran.


"Rumah gua masuk jalan setapak, Bang ... jadi nanti mobilnya gak bisa masuk. Nah ... kita parkir di depan pos ronda itu mobilnya." Zeno menunjuk sebuah pos ronda yang sebelahnya terdapat sebuah jalan setapak.


Bambang memarkirkan mobil didekat pos ronda. Baru saja menuruni mobil, mereka berdua menjadi pusat perhatian para penduduk desa -- terutama para wanita. Tiada satu orang pun yang mengenali sosok Zeno saat ini. Dia begitu tampan walaupun hanya menggunakan kaos oblong dan celana training dengan warna senada.


__ADS_1


Zeno terlihat fokus pada ponselnya untuk menghubungi kakeknya. Sedangkan Bambang masih takjub dengan suasana pedesaan, pria itu mengedarkan pandangannya ke sekeliling sambil tebar pesona kepada para gadis-gadis desa. Beberapa kali dia mengerlingkan matanya dan memberikan kiss bye kepada para gadis itu.


"Gile ya, Zen ... gadis-gadis desa sini lumayan semok juga," ujar Bambang.


"Dasar playboy cap batang jerami! Lo gak inget udah punya dua gebetan di Jakarta?" sungut Zeno yang beralih pandangan dari ponsel ke Bambang.


"Siapa? Mana ada gebetan." Bambang nampak cuek dan masih tebar pesona.


"Itu si Kyla sama Nafa ... masa gak inget?"


"Oh! Dua mah kurang, Zen ... slot-nya 'kan masih sisa dua. Gak apa-apa lah kalo gua cari dua lagi di sini, muehehe."


"Bodo amat lah, Bang ... awas kena karma!" tukas Zeno.


"Mana ada karma, Zen ... yang ada itu kurma pas bulan puasa," cengir Bambang.


Zeno hanya menanggapi ucapan Bambang dengan senyum seadanya.


Mereka harus melewati pematang sawah untuk menuju rumah Zeno. Rumah Zeno sendiri berada di tengah-tengah sawah. Tak sengaja kaki Bambang terpeleset karena licin, dia pun akhirnya tercebur ke sawah. Sontak hal itu membuat Zeno tertawa terbahak-bahak, karena karma yang baru saja dia bilang langsung terjadi.


"Ha-ha-ha! Sukurin ... makanya jangan genit jadi orang."


"Bantuin ngapa, Zen! Jangan diketawain!"


Zeno mau tak mau mengulurkan tangannya kepada Bambang. Namun, Bambang sengaja menarik tangan Zeno hingga pria itu pun ikut tercebur ke sawah.


Peristiwa mereka berdua tercebur sawah pun menjadi bahan tertawaan para penduduk desa setempat. Terutama para pemuda yang tidak senang karena para gadis memperhatikan mereka berdua.


***


Mereka berdua pun melanjutkan perjalanan menuju rumah kakek Wiro -- kakeknya Zeno. Dengan badan dan muka penuh lumpur, mereka melanjutkan perjalanan. Mereka berencana akan membersihkan lumpur setelah tiba di rumah.



Akhirnya, mereka sampai juga di kediaman milik Kakek Wiro. Tidak ada yang berubah dari bangunan gubuk tersebut, namun suasana nampak sepi dan pintu rumah tertutup rapat. Zeno yang sudah merindukan kakeknya langsung berlari dan membuka pintu rumahnya.


"Kakek!" Mata Zeno melotot karena rumah tersebut tidak ada satu pun isinya, kosong.


"Kenapa, Zen?" Bambang ikut melongo kedalam dan melihat kalau rumah itu sepertinya sudah tidak berpenghuni.


Tak berapa lama, muncullah rombongan orang-orang yang membawa keranda dan melewati rumah tersebut. Melihat mereka berdua yang nampak bingung, seorang pria paruh baya pun menghampiri mereka berdua.


"Kowe nggoleki sopo, Dek?" tanya pria paruh baya itu kepada Zeno dengan Bahasa Jawa.


"Nggoleki, Mbah Wiro." Zeno menjawab dengan menggunakan Bahasa Jawa pula.


"Mbah Wiro wes gak manggon nang kene, wonge wes pindah teko kene," ujar pria paruh baya itu sambil menunjuk kearah orang-orang yang membawa keranda.

__ADS_1


"Apa?!" Zeno terpekik histeris, pasalnya dia mengira kakeknya sudah meninggal dan berpindah dari rumah ke keranda.


Pria paruh baya itu merasa heran dan langsung meninggalkan mereka karena telah dipanggil oleh temannya. Sedangkan Bambang yang tidak mengerti pun hanya bisa bengong dan garuk-garuk kepala.


"Zen ... bapak itu ngomong apa? Gua roaming gak paham," tanya Bambang.


"Kakek gua ... dia udah pindah ke sana, Bang!" Zeno menunjuk kearah orang-orang yang membawa keranda sambil menangis.


"Oh! Kalo pindah ke sana ya kita ngikut aja, lah ... ngapain pake acara nangis."


"Kakek gua udah meninggal, Bang! Dia didalem keranda! Huwe...."


Tiba-tiba ada suara seorang pria yang tidak muda lagi menyeletuk ucapan Zeno.


"Siapa bilang gua mati?! Dasar cucu durhaka!"


Kakek Wiro berjalan mendekati Zeno dan memukuli pantat cucunya itu. Meskipun wajah Zeno belepotan lumpur, kakeknya masih bisa mengenalinya.


Bambang yang melihat hanya bisa terperangah, bukan karena adegannya tapi karena penampilan Kakek Wiro yang sungguh gaul.


.


.


.


***


Next episode comming soon 😁👍


-Kowe nggoleki sopo, Dek? \= Kamu nyari siapa, Dek?


-Nggoleki, Mbah Wiro \= Nyari Kakek Wiro


-Mbah Wiro wes gak manggon nang kene, wonge wes pindah teko kene \= Kakek Wiro sudah tidak tinggal di sini, orangnya sudah pindah ke sana


Jadi kira-kira ini penampakan Kakek Wiro 🤭😁👇



Dan kuy jangan lupa mampir ke novel kece badai dibawah ini 👇




__ADS_1



__ADS_2