
Tya membawa Fox yang sudah tertidur pulas menuju ke kediamannya. Wanita itu tidak tahu dimana Fox tinggal, sehingga satu-satunya jalan adalah membawanya ke rumah. Dia masih mau membantu pria itu walaupun hatinya sakit karena cinta yang bertepuk sebelah tangan.
Setelah sampai ke kediamannya, Tya meminta para bodyguard yang berjaga untuk mengangkat Fox masuk kedalam dan menidurkannya di kamar tamu. Kepulangan Tya disambut oleh ayahnya yang berdiri sambil mengelus jenggotnya di depan pintu utama.
"Siapa yang lu bawa?!"
"D-dia temanku, Beh," jawab Tya kikuk.
"Anak babeh bawa-bawa cowok ke rumah, ada apa ini?!" Ki Bodang terlihat tidak senang dan marah besar.
"Dia kesasar di jalan ... 'kan kasian, Beh ... kalo dia tiduran dijalan."
"Alasan! Dari mukanya udah keliatan dia bukan keturunan orang sini. Mukanya kayak bule, apa jangan-jangan dia anak Si Abraham yang lu demenin itu?" Pertanyaan Ki Bodang tepat sasaran.
"I-iya, Beh...." Tya menjawab tanpa mau melihat mata ayahnya. Dia sangat takut kepada ayahnya itu.
"Lu masih demen sama dia?" selidik Ki Bodang.
Tya tidak menjawab, tapi rona merah di pipinya menunjukkan bahwa dia memang masih menyukai Fox. Kenyataannya dia memang masih menyukai bahkan mencintainya.
Ki Bodang menepuk jidatnya, dia tidak habis pikir kalau anaknya masih menyukai pria yang sama, sejak belasan tahun lalu.
"Udahlah ... nanti kalo dia sadar, babeh bakal kasih dia ramuan cinta biar dia klepek-klepek sama lu. Dia bakal cinta mati sama lu sampe gila," ucap Ki Bodang.
"Gak usah, Beh!" tolak Tya tegas.
"Kenapa?"
"Cinta itu gak bisa dipaksakan, Beh ... kalo dia jodoh Tya, pasti lama-kelamaan bakal jatuh cinta juga sama Tya."
Tya berjalan masuk melewati ayahnya. Hari itu dia sangat lelah dan pikirannya kalut. Dia ingin segera merebahkan tubuhnya di kasur empuk miliknya.
Ki Bodang hanya menatap punggung anaknya yang lama-kelamaan menghilang. Dia pun malah berpikir dan sadar akan sesuatu.
"Perkataan anak gua ada benernya juga ... selama ini gua selalu kawin cere karena cinta yang gak tulus, cuma enyaknya Tya yang kayaknya emang cinta mati sama gua karena cuma dia yang gak gua pelet," gumam Ki Bodang. "Apa gua tobat dan gak usah jadi dukun lagi, ya?" imbuhnya.
.
.
__ADS_1
.
***
Hari sudah pagi, Fox pun tersadar dari tidurnya. Pria blasteran itu berusaha untuk bangkit dari posisi tidurnya. Kepalanya masih terasa pusing karena efek alkohol yang belum sepenuhnya hilang. Dia mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan dan tentunya dia merasa asing dengan kamar yang didominasi dengan warna hitam dan putih itu.
Baru saja Fox akan mendudukkan dirinya, tiba-tiba Tya datang sambil membawa sarapan dan segelas minuman herbal. Sejenak mata mereka beradu pandang dan bertatapan.
"Udah bangun rupanya," ucap Tya sambil meletakkan sarapan dan minuman herbal diatas nakas dekat tempat Fox tertidur.
"Kenapa aku bisa di sini?"
Tya beralih memandang Fox dan mulai menjelaskan semuanya. "Kamu mabuk terus gak sadarkan diri, jadi aku bawa kamu ke rumahku."
Fox mencoba mengingat kejadian tadi malam tapi semakin dia ingin mengingat kepalanya terasa sangat sakit. Dia pun meringis kesakitan, sehingga membuat Tya khawatir.
"Jangan maksa buat inget semuanya ... mending kamu sarapan dan minum itu, biar badanmu lebih segeran," ujar Tya.
Tya memutuskan untuk pergi dari kamar itu, tapi Fox malah menahannya. Wanita itu bahkan sudah sampai diambang pintu.
"Tunggu!"
"Terima kasih," ucap Fox. Pria itu terlihat tulus saat mengatakan hal itu kepada Tya.
Tya hanya mengulum senyumnya dan mencoba membuka pintu kamar itu untuk pergi.
"Kenapa kau begitu baik? Padahal dari dulu sikapku bahkan buruk kepadamu," tanya Fox.
Pertanyaan Fox sontak membuat Tya menghentikan langkahnya. Dia kembali menoleh kearah Fox, kali ini dia bahkan berjalan mendekati pria itu.
"Keburukan tidak perlu dibalas dengan hal yang buruk juga ... lagi pula aku ikhlas membantumu," tutur Tya. "Kalau badanmu agak baikan, aku akan meminta supir pribadi di rumah ini untuk mengantarkanmu pulang," tambahnya.
Sejenak, Fox merasa kagum dengan penuturan Tya yang baru saja dia dengar. Dia bahkan sempat terpesona dengan penampilan Tya yang tak menggunakan make-up, leher jenjang wanita itu pun terlihat indah karena Tya mengikat rambutnya dengan gaya kuncir kuda.
"Ah! Ada yang ingin aku sampaikan. Hiduplah dengan bahagia dan jangan menyakiti dirimu sendiri, karena terobsesi akan sesuatu yang tidak bisa kamu raih. Hargailah dirimu sendiri, karena setiap manusia mempunyai keistimewaan masing-masing," pesan Tya. Wanita itu sebenarnya memberikan pesan untuk dirinya sendiri, tapi dengan cara menyampaikannya kepada Fox.
Mendengar pesan dari Tya, pria itu sejenak berpikir. Mungkin omongan Tya ada benarnya, karena demi ambisinya untuk mendapatkan Jessie -- dia bahkan melakukan segala cara. Bahkan karena ulahnya, banyak orang yang terluka dan kehilangan nyawa.
__ADS_1
Tya masih berada dihadapan Fox, wanita itu berusaha menguatkan dirinya didepan pria yang dia cintai itu. Dia berusaha menahan cairan bening yang hampir saja lolos dari pelupuk matanya.
"Terakhir ... maafkan aku yang dari dulu mengganggu dirimu. Kamu bahkan masih takut saat terakhir kali kita bertemu di rumah Jessie. Aku sadar, kalau aku adalah anak dukun mafia dan sudah pasti semua orang takut dengan keluarga ku. Mulai hari ini, aku janji buat melupakan kamu. Tapi tolong jangan takut lagi sama aku."
Tya mengucapkan hal itu dengan bibir bergetar, dia berusaha untuk tidak menangis dihadapan Fox. Setidaknya, dia sudah berusaha untuk menghargai dirinya sendiri dan tidak mengharapkan sesuatu yang tidak pasti, yaitu cinta Fox.
Fox diam membisu, matanya menatap lekat wanita cantik yang berdiri dihadapannya. Entah mengapa, hatinya terasa sakit saat melihat wajah Tya yang terlihat sendu. Memang benar, Fox takut dengan Tya karena latar belakang keluarganya -- tapi sekarang rasa takut itu sirna sudah. Fox malah melihat sosok wanita yang lemah tapi berusaha tegar dihadapannya.
"M-maaf," lirih Fox. Kata itu lolos begitu saja dari mulutnya.
Mungkin dia paham, kalau mereka berdua mempunyai sebuah kesamaan. Sama-sama mencintai tapi bertepuk sebelah tangan. Fox merasakan sendiri rasa sakit karena cinta ditolak dan tidak terbalas, dia berpikir -- Tya pasti merasakan sakit yang sama saat berulang kali ditolak olehnya.
.
.
.
***
Apakah Fox akan membuka hatinya untuk Tya dan memulai dari awal atau memang benar-benar berakhir sebelum dimulai?
Dan apakah Fox akan sadar dan membongkar kalau dia lah biang kerok dari banyaknya korban meninggal akibat mengadu domba keluarga Wijaya dan Sanjaya?
***
Yang mau tau kelanjutan nasib Bambang dan tindakan Zeno selanjutnya, tunggu di episode selanjutnya 😁👍
Fox
Kuy mampir juga ke novel aku yang satunya hehe
Dipaksa Menikah Karena Skandal
dan yang pasti novel adek onlen author yang kece badai
__ADS_1
Istri Kesayangan Tuan Muda - Nafasal