Balas Dendam Bodyguard Kampungan

Balas Dendam Bodyguard Kampungan
Perkumpulan geng Key


__ADS_3

Key melajukan mobilnya ke suatu tempat, dia tidak membawa Zeno ke kediaman keluarga Wijaya tapi ke tempat lain. Zeno yang pada dasarnya sangat sulit mengingat jalan hanya diam dan duduk manis di samping Key.


Sekitar sepuluh menit, mereka akhirnya tiba di sebuah rumah mewah. Zeno yang menyadari kalau itu bukan kediaman keluarga Wijaya pun langsung merasa heran dan protes kepada Key.


"Lo bawa gua ke mana? Katanya mau anter gua pulang," protes Zeno.


"Udah ikut aja ... gua mau ngenalin lo sama geng gua," ujar Key.


"Geng? Geng apaan?" Zeno menautkan kedua alisnya heran.


"Liat aja nanti," sahut Key santai.


Zeno terdiam dan tidak berkomentar lagi. Dia berpikir, Key pasti mempunyai geng yang cukup keren. Zeno menduga, kalau geng yang dimaksud oleh Key adalah geng cowok-cowok tajir nan tampan.


Zeno berjalan dengan gaya yang sok keren dan gagah. Terkadang dia memutar tubuhnya dan menyugar rambutnya agar lebih keren maksimal. Dia pun kadang kala berjoget moon walk ala Michael Jackson.


Key yang melihat kelakuan Zeno hanya geleng-geleng kepala. Dia merasa kalau orang-orang yang ada di kehidupannya semuanya aneh. Dia tidak sadar kalau dia juga aneh.


***


Fantasi Zeno pun bubar dan hancur berantakan, ketika melihat geng yang dimaksud oleh Key. Ternyata, geng yang dimaksud oleh Key adalah sekumpulan ibu-ibu sosialita dan satu orang waria.


Astaghfirullah! Ini gengnya, Key? Emang bener-bener gak ada akhlak! Masa mau ngenalin gua dengan orang-orang model begini? Nanti yang ada gua bisa ketularan!


Zeno mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan itu. Tak ada satupun pria kecuali dirinya dan Key. Waria tidak termasuk, menurutnya. Dia bergidik ngeri karena melihat sekitar dua puluhan orang itu memandang kearahnya.


"Siapa ini, Key? Anggota baru mau gabung?" tanya seorang waria yang memakai wig blonde dan baju minidress merah menyala.


"Bukan ... dia sepupu gua," jawab Key.


Mata waria itu langsung berbinar saat mendengar jawaban Key.


"Alamak! Cucok bingit sepupu lu, Key! Sejak kapan punya sepupu?" Waria itu gemas dan langsung berlari manja kearah Zeno lalu mencubit pipinya.


"Aw! Aduh Mas jangan cubit-cubit dong! Sakit tau!" pekik Zeno.


"Ih! Cantik gini kok dipanggil Mas, sih! Panggil aku Lolita bohay!" protes waria yang mengaku bernama Lolita itu.


Zeno tersenyum paksa saat mendengar pernyataan dari waria itu.


Bukan hanya waria itu yang mendekati Zeno, tapi seluruh ibu-ibu sosialita itu mendekatinya. Pria bermata agak sipit itu dicubiti dan dipeluk-peluk hingga hampir pingsan.


Key yang melihat kekacauan itu langsung meminta teman-temannya itu menghentikan perlakuan bar-bar mereka terhadap sepupunya itu.


"STOP!" pekik Key.


Sontak kegiatan mereka terhenti karena mendengar suara pekikan Key.


"Ih! Padahal lagi asyik!" protes salah satu ibu sosialita yang memakai lipstik nuansa dark alias gelap.


"Sepupu gua itu belum biasa ... kasian," ujar Key.


***


Zeno terduduk di sofa dengan tampang acak-acakan. Dia pun terlihat shock. Key memberikannya segelas air putih untuk menenangkan batinnya yang masih terguncang itu. Sedangkan, para ibu-ibu sosialita dan waria yang bernama Lolita itu -- memperhatikan Zeno dengan seksama.


Key mengibaskan tangannya, tanda agar mereka tidak lagi mengerubungi Zeno. Akhirnya, mereka kembali duduk dengan kegiatan masing-masingnya.


"Key ... yang bener aja ... masa ini geng lo?" tanya Zeno tiba-tiba sambil menunjuk ke semua orang yang ada di ruangan itu.

__ADS_1


Key mengedarkan pandangannya ke teman-teman satu gengnya itu. Terlihat situasi yang biasa dia lihat. Mulai dari beberapa orang yang sedang manicure pedicure, pamer barang branded, menggosipkan orang lain, dan masih banyak lagi.


"Iya ... emang kenapa, Zen?" Key nampak tidak mempermasalahkan kegiatan teman-temannya itu.


"Entahlah...." Zeno terlihat pasrah karena Key nampaknya biasa saja.


***


Sekitar setengah jam berlalu, Zeno hanya terpaku di sofanya sambil memperhatikan kegiatan Key dengan teman-temannya. Tiba-tiba terdengar suara tembakan dari arah luar rumah tersebut.


Dor!


Bukannya panik, mereka malah biasa-biasa saja. Justru Zeno yang nampak panik dan langsung mengacungkan pistolnya kearah pintu keluar.


"Eh? Ada apaan, ya?" tanya salah seorang ibu sosialita.


"Kayaknya ada suara tembakan, deh...." sahut waria yang bernama Lolita tadi dengan santai.


"Oh ... paling cuma mau buat perhitungan sama kita perihal kejadian waktu itu," tanggap ibu sosialita lainnya.


Zeno nampak panik dan berjalan menuju pintu keluar. Dia berpikir, mungkin Key dan teman-temannya mengandalkan dia di situasi panik seperti ini.


Mungkin mereka sebenernya takut, tapi mereka pura-pura tegar dan biasa aja. Mereka pasti butuh gua untuk melindungi, bisa jadi ini adalah tujuan Key mengenalkan gua ke teman-teman satu gengnya ini.


***


Tiba-tiba muncullah pria-pria bertubuh kekar bak preman memasuki ruangan tersebut. Beberapa dari mereka ada yang membawa pistol dan yang lainnya membawa alat-alat berat yang terbuat dari besi.


Zeno sudah terlihat panik, pasalnya lawannya terlalu banyak dan dia sendirian. Namun, perkiraan Zeno salah. Ternyata Key, ibu-ibu sosialita, dan waria yang bernama Lolita itu terlihat berdiri dari tempat duduknya. Ada sebagian dari mereka yang mengeluarkan pistol revolver yang ditempatkan di paha dari balik dress panjang milik mereka. Ada pula yang mengeluarkan alat berkelahi, seperti knuckle, nunchaku double-stick, dan sebagainya.


Apa ini?! M-m-mereka kok jadi serem gini kayak geng mafia! batin Zeno tidak percaya.


"Kalian telah kurang ajar! Merobohkan markas kami dan menguasai daerah kami! Terus malah dibangun Mall! Maksud kalian apa?!" pekik salah satu preman berkepala plontos, bertato, dan berotot. Pokoknya serem.


"Idih! Kalian itu hanya sampah masyarakat! Jadi lebih baik kami bangun Mall di sana," sahut Lolita si waria bohay.


Zeno yang berada dalam situasi itu merasa bingung dan heran. Dia hanya bengong sembari menatap geng preman dan geng Key secara bergantian.


"Lebih baik kita baku hantam ... lihat siapa yang lebih unggul," ujar pria plontos tadi yang kelihatannya adalah ketua geng preman itu.


"Mereka gak tau siapa kita rupanya," gumam Lolita.


Tiba-tiba salah satu anggota preman itu menembakkan peluru kearah Lolita. Dengan cekatan Lolita menghindari peluru tersebut dengan melakukan posisi layaknya orang yang sedang kayang. Bayangkan saja dengan ala-ala slow motion.


Dari situ lah terjadi baku hantam dan baku tembak antara kedua geng tersebut. Zeno yang sudah pasti membela geng Key pun ikut membantu. Suasana begitu kacau karena perkelahian itu. Zeno membantu Key dan para ibu sosialita yang mempunyai pistol untuk melumpuhkan para preman yang membawa senjata api.


"Sial! Preman-preman ini kuat juga!" gumam Zeno.


Tanpa sepengetahuan Zeno, ada seorang preman yang membekapnya dari belakang dan mencoba memiting kepala Zeno. Zeno mencoba melawan tapi sangat sulit karena preman itu bertenaga layaknya Buto Ijo.


Dari arah depannya ada seorang preman yang memegang pistol dan hendak menembak Zeno tepat di kepalanya. Sedangkan, Zeno masih merasa kesulitan melepaskan bekapan preman kekar itu.


Sialan! Kalo gua gak bisa lepas, gua bisa mati!


Dor!


Suara tembakan terdengar kencang. Tembakan itu mengarah ke Zeno. Beruntung dia bisa menghindari tembakan dan hanya daun telinga kirinya yang terserempet peluru dari preman itu.


"Argh!" pekik Zeno sembari memegang daun telinganya yang berdarah.

__ADS_1


Dengan mengerahkan tenaganya, akhirnya Zeno bisa melepaskan diri dari bekapan preman itu. Dia pun langsung berbalik badan dan menendang bagian vital preman itu hingga kesakitan. Sembari menendang, dia pun menembakkan peluru kearah tangan kanan preman yang menembak daun telinganya tadi. Walaupun tanpa melihat objek, Zeno dapat menembakkan dengan tepat hingga pistol ditangan preman itu terpental.


Kedua preman itu meringis kesakitan. Melihat situasi tersebut, Zeno tak tinggal diam. Dia memukul bagian tengkuk leher kedua preman itu dengan kuat secara bergantian, sehingga membuat kedua preman itu pingsan.


"Beres!" gumam Zeno.


Zeno berhasil membereskan kedua preman, begitu pula Key dan gengnya. Mereka menang telak dari preman-preman itu. Akhirnya geng preman itu pergi dan meminta ampun kepada mereka.


***


Setelah kekacauan itu berakhir, mereka kembali melakukan kegiatannya yang sempat tertunda. Mereka berbincang dan bercanda seperti tidak terjadi apa-apa.


Zeno memperhatikan mereka sembari meringis kesakitan karena daun telinganya yang berdarah tadi.


"Bisa diem gak, sih! Susah ini gua ngobatinnya," perintah Key yang sedang fokus mengobati daun telinga Zeno.


"Sakit tau!" pekik Zeno.


Key tidak memperdulikan pekikan Zeno, dia tetap saja fokus mengobati luka sepupunya itu.


"Beres!" ujar Key lega setelah menutup luka Zeno dengan perban.


Zeno masih terlihat memperhatikan ibu-ibu sosialita dan waria yang bernama Lolita itu. Key sepertinya paham kalau Zeno penasaran, sebenarnya mereka itu siapa.


"Penasaran siapa mereka?" tanya Key.


"Banget!" sahut Zeno sembari mengangguk antusias.


Akhirnya Key menjelaskan siapa mereka itu semua. Dia mengatakan kalau kumpulan geng mereka itu sebenarnya adalah kumpulan para istri mafia dan para pembunuh bayaran. Key sengaja mengumpulkan mereka untuk membuat sebuah aliansi. Aliansi itu bernama Black Mamba. Aliansi yang dibuat oleh Key itu, merupakan sebuah aliansi terselubung yang dikenal di dunia gelap mafia. Namun para mafia itu tidak mengetahui siapa saja anggotanya, bahkan suami-suami mereka tidak mengetahuinya.


Nama Black Mamba sendiri diambil dari jenis ular berbisa tercepat di dunia yang merupakan satwa endemik benua Afrika. Key memilih nama ini sesuai dengan filosofi aliansi ini, yaitu bekerja dengan cepat dan mematikan.


.


.


.


***


Next episode comming soon 😁👍


Jangan lupa kuy mampir ke novelku yang lain 🤭


Menikah Karena Skandal (Beautiful Trap)



***


Ular Black Mamba



Knuckle



Nunchaku Double-Stick

__ADS_1



__ADS_2