Balas Dendam Bodyguard Kampungan

Balas Dendam Bodyguard Kampungan
Serangan lanjutan


__ADS_3

Maafkan keterlambatan update kali ini yang melenceng dari jadwal karena author sedang kurang sehat. Mohon dimaklumi..


***


Keesokan paginya, Zeno langsung berpamitan kepada kakeknya dan Bambang. Dia tidak bisa berlama-lama untuk tinggal di desa karena harus segera melakukan penyelidikan terkait sang pengirim dokumen dan pembunuh keluarga Bambang.


Tinggallah Bambang bersama Kakek Wiro di rumah tersebut. Saat itu waktu baru menunjukkan pukul delapan pagi, Bambang yang masih mengantuk pun berjalan menuju kamarnya untuk tidur lagi. Baru saja dia akan melangkah, telinganya berdenging karena teriakan dari Kakek Wiro.


"Bambang! Mau kemana kamu?!"


"Haish!" Bambang berdecih dan menoleh kearah pria tua itu dengan malas.


"Mau tidur lagi, Kek ... masih ngantuk tau."


"Enak aja mau tidur lagi ... kalo tinggal di rumah kakek harus rajin dan membantu pekerjaan kakek," ucap Kakek Wiro.


"Bantu apa?"


"Liat aja nanti," sahut Kakek Wiro.


.


.


.


***



Bambang terbengong menatap hamparan sawah dan beberapa petani yang sedang sibuk menanam padi. Dia memperhatikan dirinya lagi dari atas kebawah. Bambang menyadari kalau dia memakai pakaian yang serupa dengan para petani dan lengkap dengan topi capingnya.


Kedatangan Bambang bersama Kakek Wiro menjadi pusat perhatian para petani yang ada disana. Para petani itu sejenak menghentikan aktivitasnya lalu mendekati Kakek Wiro dan Bambang. Semenjak kakeknya Zeno menjadi kaya, dia menjadi salah satu tetua yang dihormati di desa.


"Wah! Sinten niki, Kek? Ganteng tenan, nopo niki si Zeno wayah jenengan?" tanya salah satu bapak-bapak.


(Wah! Siapa ini, Kek? Ganteng banget, apa ini Zeno cucumu?)


"Uduk ... iki Bambang, koncone Zeno," jawab Kakek Wiro.


(Bukan ... ini Bambang, temennya Zeno)


Bambang hanya tersenyum kepada para petani itu karena tidak mengerti percakapannya.


***


Akhirnya, tiba saatnya Bambang menanam padi di sawah. Namun, dia tidak mau turun ke sawah karena merasa jijik dengan lumpur sawah. Dia hanya menatap hamparan sawah berlumpur itu diatas pematang sawah.


"Ngapain di situ?! Ayo buruan turun! Sini kita menanam padi," ajak Kakek Wiro.


"Ish! Jorok loh, Kek! Seorang Bambang Gentolet, tidak pernah bermain di tempat kotor," sahut Bambang bergidik geli.


"Halah ... Gegayaan juga bocah satu ini!" Kakek Wiro mendekati Bambang dan langsung menariknya. Alhasil kaki Bambang pun masuk ke sawah dan kotor terkena lumpur.


"Argh! Lumpur menjijikkan ini lagi! Rasanya yang kemaren aja belom ilang!" teriak Bambang.


Kakek Wiro mencubit pinggang Bambang, sehingga pria stylish itu memekik kesakitan.

__ADS_1


***


Bambang telah siap untuk menanam padi dan sudah berdiri dengan mantap di lumpur. Tiba-tiba dia merasakan sensasi geli di area kakinya yang terendam lumpur. Setelah melihat kebawah dia terkejut karena sudah banyak sekali binatang yang biasa hidup di sawah, yaitu belut.


"Kakek! Ini apa, Kek? Kok ada binatang mirip ular!" pekik Bambang histeris. Beberapa kali dia mengangkat kakinya bergantian karena merasa kegelian.


"Walah! Itu belut kok pada ngumpul di kakimu?" Kakek Wiro terlihat bingung dan menggaruk tengkuknya.


Lebih aneh lagi, para belut itu tiba-tiba pingsan dan bergerak lambat. Kejadian itu membuat Bambang, Kakek Wiro, dan para petani disana terheran.


"Lah ... ini kok pada pingsan, Kek?"


"Mungkin kaki kamu bau," jawab Kakek Wiro asal.


Percakapan antara Bambang dan Kakek Wiro terdengar oleh para petani itu. Sehingga menimbulkan opini-opini aneh diantara mereka.


"Cah bagus kak sikile ambu apek. Pantes ae welut iso podo semaput," ujar salah seorang bapak-bapak.


(Ganteng-ganteng kok bau kaki. Pantes aja belut pada pingsan)


"Nek ambu sikil isok gawe nangkep welut, ayo gawe sikile awak dewe mambu!" sahut bapak petani yang lain.


(Kalo bau kaki bisa memudahkan menangkap belut, ayo kita berusaha agar kaki kita bau!)


"Urip sikil mambu!" Serempak para petani itu bersorak-sorai.


(Hidup bau kaki!)


Bambang yang melihat para petani itu merasa heran, pasalnya sedari tadi dia tidak memahami bahasa daerah yang mereka pergunakan.


***


Baru saja mereka akan sampai, rumah Kakek Wiro sudah didatangi oleh lima buah mobil SUV hitam lengkap dengan puluhan pria kekar berjas hitam dan berkacamata. Dari jauh mereka terlihat mengobrak-abrik kediaman milik kakek dari Zeno itu.


Bambang menarik lengan Kakek Wiro untuk bersembunyi dibalik pohon waru yang tumbuh tidak jauh dari tempat mereka berdiri.


"Waduh, Kek ... kayaknya kita dalam bahaya," ucap Bambang.


"Rumahku! Haduh ... baru juga punya rumah bagus eh udah ada yang ngerusak! Emang kurang ajar!" Kakek Wiro terlihat emosional dan melepaskan genggaman tangan Bambang dari lengannya.


Dia pun berjalan dengan gagah menuju arah rumahnya dan berteriak kencang kepada para pria kekar itu.


"Woy! Berani-beraninya ngerusak rumah orang!"


Bambang yang melihat Kakek Wiro hanya kebingungan dan mondar-mandir dibelakang pohon waru.


"Bahaya banget ini," gumam Bambang.


Mau tak mau, dia pun keluar untuk menyusul Kakek Wiro.


***


Para pria kekar itu melihat kearah Kakek Wiro dan Bambang. Mereka terlihat meremehkan kakek tua dan pria kurus itu.


"Kayak gini pake tangan kosong juga kelar," ucap salah satu pria kekar.


"Gampang banget urusan." Salah satu pria kekar itu terkekeh.

__ADS_1


"Berani-beraninya kalian merusak rumahku! Awas kalian tak jadikan perkedel!" teriak Kakek Wiro.


Gemuruh tawa terdengar dari para pria kekar itu. Mereka makin meremehkan saat mendengar suara Kakek Wiro yang terdengar seperti kakek-kakek. Dia memang kakek-kakek lah.


Kakek Wiro yang murka memulai aksinya dengan menendang bokong pria kekar yang paling depan.


"Aw! Sialan!"


Pria kekar itu mencoba melawan kakek tua itu, namun nahas -- dia terkena tendangan super sang kakek hingga terpental keatas genteng rumah.


"Kakek tua ini tidak bisa diremehkan!"


Salah satu pria kekar mencoba melawan Kakek Wiro tapi yang ada, dia ditendang hingga masuk kedalam kubangan lumpur. Ada pula yang dilempar oleh Kakek Wiro hingga tersangkut diatas pohon. Bambang yang melihat kehebatan Kakek Wiro pun tercengang dan menganga. Dia tak perlu lagi berbuat apa-apa karena para pria kekar itu sudah tergeletak tak berdaya.


"Haduh ... udah lama gak berantem jadi sakit pinggang," keluh Kakek Wiro.


"Wah! Kakek hebat banget!" teriak Bambang girang sambil bertepuk tangan.


Tiba-tiba ekor mata Bambang menangkap seseorang mengarahkan pistol kearah Kakek Wiro. Dengan cepat Bambang menarik pria tua itu hingga mereka berguling di tanah.


Dor!


Tembakan itu meleset dan mengenai pohon yang tidak jauh dari tempat mereka berdiri.


"Bahaya, Kek! Mereka punya senjata, kita harus segera kabur!"


"Pinggang kakek sakit, Bang."


Tanpa basa-basi, Bambang langsung menggendong Kakek Wiro dibelakang. Pria itu berlari dengan sekuat tenaga. Rasa sakit bekas tembakan di betisnya dia tahan sebisa mungkin untuk segera menjauh dari tempat berbahaya itu.


Sepanjang pelarian, Bambang hanya meringis menahan sakit. Peluhnya sudah membasahi seluruh wajah dan tubuhnya.


Gua gak boleh mati! Bambang ... ayo semangat!


.


.


.


***


Next episode comming soon 😁👍


Episode ini bahasa Jawanya dibantu oleh kembaran jauh author wkwk dengan inisial "N" hayo siapa yang bisa tebak wkwk


Author tidak tinggal di Pulau Jawa melainkan di Pulau Sumatera dan perbendaharaan kata bahasa Jawa juga sangat minim. Jadi sang inisial "N" sungguh membantu wkwk


Dan kuy jangan lupa yang belum ke Walingmi buruan ke sono bray 👇



Bambang



Kakek Wiro

__ADS_1



__ADS_2