
Key masih menunggu jawaban dari mereka berdua. Pria yang terduduk di kursi roda itu terdiam sambil mengedarkan pandangannya ke Zeno dan Jessie secara bergantian. Dia melihat rambut Zeno yang terlihat acak-acakan dan kancing baju bagian atas milik Jessie sudah terlepas.
"Maaf Tuan Key ... tadi Non Jessie meminta saya untuk menangkap kecoa," jawab Zeno sekenanya. Dia menjawab sesuai dengan yang terlintas di benaknya.
"I-iya ... tadi kecoa itu terbang kemana-mana jadi gua panik banget sampe-...," Jessie melihat kebawah dan menemukan kancing bajunya yang terbuka. Dia dengan cepat mengancingkannya kembali, "Sampe gua panik dan baju acak-acakan, ha-ha."
Jessie tertawa canggung dan berharap Key mempercayai ucapannya. Dia memperhatikan raut wajah Key yang masih terlihat dingin itu, berharap akan terlihat sebuah senyuman yang mengembang dari bibir pria yang merupakan tunangannya itu.
Waduh ... gawat banget, gua gak pernah liat Key marah. Biasanya dia itu 'kan gampang banget dibohongin, batin Jessie.
"Oh ... jadi gitu, ya? Ha-ha ... kamu takut kecoa sampe segitunya," tanggap Key dengan tawa renyahnya.
Jessie pun membalas tanggapan Key dengan tertawa juga. Suasana begitu canggung, terlihat jelas Key berusaha menutupi rasa kecewanya.
"Maaf ... saya permisi dulu Tuan dan Nona," Zeno membungkukkan tubuhnya kepada Key dan Jessie secara bergantian.
"Terimakasih sudah membantu calon istriku mengusir kecoa," ucap Key. Dia tersenyum tipis sambil memandang Zeno yang melintas di sampingnya.
"Sama-sama, Tuan ... itu kewajiban saya sebagai seorang bodyguard khusus dari Non Jessie."
"Lain kali pintunya jangan ditutup karena akan menimbulkan sebuah kecurigaan," tambah Key. Matanya menyorot tajam kepada Zeno. Zeno memanglah sepupunya, namun masalah hati tidak bisa kompromi.
"Siap, Tuan."
Zeno melangkah keluar dari kamar Jessie dengan perasaan sedikit ragu karena ucapan Key barusan, dia takut Key akan murka dan marah kepada Jessie. Namun, pikiran itu segera ditepisnya -- dia memantapkan hati untuk segera keluar dari kamar itu. Dia menarik napas dalam-dalam.
Di luar memang tidak ada lagi bodyguard yang berjaga, karena sudah diminta pergi oleh Bang Ismed dan Bibi Juneng atas permintaan dari Jessie.
Gimana caranya ngebuang rasa cinta gua ke Jessie? Gua udah berusaha tapi gak bisa. Sadar, Zen ... dia itu tunangannya Key.
Zeno perlahan meninggalkan pintu kamar Jessie dan menjauh dari sana. Dia berusaha membuang rasa gundah karena khawatir dengan Jessie. Namun, dia akhirnya menyadari kalau Key begitu mencintai Jessie dan tidak mungkin akan melukai gadis itu.
.
.
.
***
Belum ada dialog yang tercipta antara Key dan Jessie, semenjak Zeno meninggalkan kamar itu. Jessie terlihat canggung dan bingung, padahal biasanya dia bersikap kasar kepada Key. Key juga bersikap berbeda dari biasanya, dia tidak menunjukkan sikap gemulainya lagi semenjak perbincangan terakhir dengan Jessie -- sebelum dia mengalami kecelakaan.
"Kamu udah gak takut lagi, kan?" tanya Key memecah keheningan yang tercipta diantara mereka berdua.
__ADS_1
"Gua udah gak takut lagi, kok!"
Key tersenyum dan mengendalikan kursi rodanya mendekat ke Jessie yang terduduk di sisi ranjang tempat tidurnya.
Ruang gerak Key terbatas karena menggunakan kursi roda, tapi sekarang jarak mereka sudah lebih dekat. Key memperhatikan wajah tertunduk Jessie yang terlihat cukup kusut dengan seksama, dia melihat ada jejak air mata yang tersisa di pipi mulus gadis cantik itu.
"Kamu yakin mau nikah sama aku?" tanya Key. Dia mengusap lembut pipi Jessie dengan telapak tangan kanannya.
Jessie hanya diam dan masih menunduk, dia bingung harus menjawab apa. Namun, keputusannya memanglah menikah dengan Key karena merasa kasihan dengan keadaan pria itu sekarang. Mungkin tadi keputusannya sedikit goyah karena dia sempat mengajak Zeno untuk kawin lari.
"Aku tau kamu berbohong masalah kecoa ... kamu pasti ada sesuatu dengan bodyguard itu, kan? Kamu cinta sama dia?" tanya Key tepat sasaran. Kali ini nada suaranya sedikit meninggi.
Jessie sontak mendongakkan kepalanya dan menatap lurus Key. Gadis itu melihat ada pancaran kemarahan dari sorot mata tunangannya itu. Kali ini nyalinya menciut, dia tidak berani membentak Key. Aura dari Key sungguh membuatnya merasa terintimidasi.
"Kamu harus sadar ... walaupun kalian saling mencintai, kalian tidak akan bisa bersatu. Kalian berdua bagai langit dan bumi, dari status kalian saja sudah berbeda," ucap Key. Matanya masih menyorot tajam menatap Jessie.
"Kamu harus bisa mencintai aku!" perintah Key. Dia meraih dagu Jessie dengan kasar dan mendongakkan wajah gadis cantik itu.
Cairan bening pun kembali lolos membasahi pipi gadis cantik itu. Key nampak tidak menyukai reaksi Jessie saat itu dan langsung melepaskan dagu gadis itu dengan kasar.
Sejenak Key memejamkan matanya lekat, tangannya mengepal erat. Dia sungguh merasa kesal dan marah saat itu. Dia tidak terima kalau Jessie memang mencintai sepupunya, Zeno.
Key kembali memegang pipi Jessie, dia mendekati wajahnya ke wajah gadis yang masih memejamkan matanya dan menangis itu.
Key mendekatkan bibirnya ke bibir milik Jessie. Perlahan dia mendaratkan sebuah kecupan ke benda kenyal milik gadis itu. Tidak ada perlawanan dari Jessie, hanya air matanya yang makin mengalir dengan derasnya.
Kejadian itu ternyata dilihat oleh Zeno yang kembali karena ponselnya tertinggal di kamar Jessie. Dia tersenyum getir melihat hal itu, namun dia berusaha untuk tetap tegar. Dengan cepat dia berlalu dan pergi meninggalkan kamar Jessie. Tak dapat dipungkiri, hatinya begitu sakit.
.
.
.
***
Zeno masih menunggu di halaman depan kediaman utama. Dia menunggu waktu yang tepat untuk mengambil ponsel miliknya. Tiba-tiba ada seseorang yang memanggilnya dari arah belakang.
"Zen ... Zeno!"
Zeno menoleh dan melihat sosok Key yang sedang mengulum senyumnya. Key merogoh saku celananya dan mengeluarkan benda pipih milik Zeno yang tertinggal tadi.
"Ini punya lo, kan? Ketinggalan tadi di kamar Jessie," ucap Key. Dia menyerahkan ponsel itu kepada pemiliknya.
__ADS_1
"Terimakasih, Tuan Key," Zeno mengambil ponselnya dan menundukkan kepalanya.
"Sebaiknya lo sadar diri," desis Key pelan didekat telinga Zeno.
Zeno menautkan kedua alisnya, dia masih menunduk dan belum berpindah posisi.
"Lo itu cuma orang biasa ... nama lo gak tercantum di silsilah keluarga Sanjaya," tambah Key lagi.
Pria itu nampaknya menunjukkan statusnya sebagai pewaris keluarga Sanjaya yang sesungguhnya.
"Dan ingat ... jauhi Jessie," Key memberikan peringatan kepada Zeno dan menepuk punggungnya pelan.
Zeno kembali berdiri tegap, ada perasaan aneh yang dia rasakan. Baru kali ini Key bersikap seperti itu kepadanya, biasanya dia hanya bersikap ramah dan ceria.
"Gua pulang dulu, ya ... selamat bertugas."
Key berlalu meninggalkan Zeno dengan sebuah senyuman yang tersemat di bibirnya.
Zeno menghela napasnya, dia memang menyadari apa yang dikatakan Key benar. Mungkin kali ini dia harus benar-benar melupakan Jessie sepenuhnya.
.
.
.
***
Next episode comming soon 😁👍
Zeno
Jessie
Key
hayo hayo jangan lupa mampir ke novel paling absurd dari kolaborasi lima author somplak wkwk dijamin ngocol sangat 😁👍👍
__ADS_1