
Pukul sepuluh malam waktu Singapura. Acara resepsi pernikahan antara Key dan Jessie akhirnya berakhir. Malam itu, pasangan pengantin yang baru sah beberapa saat yang lalu tidak kemana-mana dan menginap di salah satu kamar hotel.
Jessie duduk termenung di tepian ranjang kamar pengantinnya, pipinya basah karena air mata yang tidak dapat diajak kompromi sedari tadi. Sedangkan Key, sekarang dia sedang membersihkan tubuhnya di kamar mandi.
"Apa gua kabur aja kali, ya? Mumpung Key masih mandi," gumam Jessie lirih.
"Tapi buat apa gua kabur? Gak ada yang bisa nolong gua. Zeno juga udah gak peduli dengan gua."
Jessie memejamkan matanya sejenak, dia begitu frustasi malam itu.
"Kamu mikirin apa?" tanya Key.
Sangking frustasinya, Jessie bahkan tidak mendengar kalau Key sudah keluar dari kamar mandi.
"Gua gak mikirin apa-apa!" Jessie terkejut karena mendengar suara Key. Dia lebih kaget saat melihat Key telanjang dada dan hanya memakai celana panjang.
Key tersenyum smirk, dia berpikir kalau sekarang tidak ada alasan bagi Jessie untuk menolaknya.
"Coba panggil aku dengan kata sayang," pinta Key dengan suara lembut namun sorot mata yang mengintimidasi.
Key berjalan mendekati Jessie, gadis itu merasakan ada aura yang berbeda dari pria yang sekarang adalah suaminya.
"Key ... sabar, jangan kayak gini," Jessie melebarkan kedua telapak tangannya dan mengarahkannya kepada Key.
"Ha-ha-ha! Aku harus sabar? Memangnya aku kurang sabar apa, hah?! Lagi pula kamu sudah jadi istriku."
Jessie semakin ngeri melihat Key yang dihadapannya berubah 180 derajat. Dia merasa kalau itu bukanlah Key yang selama ini dia kenal.
"Ini bukan Key yang gua kenal," lirih Jessie.
Key terbahak, dia menertawakan Jessie yang terlihat ketakutan.
"Aku sudah capek berpura-pura. Kamu bilang suka dengan cowok macho, kan? Ini aku apa adanya, Jes ... sikap lemah gemulai yang aku tunjukkan sama kamu selama ini cuma kamuflase. Ternyata kamu bodoh ya, mudah ditipu," seringai Key.
Jessie membelalakkan matanya, dia tidak percaya dengan apa yang dia dengar dari mulut Key.
"Kamu kaget? Terkejut? Tercengang?" cecar Key sambil terbahak.
"Apa tujuan lo sebenernya, Key? Kenapa lo bohongin gua? Buat apa?!" Jessie terlihat sangat emosional, dia mengepal erat kedua tangannya.
"Tujuan? Tujuanku dan ayahku adalah membunuh tuan Frans dan merebut semua aset miliknya. Tapi semua sudah diatur sedemikian rupa, dan tidak akan ada pihak yang menyangka kalau kami pelakunya, ha-ha-ha." Key tertawa puas setelah mengakui rencana jahatnya.
Tubuh Jessie bergetar hebat, dia tidak pernah menyangka kalau Key hanya berniat begitu.
"Berarti lo memang gak pernah mencintai gua?" tanya Jessie. Dia sedikit takut tapi dia memberanikan diri.
__ADS_1
Sorot mata Key berubah, dia mulai mendekati Jessie lagi dan duduk tepat di samping gadis cantik itu. Perlahan dia mengusap lembut pipi Jessie yang basah karena air mata. Jessie sangat takut sampai-sampai tubuhnya kaku.
"Aku sangat cinta sama kamu, Jes ... tapi kamu tidak pernah mencintai aku," lirih Key, "Kamu malah cinta sama si Zeno sialan itu, kan?!" bentak Key.
Jessie tersentak, pupil matanya melebar, telapak tangannya dingin dan pucat pasi. Dia sangat takut sekali.
"Key ... bebasin gua. Gu--gua mohon," lirih Jessie. Suaranya terdengar gemetar karena ketakutan.
Bukannya berhenti, Key malah mencengkeram erat kedua pipi Jessie dengan kuat. Dengan kasar dia menghadapkan wajah gadis itu ke wajahnya.
"Jangan mimpi! Kamu sudah jadi milikku dan tetap jadi milikku selamanya!"
"Ja--jangan kayak gini Key, kita kita bisa bicarain baik-baik!"
Seketika keberanian Jessie kembali, dia melepaskan cengkraman Key dari pipinya. Dia beranjak dari tempat duduknya dan menjauh dari Key.
Key terlihat sangat marah dan tidak senang, dia bangkit dan mencekik leher Jessie. Dia mendorong tubuh gadis yang hanya setinggi bahunya ke tembok.
"Kamu jangan harap bisa lepas dari aku!" bentak Key, "Ah ... aku punya satu pengakuan, aku sebenarnya tidak pernah koma, Jes. Aku bahkan baik-baik saja, tapi aku memang mengalami kecelakaan karena kamu!" Key makin mengeratkan cekikannya dileher Jessie. Matanya melotot dan lehernya mengurat. Sedangkan Jessie, makin kesulitan bernapas dan terus berusaha melepaskan cekikan itu.
Perlahan, Key melonggarkan cekikannya. Tubuh Jessie merosot karena lemas kehabisan tenaga. Gadis itu tak berani menatap mata Key yang berjongkok untuk menyamakan posisi dengannya, dia hanya menunduk dan menatap lantai.
Key memperhatikan Jessie yang sangat ketakutan, dia bahkan sesekali mendengus sambil tertawa.
"Ekspresi ketakutanmu membuat aku jadi bergairah, Jes ... kita tidak dosa kan kalau melakukan hubungan itu? Kita sudah sah jadi suami-istri," seringai Key. Dia menyibak rambut yang menutupi sebagian wajah Jessie.
Bukannya berhasil, Key menarik dan membanting tubuh Jessie ke atas ranjang. Dia juga menciumi bibir Jessie dengan paksa.
"Lepasin gua, Key!" pekik Jessie.
Jessie menendang perut Key dengan kakinya, sehingga membuat pria cantik itu meringis kesakitan.
"Brengsek!" Key menampar kuat pipi Jessie.
Plak!!!
Jessie tidak peduli dengan rasa sakit, dalam benaknya hanyalah bagaimana caranya membebaskan diri dan keluar dari kamar itu.
"Mau kemana kamu?! *****!" maki Key dengan emosi yang memuncak.
Jessie berlari ke pojokan, matanya tertuju pada sebuah botol anggur yang ada di meja kecil tak jauh dari tempatnya berdiri.
Gua harus ambil itu, gua harus keluar dari sini dan beritahu daddy tentang rencana jahat Key dan ayahnya, batin Jessie.
Dengan perhitungan tepat, akhirnya Jessie mampu mengambil botol anggur itu. Dia berlari kearah Key dan memukulkan botol itu ke kepala Key.
__ADS_1
Argh!!!
Key berteriak kesakitan dan memegang kepalanya. Kepalanya berdarah karena pukulan botol anggur itu.
Jessie tidak mau menyia-nyiakan kesempatan dan berlari keluar dari kamar itu. Dia berlari menuju kamar ayahnya untuk memberitahu segalanya.
Dengan masih menggunakan gaun pengantin dan terlihat lusuh. Dia berlari menyusuri koridor-koridor hotel.
Akhirnya, dia pun sampai ke kamar ayahnya. Baru saja dia ingin memanggil, terdengar suara ledakan senjata api dari dalam kamar.
Dor!
Jessie terburu-buru membuka pintu kamar ayahnya yang ternyata tidak dikunci. Betapa terkejutnya dia, saat menemukan ayahnya tergeletak bersimbah darah di bagian dada.
Jessie menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Dia begitu terkejut, apa lagi melihat siapa orang yang telah menembak ayahnya.
"Ze--Zeno," lirih Jessie tak percaya. Air matanya kembali meluruh di pipinya.
"Jadi lo itu antek-anteknya Key?" tanya Jessie dengan suara bergetar. Hatinya hancur berkeping-keping saat melihat kejadian itu.
Zeno tak dapat berkata apa-apa, lidahnya kelu dan matanya berkaca-kaca. Dia berhasil membalas dendam tapi hatinya malah terasa sangat sakit dan tidak bahagia sama sekali.
Tubuh Jessie ambruk dan bersimpuh sambil menangis, seketika Zeno menjatuhkan pistolnya ke lantai.
Apakah hubungan diantara mereka masih bisa diperbaiki? Atau berakhir begitu saja?
.
.
.
***
Next episode comming soon 😁👍
Kok saya sebagai author sedih ya? Padahal saya yang nulis sendiri. Dasar aneh 😁😁😁😭😭😭
Siapa yang masih mendukung hubungan Zeno dan Jessie?
Terus tunggu kelanjutannya 😁👍
***
Mampir kuy ke novel milik kak Tya Gunawan yang pasti kece abis 😁👍
__ADS_1