Balas Dendam Bodyguard Kampungan

Balas Dendam Bodyguard Kampungan
Pilihan


__ADS_3

Ruang ICU sebuah rumah sakit.


Terlihat sosok pria terbaring dengan alat bantu pernapasan dan perban yang membalut kepalanya. Di luar ruang ICU itu ada dua orang wanita yang menangis tersedu-sedu, satu wanita sudah tidak muda lagi dan wanita yang satu terlihat seperti anaknya. Mereka berdua adalah Nyonya Diana Sanjaya dan Kyla.


"Kak Key akan selamat 'kan, Bu."


"Kakakmu pasti akan baik-baik saja."


Wanita paruh baya itu berusaha menenangkan putri bungsunya itu walaupun dia juga belum mengetahui jelas keadaan putra sulungnya yang berada di ruangan ICU.


Dari kejauhan terlihat sosok wanita tua berambut putih berlari dengan terisak. Dia adalah Nenek Elizabeth. Nenek yang usianya sudah senja itu menampakkan raut wajah khawatir dan seakan tidak percaya kalau cucu kesayangannya mengalami hal buruk seperti ini.


"Ini bohong, kan?!" pekik Nenek Elizabeth sembari mengguncang kuat kedua lengan menantunya.


Nyonya Diana tidak menjawab, dia hanya menitikkan air matanya.


Pandangan Nenek Elizabeth mengarah ke kaca yang memperlihatkan Key yang sedang terbaring koma di dalam ruang ICU. Betapa hancurnya hati nenek yang berusia hampir satu abad itu.


"Di mana Kenan sekarang?"


"Dia sedang berada di kantornya, Bu."


"Apa dia gila? Anaknya sedang terbaring koma, dia malah berada di kantor!"


Nenek Elizabeth terlihat marah besar, sudut matanya masih mengeluarkan cairan bening. Rasanya dia tidak habis pikir dengan anaknya itu karena masih saja mengurus perusahaan di saat genting seperti ini.


"Ibu jangan marah ... Kenan sedang berusaha membuat perhitungan karena kecelakaan yang dialami oleh Key."


"Siapa? Siapa dalang kecelakaan cucuku tersayang?" lirihnya dengan mata yang masih berkaca.


"Frans Wijaya ... dia membatalkan pertunangan Key dan putrinya secara sepihak. Sejak saat itu Key menjadi frustasi dan akhirnya mengalami kecelakaan."


"Ck!" Nenek Elizabeth berdecak kesal, emosinya mungkin sudah mencapai batas maksimalnya.


"Kenapa orang itu lagi? Sudah cukup Albert dan Marina yang jadi korban kejahatannya, kenapa sekarang cucuku juga jadi korban?!"


Nyonya Diana hanya diam. Kyla yang berada di situ nampak tidak mengerti tentang pembicaraan kedua wanita yang dihormatinya itu. Dia hanya tahu kalau kakaknya mengalami kecelakaan karena frustasi pertunangannya dengan Jessie gagal.


"Bu ... Nek ... Kyla permisi dulu."


"Kamu mau ke mana, Nak?" tanya Nyonya Diana.


"Ada sesuatu yang harus aku kerjakan, Bu." Kyla mengulas senyumannya, lalu pamit pergi meninggalkan ibu dan neneknya.


.


.


.


***


Sementara itu, Young Flash yang pingsan akhirnya terbangun. Betapa terkejutnya dia saat mendapati dirinya telah terikat di sebuah kursi dengan mulut terlakban. Pria lincah itu berusaha melepaskan dirinya dari jeratan tali tersebut, namun usahanya hanya sia-sia saja.


Sial! Perasaan gua semalem itu pingsan di hutan, kok sekarang gua malah diiket kayak gini? Wah! Jangan-jangan semalem itu kunti jadi-jadian.


Sedang sibuk-sibuknya bergeliat untuk mencoba membebaskan diri. Zeno dan Bambang akhirnya datang, sontak Young Flash pun terkejut melihat dua orang tampan berjas hitam itu.


"Udah sadar rupanya," ucap Zeno sembari berjongkok di depan Young Flash.


Waduh! Gua ketauan! Ish! Seumur hidup mencari berita gua gak pernah ketauan. Sekarang kok gua sial banget.

__ADS_1


"Eh! Dahono, lu itu ngapa nyari berita yang gak-gak aja mengenai majikan dan temen gua?" celetuk Bambang.


Siapa lagi ini orang? Kok dia tau nama julukan lucnut itu? Pasti dia seseorang yang tau masa lalu gua.


"Lupa ya sama gua? Gua ini Bambang ... Bambang Gentolet tetangga plus temen kecil lu," jelas Bambang.


Apa? Bambang Gentolet? Orang yang super nyebelin itu? Hih! Kenapa juga gua bisa ketemu dia, sih?!


Mata Young Flash mendelik kearah Bambang dan Zeno secara bergantian. Zeno pun dengan kasar melepaskan lakban yang menempel di mulut Young Flash.


"Aw!" pekik Young Flash kesakitan. "Biasa aja buka lakbannya! Gak usah pake kekasaran!" protes Young Flash.


Zeno dan Bambang saling menatap sambil terkekeh.


"Jangan sebut gua dengan panggilan Dahono! Nama lengkap gua itu Daniel Hartono Norman!" protes Young Flash.


"Disingkat Dahono, ha-ha-ha!" Bambang menjeda tawanya dan ikut berjongkok untuk mensejajarkan pandangannya dengan pria lincah itu. "Masih ngakuin nama bokap lu? Lagian lu 'kan udah kabur dari rumah selama kurang lebih delapan tahun," ejek Bambang.


Young Flash berdecih kesal, sebenarnya ucapan Bambang tidak sepenuhnya salah.


"Jadi ... siapa yang nyuruh lo ngelakuin itu?" selidik Zeno.


"Ngelakuin apa?" tanya Young Flash pura-pura bodoh.


"Mata-matain gua dan Non Jessie!" tegas Zeno.


Young Flash tersenyum smirk dengan menatap tajam kearah Zeno.


"Tuan muda kedua dari keluarga Sanjaya, fakta yang cukup mencengangkan bukan? Kalau publik tau yang sebenarnya pasti akan menjadi berita utama dan menghebohkan," tukas Young Flash.


Zeno sontak mencekik leher pria lincah itu, kekesalan sudah memuncak di otaknya diikuti dengan rahang yang sudah mengeras.


Tuan muda kedua keluarga Sanjaya? Perasaan keluarga Sanjaya cuma punya satu tuan muda, yaitu Tuan Key. Terus siapa tuan muda kedua? Masa Zeno?


Bambang menatap kearah Zeno penuh curiga, dia mencermati setiap lekuk wajah pria yang pernah dia make over itu. Memang benar, Zeno terlihat sangat tampan kalau untuk ukuran orang biasa yang hidup di kampung. Wajahnya juga tidak terlihat seperti orang pribumi kebanyakan.


Zeno mengendurkan cekikannya. Young Flash terbatuk-batuk setelah mendapatkan cekikan yang cukup kencang itu.


Tiba-tiba ponsel Zeno berdering, bodyguard tampan itu permisi keluar. Sebelum itu dia kembali melakban mulut Young Flash.


"Jagain dia bentar, Bang ... gua terima telpon dulu."


Bambang hanya mengangguk mengiyakan.


***


Setelah menerima telepon, Zeno bergegas berangkat dan menitipkan Young Flash kepada Bambang.


"Kenapa, sih? Buru-buru amat," desis Bambang.


Pandangan Bambang beralih ke Young Flash yang masih terikat dan terlakban mulutnya. Dia merasa penasaran pasal masalah tuan muda yang disinggung oleh teman masa kecilnya kepada Zeno tadi. Bambang pun melepaskan lakban yang menempel di mulut Young Flash.


"Pelan-pelan ngapa!" protes Young Flash.


"Jelasin ... tuan muda kedua keluarga Sanjaya, maksudnya apa?"


Bambang terlihat memasang tampang seriusnya sambil menatap tajam Young Flash. Pria lincah yang masih terikat itu hanya tersenyum miring sebelum membuka suaranya.


"Gak usah senyum-senyum! Buruan lah!" Bambang terlihat kesal.


"Lepasin gua dulu, baru gua ceritain."

__ADS_1


"Cerita dulu, baru gua lepasin."


Young Flash pun pasrah dan akhirnya menceritakan apa yang diketahuinya baru-baru ini kepada Bambang.


.


.


.


***


Zeno ternyata mendapatkan telepon dari Tuan Kenan yang mengabarkan kalau Key mengalami kecelakaan dan sekarang tengah terbaring koma. Dia mengendarai mobilnya dengan perasaan yang berkecamuk menuju rumah sakit tempat Key di rawat.


Sesampainya di rumah sakit, Zeno langsung disambut oleh orang kepercayaan Tuan Kenan dan dibawa ke ruang ICU tempat Key dirawat.


"Bagaimana keadaan Key, Om?"


"Kau bisa lihat sendiri." Tuan Kenan mengisyaratkan pandangan kearah kaca besar yang memperlihatkan Key yang tengah berbaring koma.


Zeno terlihat sedih melihat sepupunya dalam keadaan memprihatinkan.


"Tolong bantu Key ... agar pertunangannya dengan Jessie tidak jadi batal," pinta Tuan Kenan tiba-tiba.


"Memang benar ... awalnya pertunangan ini adalah untuk balas dendam, tapi Key sepertinya benar-benar mencintai Jessie. Dendam terhadap ayahnya tidak ada hubungan dengan anaknya. Hanya saja dengan menikahkan mereka berdua, itu akan mempermudah jalannya rencana kita," imbuhnya.


Zeno terkejut mendengar permintaan dari Tuan Kenan. Dia ingin mengiyakan tapi itu terasa cukup berat baginya, karena dia juga mencintai Jessie. Tapi melihat keadaan Key yang memprihatinkan, dia juga tidak tega.


"Nak Zeno?"


"I-iya, Om!"


Tuan Kenan mengisyaratkan permohonan yang mendalam kepada Zeno dengan mata yang berkaca-kaca.


"Saya akan berusaha membantu, Om."


Akhirnya Zeno terpaksa mengiyakan permintaan Tuan Kenan. Dia juga memantapkan hatinya untuk secepatnya balas dendam dan bukan larut dalam cinta yang baru saja muncul.


"Cepatlah kembali ... aku takut nanti akan ada yang curiga."


"Baik, Om."


Zeno berpamitan dan berjalan menuju keluar rumah sakit. Saat itu dia dilanda oleh dilema yang cukup berat lagi. Namun, dia memang harus mengorbankan perasaannya demi membalaskan dendam kematian kedua orang tuanya. Pilihannya memang cukup berat antara dendam dan cinta.


.


.


.


***


Poor Zeno 🤧🤧🤧


Next episode comming soon 😁👍


Terimakasih bagi semua yang masih setia membaca novel ini.


Salam sayang dari saya 🥰🥰


Semoga tidak bosan dan tetap stay menunggu kelanjutan episodenya 😁👍

__ADS_1


__ADS_2