
Jessie masih membeku saat menerima pelukan dari Key. Mungkin gadis itu tidak membalas pelukan itu, tapi tetap saja itu terhitung sebuah pelukan. Dia ternyata termakan omongannya sendiri, karena dara belia itu pernah mengatakan akan menerima Key ketika pria gemulai itu merubah sikapnya menjadi lebih jantan.
Gua harus gimana? Kenapa Key tiba-tiba bersikap kayak gini? Gua gak nyangka bakal serumit ini, batin Jessie dengan segala masalah yang berkecamuk dipikirannya.
Key melonggarkan pelukannya, dia tahu bahwa Jessie tidak membalas pelukan darinya. Raut wajahnya tergambar sedikit rasa kecewa dan terlihat lesu.
"Key?" panggil Jessie tiba-tiba sembari melepaskan pelukan Key dari tubuhnya.
"Iya...." sahut Key dengan nada suara lirihnya.
Jessie sedikit memundurkan tubuhnya menjauh dari Key. Ada rasa canggung dan kikuk yang masih bersemayam dalam hatinya. Namun, gadis itu nampak berusaha bersikap seperti biasa.
"Gak perlu lah berubah jadi macho segala! Lagian gua tau rasanya kalo dipaksa jadi sosok orang lain, pasti susah 'kan," ujar Jessie.
"Ini bukan paksaan, Jes ... tapi aku ingin," sahut Key sembari memandang Jessie lekat.
Jessie mengigit bibir bawahnya. Gadis itu makin bingung dengan apa yang harus dia lakukan. Tiba-tiba dia mengatakan sesuatu yang membuat Key terkejut. Sebelum mengatakan semuanya, Jessie memantapkan hatinya terlebih dahulu.
"Gua udah ada seseorang yang gua cintai, Key ... dan itu bukan lo," ungkap Jessie.
Key merasa tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar. Dia tersenyum getir menanggapi pernyataan dari Jessie.
"K-kamu bohong 'kan, Jes?" lirih Key dengan suara bergetar.
"Gua serius," jawab Jessie singkat.
Mata Key nampak berkaca-kaca dan dia tertawa sejadi-jadinya padahal mungkin hatinya terasa sangat sakit kala mendengar penolakan halus yang keluar dari mulut Jessie.
Melihat Key yang begitu frustasi, Jessie merasa bersalah. Gadis itu tidak pernah menyangka kalau Key akan bereaksi seperti itu. Dalam ekspetasinya, Key akan langsung menerima keputusannya dan bersikap biasa saja.
"Oke ... aku gak tau siapa cowok yang udah buat kamu jatuh cinta dan nolak aku kayak gini, sampe kamu rela batalin pertunangan kita. Tapi kamu harus tau, kalo aku bener-bener mencintai kamu, Jes," ungkap Key sekali lagi.
Jessie hanya diam, bibirnya tidak mampu digerakkan lagi untuk menanggapi pernyataan dari Key. Key yang dia lihat sekarang, sungguh jauh berbeda dengan Key yang biasa dia lihat.
"Lebih baik kita pulang ... hari sudah hampir tengah malam," ajak Key yang berjalan mendahului Jessie.
Jessie yang tersadar dari lamunannya pun mengekor berjalan mengikuti Key untuk menuruni tangga.
***
Terlihat Zeno yang sedang berdiri bersandar di pintu samping mobilnya sembari memainkan ponselnya. Tak berapa lama, bodyguard tampan itu menyadari bahwa Jessie dan Key sudah keluar gedung.
Zeno langsung menunjukkan sikap siaganya dan memberikan hormat kepada Key dengan menundukkan kepalanya.
"Hati-hati di jalan," pesan Key kepada Jessie.
Key berjalan mendekati Zeno. "Bawa Non Jessie pulang dengan selamat sampai ke rumah," kata Key sembari menepuk pelan pundak kiri Zeno.
"Siap, Tuan!" sahut Zeno.
__ADS_1
Key tersenyum kepada Zeno dan berjalan perlahan menuju mobilnya. Key pun memasuki mobilnya dan mengemudikan mobilnya dengan kecepatan penuh meninggalkan Zeno dan Jessie yang masih berada di situ.
***
Pandangan mata Zeno beralih kearah Jessie yang berdiri di hadapannya.
"Ayo kita pulang, Non...." ucap Zeno sembari berjalan menuju pintu mobil penumpang yang berada di sebelah kursi kemudi.
Tiba-tiba Jessie memeluk Zeno dari belakang. Pelukan itu sontak membuat Zeno menghentikan langkahnya.
"Jangan seperti ini, Non ... nanti dilihat orang," tutur Zeno dengan nada suara lembutnya sambil mencoba melepaskan tangan Jessie yang melingkar di pinggangnya.
Jessie mengeratkan pelukannya, dia tidak ingin Zeno melepaskan pelukannya.
"Biarin diliat orang, gua gak peduli!" bantah Jessie.
"Tolong sekali ini, jangan membantah," pinta Zeno yang masih berusaha melepaskan pelukan Jessie.
Mendengar perkataan Zeno, Jessie pun melonggarkan pelukannya. Sebenarnya gadis itu merasa kecewa dengan reaksi Zeno yang seperti itu.
"Naiklah, Non." Zeno melepas pelukan Jessie dan berjalan untuk membukakan pintu mobil.
***
Di dalam mobil.
Mereka berdua masih larut dalam keheningan. Sejak pertama kali masuk mobil, tidak ada dialog apapun dari mereka berdua. Jessie nampak sesekali menatap kearah Zeno yang masih fokus menyetir dengan mulut yang terkunci rapat dan ekspresi wajah datar.
"Saya sedang fokus menyetir, Non," sahut Zeno dingin tanpa menoleh ke Jessie sedikit pun.
Jessie terlihat kesal dan menggertakan giginya. Dia merasa heran dengan sikap Zeno yang terbilang cukup berbeda dari biasanya.
"Gua bakal turun sekarang!" ancam Jessie sembari berusaha membuka pintu mobil.
Sontak Zeno langsung menginjak pedal rem dan meminggirkan mobilnya di bahu jalan. Tangan kirinya meraih tangan Jessie yang hendak membuka pintu mobil.
"Jangan macam-macam, Non! Mobil sedang melaju kencang!" pekik Zeno.
"Biarin!" sahut Jessie dengan raut wajah sedih dan matanya nampak berkaca-kaca.
Zeno memberhentikan mobilnya di bahu jalan. Suasana malam itu nampak lengang dan sepi. Sudah jarang sekali kendaraan yang melaju melewati jalan yang tidak jauh dari kediaman keluarga Wijaya itu.
Jessie menundukkan wajahnya, gadis itu berusaha menahan cairan bening yang hampir saja menembus pertahanan dan terjun bebas di pipi mulusnya.
Zeno berusaha mengangkat wajah Jessie dengan perlahan. Diraihnya dagu Jessie dan ditengadahkan wajah cantik anak semata wayang musuhnya itu.
"Kenapa Non Jessie menangis?" tanya Zeno.
Jessie tidak menjawab dan menepis tangan Zeno yang memegang wajahnya. Gadis cantik itu berpaling dan tidak mau menatap wajah bodyguard-nya itu.
__ADS_1
"Non?" panggil Zeno dengan suara lembutnya.
"Jahat!" gumam Jessie.
Zeno melepaskan sabuk pengamannya agar lebih leluasa mendekati Jessie. Pria tampan itu pun mencoba menghadapkan Jessie kearahnya.
"Liat saya, Non!" titah Zeno.
Perlahan Jessie menoleh kearah Zeno, tanpa sadar cairan bening dari netranya pun lolos saat menatap sosok pria yang dicintainya. Bukan berhenti menangis, tapi tangisannya malah makin kencang.
Zeno yang terlihat bingung langsung mendekap Jessie dalam pelukannya. Dibelainya rambut panjang nan halus milik gadis bermata coklat itu.
"Jangan nangis, Non ... maafkan saya," lirih Zeno.
Jessie makin terisak dalam dekapan Zeno. Hal itu membuat Zeno merasa lebih bersalah karena bersikap dingin kepadanya.
Zeno melepaskan Jessie dari dekapannya, dihapusnya air mata yang mengalir di pipi gadis yang dicintainya itu. Pandangan matanya pun tertuju pada bibir mungil berwarna peach milik Jessie. Air mata gadis itu terlihat ada di sana.
Perlahan Zeno mengusap cairan bening itu di benda kenyal milik gadis cantik itu. Zeno menahan salivanya karena sepertinya ada sebuah hasrat saat memandang bibir yang sedang disekanya.
Perlahan, pria yang merupakan bodyguard itu mendekatkan bibirnya ke bibir milik anak majikannya. Jarak demi jarak pun dipangkas sehingga tidak ada jarak lagi diantara kedua benda kenyal mereka. Mata kedua insan itu sama-sama terpejam, menikmati setiap pagutan yang bermain disalah satu panca indera mereka. Sejenak, mereka berdua melupakan masalah yang sedang menimpa. Entah mungkin hanya malam ini mereka bisa menikmati dunia mereka sendiri, karena hari esok tiada yang tahu.
.
.
.
***
Next episode comming soon 😁👍
Sesekali author gak melawak dulu karena beberapa part sudah mulai menunjukkan tanda-tanda keseriusan (apasih wkwk) tapi bagi yang kangen ingin tertawa ini author kasih bonus picture yang sungguh fenomenal wkwk
ini adalah foto editan dari salah satu author yang mengaku fans berat novel absurd ini... aku sungguh terhura kepada Nafasal yang sudah mengedit foto ini hahaha🤣🤣🤣
Aku juga kasih bonus picture Babang Zeno, Non Jessie, dan Mas Key 🤭🤭
Zeno
Jessie
Key
__ADS_1