
Kelakuan Bambang dan Zeno pun dilihat oleh nenek Key dari kamarnya yang berada di lantai dua. Nenek Elizabeth pun tertawa geli melihat kelakuan dua orang bodyguard konyol itu.
"Ada-ada saja kelakuan anak muda jaman sekarang."
Tiba-tiba ada suara pintu diketuk.
Tok-tok-tok!
"Nenek! Ini Key!" panggil Key dari balik pintu kamar neneknya sambil mengetuk pintu.
"Masuk saja ... pintunya tidak dikunci," sahut Nenek Elizabeth.
Key membuka pintu dan menghambur masuk ke dalam kamar neneknya itu. Dia pun langsung memeluk neneknya erat karena sangat merindukannya. Tadi malam dia tidak sempat bertemu dengan neneknya karena neneknya sudah tidur.
"Nenek! Key kangen banget sama nenek, udah lama banget Key gak pernah ketemu nenek," ucap Key.
"Kamu juga jarang main kesini, gimana kabar ayah dan ibumu? Sehat?" tanya Nenek Elizabeth.
Key mengangguk sambil tersenyum kepada neneknya.
"Kyla mana? Dia gak ikut?" tanya Nenek Elizabeth.
"Kyla lagi dalam perjalanan, Nek ... kemaren dia mau ikut gak bisa soalnya dia kena diare, Nek," jawab Key.
"Ck-ck-ck ... dia masih suka makan sembarangan, Key?" Nenek Elizabeth terlihat tak habis pikir dengan cucu perempuannya, karena sering kali terkena diare.
Key mengangguk. "Dia semuanya dimakan, Nek ... masa ayam yang udah dikasih racun tikus dimakan juga, untung cuma diare."
Nenek Elizabeth pun mengingat masa kecil Kyla yang sungguh bar-bar. Dia suka sekali memanjat pohon dan memakan apa saja yang menurutnya menggugah selera.
Dia pun memperhatikan Key yang berada didepannya. Key terlihat sangat kemayu, bahkan kukunya pun di kutek mengkilap. Bahkan dia mengingat masa kecil Key yang suka sekali main Barbie bersama dengan anak-anak perempuan.
"Dosa apa hamba punya cucu cuma dua tapi kelakuannya aneh semua," gumam Nenek Elizabeth.
Tiba-tiba Key memecah lamunan neneknya.
"Nenek ikut Key ya pindah ke Indonesia?" pinta Key sembari mengerucutkan bibirnya.
Nenek Elizabeth tersenyum geli melihat cucunya itu. Cucunya itu sangat tampan dan menggemaskan tapi hanya kurang macho.
"Nenek lebih nyaman tinggal disini, Key."
Key terlihat kecewa atas jawaban dari neneknya itu.
"Key ... jadilah laki-laki yang seutuhnya, jangan kemayu seperti perempuan. Kasihan tunangan cantikmu itu, nanti dia akan merasa malu kalau kamu gemulai seperti ini terus," nasehat Nenek Elizabeth.
"Nenek sudah lihat Jessie?" tanya Key penasaran.
"Sudah ... dia sangat cantik, Key. Nenek yakin banyak laki-laki yang menyukainya, jadi kamu harus waspada," peringat Nenek Elizabeth.
Key mengangguk tanda mengerti perkataan dari neneknya itu.
.
__ADS_1
.
.
***
Zeno masih berlari membawa Bambang menuju kamarnya. Setelah sampai, Zeno langsung menurunkan Bambang.
"Udah sono buruan ke kamar mandi!" perintah Zeno.
Bambang terlihat kesal karena dia gagal keren didepan para maid bule tadi.
"Siapa yang kebelet pipis! Celana gua sobek tau!" sahut Bambang sambil memperlihatkan celananya yang sobek.
"Pfftt ... ha-ha-ha! Gile banget lo, Bang!" tanggap Zeno sambil tertawa terbahak-bahak.
Zeno malah salfok (salah fokus) dengan celana boxer yang digunakan Bambang.
"Bang! Lo gak salah pilih apa? Masa pake boxer pink motif Hello Kitty, sih!" Zeno tertawa sampai guling-guling di lantai.
"Ini fashion, Zen! Lu jangan norak, lah!" protes Bambang.
"Fashion juga gak gitu-gitu amat, Bang! Bikin geli aja lo ini," sahut Zeno yang masih tertawa hingga hampir menangis itu.
Zeno pun memutuskan untuk pergi ke kamarnya yang ada di sebelah kamar Bambang.
.
.
.
***
Tuan Abraham nampak sedang sibuk di ruang kerjanya. Dia membuka dan membaca sebuah dokumen dan tak sengaja melihat sebuah foto terselip disalah satu dokumen tersebut. Foto itu menunjukkan potret empat orang anak laki-laki kecil yang berdiri berjejer. Tuan Abraham memperhatikan foto tersebut, sorot matanya sendu saat memperhatikan salah satu anak di foto itu.
Tok-tok-tok!
Tiba-tiba ada suara ketukan pintu, hal itu memecah konsentrasi Tuan Abraham.
"Masuklah!"
Pria tinggi berjas hitam pun memasuki ruangan tersebut.
"Tuan ... dibawah ada Tuan Frans Wijaya yang hendak menemui Anda," lapor pria itu.
Deg!
Karena mendengar hal itu, Tuan Abraham menjadi tersentak.
Aku sengaja menghindarinya dan mengulur waktu pertemuan, tak disangka dia malah datang menemuiku di sini.
Akhirnya Tuan Abraham pun menemui Tuan Frans yang sudah menunggunya di ruang tamu. Tuan Frans tersenyum penuh arti kepada Tuan Abraham yang baru saja datang menemuinya. Di ruang tamu itu ternyata penuh dengan bodyguard yang berjaga di setiap sudut ruangan.
__ADS_1
"Tuan Frans saya tidak menyangka Anda akan datang kemari," ujar Tuan Abraham.
"Ha-ha-ha! Kebetulan saya memang ada keperluan di sini jadi apa salahnya jika saya menghampiri Anda sejenak," sahut Tuan Frans.
"Anda memang sangat luar biasa! Ha-ha-ha!" Tuan Abraham berusaha memuji Tuan Frans.
"Bagaimana kabar Fox, anak bungsu Anda? Sejak waktu itu saya belum pernah bertemu lagi dengannya. Mungkin sudah sekitar 10 tahun yang lalu," tanya Tuan Frans.
Baru saja Tuan Abraham ingin menjawab, datanglah Fox yang baru pulang dari acara pernikahan Raymond dan Alice.
Fox yang melihat ayahnya sedang bersama Tuan Frans pun langsung memberikan salam dengan menundukkan kepalanya.
"Nah ini dia anak bungsu saya, Fox," kata Tuan Abraham sambil mengarahkan tangannya ke Fox.
Sejenak Tuan Frans kagum akan ketampanan Fox, raut wajahnya menunjukkan rasa tidak percaya, seperti reaksi Jessie saat melihat Fox. Dulu penampilan Fox jauh dari kategori tampan karena dia bertubuh gendut dan berkacamata.
"Wah! Fox ... kau sangat tampan! Saya yakin jika Jessie melihat dirimu yang sekarang, pasti dia akan menyesal menolak perjodohan sepuluh tahun lalu," tukas Tuan Frans.
Fox hanya tersenyum menanggapi perkataan Tuan Frans.
"Tidak masalah, Tuan ... hal itu sudah lama berlalu. Saya mohon diri untuk beristirahat, silahkan dilanjutkan perbincangan kalian," tanggap Fox.
Setelah Fox pergi, suasana pun menjadi sedikit canggung. Tidak ada lagi orang yang berada didekat mereka berdua karena Tuan Abraham sudah meminta asisten pribadi dan beberapa bodyguard-nya yang menjaga untuk menjauh dari ruang tamu.
"Aku lelah bersandiwara," ungkap Tuan Frans.
"Aku juga...." sahut Tuan Abraham.
"Kenapa kau menculik putriku waktu itu?" tanya Tuan Frans tiba-tiba.
Tuan Abraham pun terkejut mendengar pertanyaan dari Tuan Frans.
"Ha-ha-ha! Untuk apa aku menculik putrimu, Frans? Tidak mungkin aku melakukan itu," jawab Tuan Abraham canggung.
Tuan Frans mengeluarkan kertas yang ditemukan oleh Amir di lokasi penculikan dari saku jasnya dan menaruhnya di meja. Kertas yang tertoreh lambang keluarga Griffin.
"Bagaimana kau menjelaskan mengenai kertas yang tertinggal di lokasi penculikan ini?" selidik Tuan Frans.
Tuan Abraham lebih terkejut dari sebelumnya karena melihat lambang keluarganya tertoreh di kertas itu.
Apa kau begitu ceroboh, Fox?! Mengapa kau sampai meninggalkan jejak di lokasi penculikan?!
"Si penculik menghubungiku via panggilan video dan dia bilang kalau dia mengetahui kebenaran kejadian 20 tahun lalu. Apa itu berhubungan dengan misteri kematian Alfred dan Marina?" Tuan Frans seolah menyudutkan Tuan Abraham.
Seketika lidah Tuan Abraham menjadi kelu, dia tidak tahu harus menjawab apa.
.
.
.
***
__ADS_1
Next episode comming soon 😁👍