Balas Dendam Bodyguard Kampungan

Balas Dendam Bodyguard Kampungan
Cintaku masih ada


__ADS_3

Bambang melepaskan kedua tangan Kyla yang melingkar di pinggangnya. Perlakuan Bambang sontak membuat Kyla heran, apalagi saat melihat raut wajah Bambang. Tidak ada sedikitpun senyum yang tergambar di wajahnya, pria itu hanya memasang wajah datarnya.


"Buat apa Non Kyla datang kemari? Non mau mempermainkan saya atau menertawakan nasib saya?" tanya Bambang dingin.


Kyla menautkan kedua alisnya, gadis itu bingung dan tidak mengerti dengan maksud ucapan Bambang.


"Maksudnya apa? Gua gak paham ... gua kesini cuma mau bilang kalo gua udah menyadari perasaan gua selama ini ke lo!" tutur Kyla sedikit emosional.


Percakapan mereka berdua membuat Kakek Wiro dan Syala memperhatikan. Kedua orang itu memutuskan untuk tidak ikut campur dengan masalah Bambang dan Kyla.


Kyla mencoba meraih jari jemari Bambang, namun pria itu langsung menepisnya dengan kasar. Gadis itu makin emosional, dia memegang kepala Bambang dengan kedua tangannya. Dia berjinjit untuk menyamakan posisi dengan pria yang ada dihadapannya dan mencoba mengecup bibir Bambang.


Bambang terkesiap dan membelalakkan matanya, dia sempat menikmati sentuhan benda kenyal tipis milik gadis yang pernah singgah dihatinya. Namun, kewarasannya pun kembali, sehingga dia mendorong jauh Kyla dari tubuhnya.


"Apa Non Kyla sudah tidak punya harga diri? Kenapa melakukan hal ini kepada saya?!" bentak Bambang.


Kyla menatap mata Bambang dengan nanar, mata gadis itu berkaca-kaca karena ucapan Bambang. Dia tidak mengerti mengapa Bambang menjadi begitu dingin kepadanya.


"Kenapa lo kayak gini? Apa salah gua?!" Kyla nampak tak terima dengan perlakuan Bambang.


"Non bisa lihat sendiri." Bambang menunjuk beberapa orang suruhan dari Tuan Kenan yang sudah tak berdaya.


Kyla sedari tadi baru menyadari kalau ada beberapa orang yang tergeletak tak berdaya didekat mereka.


"Mereka semua ini adalah orang suruhan ayah, Non! Mereka berniat ingin membunuh saya dan bahkan ayah Non sudah berhasil membantai seluruh keluarga saya tanpa ampun!" ucap Bambang dengan pupil matanya yang membesar dan lehernya mengurat. Dia sangat emosional saat itu.


Kyla yang mendengar hal itu langsung membekap mulutnya dengan kedua tangannya. Air matanya lolos membasahi pipinya. Dia tidak menyangka, pernyataan cintanya akan mendapatkan jawaban seperti ini. Mungkin kalau ayahnya tidak berbuat sekeji itu, dia bisa mendapatkan jawaban yang berbeda. Sungguh menyakitkan.


"Lebih baik Non Kyla pulang ... saya tidak ingin melihat Non lagi," ucap Bambang.


Sebenarnya, Bambang memang menyimpan perasaan kepada Kyla. Perasaannya mulai tumbuh saat pertama kali Kyla menciumnya karena mabuk. Ciuman dengan Kyla yang tidak sengaja itulah ciuman pertamanya. Perasaannya kepada Kyla berbeda dengan perasaannya kepada para gadis yang ada disekitarnya. Istimewa, itulah yang dia rasakan.


Namun, perasaannya seketika runtuh saat mengetahui ayah Kyla lah yang membunuh seluruh keluarganya dengan kejam. Entah ... apakah mungkin hati yang hancur karena kehilangan keluarga, bisa perlahan memudar seiring berjalannya waktu?


Bambang meninggalkan Kyla yang masih mematung. Dia mengajak Kakek Wiro dan Syala untuk pergi dari tempat itu.


Kyla tidak dapat berbuat apa-apa, dia bersimpuh di aspal dan menangis. Pernyataan cinta pertama yang sungguh menyedihkan dan menyakitkan. Itulah yang dia rasakan.


.


.


.


***


Perjalanan seharian penuh membuat Zeno cukup lelah. Dia memutuskan untuk pulang terlebih dahulu ke kediaman keluarga Wijaya. Ada beberapa barang yang harus dia ambil dan Tuan Frans memintanya untuk pulang karena ada sesuatu hal yang akan disampaikan.


Kurang lebih pukul sembilan pagi, Zeno sampai. Baru saja sampai dan hendak berjalan ke paviliun timur, dia sudah melihat gadis yang sempat membuatnya goyah untuk balas dendam -- Jessie. Gadis cantik itu nampak baru turun dari mobilnya dan dikawal oleh beberapa bodyguard.


Sejenak mereka berdua saling berpandangan dan tatapan mereka terkunci. Hati keduanya masih merasakan sebuah desiran aneh saat saling memandang, mungkin saja perasaan cinta yang ada didalam hati mereka belum sepenuhnya pudar. Lebih tepatnya masih utuh tak berkurang secuil pun.


"Selamat pagi, Non ... Nona baru pulang?" sapa Zeno ramah sambil membungkukkan tubuhnya.


"Hum ... gua baru pulang dari nginep di rumah sakit," jawab Jessie dingin. Gadis itu berlalu begitu saja meninggalkan Zeno yang masih membungkuk.


Jessie memang tidak menjelaskan secara detail apa yang dilakukannya di rumah sakit. Namun, sudah jelas kalau Jessie menunggu Key yang masih di rawat. Walaupun dia sudah sadar dari koma, dia masih membutuhkan perawatan hingga kondisinya benar-benar pulih.


Terbesit sebuah rasa cemburu di hati Zeno, tapi dia berusaha untuk bersikap biasa saja. Dia menarik napasnya dalam-dalam dan berjalan menuju paviliun timur untuk menemui Tuan Frans.


.


.


.

__ADS_1


***


Malam hari pun tiba, Zeno tengah bersiap-siap untuk melakukan penyelidikan. Tadi pagi Tuan Frans memberikan beberapa jejak tempat yang mungkin pernah didatangi oleh sang pengirim dokumen alias Fox.


Zeno berjalan menuju parkiran mobilnya didekat kandang ayam kesayangannya, Zaenudin. Dia memandang hewan peliharaannya itu dengan tatapan penuh kasih sayang.


"Zae ... nanti kalo misi gua berhasil, kita hidup damai ya di desa. Gua janji bakal perhatiin lo terus. Maaf, ya ... akhir-akhir ini gua sibuk banget. Lo harus maklum." Zeno mengusap kepala ayam kesayangannya itu dan ayam itu hanya berkokok.


Argh!


Tiba-tiba terdengar suara teriakan kencang dan sumber suara itu berasal dari kamar Jessie. Zeno langsung bergegas berlari menuju kamar Jessie. Dia takut akan terjadi hal buruk yang menimpa gadis itu.


Di depan kamar Jessie sudah ramai bodyguard yang berjaga. Nampak Bibi Juneng dan Bang Ismed sudah berada di dalam kamar Jessie.


"Ada apa?" tanya Zeno kepada salah satu bodyguard yang berjaga.


"Non Jessie gak sengaja ngiris tangannya pake pisau-...," jawab bodyguard itu. Nampaknya dia belum selesai bicara, tapi Zeno langsung berlari dan masuk ke kamar Jessie dengan wajah khawatir.


"Buru-buru banget ... belum juga gua bilang kalo kena pisau gara-gara ngupas mangga."


***


Zeno yang terlihat khawatir langsung mendekati Jessie dan meraih tangannya yang sedang diobati oleh Bibi Juneng.


"Non gak apa-apa? Non jangan lakukan hal berbahaya ini lagi! Jangan bunuh diri, Non!" teriak Zeno dengan wajah khawatir.


Jessie hanya melongo melihat Zeno yang begitu khawatir. Dia mengembangkan senyumnya dan tertawa karena melihat pria yang dihadapannya nampak sangat khawatir.


"Kenapa malah ketawa, Non!"


"Ya jelas Non Jessie ketawa ... dia kan gak mau bunuh diri, dia lagi ngupas mangga cuma pisaunya offside terus ngiris jarinya deh," celetuk Bang Ismed.


"Eh? Syukurlah," Zeno menghela napasnya lega.


"Bi ... udah beres, kan?" tanya Jessie kepada Bibi Juneng.


"Sudah, Non."


"Bibi sama Bang Ismed bisa keluar sebentar gak? Jessie mau ngomong sama Zeno," pinta Jessie.


Bibi Juneng mengiyakan sementara Bang Ismed cengar-cengir layaknya kuda sambil menunjuk dan menggoyang-goyangkan jari telunjuknya kepada Zeno.


"Ehem ... bukan muhrim, awas kebablasan," celetuk Bang Ismed.


Zeno yang kesal pun melempar Bang Ismed menggunakan sendal bulu milik Jessie yang didekatnya.


"Dasar, wong edan!" umpat Zeno.


Bang Ismed hanya menjulurkan lidahnya sambil menutup pintu kamar Jessie.


***


Pandangan Zeno beralih kepada Jessie. Dia menatap jari gadis itu yang sudah terbalut oleh perban. Dia mendudukkan tubuhnya tepat di samping Jessie.


"Udah gak sakit lagi?"


Jessie menggeleng pelan.


"Yang sakit itu disini," ucap Jessie sembari memegang dadanya.


Zeno nampak kebingungan dengan ucapan Jessie barusan. Sebenarnya, dia juga merasakan hal yang sama.


Mata Jessie berkaca-kaca, terlihat jelas kalau gadis itu ingin menangis. Dia menatap Zeno lekat dengan mata sendunya.


"Gua gak kuat, Zen." Jessie tiba-tiba terisak dan tangisannya pun pecah. Hal itu sontak membuat Zeno kebingungan dan langsung memeluknya.

__ADS_1


"Jangan nangis, Non ... nanti kalo ada yang denger gimana?"


Jessie tidak menjawab, dia justru mendongakkan wajah dan mengarahkan tangannya ke wajah Zeno. Gadis itu mengusap lembut pipi pria yang merupakan bodyguard-nya itu.


Pandangan mereka saling beradu, jarak diantara mereka juga cukup minim. Jessie yang masih berada dalam dekapan Zeno merasakan sebuah kehangatan.


Saat itu Zeno tidak mampu mengendalikan hasratnya yang terpendam. Dia meraih dagu Jessie dan lebih mendongakkan wajah gadis itu. Dengan perlahan dia menempelkan benda kenyalnya ke tempat yang serupa.


Jessie tidak melawan melainkan turut mengikuti permainan yang diberikan oleh Zeno di bibirnya. Gadis itu terpejam mengikuti ritme permainan pagutan dan tautan lidah milik Zeno. Seketika jiwa mereka berdua melayang dan melupakan jarak yang terbentang diantara mereka.


Entah setan apa yang sedang merasuki Zeno. Dia membaringkan tubuh Jessie dengan bibir mereka yang masih saling bertukar saliva. Dengan perlahan Zeno membuka kancing bagian atas baju tidur yang dikenakan Jessie. Ciumannya makin liar, dan mengarah ke area leher jenjang gadis cantik itu.


"Kita kawin lari aja, Zen," ucap Jessie disela-sela aktivitas mereka.


Ucapan Jessie sontak membuat Zeno tersadar dan langsung menghentikan aktivitasnya. Zeno beranjak dari atas tubuh Jessie dan mengacak rambutnya kasar. Sepertinya dia sangat menyesali perbuatannya barusan.


Tok-tok-tok!


Terdengar suara ketukan pintu yang membuat mereka berdua terkejut.


Kriet!


Suara handle pintu diputar dan ternyata yang datang adalah Key. Dengan menggunakan kursi roda dia berusaha membuka pintu kamar Jessie sendiri.


Key masuk dengan tersenyum, namun senyumannya seketika pudar saat melihat ada Zeno yang berada di kamar Jessie.


"Sedang apa kalian?" tanya Key.


Zeno dan Jessie nampak kebingungan.


Bagaimana caranya mereka berkilah di hadapan Key?


.


.


.


***


Next episode comming soon 😁👍


Zeno



Jessie



Key



Bambang



Kyla



Dan kuy baca novel kolaborasi lima author yang pasti mengocok perut siapapun yang baca 😁👍


__ADS_1


__ADS_2