
Beberapa kali Zeno menoleh dan tatapan matanya masih menyelidik kearah Fox. Bahkan pria bermata coklat terang itu tidak menyadari bahwa dia sedang diperhatikan oleh Zeno. Sangking fokusnya memperhatikan Fox, bodyguard yang tadinya kampungan itu tidak sadar kalau di depannya ada sebuah kolam ikan.
Byur!
Tidak sengaja, Zeno pun malah tercebur ke dalam kolam ikan koi milik Tuan Frans. Untung saja isinya bukan ikan piranha atau hiu. Kalau isinya salah satu dari ikan ganas itu, mungkin Zeno akan selamat. Maksudnya selamat sampai akhirat.
"Waduh, Zen! Mata lu picek, ya? Udah tau kolam di trabas aja!" pekik Bambang yang terkejut melihat Zeno yang tercebur.
Fox yang melihat Zeno basah kuyup karena tercebur ke kolam pun ingin tertawa. Namun, dia menjaga imejnya agar tetap terkesan elegan dan berusaha menahan tawanya.
"Lain kali kalau jalan hati-hati ... kau bodyguard profesional, kan? Seharusnya kau tidak melakukan hal bodoh seperti itu," ujar Fox.
Zeno berdiri tegap di atas kolam yang tidak dalam itu. Mungkin dalamnya hanya sebatas lututnya. Tubuhnya telah basah kuyup, rambutnya pun lepek. Pria yang dulunya pemuda burik itu berusaha bersikap cool dan hendak ngeles.
"Saya mencium ada bau-bau jebakan dalam kolam ikan ini, Tuan ... maka dari itu, saya menceburkan diri saya ke dalam kolam. Anda mungkin paham, kalau majikan saya mempunyai banyak musuh bahkan ada musuh dalam selimut," kilah Zeno.
Deg!
Fox merasa tersindir dengan ucapan Zeno. Dia merasa was-was, kalau saja Zeno tahu bahwa dia adalah orang yang telah menculik Jessie tempo hari.
Apa ini trik? Dia mau mengorek informasi dari gua? Dia mau menyerang mental gua dengan sindiran tajam kayak barusan? Ternyata si bodyguard ini memang luar biasa, Tuan Frans memang tidak pernah sembarangan memilih bodyguard untuk keluarganya, batin Fox.
Zeno dengan sikap gagahnya keluar dari kolam ikan. Dia merapihkan jasnya dah rambutnya dengan gaya cool maksimal.
"Bambang yang akan mengantarkan, Anda ... maaf saya tidak bisa mengantarkan karena saya harus berganti pakaian. Saya tidak boleh membuang waktu dan harus terus waspada," kata Zeno dengan raut wajah seriusnya.
Fox tidak dapat berkata-kata, dia malah merasa kalau dia dalam bahaya karena perkataan Zeno.
Mungkin gua harus lebih berhati-hati dengan bodyguard satu ini. Wajar aja Jessie jatuh cinta sama dia, ternyata memang dia pria yang luar biasa, kata Fox dalam hati.
"Baiklah kalau begitu," sahut Fox kemudian dengan gaya yang tetap dibuat elegan.
Setelah Fox dan Bambang menjauh dari pandangan Zeno. Bodyguard lucu itu merasa lega dan menghela napas panjang.
"Untung aja gua pinter ngeles, kalo gak malu banget dah gua. Emang dasar kolam ikan sialan! Sejak kapan dia di situ?!" gerutu Zeno.
Zeno memang aneh, kolam ikan itu bahkan sudah ada sebelum negara api menyerang. Entah kapan itu? Yang pasti sebelum Zeno lahir, kolam ikan itu memang sudah ada.
.
.
.
***
__ADS_1
Paviliun Timur.
Bangunan yang hampir keseluruhannya terbuat dari kayu itu nampak elegan dan minimalis, namun tetap terlihat mewah. Baru saja mendekati bangunan tersebut, mata sudah disuguhi oleh sepetak kolam renang kecil yang cukup nyaman jika digunakan untuk melepaskan penat dengan berolahraga renang.
Tuan Frans memang banyak menghabiskan waktunya di tempat itu, ketimbang di kediaman utama. Mungkin tempat itu jauh lebih kecil, tapi pria paruh baya itu lebih menyukai suasana tenang. Apalagi sudah hampir satu bulan ini, istrinya sedang jalan-jalan ke luar negeri dan belum kunjung kembali.
Ruang Kerja Tuan Frans.
"Nelly-Nelly ... kapan kau pulang? Kau tidak rindu aku dan Jessie?" gumam Tuan Frans sembari melihat foto pernikahannya yang terpajang di dinding ruang kerjanya.
Tok-tok-tok!
Kriet!
Seseorang membuka pintu ruang kerja Tuan Frans. Ternyata orang itu adalah Ryu, bodyguard kepercayaannya.
"Ada apa, Ryu?" tanya Tuan Frans.
"Putra dari Tuan Abraham sudah tiba, Tuan," lapor Ryu.
"Persilakan dia masuk," perintah Tuan Frans.
Ryu menundukkan kepalanya dan kembali keluar untuk mempersilahkan Fox masuk. Tak berapa lama, Fox memasuki ruang kerja Tuan Frans.
"Masuklah, Nak ... duduklah di sana," sahut Tuan Frans sembari menunjuk sofa yang berada di dalam ruang kerjanya.
Tuan Frans menghampiri Fox dan mereka berdua pun saling berjabat tangan.
"Aku dengar dari ayahmu, kalau kau ingin menjalankan bisnis dengan membangun hotel di Indonesia. Apa itu benar?" tanya Tuan Frans.
"Benar, Tuan ... aku sudah cukup lama ingin sekali menjalankan bisnis hotel di Indonesia. Tapi mungkin dahulu ayahku belum percaya kepadaku," ujar Fox.
"Tapi sekarang beliau sudah percaya, benarkan? Ha-ha-ha!" tanggap Tuan Frans.
Fox hanya tersenyum sembari ikut tertawa dengan Tuan Frans.
"Bagaimana kabar istri dan putri Anda, Tuan?" tanya Fox.
"Istriku sekarang sedang berada di Swedia, dia ingin berkeliling dunia. Hahh ... entah kapan dia akan kembali," keluh Tuan Frans.
"Putriku, Jessie ... dia baik-baik saja dan dia sekarang masih menempuh pendidikan sarjana kedokterannya," tambah Tuan Frans.
Fox mengangguk. "Ah ... jadi begitu, ya?"
__ADS_1
"Rencananya kau akan membangun hotel di daerah mana?" tanya Tuan Frans.
"Aku belum tahu pasti, tapi ayahku sudah mempersiapkan semuanya. Mungkin lusa aku akan survei lokasi," jawab Fox.
Tuan Frans begitu hati-hati dengan Fox. Dia memilih untuk tidak banyak bicara karena dia takut akan membocorkan sebuah informasi jika dia terus membuka suaranya.
"Sayang sekali ... aku tidak jadi menantu Anda dikemudian hari," celetuk Fox.
"Ha-ha-ha ... kau sangat tampan, Nak Fox ... pasti banyak sekali wanita yang mengantri ingin jadi istrimu," tanggap Tuan Frans.
"Dari dulu aku hanya menyukai satu wanita, Tuan ... tapi wanita itu tidak menyukai aku karena dulu aku sangat jelek, ha-ha-ha," ujar Fox.
Mata dan bibir Tuan Frans bergetar karena dia ingat dulu saat Jessie dijodohkan dengan Fox, Jessie menolak keras karena Fox bertubuh gendut dan tidak menarik sama sekali. Akhirnya, Tuan Frans membatalkan rencana perjodohan mereka dan mengganti posisi Fox dengan Key.
"Maafkan putriku, Nak Fox ... dulu dia masih kecil dan berpikiran sempit," ucap Tuan Frans.
"Aku tidak masalah, Tuan ... tapi apa memang putri Anda benar-benar suka dengan tunangannya yang sekarang? Apakah Anda yakin akan menikahkan mereka?" ujar Fox sembari tersenyum tipis.
Tuan Frans tidak dapat berkata-kata, dia hanya menanggapi dengan sebuah senyuman getir yang terukir di bibirnya.
Aku memang belum pernah menanyakan perasaan Jessie kepada Key ... satu hal yang aku tahu, Jessie tidak menolak sama sekali saat aku menjodohkannya dengan Key, batin Tuan Frans.
"Kalau memang karena sebuah keuntungan finansial, mungkin Anda akan lebih beruntung jika putri Anda menikah denganku," tawar Fox.
Tuan Frans tidak langsung menjawab, dia sejenak berpikir sebelum menyampaikan sesuatu yang keluar dari mulutnya.
"Itu masalah perasaan, Nak Fox ... aku tidak bisa turut campur," tanggap Tuan Frans.
"Tanyakan dulu perasaan anakmu, Tuan ... mungkin saja dia terpaksa," saran Fox sembari menatap Tuan Frans.
Apa mungkin memang aku harus menanyakan hal ini kepada Jessie? Sebagai ayah kandungnya, aku bahkan tidak dekat dengan anakku, batin Tuan Frans.
"Baiklah ... aku akan mencoba menanyakannya," ucap Tuan Frans.
Fox tersenyum puas mendengar pernyataan dari Tuan Frans.
Gua memang harus memiliki apa yang harusnya jadi milik gua, batin Fox.
.
.
.
***
__ADS_1
Apakah Fox punya niatan jahat? Atau justru sebaliknya?
Next episode comming soon 😁👍