Balas Dendam Bodyguard Kampungan

Balas Dendam Bodyguard Kampungan
Serangan dadakan


__ADS_3

Bambang dan Nafa masih berada di halaman belakang, Nafa bercerita banyak hal kepada Bambang mengenai masa lalunya yang begitu kelam dan menyedihkan.


Gadis itu mengatakan, ayahnya merupakan seorang ilmuwan handal dan ibunya merupakan dokter bedah. Maka dari itu sejak usia tujuh belas tahun, gadis itu sudah mahir melakukan pembedahan pasien karena belajar dari ibunya. Nafa adalah anak tunggal dari keluarga kecil yang bahagia itu. Mereka tinggal di sebuah rumah minimalis yang memiliki ruang bawah tanah sebagai tempat penelitian ayahnya.


Tanpa sengaja, ayah Nafa terlibat dengan para mafia. Para mafia itu meminta ayah Nafa untuk memberikan serum yang bisa membuat mereka kebal senjata, karena mereka mendengar ayah Nafa sudah berhasil membuatnya. Namun, ayahnya menolak halus permintaan tersebut dan tidak memberikannya karena akan berdampak buruk pada si pemakai serum tersebut.


Karena penolakan itu, akhirnya ayah dan ibunya harus meregang nyawa. Sebelum penyerangan oleh para mafia itu, Nafa diminta untuk bersembunyi di ruang bawah tanah. Gadis yang masih berusia 19 tahun kala itu harus menyaksikan orang tuanya meninggal dengan mata kepalanya sendiri melewati celah kecil dari ruangan tersebut.


Setelah kejadian nahas itu, Nafa akhirnya hidup sendiri dengan mengasingkan diri. Namun, Dewi Fortuna ternyata masih menghampirinya. Dia tidak sengaja bertemu dengan seorang kakek tua yang terluka parah. Nafa yang mempunyai basic ilmu tentang operasi bedah, melakukan pertolongan pada kakek itu dan berhasil menyelamatkannya.


Tak disangka, kakek itu adalah seorang miliarder yang hidup sebatang kara. Semua aset miliknya diberikan kepada Nafa yang telah dianggap sebagai cucunya sendiri. Tahun lalu kakek itu meninggal dan akhirnya Nafa pun hidup seorang diri dengan mewarisi semua kekayaannya.


"Kisah hidup lu menyedihkan juga ya," ujar Bambang. "Tapi lu masih hidup dan dapet warisan banyak kayak gini, seenggaknya Tuhan masih sayang sama lu," tambahnya.


"Iya, sih ... gua harus banyak-banyak bersyukur."


"Terus waktu itu ngapain lu tinggal di hutan?" tanya Bambang penasaran.


"Gua lagi penelitian ... beberapa bahan penelitian ada di hutan, jadi ya gua buat gubuk di sana."


Bambang mengangguk, dia akhirnya paham mengapa Nafa ada di hutan kala itu.


Beberapa saat kemudian, ada seorang pria berjas hitam menghampiri mereka berdua. Nampaknya pria itu adalah asisten pribadi Nafa.


"Nona Nafa ... salah satu teman Anda yang bernama Zeno sudah datang dan tengah menunggu di ruang tamu."


"Ah ... baiklah. Suruh dia menunggu sebentar."


"Siap, Nona!"


"Apakah kendaraan untuk mereka sudah siap?" tanya Nafa kepada asisten pribadinya.


"Sudah, Nona! Mobil Dodge Charger SRT Hellcat sudah siap. Mobil itu telah dilengkapi beragam fitur keamanan, seperti kaca anti peluru Ballistic, push bar, run-flat tire, serta panel anti peluru yang tersedia dalam tingkat perlindungan balitik B4, B5, B6, dan B7."


"Aku tidak paham apa maksudnya, tapi mobil itu jelas aman 'kan buat mereka?"


"Sudah pasti, Nona!"


"Baiklah ... kau boleh pergi."


Bambang yang mendengar percakapan antara nona dan asistennya itu hanya bisa terperangah. Dia sungguh takjub, sebenarnya seberapa kaya orang yang mewarisi harta kepada Nafa itu?


***


Zeno dan Bambang nampak sudah bersiap-siap untuk berangkat ke Desa Umbul Jaya. Zeno sengaja tidak memberitahu kakeknya karena dia ingin memberikan surprise akan kedatangannya.


Tiba-tiba tercium bau gosong yang membuat mereka semua saling pandang.


"Kalian cium bau gosong gak, sih?" tanya Bambang sambil memandang Zeno dan Nafa bergantian.

__ADS_1


"Iya ... kayaknya dari arah sono sumbernya." Zeno menunjuk kearah dapur milik Nafa.


Nafa sontak menepuk jidatnya. "Waduh ... gawat! Jangan-jangan dapur gua kebakaran."


Mereka bertiga akhirnya berlari kearah dapur dan menemukan sumber pembuat onar, yaitu Depe dan Young Flash.


Ternyata pasangan itu sedari tadi tidak kelihatan karena sedang bermesraan di dapur, eh maksudnya masak bersama di dapur. Tapi kedua orang itu tidak bisa masak sehingga membuat dapur Nafa kebakaran.


"Dapur gua!" pekik Nafa.


Zeno dan Bambang hanya bisa tertegun sambil menutup mulut mereka yang terbuka. Sedangkan Depe dan Young Flash malah saling berpelukan karena takut akan api yang mulai membesar.



Untung saja kebakaran itu bisa langsung teratasi dan tidak membakar seluruh rumah. Mari kita tinggalkan kebakaran dapur yang disebabkan oleh kedua pasangan tidak berakhlak itu. Kita kembali ke cerita Zeno dan Bambang yang akan berangkat.


***


Zeno dan Bambang pun berangkat. Perjalanan ke Desa Umbul Jaya cukup jauh karena menghabiskan waktu sekitar seharian penuh. Mereka sengaja menggunakan akses darat karena takut Bambang akan terdeteksi oleh anak buah Tuan Frans Wijaya.


Perjalanan mereka awalnya mulus. Namun, tiba-tiba mobil mereka dikejar-kejar oleh dua buah mobil yang tidak dikenal. Orang-orang yang berada didalam mobil itu juga menembaki mobil mereka.


"Bener-bener ya, Zen ... ternyata kita masih diburu juga," ujar Bambang.


"Untung aja ini mobil anti peluru." Zeno masih fokus menyetir sambil melihat kearah kaca spion.


"Gila! Kalo kayak gini bisa-bisa kita gak bakalan sampe tujuan. Bang ... lo ambil kemudi, biar gua tembakin mereka!"


Zeno langsung meninggalkan kursi kemudi dan lompat ke kursi belakang. Dengan cepat Bambang berpindah posisi ke kursi kemudi.


Zeno membuka sedikit kaca jendela belakang mobil dan mulai menembaki orang-orang tersebut dengan jarak pandang yang terbatas. Namun, hal itu bukanlah hal yang sulit baginya, karena dia sudah terlatih selama menjadi bodyguard.


Dor!


Dor!


Dor!


Baku tembak pun terjadi antara mereka, satu persatu orang yang menyerang pun tumbang karena terkena tembakan peluru dari Zeno. Satu mobil pun sudah dapat dilumpuhkan dan menabrak pohon di tepi jalan. Tinggal satu mobil lagi yang masih mengejar mereka.


"Peluru gua tinggal satu lagi."


"Terus gimana, Zen?"


"Mepetin mobil ini ke mobil yang masih ngejer kita, Bang!"


"Lu mau ngapain?!"


"Udah buruan! Percaya aja sama gua!"

__ADS_1


Bambang pun menuruti perintah dari Zeno. "Oke!"


Dengan sisa peluru yang dimiliki Zeno. Dia pun menembak kaca jendela belakang mobil orang yang mengejarnya. Begitu mobil sudah hampir tak berjarak, Zeno menurunkan kaca jendela dan menendang kaca mobil musuh yang sudah terkena tembakan dengan kencang. Dia pun langsung meluncur ke dalam mobil musuh tersebut.


Dengan tangan kosong, Zeno berusaha melumpuhkan sisa musuh. Mobil itu berisi empat orang dan dua orang telah tewas. Terjadi pergulatan didalam mobil tersebut. Pertama, Zeno melumpuhkan orang yang duduk disamping kursi kemudi. Dia memukul tengkuk orang itu, sehingga membuatnya kesakitan. Saat orang itu lengah, Zeno menyeretnya kebelakang sambil mencekik lehernya. Dengan sekuat tenaga, Zeno melemparkan orang itu keluar mobil dari kaca jendela.


Sekarang giliran dia menghadapi yang sedang menyetir. Baru saja dia ingin beraksi, terdengar suara tembakan yang ternyata menembus kepala pria yang sedang menyetir itu. Ternyata, Bambang lah yang menembaknya.


"Buruan pindah, Zen! Itu mobil bakal oleng!" pekik Bambang.


Bambang mendekat mobilnya agar Zeno bisa berpindah.


Zeno keluar melalui jendela mobil dan merangkak naik ke atap mobil. Dengan ancang-ancang yang pas, Zeno melompat ke atap mobil yang dikendarai Bambang. Untung saja Zeno cepat, karena mobil milik musuh ternyata benar oleng dan masuk ke jurang.


Zeno merebahkan tubuhnya dan menghela napas leganya.


"Hahh ... selamat juga."


.


.


.


***


Next episode comming soon 😁👍


Zeno



Bambang



Dodge Charger SRT Hellcat



Dan kuy mampirin novel orang terdekat author yang kece badai dibawah ini 😁👍





__ADS_1


__ADS_2