
Zeno terdiam dan tidak dapat berkomentar apapun. Dia terlihat begitu shock mendengar fakta yang diungkapkan oleh tuan Kenan dan nenek Elizabeth. Matanya menerawang seolah banyak sekali yang dipikirkan. Suasana terasa sangat hening dan tegang.
"Apa yang kamu pikirkan?" tanya Tuan Kenan dengan raut wajah serius.
Zeno menarik napas panjang. "Aku boleh minta minum, Om? Haus, nih...."
Wajah tuan Kenan langsung berubah tidak serius lagi alias menjadi datar. Awalnya dia berpikir ada hal penting yang dipikirkan oleh Zeno, tapi ternyata dia hanya haus.
Tuan Kenan memanggil salah satu pelayannya untuk membawakan minuman untuk Zeno.
"Sekalian makanannya kalo ada ... soalnya tadi saya makan belum kenyang," celetuk Zeno sambil nyengir kuda.
Nenek Elizabeth yang melihat kelakuan Zeno menjadi iba karena dia berpikir pasti hidup cucunya itu sangatlah berat selama ini.
"Kasihan kamu, Nak ... sering-seringlah main ke sini nanti nenek buatkan makanan enak," ucap Nenek Elizabeth.
"Oke! Makasih, Nek!" sahut Zeno bersemangat.
Sekitar setengah jam kemudian, Key pun pulang. Dia merasa heran karena melihat ada Zeno yang sedang duduk berbincang dengan ayah dan neneknya.
"Ngapain kamu di sini?" tanya Key sembari mengeryitkan dahinya.
"Sini duduk dulu jangan tegang." Zeno menarik lengan Key kuat hingga Key tersungkur di sofa samping Zeno.
"Wah! Bodyguard kurang ajar! Berani-beraninya ka...." ucapan Key terjeda karena mendengar suara Tuan Kenan.
"Stop!" pekik Tuan Kenan.
"Kenapa, Yah?" Key terlihat heran.
"Kamu jangan kurang ajar! Dia itu kakak sepupumu," ungkap Tuan Kenan.
"Hah?" Key membelalakkan matanya karena terkejut.
Akhirnya Key pun diberitahu mengenai kenyataan yang sebenarnya mengenai Zeno. Key merasa sedikit tidak percaya kalau Zeno adalah kakak sepupunya.
"Masa, sih? Dia kakak sepupu, Key?" tanya Key masih tidak percaya.
Tuan Kenan dan nenek Elizabeth hanya manggut-manggut menanggapi pertanyaan dari Key.
Key menarik napas dalam-dalam. Dia memperhatikan sosok Zeno yang senyam-senyum kepadanya.
.
.
.
Zeno akhirnya berpamitan untuk pulang ke kediaman keluarga Wijaya. Dia pun menyetujui tawaran dari tuan Kenan untuk membantunya membalaskan dendam kepada tuan Frans. Zeno diminta memberikan segala informasi mengenai gerak-gerik tuan Frans kepada tuan Kenan -- pamannya itu.
Baru saja Zeno ingin masuk ke dalam mobil, tiba-tiba Key menarik tangannya.
"Santuy, bro!" teriak Zeno.
"Gua mau ngomong," ucap Key singkat.
Akhirnya Key memerintahkan orang yang akan mengantarkan Zeno untuk keluar dari mobil.
"Kamu keluar, biar saya yang mengantarkan."
Di dalam mobil.
Key fokus menyetir dan tidak berkata sepatah katapun. Zeno yang duduk disebelahnya, merasa heran karena Key hanya diam saja.
"Kok diem? Katanya mau ngomong," tanya Zeno.
__ADS_1
"Sabar dulu, kita ngomong ditempat yang pas ... lagian masa lo gak sadar, ada orang menclok di atap mobil ini," sahut Key.
"Gua sadar 'sih dari tadi tapi gua pikir dia mungkin gak ada ongkos jadi cuma mau nebeng," ujar Zeno dengan polosnya.
Key menepuk jidatnya karena heran mempunyai sepupu seperti Zeno.
Tak berapa lama, mereka akhirnya sampai di sebuah bendungan yang sepi. Key menepikan mobilnya dipinggir sebuah jembatan.
"Kita harus buruan tangkep orang itu sebelum kabur," bisik Key.
"Oke, siap!" Zeno menyahut dengan bisikan yang tidak mesra. Kalau mesra kan repot.
Mereka berdua dengan cepat keluar dari mobil dan langsung mengarah ke atap mobil. Orang yang berada di atap mobil dengan cepat melompat dan berlari kencang.
"Wah! Gawat dia larinya kenceng banget!" seru Zeno.
"Buruan kita kejer! Jangan bengong, aja!" pekik Key.
Mereka berdua akhirnya mengejar orang yang berlari secepat kilat itu. Sudah jelas itu adalah Young Flash yang sedang mencari berita panas.
"Hahh ... hahh ... capek gua," ucap Key sembari mendudukkan dirinya ke aspal.
"Gua ... juga ... capek ... hahh ... hahh....," sahut Zeno sembari membungkukkan badannya dan memegang kedua lututnya.
"Itu orang pake NOS, ya? Cepet banget larinya," ujar Key yang akhirnya membaringkan tubuhnya di aspal.
"Entah...." Zeno juga terlihat lelah dan akhirnya membaringkan tubuhnya juga ke aspal.
Mereka berdua kehilangan Young Flash yang larinya secepat kilat itu.
.
.
.
Mereka berdua memutuskan untuk kembali ke dalam mobil. Suasana mencari lebih cair setelah mereka berdua mengejar sosok Young Flash yang kabur.
"Gua gak nyangka kalo lo itu sepupu gua," tutur Key sembari tersenyum tipis menatap kaca depan mobilnya dengan tangan memegang kemudi mobilnya.
"Kita bisa ngomong gak formal ya sekarang?" tanya Zeno yang masih terlihat ragu.
"Iya ... bisa sesuka hati lo aja," jawab Key.
Zeno memperhatikan sosok Key yang nampak tidak seperti Key yang biasa dia lihat. Pria itu menampakkan raut wajah serius dan jauh dari kata konyol serta kesan kewanitaan.
"Tumben gak kayak cewek," gumam Zeno.
Key sontak menoleh kearah Zeno, dia mengerutkan dahinya karena mendengar gumaman dari Zeno.
"Lo bilang apa?" tanya Key.
"Gak kok ... santai aja gak usah dipikirin, he-he," jawab Zeno.
Key menghela napasnya. "Gua itu cowok normal dan masih suka sama cewek. Mungkin lo liat gua kayak cowok gak normal karena gua suka ke salon dan kadang gua suka kumpulan sama ibu-ibu sosialita."
"Emangnya itu dari hati nurani lo?" Zeno merasa penasaran.
Key menerawang ke bagian kehidupannya di masa lalu. Dia mencoba menceritakan bagaimana awal mula dia bisa bersikap gemulai seperti sekarang.
"Sebenernya gua dulu gak gini ... gua itu malah bisa dibilang cowok yang cuek sama penampilan." Key menjeda ucapannya dan menghirup udara dalam-dalam. "Gua kayak gini cuma kamuflase aja," jelas Key.
"Eh? Kamuflase? Buat apa?" tanya Zeno yang makin penasaran.
"Supaya keluarga Wijaya gak curiga kalo keluarga kami punya tujuan khusus. Asal lo tau, dulu tunangan Jessie bukan gua tapi salah satu anak kolega Tuan Frans yang lain. Anak itu cerdas dari semenjak kecil tapi punya penampilan yang kurang menarik alias gendut dan cupu," jelas Key.
__ADS_1
"Terus?" Zeno menatap Key dengan serius.
"Tuan Frans mengira anak itu bodoh dan setuju menjodohkan dengan Jessie. Ternyata perkiraan Tuan Frans salah, akhirnya dia batalin pertunangan itu dengan alasan Jessie gak suka. Padahal alasan sebenernya karena anak itu cerdas," tambah Key lagi.
"Jadi intinya, Tuan Frans gak mau kalau suatu saat anak itu menguasai hartanya karena kepintarannya? Gitu bukan?" terka Zeno.
Key menganggukkan kepalanya sambil menoleh kearah Zeno.
"Dia anggap gua ini cowok bodoh yang bisanya cuma ke salon. Gua memang megang salah satu anak perusahaan ayah tapi itu cuma salah satu bagian kecil. Intinya gua dianggap bodoh dan bahkan Jessie ngeremehin gua," tutur Key.
Zeno mencoba memahami perkataan dari Key. Ada satu pertanyaan yang mengganjal di kepalanya dan akhirnya dia tanyakan juga.
"Lo beneran suka dengan Jessie apa cuma pura-pura?" tanya Zeno.
Sejenak Key terdiam, dia nampak memikirkan kalimat apa yang tepat untuk menjawab pertanyaan dari Zeno.
"Awalnya gua gak suka sama Jessie ... tapi lama-lama gua jadi jatuh cinta beneran sama dia," ungkap Key dengan mata yang sedikit sendu.
Key tahu bahwa Jessie tidak pernah menganggapnya ada.
Zeno yang mendengar pengakuan dari Key pun bingung harus menanggapi apa, karena dia sendiri telah jatuh cinta dengan nona cantik yang bernama Jessie.
.
.
.
Epilog episode ini :
Young Flash berhasil bersembunyi dari Zeno dan Key. Ternyata dia bergelantungan dibawah jembatan. Kadang emang tidak masuk akal kelakuannya, tapi itu lah kenyataannya. Dia melakukan itu demi sebuah berita besar yang akan mengguncang negara.
"Muehehe ... emang hebat gua ini, bisa menghindari kejaran dua orang Tuan Muda keluarga Sanjaya," puji Young Flash kepada dirinya sendiri.
"Gak nyangka gua bisa dapat berita sehebat ini! Ha-ha-ha!" bangga Young Flash.
Karena kebanyakan gaya, ternyata kameranya malah terjatuh ke sungai.
Byur!
"Kamera gua?!" pekik Young Flash.
Byur!
Bukan hanya kameranya, orangnya juga terjatuh ke sungai. Ibarat pepatah, sudah jatuh tertimpa tangga. Sungguh kasihan.
.
.
.
Next episode comming soon 😁👍
Zeno
Key
Young Flash
__ADS_1