
Fox tertawa puas setelah menelpon Tuan Frans. Dia sengaja menjauh dari kediamannya dan pergi ke sebuah dermaga. Kali ini dia memperhitungkan matang-matang sebelum bertindak, agar tidak meninggalkan sedikit pun jejak seperti di kejadian penculikan Jessie tempo hari.
Fox menghancurkan ponsel yang digunakan olehnya menggunakan mesin penghancur besi.
"Buang pecahan ponsel ini ke Samudera Hindia ... gunakan helikopter agar memangkas waktu. Aku sudah meminta Sammy membawa helikopter, sebentar lagi dia akan datang," perintah Fox kepada asisten pribadinya.
"Siap, Tuan!" sahut Petra asisten pribadi Fox.
"Kau sudah jalankan tugasmu tadi?" tanya Fox.
"Sudah, Tuan!"
Sebelumnya, Fox meminta Petra untuk membersihkan semua CCTV yang merekam datang dan perginya kapal yang mereka naiki. Karena pria pintar itu sudah mengira, kalau anak buah Tuan Frans pasti akan datang ke dermaga tempat kapal mereka bersandar tadi.
"Jangan lupa kirimkan dokumen ini kepada Tuan Frans Wijaya." Fox menyerahkan sebuah dokumen kepada Petra.
Tak selang berapa lama, suara mesin helikopter menderu di atas kapal pesiar pribadi mewah milik Fox. Petra segera menaiki helikopter dan pergi menuju Samudera Hindia. Sedangkan Fox, dia berencana untuk berlayar untuk menghilangkan penat.
"Andai saja sekarang ada Jessie, pasti liburan ini akan lebih menyenangkan. Lihat saja pasti akan terjadi sebuah kehebohan nanti," seringai Fox.
Sepertinya Fox masih saja terobsesi dengan Jessie dan ingin memilikinya.
.
.
.
***
Young Flash dan Depe berlari sangat kencang. Mereka berdua menyusup menghindari para bodyguard dan CCTV yang tersebar di kediaman keluarga Wijaya. Sangking berlari dengan kecepatan tinggi, Depe pun terlihat kelelahan karena wanita itu tidak dapat menyamai kecepatan sang pria lincah itu.
"Hahh ... hahh ... a-aku gak kuat," keluh Depe dengan suara lirih.
Young Flash yang mendengar Depe mengeluh akhirnya menghentikan langkahnya. Dia mencari tempat aman dan mengajak Depe bersembunyi di balik semak-semak. Kediaman keluarga Wijaya memang mirip sekali dengan hutan.
"Kamu capek? Tapi kalo kita gak cepet-cepet kabur dari sini, takutnya kita kena tangkep lagi." Young Flash berbicara dengan peluh yang mengalir dari wajah ke lehernya.
Tiba-tiba Depe langsung menyambar Young Flash sehingga tubuh pria lincah itu tepat di bawah kungkungannya.
"Jangan di sini! Ini tempat berbahaya," desis Young Flash.
"Sttt...." Depe menyentuh bibir Young Flash dengan telunjuk kanannya, sehingga membuat Young Flash tertegun.
Ternyata Young Flash salah paham, Depe berbuat seperti itu karena ada beberapa bodyguard yang berjalan di dekat mereka.
Setelah para bodyguard itu berlalu, Depe beranjak dari atas tubuh Young Flash. Sementara itu Young Flash masih saja diam membeku.
"Katanya mau cepet kabur biar gak kena tangkep?" tukas Depe.
Young Flash hanya menganggukkan kepalanya. Namun, tiba-tiba kesadarannya pun kembali.
"Kamu mau gak aku nikahin habis ini?" tanya Young Flash to the point.
Depe membelalakkan matanya seakan tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Dia sudah sering kali dilamar dengan mantan-mantan pacarnya tapi tidak pernah dilamar di semak-semak seperti ini. Biasanya yang melamar menggunakan pakaian bagus dan di tempat mewah. Tapi Young Flash melamarnya dengan keadaan lusuh dan bau karena tidak mandi berhari-hari.
"Serius?" Depe masih tidak percaya.
__ADS_1
"Iya ... itu juga kalo kamunya mau," tutur Young Flash sambil garuk-garuk kepala.
"Aku mau!" jawab Depe antusias.
Young Flash terlihat bersemangat, dia berjongkok dan meminta Depe untuk menaiki punggungnya.
"Naik ... biar kita cepet nikah eh cepet keluar," pinta Young Flash.
Tanpa ada gelagat penolakan, Depe langsung menaiki punggung Young Flash.
"Pegangan yang erat karena kita sesekali bakal melayang di udara."
Depe mengeratkan pelukannya dan Young Flash dengan lincahnya berlari serta menaiki pohon. Young Flash sesekali berayun layaknya Tarzan. Tak disangka, dibalik badan kurusnya tersimpan tenaga yang kuat.
.
.
.
***
Malam hari, pukul 19.52 WIB.
Ruang kerja Tuan Frans, Paviliun Timur.
Tuan Frans terlihat sangat serius saat membaca dokumen yang dikirimkan oleh Fox. Dia juga merasa kesal karena tidak dapat menemukan jejak orang yang menelponnya tadi pagi.
"Ryu ... apa kau benar-benar yakin tidak menemukan apa-apa di dermaga itu?" tanya Tuan Frans.
"Iya, Tuan ... sepertinya orang itu sungguh berhati-hati agar tidak ketahuan," jawab Ryu.
Tuan Frans nampak berpikir. Entah apa isi dokumen yang dikirimkan oleh Fox kepadanya, sehingga dia begitu serius menanggapinya.
"Malam ini jam sepuluh, kumpulkan para ring satu di Paviliun Utara seperti biasa," perintah Tuan Frans.
"Siap, Tuan!"
.
.
.
***
Malam ini Zeno bertugas menjaga pintu kamar Jessie. Harusnya dia berjaga berdua dengan Bambang, tapi Bambang sekarang sedang melacak keberadaan Young Flash dan Depe yang melarikan diri.
Sedari tadi, Jessie tidak keluar kamar sama sekali. Di satu sisi Zeno ingin bertemu tapi di sisi lain dia tidak berani untuk menunjukkan wajahnya di depan gadis cantik itu. Dia berharap sampai shift jaganya selesai, Jessie tetap berada di dalam kamar.
Kriet!
Suara pintu kamar terbuka, Jessie terlihat terkejut saat melihat Zeno. Sepertinya, gadis itu akan pergi ke suatu tempat. Mata kedua insan yang saling mencintai itu beradu pandang. Ada rasa yang canggung dipertemuan mereka kali ini.
"Non Jessie mau ke mana? Apa perlu saya antar?" Zeno berusaha bersikap senatural mungkin, seperti tidak pernah terjadi apa-apa diantara mereka.
__ADS_1
"Gak perlu ... gua udah dijemput dengan Kyla," jawab Jessie ketus.
Gadis itu berjalan melewati Zeno dengan menahan kristal bening yang hampir saja lolos dari matanya. Entah mengapa hal itu bisa terjadi? Apa karena rasa sakit hati yang sudah terlalu dalam?
Dia pasti mau nemuin Key ... baguslah. Ini memang tujuan gua, batin Zeno sembari tersenyum getir.
Tiba-tiba ponsel Zeno bergetar, akhirnya notifikasi untuk para ring satu berkumpul sampai kepadanya.
"Ada informasi apa lagi ini?" gumam Zeno.
.
.
.
***
Pukul 22.00 WIB.
Aula pertemuan para ring satu, Paviliun Utara.
"Selamat malam semua ... hari ini sengaja saya kumpulkan kalian semua karena ada beberapa hal mendesak," ucap Tuan Frans.
Sapaan Tuan Frans disambut hangat oleh para anggota ring satu yang sudah dipilihnya.
"Lucky ... putar suara panggilan telepon tadi pagi," perintah Tuan Frans.
Rekaman panggilan suara telah diputar, Zeno yang mendengar hal itu merasa gelisah. Ternyata diluar sana ada seseorang yang mengawasi gerak-gerik dari keluarga Sanjaya dan dirinya.
Bisa gawat kalo ada seseorang yang ngasih tau rencana buat balas dendam ini.
"Saya tidak tahu, siapa pengkhianat diantara orang-orangku? Apakah ada diantara kalian?" gertak Tuan Frans.
Deg!
Zeno tersentak mendengar pernyataan Tuan Frans, tapi dia bersikap seperti tidak terjadi apa-apa.
"Ada seseorang yang tidak dikenal telah mengirimkan sebuah dokumen kepada saya dan isinya sungguh mengejutkan." Tuan Frans mengangkat dokumen yang dikirim Fox dari meja di depannya dan memperlihatkan kepada para ring satu.
Dokumen? Siapa yang mengirimkan dokumen dan apa isinya?
Zeno sungguh penasaran dengan isi dokumen tersebut.
.
.
.
***
Next episode comming soon 😁👍
Apa sebenarnya isi dokumen itu?
__ADS_1
Apakah akan membahayakan Zeno?