
Bambang memasuki ruang ICU dimana Zeno dirawat. Dia sungguh sedih melihat sahabatnya absurd-nya terbaring tak berdaya. Pikirannya menerawang dan mengingat bagaimana kebersamaan mereka saat masih sama-sama menjadi bodyguard. Rasa bersalah juga menyelimuti dirinya.
"Zen ... maafin gua ya, gua datang telat. Kalo aja gua bisa nemuin lu lebih cepet, pasti lu gak bakal terbaring koma kayak gini. Bangun, Zen ... nanti kita makan jengkol bareng lagi," ucap Bambang, "Lu gak kasian sama Zaenudin, Zen? Dia hampir aja di opor, loh," imbuhnya.
Saat mendengar Zaenudin hampir di opor, Zeno menunjukkan reaksi dan menggerakkan jarinya.
"Zen! Lu udah mau sadar? Ayo dong, Zen ... sadar!" pekik Bambang.
Bambang yang cerdas akhirnya paham, karena dia membahas Zaenudin -- Zeno menunjukkan reaksi.
Segitu cintanya dia sama itu ayam, gua bilang Zaenudin hampir di opor dia bereaksi, batin Bambang.
Bambang akhirnya mempunyai sebuah ide.
"Zen ... sebenernya Zaenudin udah gua makan, kemaren udah di opor bukan hampir lagi," ucap Bambang berbohong dengan pura-pura terisak.
Tanpa disangka reaksi Zeno begitu di luar akal sehat. Dia langsung membuka matanya dan duduk.
"Berani-beraninya lo makan Zaenudin, Bang!" pekik Zeno.
Mata Bambang langsung berbinar cerah, dia langsung berteriak memanggil petugas medis. Dia senang sahabatnya bisa sadar, walaupun agak aneh cara sadarnya. Maklumi aja ya guys namanya juga novel absurd, wkwk.
Zeno gagal paham dengan apa yang telah terjadi, tiba-tiba dia merasa kepalanya sungguh pusing dan tubuhnya melemah. Dia pun kembali terbaring lagi di atas ranjang.
***
Zeno akhirnya sudah dapat dipindahkan ke ruang rawat. Setelah satu bulan koma, dia bisa sadar hanya karena khawatir dengan Zaenudin. Selama ini, Bambang selalu membisikkan mengenai Jessie tapi dia tak kunjung sadar. Emang dasar Zeno, lebih cinta sama ayam. Ck-ck-ck.
"Gua kira lu gak bakalan sadar, Zen ... hu-hu. Tapi akhirnya lu sadar juga," ucap Bambang histeris sambil memeluk Zeno.
Zeno berusaha mendorong Bambang menjauh darinya, karena merasa tak nyaman. Namun, semuanya sia-sia saja, sebab tenaganya masih lemah.
"Bang ... lo mandi gak, sih? Asem banget ketek lo!" teriak Zeno.
Ucapan Zeno membuat Bambang melepaskan pelukannya dan menciumi kedua ketiaknya secara bergantian.
"Ternyata bukan kaki gua aja yang bau ya, Zen? Ketek gua juga bau," ucap Bambang tanpa rasa bersalah.
"Dasar jorok!"
"Jorok-jorok gini juga gua udah nyelametin hidup lu, Zen ..." protes Bambang.
"Telat lo ... gua udah ketembak, baru lo dateng," sungut Zeno.
"Untung aja lu gak mati."
"Gentolet!" geram Zeno.
Perdebatan mereka terhenti ketika Kyla datang memasuki kamar rawat Zeno. Gadis itu datang dengan membawa dua box pizza untuk mereka makan. Kyla menunda kepulangannya ke Indonesia karena Zeno tiba-tiba sadar dari koma, dan baru hari ini dia berani untuk menjenguk Zeno yang sudah sadar.
Zeno memicingkan matanya dan dahinya berkerut. Mungkin saja dia heran, mengapa Kyla bisa ada disini?
"Kenapa lo bisa ada disini?" tanya Zeno dengan nada suara dingin.
Bambang yang merasa ada yang perlu diluruskan, langsung menyambar dan menjawab pertanyaan Zeno.
"Kyla calon istri gua, Zen ... dia gak ada hubungannya dengan kejahatan yang diperbuat tuan Kenan dan Key. Dia gak tau menahu masalah kita."
Zeno hanya diam, dia menatap dingin kearah Kyla. Lama-kelamaan tatapannya berubah menjadi hangat dan senyumannya mengembang. Sebenarnya dia ingin bertanya bagaimana bisa Kyla menjadi calon istri Bambang, tapi diurungkannya karena pasti akan panjang kali lebar sama dengan luas.
"Maaf ... gua tadi galak ke lo," ucap Zeno.
Kyla tersenyum, "Gak apa-apa, Zen ... justru gua yang seneng, lo gak benci gua," tanggapnya.
Zeno hanya menanggapi dengan senyuman. Kini pandangannya beralih kepada Bambang.
"Jadi ... gimana ceritanya lo bisa datang nyelametin gua, Bang?" tanya Zeno penasaran.
Pikiran Bambang kini beralih pada saat malam penyerangan yang dilakukan olehnya bersama Nafa, Young Flash, dan Depe. Pastinya dibantu oleh beberapa klan mafia yang mau diajak bekerja sama. Dia pun menceritakan kronologis kejadian penyerangan dan penyelamatan Zeno malam itu.
.
.
.
***
Setelah Bambang menemui Kyla, dia kembali mencari Zeno. Namun, dia tak kunjung menemukannya. Informasi yang dia dapatkan masih samar, kapan tepatnya Zeno akan menjalankan rencananya untuk membunuh tuan Frans.
__ADS_1
Menurut analisanya, kemungkinan Zeno akan menyerang tuan Frans pada saat acara resepsi pernikahan selesai. Dan memang analisa Bambang cukup tepat.
***
Waktu menunjukkan pukul 21.45 waktu Singapura. Atau lima belas menit sebelum acara resepsi pernikahan berakhir. Bambang mencari tempat aman dan mencoba menghubungi Young Flash untuk segera berangkat bersama pasukan.
"Buruan kesini! Udah waktunya," perintah Bambang lewat saluran ponselnya.
Tiba-tiba ada seseorang yang memukul tengkuk Bambang menggunakan tongkat baseball dari belakang. Bambang merasa kesakitan dan tersungkur dilantai.
"Sialan," desis Bambang.
"Target mencurigakan satu sudah dilumpuhkan," ucap seseorang berjas yang memukul Bambang sambil memegang telinga sebelah kanannya. Sepertinya, orang itu menggunakan alat bantu earpiece.
"Siap laksanakan!" ucap pria itu lagi dengan lagi-lagi memegang telinganya.
Tak berapa lama, ada beberapa orang yang datang dan menangkap Bambang lalu menyeretnya ke suatu tempat.
Gawat ... pasti bentar lagi Nafa yang bakalan ditangkep, batin Bambang.
Rasa sakit akibat pukulan belum sepenuhnya hilang, tapi Bambang berusaha untuk meloloskan diri dari dua pria berbadan kekar yang membawanya.
Dengan badannya yang ringan dia mengaitkan kedua kakinya ke masing-masing kaki dua pria kekar yang ada di samping kiri-kanannya.
Saat kedua orang itu terganggu, Bambang langsung memukul keras wajah mereka dengan kuat. Alhasil, pegangan mereka melemah dan Bambang berhasil meloloskan diri.
Sempat terjadi kejar-kejaran diantara mereka, tapi Bambang berhasil lolos. Dia mencoba menghubungi Nafa berulangkali, namun tak diangkat oleh gadis itu.
Tiba-tiba Bambang melihat Nafa sedang diseret oleh beberapa orang dan dibawa ke suatu tempat. Dengan mengendap-endap, Bambang mengikuti mereka. Bambang juga menyempatkan diri untuk menghubungi Young Flash, dia menyampaikan kalau dia dan Nafa sudah ketahuan lewat pesan singkat.
.
.
.
***
Ting!
Suara notifikasi pesan dari ponsel Young Flash berbunyi. Saat itu, dia dan Depe sedang berada dalam perjalanan untuk memimpin penyerangan.
"Gawat ... Bambang sama Nafa ketahuan, Beb ..." ucap Young Flash setelah melihat isi pesan di ponselnya.
"Kayaknya kita pake rencana B, karena mereka ketahuan. Kita pake cara bar-bar dan terang-terangan perang."
"Nanti kalo aku terkenal gimana, Beb? Nanti aku takut banyak dapat tawaran jadi artis," celoteh Depe kepedean dengan bibir sedikit dimajukan.
"Bukan jadi artis, Beb ... tapi jadi agen rahasia, muehehe," sahut Young Flash asal.
Perbincangan yang kurang berfaedah terjadi diantara mereka berdua. Padahal teman-temannya sedang kesulitan, tapi mereka masih saja narsis.
.
.
.
***
Pasukan yang dipimpin oleh Young Flash dan Depe tiba di hotel tepat pukul 22.30, mereka datang sedikit terlambat karena ada berbagai kendala dalam perjalanan. Kebetulan hotel itu berada di pinggiran pantai dan bukan di pusat keramaian, sehingga kedatangan mereka tidak terlalu mencolok.
Sekitar seribu pasukan dibawa oleh Young Flash dan Depe, baik itu lewat jalur darat, laut, dan udara. Persiapan mereka sangat matang untuk melakukan penyerangan.
Pasukan berpakaian serba hitam itu merangsek masuk ke dalam hotel secara paksa. Terjadi baku tembak antara para bodyguard yang berjaga disana dengan pasukan yang dipimpin pasangan absurd itu.
"Siapa saja yang merasa bodyguard setia keluarga Wijaya, tolong jangan menyerang kami!" pekik Young Flash dengan menggunakan pengeras suara.
Ucapan Young Flash seketika membuat para bodyguard yang berasal dari keluarga Wijaya kebingungan.
"Musuh kalian adalah tuan Kenan Sanjaya! Malam ini, dia berencana membunuh majikan kalian tuan Frans Wijaya. Tolong percayalah, agar kalian tidak terluka," tambah Young Flash.
Ada beberapa yang percaya dan membantu pihak mereka, namun ada juga yang tidak percaya dan tetap menyerang.
Young Flash menarik Depe ke tempat aman untuk melacak keberadaan Bambang dan Nafa. Tak disangka, karena kekacauan itu Bambang dan Nafa berhasil meloloskan diri.
"Buruan kita ke kamar tuan Frans!" teriak Bambang sambil berlari kencang dan melewati pasangan itu.
"Dimana?!"
__ADS_1
"Ikutin gua," sahut Bambang yang masih berlari kencang.
Young Flash dan Depe terbengong sejenak, tapi beberapa detik kemudian -- mereka berdua berlari mengikuti Bambang dan Nafa yang sudah berlari terlebih dahulu.
***
Begitu sampai di kamar tuan Frans, Bambang melihat tuan Kenan sedang menembaki Zeno beberapa kali. Reflek Bambang langsung mengambil pistol di sakunya dan menembak tangan tuan Kenan yang memegang pistol.
Dor!
Serangan tiba-tiba itu membuat tuan Kenan terkejut. Dengan penuh emosi, Bambang menembaki tubuh tuan Kenan bertubi-tubi.
"Si--sialan ...." desis Tuan Kenan sebelum meregang nyawa.
Young Flash mengamankan Key dengan mengikat pria cantik itu dengan tali yang dibawa oleh Depe.
Tak lama kemudian, ada beberapa bodyguard yang berada di pihak tuan Frans datang untuk memberikan bala bantuan dan membawa tuan Frans serta Zeno untuk segera ditangani oleh pihak medis.
Mereka menang telak karena jumlah yang lebih besar dan persiapan yang sangat matang.
Penyerangan itu seolah tidak pernah terjadi, seluruh media dibungkam. Kematian tuan Kenan disamarkan dengan alasan penyakit jantung yang menyerang tiba-tiba. Tertembaknya tuan Frans dan Zeno juga ditutupi, sehingga hanya pihak internal yang mengetahuinya.
***
Setelah tiga hari dirawat di rumah sakit yang sama dengan Zeno. Tuan Frans akhirnya dibawa ke Amerika untuk mendapatkan perawatan yang lebih intensif. Sedangkan Zeno yang mengalami koma tetap berada di rumah sakit tersebut.
Semenjak kejadian itu, Jessie belum pernah menemui Zeno. Dia lebih memilih untuk menghindar karena sepertinya dia juga mengalami trauma yang cukup berat.
.
.
.
***
Zeno menghela napas berat setelah mendengar cerita Bambang, dia sungguh menyesal karena telah dibutakan oleh dendam. Saat ini, dia bahkan sangat merindukan Jessie. Apa mungkin Jessie mau memaafkannya setelah kejadian ini?
"Jadi ... sekarang Jessie dimana, Bang?" tanya Zeno.
"Dia sekarang di Amerika, Zen ... dia nemenin ayahnya yang dirawat intensif di sana. Gua denger, dia juga mau pindah kuliah ke sana," jawab Bambang.
"Di--dia masih jadi istrinya Key?" tanya Zeno memberanikan diri.
"Jessie dan kak Key udah pisah, Zen ..." sahut Kyla tiba-tiba.
Tanpa sadar, bibir atas Zeno terangkat. Dia mengulas senyum samar saat mendengar berita itu.
"Gua mau nemuin Jessie, Bang."
"Oke, Zen ... tapi tunggu kondisi lu agak baikan, ya? Lu aja baru sadar dari koma dua hari yang lalu," saran Bambang.
Zeno mengangguk lemah, wajah dan bibirnya masih terlihat pucat. Kalau saja bisa sekarang, dia ingin pergi menemui gadis yang dicintainya. Berharap masih ada kesempatan untuknya.
.
.
.
***
Next episode comming soon 😁👍
Zeno
Jessie
Dan kuy mampirin novel2 tamat yang keren ini 👍
__ADS_1