
"Sudah lama gak pulang malah mengira kakek mati? Memang cucu tak berakhlak!" Kakek Wiro masih memukuli pantat Zeno dengan kencang.
"A-ampun, Kek! Jangan pukul lagi ... sakit. Lagian kakek ditelpon gak diangkat!"
Kakek Wiro menghentikan aksinya itu, dia pun memperhatikan wajah cucunya yang penuh dengan lumpur. Pandangannya kini beralih kepada Bambang yang berlumuran lumpur juga.
"Ck-ck-ck ... sudah lebih setengah tahun hidup di kota tapi masih saja berpenampilan kumuh seperti dulu. Ini lagi, punya teman mirip orang-orangan sawah. Sudah kurus, berlumpur lagi," oceh Kakek Wiro. "Harusnya kalian mencontoh kakek yang sudah gaul walaupun masih tinggal di desa," tambahnya.
Zeno dan Bambang hanya saling memandang, mereka tidak ingin cari ribut dengan Kakek Wiro, karena sekuat-kuatnya kakek-kakek -- dia tetap kakek-kakek. Sungguh sangat membingungkan apa maksudnya.
***
Kakek Wiro pun membawa mereka ke rumah barunya. Rumah kakek Wiro tidak jauh dari rumah yang lama. Pada saat melihat rumah barunya, Zeno pun terperangah karena sungguh luar biasa. Walaupun masih terbuat dari kayu, namun terlihat sungguh berbeda karena terlihat seperti rumah orang yang mempunyai jiwa seni yang tinggi.
Kakek Wiro sangat bangga bisa mempunyai rumah seperti sekarang, karena dia tidak lagi dihina oleh orang-orang sekitar. Bahkan saat ini, dia sungguh disegani oleh para penduduk desa.
Bambang yang melihat rumah tersebut merasa lega, karena dia tidak harus tinggal di gubuk reyot. Dalam pikirannya, dia masih bisa meng-upload foto di media sosial. Namun, belum ada satu detik dia langsung berubah pikiran. Bagaimana mungkin dia mengumbar keberadaan dirinya saat nyawanya sedang dalam bahaya dan padahal dia sedang bersembunyi? Dasar Bambang.
"Bagaimana rumah baru ini? Keren abis 'kan?" tanya Kakek Wiro.
"Sungguh keren, Kek! Saya pasti akan betah tinggal di sini!" sahut Bambang antusias.
"Jangan lupa, biaya sewanya satu hari lima ratus ribu," kekeh Kakek Wiro. Kakek tua itu hanya ingin mengerjai Bambang.
"Apa?!" Bambang terkejut karena dia tidak punya uang sepeserpun. Beruntung Zeno langsung membisikinya, kalau kakeknya hanya bercanda.
Kakek Wiro mulai memberikan penjelasan mengenai rumah barunya itu kepada Zeno dan Bambang. Dia mengatakan kalau rumah ini baru saja berdiri dua bulan yang lalu. Kakek Wiro mempergunakan uang bulanan yang dikirim Zeno untuk membangun rumah dan membeli seluruh perabotannya. Tak tanggung-tanggung, Zeno mengirimkan uang sekitar kurang lebih lima puluh juta kepada Kakek Wiro setiap bulannya. Gaji sebagai bodyguard ring satu keluarga Wijaya memanglah sungguh fantastis.
Mereka akhirnya memasuki ruang tamu rumah tersebut. Mungkin memang tidak terlihat begitu mewah, namun hal itu lebih dari cukup bagi seseorang yang memang tinggal di desa.
Zeno merasa tak suka karena kakeknya malah berfoya-foya selama ini. Padahal dia bertaruh nyawa di kota orang demi balas dendam.
"Kek! Seharusnya gak usah berlebihan kayak gini! Tujuan Zeno ke Jakarta 'kan untuk balas dendam, tapi kakek bukannya berhemat -- malah boros kayak gini!"
"Udah selesai belum balas dendamnya? Kok pulang?" tanya Kakek Wiro dengan santai.
Zeno menepuk jidatnya karena tak habis pikir dengan jalan pikiran kakeknya.
"Belom! Ini Zeno pulang cuma mau titipin temen Zeno."
Bambang yang belum merasa berkenalan dengan Kakek Wiro pun langsung mengulurkan tangannya. Sebenarnya dari tadi mereka ngapain saja? Kenapa belum berkenalan?
"Perkenalkan ... saya Bambang Gentolet. Saya adalah sahabat Zeno yang paling loyalitas dan setia."
"Kamu bau ... mandi dulu sana." Kakek Wiro tidak mau bersalaman dengan Bambang yang masih penuh dengan lumpur itu.
Buset! Sombong amat itu kakek, ck-ck-ck.
***
__ADS_1
Kakek Wiro pun mengantarkan mereka menuju kamar mandi. Kamar mandinya pun terlihat elegan dan mewah walaupun mengusung tema minimalis. Lagi-lagi Zeno tak habis pikir dengan kerjaan kakeknya yang berfoya-foya diatas penderitaannya.
"Kek! Ini kamar mandi bagus amat! Biasanya juga mandi di sungai!" protes Zeno.
Kakek Wiro tidak menjawab, melainkan hanya senyum-senyum saja.
"Beh ... keren! Gua bisa betah lama-lama tinggal disini," celetuk Bambang.
Zeno mengacak-acak rambutnya kasar. Dia pun berjalan keluar dari kamar mandi.
"Dah buruan lo mandi ... nanti gantian," kata Zeno. Dia masih kesal dengan kakeknya.
"Zen ... katanya biasa mandi di sungai, mau dong mandi di sungai," ucap Bambang tiba-tiba.
***
Zeno malas berdebat dengan Bambang dan membawa sahabatnya itu menuju sungai terdekat. Bambang yang belum pernah mandi di sungai sungguh antusias. Matanya terbelalak lebar saat melihat aliran sungai yang begitu jernih. Bagi Bambang, ini lah yang pertama kali melihat sungai bersih secara langsung -- karena aliran sungai di kota rata-rata sudah tercemar.
Tanpa basa-basi, Bambang pun langsung menceburkan dirinya ke sungai. Pria kurus itu sungguh senang saat merasakan sensasi dingin menyegarkan air sungai. Zeno pun ikut menceburkan dirinya ke sungai, dia juga rindu merasakan mandi di sungai.
Tak berapa lama, Bambang dikejutkan oleh suara binatang yang sepertinya sedang asik berenang bersama mereka. Dari ciri belakang tubuhnya, sudah terlihat kalau itu gajah.
"Zen ... di sini ada gajah?" tanya Bambang.
"Selama gua hidup di sini belum pernah liat gajah, sih ... tapi keliatannya emang beneran gajah," tanggap Zeno. Bodyguard tampan itu memperhatikan bokong binatang yang diidentifikasi gajah tersebut.
"Z-zen ... itu gajah apaan?" Bambang bergidik ngeri melihat penampilan binatang itu.
"G-gak tau, Bang ... gua juga baru liat yang begituan."
Tanpa sengaja, mata Zeno menangkap sebuah papan berisi peringatan yang berada di pinggiran sungai. Isinya adalah 'Jangan berenang di sungai ini karena angker'.
"Mending kita kabur!" teriak Zeno.
Mereka berdua pun berlari terbirit-birit karena ketakutan.
***
Setelah sampai di rumah, mereka menceritakan kejadian itu kepada Kakek Wiro. Pria tua berambut putih itu mengatakan kalau sudah sekitar empat bulan sungai itu tiba-tiba angker tanpa sebab. Sering terlihat penampakan aneh saat berenang disana, walaupun itu siang hari.
"Kok gak bilang 'sih, Kek!"
"Muehehe ... biar kalian rasakan sendiri," sahut Kakek Wiro santai.
Zeno dan Bambang hanya bisa menghela napas kasar.
.
.
.
__ADS_1
***
Sementara itu, beberapa pria berjas dan berkacamata hitam berada di dalam sebuah mobil SUV. Salah satu dari pria itu terlihat sedang menerima telepon dari seseorang.
In call.
"Kami sudah menemukan lokasi dua orang itu. Kami sedang menuju ke sana. Sudah ada lima mobil dengan masing-masing empat orang yang siap menyerang mereka."
"Jalankan misi kalian ... jangan sampai gagal!"
"Siap, Tuan!
Tut.
End call.
.
.
.
***
Next episode comming soon ππ
Maafkan kalau episode kali ini isinya absurd dan unfaedah. Semoga menghibur jangan tegang-tegang karena yang tegang hanyalah tiang listrik atau tiang jemuran. wkwk
Semangat ππ
Penampakan binatang aneh yang diliat Zeno dan Bambang.
Dan spesial pake telor ceplok... sudah rilis novel kolaborasi lima author fenomenal (ngarep) yang berjudul "WaLingMi (Wanita Maling Suami)"
Kolaborasi apik dengan gaya bahasa masing-masing author yang bisa mengocok perut kalian wkwkkw
Kami Trio Somplak And The Gank :
Tya Gunawan
Aldekha Depe
Linanda Anggen
Syala Yaya
Nafasal
Mempersembahkan novel iniππ
Kuy langsung di cek di akun milik "Tya Gunawan"
__ADS_1