
Bambang masih berlari menghindari kejaran pria-pria berbadan kekar itu. Pikiran dalam otaknya bercabang antara memikirkan bagaimana caranya menyelamatkan diri dan siapa yang telah menyerangnya.
Bambang merasakan kakinya semakin sakit, berlari dengan membawa beban berat setara karung beras lima puluh kilo membuatnya lelah. Dia ingin berhenti, namun tidak bisa karena para pria kekar itu masih mengejarnya dan Kakek Wiro.
"Kita sembunyi dimana ini, Kek? Bambang yang tampan ini udah gak kuat!" teriak Bambang.
"Udah lari aja! Jangan lupa menghindari tembakan." Kakek Wiro menepuk-nepuk pundak Bambang agar pria itu berlari lebih kencang.
Mata mereka tertuju pada sebuah bangunan yang merupakan gudang penggilingan padi. Bambang pun memutuskan untuk bersembunyi di sana.
Sedang berlari kencang-kencangnya, didepan Bambang ada seorang gadis berponi dengan kucir kuda -- berhoodie ungu muda yang berjalan kearah berlawanan sambil menggunakan headset. Gadis itu terlihat membawa sebuah tas ransel di punggungnya.
Bambang pun tak sengaja menabrak gadis itu hingga mereka terjatuh. Kakek Wiro pun terjatuh dengan posisi pantatnya terkena aspal terlebih dahulu.
"Waduh ... bisa-bisa remuk semua tulangku," keluh Kakek Wiro.
Gadis yang ditabrak Bambang nampak bersungut dan siap marah. Namun, dia tidak jadi marah saat melihat Kakek Wiro.
"Master?! Apa yang terjadi?" Gadis itu seraya membantu Kakek Wiro yang masih terduduk di aspal.
"Lah ... Nak Syala? Kamu kok disini?"
"Saya pulang kampung, Master ... sekarang lagi liburan semester," jawab gadis yang bernama Syala itu.
Bambang terlihat khawatir dan mengawasi sekitar, kalau saja para pria kekar itu mendekat.
"Kek! Kita harus segera kabur ... itu mereka udah mau deket!"
"Waduh ... aku gak kuat lagi, Bang," keluh Kakek Wiro.
Gadis yang bernama Syala itu nampak bingung, namun kebingungannya terjawab langsung saat beberapa pria kekar mendatangi mereka dan menodongkan pistol kearah mereka.
"Haduh ... alamat mati muda ini, mana belum kawin," desis Bambang.
Syala memperhatikan satu persatu pria kekar yang mengitari mereka. Matanya seperti menyelidik untuk mencari sebuah celah dan kelemahan dari pihak musuh.
"Sebaiknya kalian menyerah! Ada kata-kata terakhir sebelum kalian menghadap Tuhan?" seringai salah satu pria kekar.
"Coba aja ada Zeno ... pasti aman sentosa ini. Kalo kaki gua gak luka, udah abis mereka sama gua," gumam Bambang.
Para pria kekar itu tertawa penuh kemenangan, tapi tawa mereka tak berlangsung lama -- karena gadis yang bernama Syala menendang tangan para pria kekar yang sedang memegang pistol secara memutar. Gadis itu menendang dengan sudut tendangan yang sudah dia perkirakan sebelumnya.
"Kurang ajar!"
Para pria kekar itu kehilangan senjatanya karena sudah terjatuh di aspal. Saat mereka hendak mengambil pistol yang terjatuh, Syala menendang kepala mereka dengan tendangan memutar andalannya. Sebelum menendang, dia bertumpu pada punggung Bambang yang kebetulan sedang berjongkok untuk mengambil pistol salah satu pria kekar yang terjatuh.
"Aduh!" pekik Bambang.
"Sorry!" Syala dengan segera meminta maaf sembari masih fokus menghajar para pria kekar itu.
__ADS_1
Dengan kemampuan beladirinya, gadis itu mampu melumpuhkan para pria kekar itu dengan mudah.
"Beres!" Syala menepuk-nepuk bajunya dari debu yang menempel akibat perkelahian sengit barusan.
Tiba-tiba dari belakang Syala, salah satu pria kekar yang hendak memukul gadis itu dengan sebuah batu berukuran cukup besar.
Bambang yang melihat hal itu langsung menjegal kaki Syala hingga gadis itu tersungkur di aspal. Namun, perbuatan Bambang itu justru menyelamatkan kepala sang gadis dari tumbukan batu besar itu.
"Udah gila, ya?!" pekik Syala.
"Dibelakang!" Bambang memberikan peringatan kepada Syala dengan suara keras.
Sontak Syala menoleh dan langsung menendang ulu hati pria yang hendak menyerangnya itu. Pria itu pun tersungkur dan meringis kesakitan sambil memegang bagian perutnya.
Perhatian Syala beralih ke Bambang, dia hendak membuat perhitungan karena pria itu telah menjegalnya hingga tersungkur di aspal.
"Kenapa lo jegal gua?!"
"Terpaksa karena kepala lu hampir dihantam sama batu gede," jawab Bambang santai.
Syala hanya menggertakan giginya dan langsung beralih ke Kakek Wiro yang masih bersimpuh di aspal.
"Dasar gak tau terimakasih," gerutu Bambang.
Bambang mengedarkan pandangannya ke seluruh pria kekar yang sudah tak berdaya itu. Timbul rasa penasaran yang memenuhi otaknya. Akhirnya pria itu berjalan mendekati salah satu pria yang sudah tidak berdaya, namun masih dalam keadaan sadar.
Bambang berjongkok untuk memudahkannya berbicara dengan salah satu pria yang tergeletak kesakitan. Pria itu nampak sudah tidak mampu lagi untuk berdiri, namun mulutnya masih bisa berkata.
Bambang berdecih melihat pria yang minta ampun padanya itu. Padahal dia tidak melakukan apapun, karena gadis bernama Syala itu lah yang membuat mereka tak berdaya.
"Siapa yang menyuruh kalian nyerang gua dan merusak rumah Kakek Wiro?" tanya Bambang dengan sorot mata tajam.
Pria itu tidak mau menjawab, dia hanya diam. Bambang sangat geram dan segera beranjak untuk mencari sebuah benda untuk dijadikan sebagai senjata. Dia mengambil sebuah batu besar yang hampir saja menghantam kepala Syala barusan.
Bambang kembali mendatangi pria itu dengan sebongkah batu ditangannya. Dia kembali berjongkok dan menanyakan pertanyaan yang sama seperti tadi.
"Siapa?!" tanya Bambang tegas.
Pria itu tetap diam, membuat Bambang makin kesal. Bambang menghantam tangan pria itu dengan batu besar itu hingga membuat pria itu memekik kesakitan.
"Siapa?!"
Bambang melakukan hal itu berkali-kali, sampai pada akhirnya pria itu menyerah dan membuka mulutnya.
"A-ampun ... semua ini adalah atas perintah Tuan Kenan Sanjaya," jawab pria itu dengan lirih.
Bambang membelalakkan matanya, dia terkejut karena seseorang yang dia hormati ternyata menyuruh orang untuk membunuhnya. Padahal tadinya dia menyangka kalau orang tersebut akan melindunginya.
Bambang tertawa miris, tiba-tiba terbesit sesuatu dalam benaknya.
__ADS_1
"Lu tau gua ini siapa, kan?"
Pria itu mengangguk cepat dengan wajah ketakutan. "Anda Bambang."
"Apa yang bantai seluruh keluarga gua itu juga Tuan Kenan?" tanya Bambang.
"I-iya!" Pria itu menjawab dengan cepat karena takut tangannya akan dipukul oleh batu lagi.
Tawa Bambang makin kencang, air mukanya terlihat begitu seram dan penuh amarah. Dia beranjak dari aspal dengan mengepal erat kedua tangannya.
Tiba-tiba dari kejauhan ada sosok gadis yang berlari kearahnya. Dia ternyata adalah Kyla.
"Bambang!" teriak Kyla sambil melambaikan tangannya.
Dengan napas terengah, gadis itu menghampiri Bambang. Dia tidak fokus dengan orang-orang yang tergeletak di aspal karena fokusnya hanya pada pria yang dia sukai.
"Hahh ... hahh ... akhirnya ketemu juga!"
Kyla langsung memeluk Bambang dengan erat.
"Gua sadar kalo gua suka sama lo, Bang!" ungkap Kyla dengan senyuman yang terkembang di bibirnya.
Bambang hanya terdiam tanpa membalas pelukan gadis cantik itu.
.
.
.
***
Next episode comming soon 😁👍
Bambang
Kyla
Syala
Dan jangan lupa kuy mampirin novel author yang lain ya 🥰🥰
__ADS_1