
Kediaman keluarga Sanjaya.
Tuan Kenan tengah duduk di ruangannya sambil menyesap segelas wine. Tampaknya dia sedang menunggu kedatangan seseorang. Tak berapa lama datanglah seseorang yang memasuki ruangan didampingi oleh asisten pribadinya.
Wajahnya mengembangkan senyuman penuh arti kearah orang yang baru saja datang.
"Apa kabarmu, Abraham?"
"Kabarku baik-baik saja, bagaimana denganmu?" sahut Tuan Abraham.
"Kabarku tidak cukup baik ... ada beberapa rencanaku yang tidak sesuai dengan ekspektasi."
Tuan Kenan mendekati sahabatnya itu dan mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan. Dia pun mempersilahkan tuan Abraham untuk duduk di sofa.
"Kau mau wine?" tawar Tuan Kenan.
"Tidak ... aku tidak bisa minum alkohol."
"Ck! Aku kira setelah sekian lama kita tidak bertemu kau sudah pandai minum alkohol, ternyata masih sama saja," kekeh Tuan Kenan.
"Itu tidak bisa berubah sampai kapanpun," tanggap Tuan Abraham sambil tersenyum.
"Baiklah ... kopi luwak kesukaanmu, aku akan meminta asisten pribadiku membawakannya untukmu."
Sudah sekitar setengah jam berlalu, kedua orang itu hanya berbicara tanpa menyerempet hal inti yang ingin dibicarakan. Tuan Abraham sudah mulai gelisah dan akhirnya mencoba untuk membicarakannya.
"Jadi apa tujuanmu mengundangku kemari? Bukankah kau bilang ingin membicarakan perihal 20 tahun yang lalu?" tegas Tuan Abraham. Pria yang merupakan ayah kandung Fox, mencoba memberanikan diri walaupun sebenarnya dia merasa sedikit takut.
"Kau tahu kan siapa sebenarnya dalang kematian Alfred dan Marina?"
"Tentu itu kau! Memangnya siapa lagi?"
"Tapi kau terlibat didalamnya dan kau tidak bisa mengelak," sergah Tuan Kenan.
Tuan Abraham mendesah kasar, dia menyadari kalau dia juga terlibat. Walaupun keterlibatannya secara tidak langsung.
"Aku kan hanya menjalankan apa yang kau minta. Kau meminta salah satu anak buahku yang ahli untuk meretas sistem kemudi mobil milik Alfred," kilah Tuan Abraham.
"Cih! Padahal kau juga tidak menyukai Alfred! Masalah hatimu kepada Marina pemicunya," decih Tuan Kenan.
"Bisakah kita melupakan semuanya? Aku sudah lelah," Tuan Abraham menunjukkan raut wajah tak bergairah. Dia mungkin bosan selalu dihantui rasa bersalah selama dua puluh tahun belakangan ini.
"Tidak bisa! Saat ini anak dari Alfred dan Marina masih hidup, dia akan membuat perhitungan dengan Frans. Kita harus memperalat dia agar membunuh Frans tanpa mengotori tangan kita sendiri," ujar Tuan Kenan.
"Kau masih saja serakah! Apa hartamu yang sekarang tidak cukup? Bahkan kekuatanmu sebagai mafia sudah cukup besar, bahkan klan mafia milikku tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan klan mafia milikmu," tutur Tuan Abraham.
"Kau terlalu merendah ... klan mafiamu masih paling ditakuti di Inggris," Tuan Kenan terbahak, menertawakan sahabatnya yang terlalu merendahkan diri sendiri.
"Tidak seperti kau dan Frans ... hampir semua klan mafia di seluruh dunia takut kepada klan mafia kalian," sahut Tuan Abraham.
Tuan Kenan tersenyum miring, dia memang mengakui ucapan sahabatnya itu.
"Alfred sudah tahu kalau aku berencana menghabisi nyawanya, sebelum hal itu terjadi -- dia telah menghibahkan semua aset dan klan mafianya kepada Frans. Kau tahu kan kalau Frans sebenarnya tidak memiliki kekuatan besar jika bukan karena campur tangan Alfred? Dia menjadi disegani seperti sekarang itu karena kekuatan yang diwariskan oleh Alfred," jelas Tuan Kenan.
"Lalu? Bukankah anakmu akan segera menikah dengan anaknya Frans? Apa itu kurang bagimu?"
"Dengan kematian Frans aku baru bisa menguasai aset dan seluruh kekuatan klan mafia miliknya. Istrinya Nelly dan anaknya Jessie hanyalah urusan mudah, lagi pula Nelly juga terlibat dalam kematian Alfred dan Marina," ucap Tuan Kenan penuh ambisi.
__ADS_1
"Jika Nelly tahu kau berniat membunuh suaminya, dia pasti tidak akan tinggal diam. Dulu dia terlibat karena membenci Marina. Dia salah paham dengan kedekatan Frans dan Marina, padahal Frans sangat mencintainya," ujar Tuan Abraham.
"Dan kau mencintai Marina tapi tega membunuhnya," celetuk Tuan Kenan.
"Aku tidak bisa mendapatkannya lebih baik dia mati, itu prinsipku."
"Ha-ha-ha! Kau juga terlalu ambisi terhadap wanita, padahal istrimu sangat cantik," ejek Tuan Kenan.
"Sudahlah ... itu sudah masa lalu. Tujuanmu menyuruhku kesini bukan hanya untuk bernostalgia, kan?"
"Benar! Kau tahu tidak kalau putra Albert memiliki seorang sahabat?"
Tuan Abraham mengerutkan dahinya. Dia tidak paham dengan perkataan sahabatnya.
"Ah! Pasti kau tidak paham, aku akan menceritakan kronologisnya," ucap Tuan Kenan.
Tuan Kenan menceritakan segala hal dialaminya baru-baru ini. Dari mulai dokumen yang dikirim kepadanya, hingga dia terpaksa menghabisi seluruh mata-mata yang berada di kediaman tuan Frans beserta keluarganya. Kegagalannya membunuh Bambang juga dia ceritakan.
Tuan Abraham yang tadinya ingin lepas tangan akhirnya mengurungkan niatnya, karena semua itu adalah perbuatan iseng putranya -- Fox. Mau tak mau, dia harus ikut membantu tuan Kenan mencapai tujuannya.
"Aku rasa teman-teman dari putra Albert tidak akan tinggal diam, mereka pasti akan menghubunginya dan berusaha menggagalkan rencanaku. Bisa-bisa aku yang malah akan diserang," Tuan Kenan menyugar rambutnya dan sedikit memijit kepalanya.
Tuan Abraham sepertinya mengetahui maksud dari tuan Kenan.
"Aku akan membantu mencegah hal yang kau takutkan terjadi," tanggap Tuan Abraham.
Tuan Kenan tersenyum lebar, dia menjadi sedikit tenang karena sahabatnya mau membantunya.
Pertemuan antara dua sahabat lama itu berakhir saat kedua belah pihak mencapai kesepakatan.
.
.
.
Rumah Nafa.
Ruang tengah.
"Gimana ini? Zeno gak bisa dihubungi," ucap Bambang. Dia menampakkan raut wajah bingungnya.
"Semua nomornya gak aktif?" tanya Nafa.
Bambang hanya menggeleng dan mendesah kasar.
"Gua takut dia bakal bertindak gegabah ... padahal belum tentu tuan Frans itu musuhnya," Bambang mondar-mandir seperti setrikaan. Dia terlihat gusar sekali.
"Kita harus temuin Zeno," celetuk Young Flash.
"Caranya?" sahut Bambang.
"Gua bakal coba menyelinap ke kediaman keluarga Wijaya dan nyari dia," ujar Young Flash.
"Tapi tunggu dulu ... kita belum tau pasti kebenarannya, siapa tau tuan Frans memang musuhnya. Kita belum dapat informasi apapun sampe sekarang. Lagi pula sekarang pasti keamanan di keluarga Wijaya lebih ketat, bahaya kalo sampe ketangkep," Nafa sepertinya memikirkan matang-matang sebelum sahabatnya itu bertindak gegabah.
"Sayang ... jangan aneh-aneh, kamu kan belum nikahin aku. Nanti kalo kamu mati gimana?" ucap Depe dengan nada suara khawatir. Wanita itu menggelayuti lengan Young Flash dan menariknya.
__ADS_1
"Iya ... aku gak akan gegabah. Jangan khawatir, Sayang," Young Flash mengusap lembut rambut panjang Depe.
Bambang dan Nafa hanya memasang wajah datar saat melihat pasangan itu bermesraan tidak pada tempatnya.
"Kakek Wiro dimana?" Bambang baru menyadari kalau kakek Wiro tidak ada bersama mereka.
"Dia tadi bilang mau berenang, mungkin lagi di kolam renang," sahut Nafa.
Bambang hanya geleng-geleng kepala dan berdecak heran. Tiba-tiba terpikirkan sesuatu yang membuat dirinya tercerahkan.
"Kita bisa hubungi Non Jessie buat tanya kegiatan Zeno! Kalo bisa, kita minta dia buat giring Zeno keluar dan kita bisa nemuin dia," celetuk Bambang. Dia menjentikkan jarinya karena merasa mendapatkan ide brilian.
"Wah! Boleh juga! Lo ada nomornya?" tanya Nafa.
Wajah Bambang yang tadinya cerah berubah jadi muram, " Gak ada."
Ketiga orang yang ada di ruangan itu menghela napas kasar karena mendengar jawaban dari Bambang.
"Eh! Tapi kayaknya gua bisa bantu!" celetuk Depe.
"Gimana?!" tanya Bambang, Young Flash, dan Nafa bersamaan.
"Gua kan sahabatan sama Tya dan dia itu temennya Jessie, udah pasti dia punya nomornya Jessie," ucap Depe bangga.
"Gak sia-sia ada lu disini," Bambang sangat bersemangat dan langsung memeluk Depe. Belum sempat memeluk, Young Flash sudah mendorong kasar tubuh Bambang menjauh dari kekasihnya.
"Jangan macem-macem lu, Bang!"
Bambang hanya nyengir kuda sambil garuk-garuk kepala.
.
.
.
Kediaman keluarga Wijaya.
"Kenapa hape gua ini, ya? Masa semuanya gak bisa dipake dan tiba-tiba mati total," gumam Zeno.
"Gua jadi gak bisa menghubungi siapa-siapa."
Zeno sangat kesal dan mengacak rambutnya kasar.
.
.
.
Next episode comming soon 😁👍
Siapakah yang membuat semua ponsel milik Zeno tidak bisa beroperasi lagi?
Apakah itu pekerjaan tuan Abraham?
Bonus picturenya Zeno aja ya .. dia mau ngamen 🤭🤭😁
__ADS_1