
Satu hari pasca kejadian pembunuhan dan peledakan rumahnya, Bambang terlihat sangat sedih. Dia duduk di depan teras belakang rumah Nafa yang berada di kota. Tatapannya terlihat kosong dan sendu, karena masih mengingat bagaimana seluruh anggota keluarganya menjadi mayat. Sementara ini, Bambang memang sengaja bersembunyi di rumah milik dokter bedah cantik itu -- sebelum pergi menjauh dari kota tersebut.
Young Flash dan Depe pun ikut menginap di rumah milik Nafa itu. Zeno meminta Young Flash untuk mengawasi Bambang karena takut kalau Bambang akan melakukan hal yang tidak diinginkan, seperti bunuh diri. Sedangkan Depe ikut menginap karena tidak mau jauh-jauh dari pria lincah berbulu yang disukai itu.
Rumah Nafa cukup mewah dan besar, entah seberapa besar kekayaan gadis cantik itu. Pilihan warna putih dan hitam, membuat rumah itu terlihat elegan. Pepohonan yang ditanam di halaman depan dan belakang menambah kesejukan udara pagi bagi siapapun yang merasakan. Suasana itu sudah pasti membuat siapapun yang tinggal di sana akan betah dan tak ingin kemana-mana.
Latar belakang dari Nafa juga tidak ada yang tahu. Rumah yang begitu mewah dan luas itu pun terlihat sepi dan tidak berpenghuni, kecuali mereka yang baru datang.
"Jangan ngelamun ... hari ini lu berangkat 'kan?" Nafa datang tiba-tiba hingga membuat Bambang terkejut. Dia menaruh sebuah nampan yang berisikan segelas susu dan beberapa potong sandwich di meja.
"Gua gak ngelamun ... iya, nanti Zeno jemput gua lagi," sahut Bambang.
Nafa mendudukkan dirinya di kursi yang berada disebelah kanan Bambang. Setelah mantap, dia menatap lekat wajah pria yang masih melihat lurus kedepan dengan pandangan kosong.
"Gua tau rasanya kehilangan," ucap Nafa. Gadis beralih pandangan dari wajah Bambang ke arah halaman belakang rumahnya.
Kini Bambang yang beralih menatap gadis yang telah menyelamatkan nyawanya tempo hari.
"Maksudnya, gimana?"
"Gua ngalamin hal yang sama seperti yang lu alami, bahkan lebih mengerikan. Seluruh anggota keluarga gua, dibantai dihadapan gua. Kira-kira lima tahun yang lalu," tutur Nafa.
Ada guratan kesedihan yang terukir jelas di wajah gadis cantik itu. Namun, dia terlihat sangat tegar dan mulai melukiskan sebuah senyuman hangat di bibirnya sambil menoleh kearah Bambang.
"Jangan larut dalam kesedihan! Semangat! Gua aja bisa bangkit dari keterpurukan." Nafa terlihat memberikan semangat kepada pria yang tengah bersedih itu.
Bambang mulai mencoba untuk tersenyum, walaupun hatinya masih terasa sangat sakit. Mulai saat ini, dia berjanji kepada dirinya sendiri untuk tidak larut dalam kesedihan lagi. Dia pun sudah mempercayakan semuanya kepada Zeno untuk menyelidiki siapa dalang pembunuhan keluarganya.
.
.
.
***
Zeno hendak menjemput Bambang untuk mengantarkannya bersembunyi di tempat yang sangat aman menurutnya, yaitu rumah kakeknya di Desa Umbul Jaya. Beberapa hari kedepan, Zeno memang bebas untuk keluar masuk kediaman keluarga Wijaya. Mencari siapa dalang pembunuhan para mata-mata, itulah alasan kuat dia bisa mendapatkan izin dari Tuan Frans Wijaya.
Dengan berlari kecil dia berjalan mengarah ke mobilnya yang diparkir dekat kediaman utama. Tak sengaja, dia berpapasan dengan Jessie yang sepertinya hendak pergi ke suatu tempat.
"Mau kemana, Non?" sapa Zeno ramah. Dia tidak menunjukkan sedikit pun rasa canggung karena masalah hati mereka.
"Mau jenguk calon suami ... katanya dia udah sadar," jawab Jessie dengan nada suara datar. Jessie pun tidak menunjukkan ekspresi apapun.
Nyut!
__ADS_1
Rasa sakit tapi tidak berdarah dirasakan oleh Zeno. Dia merasakan sensasi sedikit sesak di dadanya, saat Jessie mengatakan akan menjenguk calon suaminya. Namun, ada sedikit rasa lega karena Key sudah sadarkan diri.
"Syukurlah...." Zeno mengulas senyumnya. "Non tidak dikawal? Kenapa berjalan sendiri?" tanya Zeno.
"Kyla bentar lagi jemput jadi gak perlu dikawal, tapi gua mau nunggu dia di depan gerbang, sekalian gua mau olahraga dikit dengan jalan kaki," jawab Jessie.
"Hmm ... baiklah kalau begitu. Hati-hati dijalan, Non."
Jessie menanggapi pesan Zeno dengan senyuman getir. Gadis itu sebenarnya merasa sedih karena sikap Zeno yang tidak menunjukkan kalau mereka pernah saling mencintai, bahkan mungkin masih saling mencintai sampai sekarang. Dialog yang terjadi barusan, hanyalah sebuah percakapan antara nona dan bodyguard-nya, tidak ada yang istimewa.
Jessie mulai melangkahkan kakinya meninggalkan Zeno. Tapi belum jauh dia melangkah, mobil Kyla sudah terlihat mendekat kearahnya.
Kyla menghentikan mobilnya, namun gadis itu tidak langsung mengajak Jessie masuk melainkan dia turun dari mobil dan hendak menghampiri Zeno.
"Mau kemana?" tanya Jessie.
"Bentar ... gua ada perlu sama Zeno, Jes."
Kyla berlari kearah Zeno yang terlihat ingin menaiki mobilnya.
"Zen! Tunggu!" pekik Kyla.
Zeno menoleh kearah sepupunya itu dan tidak jadi masuk kedalam mobil.
"Ada apa, Non?"
"Bambang baik-baik aja, ini gua mau datengin dia," jawab Zeno dengan berbisik juga. "Ini ngapain rambut lo jadi panjang?" kekeh Zeno sembari memegang ujung rambut Kyla dan mengangkatnya.
"Biar mirip cewek dikit." Kyla menepis tangan Zeno. "Jangan sampe Bambang kenapa-kenapa ya, Zen ... kalo bisa dia harus selamat pokoknya." Raut wajah Kyla terlihat sangat khawatir.
Zeno tersenyum penuh arti sambil menatap Kyla.
"Cie ... khawatir sama Bambang, dia sekarang udah punya gebetan baru loh," desis Zeno yang seolah ingin membuat Kyla menunjukkan ekspresi cemburunya.
"Apa?! Yang bener, Zen! Kurang ajar amat itu orang! Dia udah ambil ciuman pertama gua, Zen!" Kyla nampak tidak terima dan matanya berapi-api. Dia ternyata tersulut api cemburu yang dipancing oleh Zeno.
Zeno terkekeh dan tersenyum melihat sepupunya yang sedang cemburu itu.
"Ya udah ... gua mau nemuin Bambang dulu ... dah sono lo pergi ke rumah sakit. Itu calon kakak ipar udah nungguin," tukas Zeno.
"Pokoknya bilang ke Bambang ... awas kalo dia macem-macem!" pesan Kyla.
Zeno mengulum senyum dan mengacungkan jempolnya. "Beres!"
***
Keakraban Zeno dan Kyla dari jauh, membuat Jessie salah paham. Jessie mengira kalau Kyla menyukai Zeno. Dia juga berpikir kalau Zeno memberikan sebuah sinyal positif kepada sahabatnya itu karena terlihat sangat senang saat berbincang dengan Kyla.
__ADS_1
Jangan cemburu, Jes! Inget sama keputusan lo sendiri untuk nikah sama Key dan ngelupain Zeno!
.
.
.
***
Next episode comming soon ππ
Zeno
Jessie
Bambang
Kyla
Nafa
Dan jangan lupa mampir kuy ke novel orang-orang seperjuangan authorππ
Hot Daddy - Tya Gunawan
Tentang Hati - Aldekha Depe
Istri Kesayangan Tuan Muda - Nafasal
Ketulusan Cinta Wisnu - Syala Yaya
__ADS_1