Balas Dendam Bodyguard Kampungan

Balas Dendam Bodyguard Kampungan
Sebuah teka-teki


__ADS_3

Malam itu Zeno berusaha untuk melupakan segala kegundahan hatinya. Dia mengendarai mobilnya dan melajukannya ke lokasi yang diberikan oleh Tuan Frans. Dia juga merasa penasaran, siapa orang yang telah mengirimkan dokumen tersebut dan mengancam Tuan Frans lewat saluran telepon -- sehingga menimbulkan pertumpahan darah lebih cepat dari waktunya.


Karena dokumen itu juga lah, Tuan Kenan terpaksa menghabisi nyawa dari semua mata-matanya yang berada di keluarga Wijaya. Zeno merasa kalau memang pihak ketiga ini sengaja membuat kedua keluarga itu saling menyerang tanpa tahu siapa musuhnya.


Zeno telah sampai ke sebuah lokasi dermaga yang pernah didatangi oleh Fox. Sebelumnya, anak buah Tuan Frans memang sudah pernah kesana, namun mereka tidak bisa menemukan apapun.


Zeno turun dari dalam mobilnya, dia mencoba mencari sebuah informasi di sana. Dermaga itu nampak lengang, tak ada satu pun orang yang berada di sana.


"Aneh ... masa gak ada satu pun orang di sini?" gumam Zeno.


Zeno terus berjalan menyusuri lokasi yang berada di dekat dermaga itu, hingga dia menemukan beberapa nelayan yang hendak berlayar menangkap ikan.


"Permisi ... Pak," sapa Zeno kepada salah satu nelayan itu.


"Iya ... ada apa? Ada yang bisa dibantu?"


"Maaf, Pak ... saya mau tanya, memangnya dermaga yang di sebelah sana itu tidak ada yang berjaga?"


"Dermaga itu memang terbengkalai, Dek ... tapi kadang-kadang ada beberapa orang yang datang mengecek. Saya dengar sistem operasi di dermaga itu masih baik tapi entah kenapa ditinggalkan begitu aja," jawab bapak nelayan paruh baya itu.


Zeno menautkan kedua alisnya, pernyataan bapak nelayan itu membuatnya cukup berpikir keras.


"Sejak kapan dermaga itu tidak beroperasi lagi?"


Bapak nelayan itu nampak berpikir dan coba mengingat.


"Mungkin dua atau tiga bulan yang lalu, Dek ... eh tapi baru-baru ini saya lihat ada sebuah kapal mewah yang bersandar di dermaga itu."


"Kira-kira kapan tepatnya, Pak?" Zeno makin penasaran.


"Beberapa hari yang lalu, tapi tepatnya saya lupa, Dek."


Zeno sejenak berpikir, mungkin kapal yang bersandar itu ada sangkut pautnya dengan si pengirim dokumen dan si penelepon misterius. Otak Zeno yang cerdas tidak kehabisan akal untuk bertanya lagi kepada bapak nelayan itu.


"Apa di sekitar sini ada sebuah pulau berpenghuni, Pak?"


"Di sekitar sini memang banyak pulau, tapi kalau yang berpenghuni tidak ada. Ada juga beberapa gugusan pulau yang di huni beberapa keluarga kaya tapi letaknya lumayan jauh dari sini, Dek," jelas bapak itu.


"Kira-kira seberapa jauh dan saya harus lewat mana ke gugusan pulau berpenghuni itu?" tanya Zeno.


"Kebetulan malam ini kami akan berlayar dan mencari ikan di sekitar lokasi itu, Dek."


"Apa saya boleh ikut?"


"Saya tanya teman-teman nelayan yang lain dulu ya, Dek?"


Setelah melewati negoisasi yang cukup alot, akhirnya para nelayan itu menyetujui untuk membawa Zeno bersama dengan mereka. Para nelayan itu takut kalau akan ada masalah yang menimpa mereka, namun Zeno berhasil meyakinkan mereka.


***


Sekitar satu jam berlayar, Zeno melihat pancaran lampu yang berasal dari gugusan pulau berpenghuni. Para nelayan tidak berani mendekat ke pulau tersebut karena penjagaan yang cukup ketat. Akhirnya Zeno pun diturunkan oleh mereka di pulau dekat dengan pulau berpenghuni itu.


"Hati-hati ya, Dek ... di pulau-pulau itu penjagaannya cukup ketat. Dari sini adek bisa menyusuri pulau mungkin sekitar satu kilometer hingga mencapai salah satu pulau berpenghuni terdekat," ujar bapak nelayan itu.


"Pak ... apa ada salah satu keluarga yang paling kaya dari pemilik pulau berpenghuni itu?" tanya Zeno. Dia berpikir musuh dari para mafia kaya raya itu pasti lah juga mafia yang tidak kalah kaya raya.

__ADS_1


"Kebetulan yang terdekat dari sini adalah pulau yang dimiliki keluarga paling kaya diantara pulau-pulau yang lain, kalau tidak salah yang punya itu adalah orang keturunan Inggris, Dek."


Zeno menganggukan kepalanya dan berterima kasih kepada para nelayan yang sudah berbaik hati mengantarkannya. Dengan berbekal senter yang diberikan bapak nelayan, dia menyusuri pulau yang gelap itu.


***


Zeno pun akhirnya sampai di tepian pulau, beruntung jarak antar kedua pulau tidak begitu jauh. Dia pun berenang untuk menuju pulau yang di indentifikasi milik keluarga Fox.


Baru saja sampai, kedua matanya sudah disuguhi pemandangan indah dari sebuah gerbang besar berlampu kelap kelip. Di atas gerbang itu pula ada sebuah tulisan 'Griffin Island'.


Griffin Island? Kalo gak salah Griffin ini adalah marga dari cowok yang namanya Fox itu. Gua yakin kalo dia ada hubungannya dengan semua ini, dia mencurigakan juga soalnya.


Dor!


Kedatangan Zeno disambut oleh suara tembakan yang mengarah ke langit. Suasana yang tadinya hening dan hanya terdengar suara deburan ombak, kini berubah menjadi bising karena suara yang keluar dari senjata api.


"Sial!"


Zeno berlari mencari tempat aman untuk menghindari beberapa orang yang mengejarnya. Dia berlari menuju arah hutan yang berada di belakang kediaman Fox.


Napasnya terengah, belum juga dia sempat beristirahat dari usai berenang -- kini dia pun harus berlari menyelamatkan diri agar tidak tertangkap.


Saat melihat tembok tinggi yang mengelilingi kediaman Griffin, Zeno berpikir untuk memanjatnya. Bagaimana pun caranya, dia harus masuk ke dalam rumah tersebut.


Akhirnya dia berhasil memanjat tembok tersebut dan sampai ke puncaknya. Begitu ingin melompat, ternyata di bawah sudah ada beberapa penjaga yang menunggunya dan siap menembak dirinya dengan timah panas.


Dengan cekatan, Zeno menghindari satu demi satu peluru yang mengarah padanya. Dia berjalan menyusuri puncak tembok yang hanya setebal kurang lebih sepuluh centimeter.


Matanya menangkap sebuah tumpuan yang bisa dia gunakan untuk melompat keatas genteng rumah mewah tersebut. Dengan cepat, Zeno melompat dan berhasil mendarat. Kini ruang geraknya lebih luas dan bisa berlari secepat mungkin.


Zeno melompat ke sebuah balkon yang ada di salah satu sudut bangunan itu. Dia menjebol kaca ruangan tersebut dengan tendangan kuatnya. Baru saja dia sampai di ruangan itu, kedatangannya sudah di sambut oleh Fox yang sedang duduk di sofa.


"Selamat datang ... Tuan muda kedua keluarga Sanjaya," sambut Fox sambil tersenyum tipis.


Zeno terkejut dengan sambutan dari Fox, dia tidak menyangka kalau Fox mengetahui jati dirinya yang sebenarnya.


"Tidak perlu terkejut ... silahkan duduk," Fox mempersilahkan Zeno untuk duduk di sofa yang berada tepat di hadapannya, "Aku sudah meminta anak buahku untuk tidak menyerangmu lagi," tambahnya.


Zeno berjalan perlahan dan mendudukkan dirinya ke sofa. Dia begitu heran, mengapa Fox tidak menyerangnya dan hanya menyuruhnya duduk.


"Ada apa kemari malam-malam begini? Kau bahkan datang dengan cara yang kurang sopan," sindir Fox.


"Apa Anda yang mengirimkan dokumen ke kedua keluarga itu dan menelepon Tuan Frans?" tanya Zeno to the point.


"Iya," jawab Fox santai.


"Mengapa Anda melakukan itu? Apa tujuan Anda sebenarnya?!"


Fox hanya tersenyum, dia melihat Zeno begitu emosional.


"Kenapa kau jadi repot begitu? Itu adalah urusan mereka ... aku rasa itu tidak ada hubungannya denganmu," seloroh Fox.


"Tentu ada! Anda membuat banyak orang yang tidak bersalah kehilangan nyawa. Keluarga sahabat saya pun dibantai habis!"


"Hahh ... aku tidak ingin ikut campur lagi dengan masalah kedua keluarga itu. Kau tahu, aku melakukan hal itu karena menginginkan satu hal. Namun, saat ini aku sudah tidak berselera lagi. Tadinya aku menganggap itu iseng-iseng berhadiah, tapi sekarang aku sudah sadar kalau usaha yang ku lakukan tidak ada gunanya. Kau boleh pergi, aku tidak akan menyusahkanmu. Anak buahku akan mengantarkanmu sampai ke daratan seberang," ucap Fox.

__ADS_1


Zeno menggertakan giginya dan mengepal tangannya erat. Kini dia bahkan beranjak dari tempat duduknya dan meraih kerah baju Fox dan menariknya.


"Anda menganggap enteng nyawa seseorang? Anda tahu tidak, sudah berapa nyawa yang menjadi korban keisengan Anda? Apa Anda tidak punya hati nurani dan akal sehat?!" Zeno makin mengencangkan tarikannya sehingga membuat Fox kesulitan bernapas.


"K-kau harusnya bisa menyadari siapa musuhmu yang sebenarnya," ucap Fox dengan suara sedikit tercekat.


Zeno melepaskan genggamannya dari kerah baju milik Fox, "Apa maksud Anda?"


Fox tertawa lirih, pria itu membenarkan pakaiannya yang sedikit berantakan karena Zeno.


"Kau cari tahu saja sendiri ... aku tidak ingin ikut campur lagi urusan itu," ucap Fox. Dia ingin lepas tangan begitu saja setelah apa yang telah dia lakukan.


Tiba-tiba dua orang berbadan tegap memegang kedua sisi tangan Zeno dan hendak menyeretnya keluar.


"Bawa dia ke seberang dan jangan sakiti dia. Dia cukup hebat, ambil senjatanya dan kerahkan dua puluh orang terbaik untuk mengawalnya," perintah Fox.


"Siap, Tuan!"


Zeno begitu kesal, namun dia tidak bisa berbuat apapun. Dia hanya bisa menatap Fox dengan tatapan tajam penuh kebencian.


"Sialan!" desis Zeno.


***


Setelah kepergian Zeno, Fox menghela napasnya kasar. Dia nampak menyesali perbuatannya itu. Obsesinya terhadap Jessie membuatnya menjadi hilang akal sehat. Namun, kalau bukan mendengar nasehat dari Tya, mungkin dia akan tetap menjadi orang yang tidak memiliki akal sehat sampai sekarang.


"Zeno ... kau pasti bakal tau sendiri jawabannya, berjuanglah sendiri. Aku tidak mau jadi anak durhaka," gumam Fox.


.


.


.


***


Next episode comming soon 😁👍


Zeno



Fox



Kuy mampirin novel-novel tamat yang kece badai dibawah ini hihi





__ADS_1



__ADS_2