Balas Dendam Bodyguard Kampungan

Balas Dendam Bodyguard Kampungan
Berangkat


__ADS_3

Zeno diseret paksa menuju kapal untuk diseberangkan. Lama-kelamaan, dia tidak melawan lagi dan hanya pasrah. Di dalam otaknya seraya berpikir, apa sebenarnya maksud dari apa yang disampaikan oleh Fox tadi. Musuhnya yang sebenarnya?


Setelah sampai di dermaga tempat dia memarkirkan mobilnya, dia langsung bergegas menaiki mobil dan pulang ke kediaman keluarga Wijaya. Dia memang sudah mengetahui kalau si pengirim dokumen adalah Fox, namun masih ada sebuah keraguan dibenaknya untuk menyampaikan hal tersebut kepada tuan Frans.


***


Zeno menuruni mobilnya yang sudah terparkir di dekat kandang Zaenudin. Dia berjalan melewati kediaman utama keluarga Wijaya untuk menuju paviliun timur -- ruang kerja tuan Frans. Setiap melewati kediaman utama, dia selalu mengingat Jessie.


Terbesit dalam pikirannya, bagaimana keadaan Jessie sekarang? Apakah gadis yang dia cintai itu sudah lebih baik?


Ingatan terakhirnya adalah saat bibir sang gadis pujaan hatinya sedang dipagut oleh pria lain. Namun, Zeno menyadari kalau Jessie tidak dapat berbuat apapun saat Key melayangkan ciuman itu. Dia tidak mau egois dan menyalahkan Jessie. Menurutnya, keadaan lah yang salah.


***


Waktu memang masih menunjukkan pukul empat dini hari, namun tuan Frans nyatanya masih berada di ruang kerjanya. Sepertinya, bos mafia itu tidak kenal istirahat.


Tok-tok-tok!


"Masuklah...."


Zeno memutar handle pintu dan melangkahkan kakinya ke dalam. Dia berjalan mendekati ayah dari gadis yang dia cintai itu.


"Bagaimana? Apa ada kabar baik? Kau sudah menemukan siapa pengirim dokumen dan penelpon misterius itu?" cecar Tuan Frans dengan pertanyaan beruntun kepada Zeno.


"Maaf, Tuan ... ternyata orang tersebut memang sangat pintar dan sulit dideteksi. Tidak ada jejak apapun yang ditinggalkan di lokasi-lokasi tersebut," ucap Zeno berbohong.


Tuan Frans menghela napasnya kasar, dia terlihat pasrah karena mendengar pernyataan dari Zeno.


"Berarti dia memang benar-benar musuh yang kuat. Semua anak buah terbaikku bahkan tidak bisa melacak jejaknya sama sekali," tutur Tuan Frans. Matanya menatap lekat pria tampan yang berada di hadapannya.


"Kau tidak usah khawatir ... aku tidak akan menyalahkan dirimu. Kau boleh istirahat sekarang, kita lupakan saja orang itu dan lebih fokus dengan pertahanan keamanan," tambah pria paruh baya itu.


"Baik, Tuan."


"Tugasmu sekarang adalah mengepalai semua bodyguard terbaik untuk berjaga di seluruh sisi kediaman ini. Sebentar lagi Jessie juga akan menikah dengan Key, sepertinya butuh penjagaan ekstra ketat. Tugasmu yang kedua adalah mengontrol keamanan di pesta pernikahan anakku yang akan dilangsungkan minggu depan," perintah Tuan Frans.


Deg!


Zeno tersentak, jantungnya tiba-tiba terasa sesak. Dia memang mengetahui kalau Jessie akan menikah dengan Key, tapi dia baru tahu kalau pernikahan itu akan berlangsung satu minggu lagi. Dia berpikir, ternyata dia akan benar-benar kehilangan gadis yang dicintainya itu dalam waktu dekat.


"Nak Zeno?" Tuan Frans berdiri dan mengibaskan tangannya di depan wajah Zeno.


Zeno terkejut dan langsung sadar dari lamunannya.


"Iya, Tuan! Siap!"


"Ha-ha-ha ... kau sepertinya sangat lelah, istirahatlah."


"Terima kasih, Tuan."


Zeno membungkukkan tubuhnya dan beranjak keluar dari ruang kerja tuan Frans. Hatinya sangat kalut saat itu.


.


.

__ADS_1


.


***


Setelah penyerangan di kediaman kakek Wiro, akhirnya Bambang dan kakek Wiro memutuskan untuk berangkat ke Jakarta. Bambang sudah bertekad untuk membalaskan dendam kepada tuan Kenan.


Rumah kakek Wiro terlihat porak-poranda dan berantakan pasca orang suruhan tuan Kenan datang menyerang. Karena hal itu, selama dua hari -- mereka tinggal di rumah Syala atau rumah bapak kepala desa. Syala memang anak kepala desa sekaligus murid dari kakek Wiro.


Selain karena rumahnya sudah berantakan, hal tersebut untuk keselamatan nyawa mereka. Takutnya, orang suruhan tuan Kenan akan kembali datang menyerang mereka.


Mereka berdua dipinjamkan motor oleh bapak kepala desa untuk berangkat ke Jakarta. Walaupun bukan kendaraan roda empat yang mewah, itu cukup untuk membantu mereka.


"Hati-hati dijalan," pesan Pak Kades.


"Terima kasih, Pak ... jasa bapak dan anak bapak akan selalu kami kenang," tanggap Bambang.


"Tidak masalah ... kakek Wiro sudah dianggap sebagai sesepuh di desa ini, jadi itu bukanlah apa-apa," seloroh Pak Kades.


Selepas berpamitan, Bambang sudah mantap berada diatas motor RX King milik bapak kepala desa. Namun, kakek Wiro belum kunjung muncul.


"Kemana juga si kakeknya Zeno ini? Apa jangan-jangan dia diserang lagi di rumahnya? Lagian ngapain juga pake acara pulang ke rumah segala," gerutu Bambang.


Jarak rumah kepala desa dan rumah kakek Wiro tidak terlalu jauh. Mungkin hanya berjarak kurang lebih lima ratus meter jika mengambil jalan pintas melewati pematang sawah. Biasanya, kendaraan tidak dapat lewat dan harus memutar lewat jalan lain yang lebih jauh.


Itu juga lah sebabnya, saat terjadi penyerangan -- para warga desa tidak tahu karena rumah kakek Wiro yang jauh dari pemukiman para warga.


Bambang akhirnya memutuskan untuk mengendarai motor menuju kediaman kakek Wiro, walaupun jarak yang ditempuh lebih jauh.


***


"Kek? Kakek Wiro?" panggil Bambang.


Tak ada jawaban apapun.


Bambang makin curiga dan beringsut memasuki pintu utama. Suasana masih lengang dan rumah masih terlihat porak-poranda. Tiba-tiba terdengar suara pekikan keras yang membuat Bambang terlonjak kaget.


"Aduh!"


Bambang yakin sekali kalau itu adalah suara kakek Wiro. Dia pun segera berlari menuju sumber suara. Ternyata sumber suara tersebut berasal dari kamar milik kakek Wiro.


Brak!


Bambang mendobrak pintu dengan ala-ala pemeran utama film action.


"Kakek!" teriak Bambang.


Kepanikan Bambang seketika hilang saat melihat kakek Wiro tidak apa-apa. Bambang memasang wajah datar ketika melihat kakek tua itu memegang pipinya dengan tangan kiri dan memegang sebuah alat dengan tangan kanannya. Alat itu diidentifikasi adalah sebuah catokan rambut.


"Aelah ... kirain ada apaan ..." ucap Bambang sambil geleng-geleng kepala.


"Sakit loh ini kena catokan pipinya, hu-hu," keluh Kakek Wiro sambil terus memegang pipinya.


"Lagian ngapain sih pake catok-catok rambut?!" Bambang merasa kesal karena kekhawatirannya sia-sia.


"Ya kita kan mau ke Jakarta ... Kakek harus gaul dan berpenampilan kece badai. Padahal habis nyatok rambut, Kakek mau cat rambut," jelas Kakek Wiro.

__ADS_1


"Astogeh! Kakek!!!" pekik Bambang.


***


Drama itu tidak berlangsung lama, setelah Bambang datang -- kakek Wiro tidak melanjutkan aktivitas tidak pentingnya itu. Mereka pun memulai perjalanan panjang menuju Jakarta.


Bambang memutuskan untuk datang ke rumah Nafa. Dia berpikir, satu-satunya orang yang bisa membantunya adalah gadis itu.


"Kita bakal langsung ketemu Zeno, gak?" tanya Kakek Wiro.


"Zeno biar fokus dengan urusannya dulu, Kek ... ternyata dua keluarga besar itu gak ada yang bener," jawab Bambang.


"Oke! Kuy lah! Yang penting ke Jakarta!" teriak Kakek Wiro girang.


"Ck-ck-ck ... kayak gak pernah ke Jakarta aja," decak Bambang.


Bambang melajukan kencang motornya. Walaupun suaranya cukup berisik, motor itu cukup kencang dibawa melaju pada kecepatan maksimal.


.


.


.


***


Next episode comming soon 😁👍


Zeno



Bambang



Kakek Wiro



Motor RX King



Dan kuy sempatin baca novel-novel dibawah ini. Ada novel author dan sahabat author yang kece badai loh 😁👍






__ADS_1



__ADS_2