
Pagi itu, sebelum menemui Bambang -- Zeno terlebih dahulu menemui Tuan Kenan di kediamannya. Bodyguard tampan itu terlihat sangat panik setelah membaca isi dokumen yang diberikan oleh Tuan Frans semalam.
Zeno melajukan kencang mobilnya menuju kediaman keluarga Sanjaya. Dia meminta izin kepada Tuan Frans untuk keluar dari kediaman Wijaya, guna melakukan penyelidikan mengenai dari mana asal sumber dokumen tersebut. Beruntung ayah dari Jessie itu menyetujuinya.
Zeno sengaja memakai pakaian casual dan tidak terlihat seperti seorang bodyguard, walaupun dia tetap memilih jas yang dipadukan dengan kaus hitam menutupi leher sebagai outfit-nya. Dengan bermodalkan pakaian yang pernah diberikan oleh Jessie, dia terlihat tampan dan sempurna.
Mata para pelayan keluarga Sanjaya tertuju pada Zeno yang baru saja turun dari mobil SUV mewahnya. Pesona pria dua puluh lima tahun itu mampu menyihir para pelayan wanita yang sedang sibuk mengerjakan tugasnya, sehingga mereka terhipnotis dan reflek meninggalkan pekerjaannya.
Gua heran ... tiap lewat dikerumunan yang banyak ceweknya, pasti reaksinya aneh kayak gitu.
Para pelayan dan beberapa bodyguard menyambut kedatangan Zeno dengan hormat. Desas-desus tentang Zeno merupakan tuan muda kedua di klan Sanjaya sudah tersebar secara internal. Namun, Tuan Kenan sendiri belum pernah mengumumkannya secara resmi. Dia masih membutuhkan Zeno untuk memberikan informasi mengenai kegiatan dari musuhnya sekaligus calon besannya itu, apalagi semua mata-mata yang dia kirim -- sudah terlanjur dia habisi nyawanya.
***
Zeno menemui Tuan Kenan di ruang kerjanya. Dia memberitahu mengenai isi dokumen yang dikirim kepada Tuan Frans. Namun, Zeno terkejut ketika seseorang yang merupakan adik ayahnya itu, juga memiliki dokumen yang sama.
"Bagaimana bisa ada dokumen yang sama ditangan, Om?" tanya Zeno.
"Ada seseorang yang berusaha membongkar rahasia balas dendam kita, Zen," jawab Tuan Kenan sembari menghela napas kasar. Pria paruh baya itu nampak berpikir keras siapa orang yang berani-beraninya mempermainkan dirinya.
"Kalau terbongkar sebelum rencana balas dendam berhasil, semua akan sia-sia saja," imbuh Tuan Kenan.
"Apa tidak bisa dipercepat, Om? Aku takut, kalau terlalu lama nanti rencana kita bisa terendus oleh Frans." Zeno mencoba memberikan pendapatnya.
"Tunggu sampai Key siuman dan berhasil menikah dengan Jessie. Setelah itu, kita jalankan rencana kita. Apa kau ingin membunuh Frans dengan tanganmu sendiri?" Tuan Kenan menatap Zeno dengan pandangan penuh selidik, dia masih meragukan niat balas dendam pemuda yang merupakan keponakannya itu.
Semenjak mengetahui jati diri Zeno, dia selalu mengawasi gerak-gerik keponakannya itu melalui mata-matanya. Pria paruh baya itu pun tahu, kalau Zeno memiliki hati kepada calon menantunya -- Jessie. Entah apakah Key juga mengetahui hal itu atau tidak?
Deg!
Pernyataan Tuan Kenan membuat jantung Zeno terasa seperti dikejutkan benda beraliran listrik. Memikirkan Key akan menikah dengan Jessie itu sungguh membuatnya sakit, walaupun dia sudah berusaha merelakan perasaannya.
Timbul dibenaknya bayangan Key akan melakukan hubungan suami-istri setelah menikah dengan Jessie. Hatinya semakin teriris saat memikirkan lebih dalam. Itu belum terjadi tapi sakitnya sudah terasa sangat nyata menggores hati sang bodyguard yang tadinya kampungan itu.
"Zen ... Zeno!" Tuan Kenan menjentikkan jarinya didepan wajah Zeno.
"Ah! Maaf, Om!" Zeno mengerjapkan matanya karena terkejut. Lamunan melankolis yang terbersit membuat dirinya seperti orang bodoh dihadapan pamannya itu.
"Jadi? Kau mau aku yang bertindak atau kau yang bertindak dengan dukungan dariku?" tanya Tuan Kenan sekali lagi.
Zeno memantapkan hatinya sebelum menjawab pertanyaan dari Tuan Kenan. Dia harus benar-benar membuang perasaan iba-nya kepada pria yang telah membunuh kedua orangtuanya, walaupun sudah pasti perbuatannya itu akan membuat gadis yang dicintainya dirundung kesedihan.
"Biar aku saja yang menghabisi nyawanya dengan tanganku sendiri, Om!" ucap Zeno tegas.
"Baiklah ... semoga saja Key bisa cepat sadar dan menikahi putri Frans. Di hari pernikahan itu, dia harus menebus semua dosa-dosanya dengan nyawanya. Jangan sampai publik tahu kalau pihak kita yang membunuhnya, kita harus bermain secantik mungkin," seloroh Tuan Frans sembari tersenyum tipis.
Zeno mengiyakan saran dari pamannya itu. Setidaknya, walaupun Tuan Frans mati -- Jessie masih bisa hidup bahagia. Dia berpikir, ada Key yang sangat mencintainya dengan tulus.
__ADS_1
Setelah balas dendam, dia pun memutuskan untuk menghilang selama-lamanya dari kehidupan gadis yang cintai dan keluarga yang baru dia temui. Zeno hanya ingin kembali hidup tenang di desa dengan Kakek Wiro dan melupakan semuanya.
"Semua mata-mata yang Om kirim sudah tewas, kecuali satu orang yang bernama Bambang," ucap Zeno tiba-tiba. Menyampaikan hal ini juga menjadi salah satu prioritas utama saat bertemu dengan Tuan Kenan.
"Aku yang membunuh mereka semua," sahut Tuan Kenan enteng.
Zeno membelalakkan matanya, dia tidak percaya kalau pamannya bahkan tega menghabisi nyawa orang yang berada dalam pihaknya.
"Kenapa?! Bukannya mereka adalah orang-orang yang berada didalam pihak, Om?"
"Aku tidak mau ambil resiko ... lebih baik aku bungkam mereka sebelum Frans mengorek semua informasi dari mereka dan sekarang aku harus mencari yang bernama Bambang untuk membunuhnya." Tuan Kenan menyenderkan punggung di kursi kebesarannya, matanya tajam menatap Zeno yang masih terkejut mendengar kenyataan yang telah dia akui.
"Jangan bunuh Bambang! Lebih baik kita lindungi dia," pinta Zeno dengan raut wajah serius sedikit memohon.
"Kenapa?"
"Bambang adalah sahabatku, Om ... dia juga sangat setia. Tolong jangan bunuh dia," pinta Zeno sekali lagi.
Tuan Kenan nampaknya memikirkan permintaan dari Zeno. Dia tersenyum mengangkat sebelah bibirnya dan mengatakan sesuatu yang membuat Zeno lega. Pria paruh baya itu menyetujui permintaan Zeno dengan sebuah syarat.
"Dia tidak akan ku bunuh tapi dia harus pergi menjauh dari sini dan jangan pernah muncul lagi, atau operasi plastik saja sekalian," tukas Tuan Kenan. "Memangnya kau tahu di mana dia?" tanyanya.
"Aku tahu, Om."
"Baiklah ... temui dia dan sampaikan pesanku kepadanya."
Zeno tidak mau ambil resiko dengan menawar lagi. Nyawa Bambang diampuni saja sudah merupakan berita yang baik baginya. Akhirnya Zeno pun berpamitan untuk menemui Bambang.
"Jangan lupa juga selidiki siapa orang yang telah mengirimkan dokumen ini," ucap Tuan Kenan. Ucapan itu sontak memberhentikan langkah Zeno yang hampir sampai diambang pintu.
"Baik, Om!" sahut Zeno sembari membalikkan badannya kearah pamannya itu.
***
Sementara itu, mobil Nafa telah terparkir di tempat yang telah ditentukan untuk bertemu Zeno. Mereka berempat nampak jenuh menunggu Zeno yang tak kunjung datang.
"Temen lo itu niat gak, sih?! Lama banget!" ketus Nafa yang terlihat kesal.
"Tunggu aja bentar lagi, ya ... Nona Nafa yang cantik sejagad hutan," sahut Bambang sembari mengulas senyuman manis.
Nafa tersenyum tipis tapi tiba-tiba raut wajahnya berubah menjadi masam dan langsung menjitak kepala Bambang.
Pletak!
"Aw! S-sakit! Bisa gak sih jangan bar-bar!" protes Bambang.
Nafa memalingkan wajahnya dari Bambang, gadis itu terlihat kesal karena dibilang paling cantik sejagad hutan. Padahal yang tinggal di hutan adalah berbagai macam jenis binatang.
Kelakuan mereka berdua tidak dipedulikan oleh Young Flash dan Depe. Mereka berdua bertambah mesra seiring berjalannya waktu. Hal itu membuat Bambang dan Nafa merasa kesal.
__ADS_1
"Kalo mau mesra-mesraan jangan di mobil gua!" pekik Nafa sambil menoleh kebelakang.
"Kalo iri kan bisa mesra-mesraan dengan si Bambang," celetuk Depe yang tidur-tiduran dipangkuan Young Flash sambil saling pandang dengan pria lincah idamannya itu. Memang tidak berakhlak sekali.
"Cih!" Nafa sangat kesal dan melipat kedua tangannya sambil bersandar di jok mobil.
"Kamu juga mau aku sayang kayak gitu?" goda Bambang sambil terkekeh geli.
"Ogah!"
Perdebatan itu berhenti ketika Zeno sampai di lokasi tempat mereka bertemu. Zeno nampak mengetuk kaca jendela mobil yang ditumpangi Bambang itu. Nafa yang melihat ketampanan Zeno pun langsung terpukau. Dia hendak menggoda Zeno tapi dilarang oleh Bambang.
"Jangan ganggu ini lagi genting!" Bambang memperingatkan Nafa sebelum turun menemui Zeno.
***
Zeno mengajak Bambang untuk berbicara empat mata di dalam mobilnya. Tanpa basa-basi, Zeno memberitahu pesan dari Tuan Kenan. Awalnya Bambang merasa tidak terima karena diminta untuk pergi menjauh. Namun, Zeno kembali meyakinkan sahabatnya itu.
"Ini demi keselamatan lo, Bang." Zeno menatap lekat wajah Bambang dengan raut wajah serius.
Bambang membuka topi capingnya dan mengacak rambutnya. Dia sungguh frustasi dengan kesepakatan yang telah dibuat oleh Zeno dengan Tuan Kenan. Tapi dia paham kalau itu demi kebaikannya.
"Oke ... tapi anterin gua ke rumah gua dulu, Zen ... gua mau ketemu orang tua gua sebelum bener-bener pergi menjauh," pinta Bambang.
Zeno menganggukan kepalanya, mungkin hanya ini yang bisa dia lakukan untuk membantu sahabatnya.
"Mereka gimana? Diajak juga?" tanya Zeno.
"Gak usah, Zen ... gua gak mau banyak orang terlibat," jawab Bambang.
"Oke." Zeno mengiyakan permintaan Bambang.
Bambang memakai topi capingnya kembali, dia meminta Zeno untuk menunggunya untuk berpamitan sebentar kepada teman-teman yang telah membantunya itu.
***
Next episode comming soon 😁👍
Sembari menunggu up nya kuy mampir ke novel author yang satunya hehe
Menikah Karena Skandal - Linanda Anggen
Dan novel temen author yang super kece badai ini 😁👍
Elleana And The King Of Mafia - Ranty Yoona
__ADS_1