Balas Dendam Bodyguard Kampungan

Balas Dendam Bodyguard Kampungan
Let's go


__ADS_3

Young Flash dan Depe berlari kecil menyusuri hutan. Mereka berlari sambil bergandengan tangan, entah mengapa pasangan yang belum genap satu hari itu terlihat mesra dan kompak. Mungkin mereka memang sudah berjodoh dari orok, sehingga baru ketemu langsung klik.


Selain lincah dan berbulu, Young Flash juga memiliki indera penciuman yang cukup tajam. Dia mencari keberadaan Bambang dengan mengendus bau yang diidentifikasi adalah bau teman masa kecilnya. Pencariannya dipermudah karena ada jejak bau darah milik Bambang yang tercecer di tanah.


"Kamu ada keturunan siluman anjing, ya?" tanya Depe dengan polosnya.


"Bukan ... aku keturunan serigala. Karena aku adalah ganteng-ganteng serigala. Berbulu dan lincah serta bergetar," jawab Young Flash asal sembari berjalan menunduk dan masih mencari asal bau darah yang tercecer.


Jawaban Young Flash yang asal malah membuat Depe makin kagum dan ingin cepat dihalalkan oleh pria yang berada dihadapannya.


"Cepet halalin aku!" Depe tiba-tiba melompat ke punggung Young Flash dan menempel bagai monyet.


Young Flash menegakkan tubuhnya, pria itu menoleh kearah belakang dan memegang pinggang Depe dengan erat serta memutar Depe hingga berpindah ke tubuh bagian depannya. Depe yang bertubuh mungil itu akhirnya berada dalam dekapannya. Entah bagaimana caranya sepertinya ribet sekali, ya sudahlah pokoknya begitu.


"Sabar ... aku pasti akan halalin kamu dengan cara yang gak biasa," bisik Young Flash sambil mendekap erat tubuh Depe.


Wajah Depe bersemu merah karena malu. Dengan sendirinya wanita itu menurunkan tubuhnya dari pria yang diklaim calon suaminya itu.


***


Setelah sekitar satu jam, mereka akhirnya menemukan gubuk milik Nafa. Pria lincah itu yakin kalau Bambang berada di sana, karena bau tubuh Bambang menyeruak di inderanya penciumannya.


"Dia pasti di sana," tunjuk Young Flash kearah gubuk milik Nafa.


Dengan cepat pasangan itu berlari menuju gubuk milik Nafa.


Tok-tok-tok!


"Punten ... gopud." Young Flash mengetuk pintu gubuk sambil bersandiwara sebagai abang-abang driver ojek online. Memang di hutan ada?


Kriet!


Nafa membuka pintu gubuknya dengan tanpa curiga. Gadis itu nampaknya sangat lelah dan mengucek-ngucek matanya yang terlihat sudah memerah.


"Siapa, ya?"


"Saya nganterin pesenan gopud, Mbak."


Depe yang berada dibelakang punggung Young Flash tak kuasa menahan tawa. Dia memalingkan wajahnya agar tidak terlihat oleh Nafa.


"Saya gak inget kalo pesen ... tapi saya laper, sih," ucap Nafa disela-sela rasa kantuk yang sudah menyerang.


Tiba-tiba akal sehat Nafa kembali, dia sadar kalau sudah ditipu.


"Siapa kalian?!"


"Maaf, Mbak ... apa di dalam ada pria yang terkena luka tembak? Saya temannya dan ini adalah ponselnya yang terjatuh di pinggir hutan." Dengan cepat Young Flash menunjukkan ponsel milik Bambang kepada Nafa.


Alis Nafa bertaut, gadis itu memperhatikan penampilan Young Flash dan Depe dari atas kebawah.


"Masuk."


Nafa mempersilahkan mereka berdua untuk masuk kedalam gubuknya. Baru saja masuk, mereka berdua melihat Bambang yang sedang asyik bermain game cacing di ponsel milik Nafa sambil berbaring di atas ranjang. Karena hanya game itu yang bisa dimainkan saat offline di ponsel milik Nafa.


"Bambang!" pekik Young Flash yang seraya berlari kearah Bambang.


Pria lincah itu langsung memeluk Bambang dengan erat, namun langsung ditepis oleh Bambang yang merasa geli.


"Ish! Ngapain peluk-peluk?! Tadi aja gua kejer kabur ... sekarang malah nyamperin gua," protes Bambang.

__ADS_1


"Nyawa lu dalam bahaya, Bang." Young Flash to the point menyampaikan maksudnya.


"Maksudnya?" Dahi Bambang berkerut mendengar penuturan dari Young Flash.


"Ish! Masa gak nyambung, sih! Lu aja udah kena tembak masa gak sadar kalo dalam bahaya!" sergah Young Flash.


"Santuy ... iya gua tau kalo gua barusan kena tembak tapi gua bingung siapa orang yang ngejer-ngejer gua itu?" Bambang mengelus dagunya seraya berpikir.


"Tadi hape lu ada yang nelpon, Bang ... dia bilang kalo lu jangan balik ke kediaman keluarga Wijaya karena lu udah ketauan dan dia nyuruh lu sembunyi." Young Flash mencoba menjelaskan apa yang telah didengarnya tadi.


"Siapa yang nelpon?" tanya Bambang penasaran.


"Dia gak bilang soalnya pas gua telpon balik udah gak aktif nomornya," jawab Young Flash.


Bambang mengangguk-anggukan kepalanya, dia yakin kalau orang yang telah meneleponnya adalah Zeno. Dia terburu-buru mengambil ponselnya dan mencatat nomor Zeno di ponsel milik Nafa.


"Makasih hapenya ... tapi ini hape ada alat pelacaknya. Kalo memang mereka mau bunuh gua, pasti bakal terus mantau di mana posisi gua lewat hape ini," seloroh Bambang.


"Waduh! Kok lu gak bilang dari tadi 'sih, Bang! Bahaya banget kalo sampe ketauan, bisa-bisa gua juga ikut-ikutan dibunuh," ujar Young Flash bergidik ngeri.


Nafa yang mendengar hal tersebut pun menyerobot ponsel milik Bambang yang ada di tangan pemiliknya. Dia mengambil sebuah palu dan memukul ponsel Bambang sampai hancur berkeping-keping. Ketiga orang yang di sana hanya terdiam sambil menganga melihat prosesi penghancuran ponsel itu.


"Kenapa lo ancurin hape gua?!" pekik Bambang.


"Dari pada ketauan ... nanti gubuk gua diserang, kan males banget," sahut Nafa tanpa rasa bersalah.


"Itu 'kan bisa dibongkar terus dibuang chip-nya! Ngapa malah lo ancurin?!"


Bambang merasa kesal dan marah besar kepada Nafa. Namun, dia mengingat kalau Nafa lah penyelamat nyawanya. Dia juga tidak jadi marah karena melihat wajah memelas gadis seksi yang berprofesi sebagai dokter bedah itu.


"G-gua minta maaf ... jangan marah." Nafa menunduk dan tak berani menatap wajah Bambang.


"Santai aja ... tapi gua gak punya utang lagi ya?" Bambang memanfaatkan kesempatan ini untuk bernegosiasi dengan Nafa.


"Oke, deh!" Walaupun sedikit terpaksa, Nafa menyetujui tawaran Bambang.


Tiba-tiba Young Flash mengambil kepingan ponsel milik Bambang dan menaruhnya pada suatu mangkuk yang ditemukannya.


"Mau ngapain, lu?" tanya Bambang.


"Dibuang, dong! Walaupun hape lu rusak kan chip-nya masih bisa dilacak."


Young Flash pergi keluar untuk membuang ponsel Bambang yang sudah hancur itu. Dia menyuruh Depe untuk tetap didalam gubuk karena hari sudah malam dan dia tidak ingin wanita yang dicintainya bertambah capek.


"Besok kita temuin temen gua dulu, tapi gak mungkin kalo ngehubungin dia pake ponsel lu. Nanti kalo kelacak bisa gawat," tutur Bambang.


"Aish! Santuy ... hape gua ada sepuluh, ntar tinggal dibuang aja," jawab Nafa santai.


Bambang membelalakkan matanya karena merasa tak percaya. Namun, akhirnya dia menelepon Zeno dan berjanji untuk bertemu keesokan harinya.


.


.


.


***


Keesokan paginya, mereka berempat bersiap untuk pergi dari gubuk itu. Beruntung, Nafa mempunyai mobil sehingga memudahkan mereka untuk bepergian kemana-mana. Mobil Nafa juga sungguh di luar nalar karena gadis itu memiliki mobil yang termasuk dalam kategori mewah. Mobil yang dimiliki Nafa adalah mobil SUV mewah, Maserati Levante Trofeo -- dimana, mobil itu menggunakan mesin V8 3.800 cc twin turbo dengan kekuatan 590 hp, yang seharga USD 169.980 atau sekitar Rp 2,4 Miliar.

__ADS_1



Young Flash dan Depe yang sampai terlebih dahulu terkejut, karena gadis yang tinggal di hutan seperti Nafa -- memiliki mobil semewah itu. Mereka berdua pun menunggu Bambang yang sedang dibantu Nafa untuk melakukan penyamaran, sambil mengagumi mobil mewah tersebut.


Tak lama kemudian, Bambang dan Nafa pun sampai. Bambang sudah menyamar dengan maksimal, dia menggunakan topi caping dan kacamata gaya berwarna kemerahan.



"Gile ... lu mau nyamar apa mau jadi petani di era digital?" tanya Young Flash.


"Gua mau nyamar yang beda karena gua bosen yang biasa," jawab Bambang santai.


"Kayak iklan aja, lu!"


"Ayo buruan! Nanti keburu orang-orang yang ngejer lo dateng lagi," ajak Nafa yang sudah bersiap menaiki kursi kemudi mobilnya.


Sebelum itu, gantian Bambang yang terperangah dengan kemewahan mobil Nafa.


"Aje gile! Ini mobil keren banget! Jangan-jangan lu tinggal di hutan karena pesugihan, ya?" tanya Bambang asal.


Pletak!


Nafa menjitak kepala Bambang karena menebar hoax.


"Gosah fitnah! Buruan naik!"


Akhirnya mereka berempat menaiki mobil milik Nafa. Mereka sudah duduk manis tapi Nafa tak kunjung menjalankan mobilnya.


"Kok gak jalan-jalan?" tanya Bambang yang duduk disebelah Nafa.


"Emang kita mau ke mana?" Nafa sepertinya lupa tujuan mereka.


"Nemuin temen gua, lah!" sahut Bambang.


"Oke! Let's go!"


Mereka berempat pun berangkat untuk menemui Zeno.


.


.


.


***


Next episode comming soon 😁👍


Sembari nunggu up ... kuy baca novel temen-temen author yang gak kalah kece 😁👍


Ketulusan Cinta Wisnu - Syala Yaya



Cintaku Pembunuh Kekasihku - shanty fadillah



Dipaksa Arus Kehidupan - Asabernisletih

__ADS_1



__ADS_2