Balas Dendam Bodyguard Kampungan

Balas Dendam Bodyguard Kampungan
Pengakuan


__ADS_3

Zeno kembali ke ballroom hotel. Dia mencoba bersikap sewajarnya dan profesional sebagai bodyguard. Mungkin hari ini adalah hari terakhir baginya untuk bisa bertugas sebagai bodyguard. Selepas menjalankan rencananya, dia berencana akan pergi menjauh selamanya.


Zeno memantapkan hatinya dan menghembuskan napas perlahan, sebelum melangkah masuk. Dia akan melihat lagi gadis yang dicintainya, tapi dalam status yang berbeda. Jessie kini sudah sah menjadi istri dari Key.


***


Sementara itu, Bambang dan Nafa datang dengan gaya penyamaran mereka. Bambang berjalan dengan tongkat dan diiringi oleh Nafa dari belakang. Penampilan mereka berdua memang sungguh mencolok, karena kebanyakan yang datang adalah pasangan suami-istri. Ini aneh, yang datang seorang kakek-kakek dengan pria pendek.


Sesaat sebelum memasuki ballroom, mereka dihentikan oleh beberapa penjaga pintu untuk dilihat undangannya.


"Maaf ... boleh saya lihat undangannya?"


Nafa menyerahkan kertas undangan yang dia bawa. Ada perasaan was-was karena takutnya mereka akan ketahuan.


Penjaga itu melihat undangan dan mencocokkannya dengan daftar nama tamu yang sudah diberikan.


"Siapa Tuan Joe Ericsson?" tanya penjaga itu.


"Saya, Joe!" tegas Nafa, "Ini kakek saya Jordy Ericsson, dia bosan di rumah dan ingin ikut pesta katanya," tambahnya.


Para penjaga itu saling berbisik dan setelah beberapa saat, mereka dapat masuk kedalam. Sebelum itu, mereka masing-masing diberikan sebuah pin penanda kalau mereka adalah tamu pesta tersebut.


"Untung aja kita berhasil," desis Bambang.


"Nafa gitu, loh ..." tanggap Nafa dengan suara berbisik.


Bambang dan Nafa datang kesana bertujuan untuk menggambar situasi di tempat resepsi pernikahan itu. Sebelum mereka menyerang, mereka harus tahu bagaimana sistem keamanan dan situasi disana.


Tujuan mereka yang lain adalah mencari Zeno dan memberitahu kebenaran kepadanya.


Bambang mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Dia berharap bisa menemukan sosok Zeno disana. Akhirnya, dia menemukan Zeno yang sedang berdiri di salah satu sudut ruangan.


"Gua udah ngeliat Zeno, lu tunggu sini," bisik Bambang ke Nafa.


"Semoga berhasil," desis Nafa.


Bambang hendak berjalan cepat, namun dia terhalang oleh penyamarannya sebagai kakek-kakek. Dia harus jalan perlahan menggunakan tongkatnya.


"Ish! Nyamar jadi kakek-kakek bikin repot aja," gerutu Bambang. Dia menggerutu dengan volume suara yang sungguh kecil.


Bambang hampir sampai mendekati Zeno, namun pria tampan itu malah berlari menuju arah luar pintu ballroom hotel.


"Aelah ... kok dia malah kabur, sih! Gua udah susah payah jalan pura-pura pincang juga," gumam Bambang mengeluh.


Tiba-tiba ada seseorang yang menepuk pundak Bambang, sehingga membuatnya kaget setengah mati.


"Astogeh!" teriak Bambang. Dengan segera dia menutup mulutnya rapat-rapat.


"Ada apa, Kek? Ada yang perlu saya bantu?" tanya orang yang barusan membuatnya kaget. Ternyata itu adalah salah satu bodyguard yang berjaga.


"Ti--tidak ada, Nak ... kakek cuma mau ke kamar mandi, mau pipis," jawab Bambang dengan suara dibuat serak.

__ADS_1


"Mari saya antar, Kek ...."


"Tidak usah! Saya tidak nyaman! Saya takut kamu culik," tolak Bambang. Dia langsung menjauh dan berusaha menghindar.


Bodyguard itu hanya mengerutkan dahinya karena merasa aneh dengan perkataan Bambang. Namun, dia tidak curiga sama sekali. Dia berpikir kalau Bambang adalah kakek-kakek yang sedang PMS.


***


Bambang berjalan keluar dari ballroom. Dia berusaha mencari kemana perginya Zeno. Dia menyusuri sebuah koridor sepi yang menuju kolam renang hotel tersebut. Entah kenapa dia berpikir kearah sana.


Tanpa sengaja, dia malah melihat sosok gadis yang dia kenal sedang berdiri di tepian kolam renang. Ternyata itu adalah Kyla.


Gadis itu merentangkan kedua tangannya dan memejamkan matanya. Sepertinya, dia ingin menceburkan dirinya ke kolam renang yang ada dihadapannya.


Dengan kecepatan penuh, Bambang berlari kearah Kyla. Dia takut akan terjadi hal buruk pada gadis itu. Bagaimana jika dia mati tenggelam di dalam kolam?


Grep!


Bambang meraih lengan Kyla dan menarik gadis itu ke dalam dekapannya.


"Jangan melukai diri sendiri!" teriak Bambang.


Kyla yang masih berada dalam dekapan Bambang hanya membelalakkan matanya karena terkejut. Dia langsung mendorong Bambang menjauh dari tubuhnya.


Kyla memicingkan matanya dan memperhatikan penampilan Bambang dari atas kebawah. Dia masih mengenali pria yang berada dihadapannya walaupun dalam penampilan berbeda.


"Bambang?"


"Gampang banget ngenalin lo. Mau lo operasi plastik sekalipun, gua masih bisa kenal lo," jawab Kyla.


Bambang menautkan kedua alisnya, dia tidak paham apa maksud dari Kyla.


"Lo tau kenapa?"


Bambang hanya diam, dia bingung harus menjawab apa.


Kyla menunjuk ke dadanya, mata gadis itu berkaca-kaca, "Hati gua yang bisa mengenali lo, Bang," ucapnya lirih.


Bambang tersentak, dia tidak menyadari sudah menyakiti hati Kyla begitu dalam. Hatinya terasa sakit saat menatap wajah gadis cantik itu sudah dipenuhi oleh air mata. Apa mungkin penolakannya tempo hari membuat Kyla jadi sangat frustasi?


"Pergi! Gua gak mau liat lo lagi! Lagian kalo gua mati, gak ada hubungannya dengan lo. Kenapa juga lo pake acara narik lengan gua?" hardik Kyla.


Kyla berjalan kearah kolam renang perlahan, dia ingin melanjutkan aksinya. Namun, Bambang berlari dan meraih kembali lengan Kyla.


"Siapa bilang saya gak bakal sedih kalo Non Kyla mati? Siapa bilang semua ini gak ada hubungannya dengan saya? Saya akan hancur kalau Non Kyla kenapa-kenapa," Bambang berkata dengan mata berkaca-kaca.


Akhirnya, Bambang menyadari perasaannya kepada Kyla. Dia sejenak melupakan segala dendamnya kepada ayah dari gadis yang dicintainya.


Bambang mendekatkan wajahnya ke wajah Kyla. Dia mendaratkan ciuman ke bibir mungil milik Kyla.


Kyla tidak menolak, dia malah membalas ciuman dari Bambang. Mereka berciuman dengan berurai air mata. Ciuman itu sebuah pengakuan kalau Bambang benar-benar mencintai Kyla.

__ADS_1


Perlahan Bambang melepaskan ciumannya, dia menatap lekat mata Kyla dan mengusap perlahan jejak air mata yang membasahi pipi mulus sang gadis.


"Saya memang mencintai Non Kyla. Tapi maaf, saya harus balas dendam dengan tuan Kenan. Dia sudah banyak menyakiti orang termasuk Zeno dan Nafa."


Dahi Kyla berkerut, dia tidak begitu paham dengan apa yang diucapkan oleh Bambang.


Bambang akhirnya menjelaskan secara detail tentang perbuatan tuan Kenan selama ini. Awalnya Kyla tidak percaya kalau ayahnya setega itu. Namun, pada akhirnya dia mengerti apa yang dirasakan oleh teman-temannya.


"Lakuin yang terbaik, kalau memang ayah gua bersalah -- gua gak keberatan kalau dia dihukum dan menebus semua kesalahannya," ucap Kyla. Walaupun berat, tapi dia harus ikhlas.


Bambang mengangguk pelan, dia memegang kedua pipi Kyla dan mencium kening gadis itu.


"Saya cinta sama, Non ... Non Kyla mau kan jadi pendamping hidup saya nanti?" tanya Bambang memberanikan diri.


Kyla menganggukan kepalanya, air matanya keluar lagi dan bertambah deras. Hari ini dia sangat bahagia, walaupun ada sesuatu yang harus dia korbankan.


"Gua juga cinta lo, Bang! Cinta banget," Kyla memeluk Bambang erat.


Akhirnya, cinta juga lah yang menang. Mungkin butuh sebuah pengorbanan dan kadang sempat menyakitkan. Namun, yakinlah akan indah pada waktunya.


Apakah kisah cinta Zeno dan Jessie akan indah pada waktunya juga?


.


.


.


***


Next episode comming soon 😁👍


Zeno



Jessie



Bambang



Kyla



Hayo mampir novel milik Kak Syala Yaya yang mantul 😁👍


__ADS_1


__ADS_2