
"Kapan saya malu-maluin, Non?" tanya Bambang dengan wajah tak bersalah.
"Ya, sekarang lo itu malu-maluin, Bambang!"
Kyla yang merasa malu pun langsung berlari meninggalkan Bambang.
Bambang terheran dan garuk-garuk kepala.
Ceklek!
Zeno keluar dari kamarnya karena keributan tersebut. Zeno pun terheran melihat penampilan dari Bambang.
"Astaghfirullah, Bambang! Ngagetin! Gua kira orang mesum dari mana," celetuk Zeno.
"Sembarang basing! Masa tampan kayak gini dibilang orang mesum! Lo itu yang mesum barusan!" pekik Bambang tidak terima.
Zeno pun langsung membekap mulut Bambang dan mengangkat Bambang layaknya karung beras. Zeno membawa Bambang masuk ke dalam kamarnya dan melemparkannya ke kasur.
"Diem lo! Awas kalo sampe ember mulutnya!" ancam Zeno sembari berjalan keluar kamar.
Brak!
"Astogeh! Punya kawan galak amat," gumam Bambang.
.
.
.
***
Keesokan harinya, akhirnya mereka memutuskan untuk pulang ke Indonesia. Mereka tidak jadi jalan-jalan karena authornya malas buat adegannya. Maafkan author yang pemalas ini, He-he.
Selepas perginya mereka, ternyata ada seorang pelayan yang menemukan potret keluarga milik Zeno yang tertinggal di kamarnya. Potret keluarga tersebut akhirnya diberikan kepada kepala pelayan, yang sekaligus orang kepercayaan Nenek Elizabeth. Kebetulan kepala pelayan tersebut mengenal sosok orang tua Zeno dan langsung melapor kepada Nenek Elizabeth.
"Ini adalah Albert dan Marina? Mengapa foto ini bisa berada di kamar salah satu bodyguard yang dibawa oleh tunangan, Key?" Nenek Elizabeth terheran.
"Saya juga tidak paham ... apa Tuan Kenan harus mengetahui hal ini?" tanya kepala pelayan tersebut.
"Tidak perlu! Siapkan tiket pesawat ke Indonesia untuk keberangkatanku besok," perintah Nenek Elizabeth.
.
.
.
***
Kediaman keluarga Wijaya, Jakarta.
Jessie terlihat sangat lelah karena perjalanan dari London ke Jakarta yang memakan waktu hampir seharian itu. Dia pun langsung bergegas menuju kamarnya untuk beristirahat.
Zeno dan Bambang pun tidak kalah lelah dengan Jessie. Mereka pun menuju ke kamar masing-masing untuk segera beristirahat.
Setelah baru sampai kamar, Zeno merebahkan tubuhnya ke kasur dan langsung memeriksa saku jasnya. Wajahnya terlihat kebingungan karena tidak menemukan apa yang dicarinya.
"Lah! Fotonya mana? Masa ketinggalan, sih!"
__ADS_1
Zeno tak habis pikir dan mengacak rambutnya kasar. Akhirnya dia mengingat kalau fotonya masih berada dibawah bantal di kamar yang ditempati olehnya sewaktu di London.
"Zeno, oon! Kenapa bisa ketinggalan?!"
Zeno pun langsung menyender frustasi dipinggir ranjang. Dia takut akan menjadi masalah jika foto tersebut bisa ditemukan oleh orang lain.
"Bisa-bisa gua ketangkep sebelum balas dendam! Hadeh! Oon tingkat dewa banget, dah!" gerutu Zeno menyalahkan dirinya sendiri.
.
.
.
***
Kantor Majalah Gosip "SokSip."
Seorang pria paruh baya sedang mondar-mandir sambil menggigit jari. Pria itu terlihat bingung karena saat ini para artis jarang membuat skandal. Mungkin saja para artis sudah tobat massal karena sebentar lagi kiamat.
Tiba-tiba ada seorang pria muda berperawakan kurus yang berusia sekitar dibawah 30an, datang menghampiri pria paruh baya -- yang merupakan pemilik kantor majalah gosip tersebut. Sebut saja dia pria kuker alias kurus kering.
"Kenapa bapak terlihat galau?" tanya pria kuker itu.
Pria pemilik kantor majalah gosip yang bernama Pak Gambreng (bukan nama sebenarnya, nama aslinya adalah Gani Maoreman Bryan England) pun terkejut.
"Bikin kaget aja lu ini!" protes Pak Gambreng.
Pria kuker itu hanya nyengir kuda.
"Saya ini lagi pusing! Kamu bawa kabar baik atau tidak? Kalau tidak mending kamu get out dari sini!" teriak Pak Gambreng yang masih memiliki darah Inggris itu.
Pak Gambreng pun penasaran dan mendekati pria kuker yang merupakan salah satu karyawan andalannya. Pria kuker itu mempunyai julukan Young Flash tapi dia bukan saudara kembar Young Lex.
Julukan Young Flash didapatkan olehnya karena dia masih muda dan secepat kilat. Dia merupakan salah satu paparazi yang berbakat karena di setiap gerak-geriknya dalam mencari berita dan foto-foto, tidak mampu terdeteksi oleh siapapun. Banyak fakta artis dan para pejabat yang terkuak olehnya.
"Jadi gosip apa yang kamu dapatkan?" tanya Pak Gambreng penasaran.
"Bapak tau tidak kalau sudah banyak rumor tersebar tentang putri tunggal keluarga Wijaya yang tajir melintir itu. Dia sebenarnya tidak menyukai tunangannya yang merupakan putra sulung keluarga Sanjaya. Dia malah menyukai bodyguard-nya!" jelas Young Flash dengan antusias.
Kita sebut saja dia Young Flash dari pada pria kuker, supaya lebih keren.
"Wow! Benarkah? Kamu dapat info dari mana?" tanya Pak Gambreng.
"Saya sudah mengikuti setiap gerak-gerik dari Nona Jessie selama ini. Setelah merasa yakin, saya baru memberitahu, bapak," jawab Young Flash.
Pak Gambreng mengangguk-anggukkan kepalanya. Dia tidak jadi galau karena apabila berita ini booming, kantor majalah gosip yang dikelola olehnya akan meraup keuntungan yang besar. Mengingat keluarga Wijaya dan keluarga Sanjaya merupakan dua keluarga yang memiliki pengaruh besar untuk perekonomian di Indonesia.
"Baik! Segera cari tahu fakta mengenai hubungan putri tunggal keluarga Wijaya itu dengan bodyguard-nya!" perintah Pak Gambreng.
Young Flash nyengir kuda dan sepertinya cengirannya itu menyiratkan sebuah arti yang tergolong dalam kategori ada maunya.
"Mau, apa?" tanya Pak Gambreng.
"Kamera saya sudah usang jadi beliin yang baru, dung," pinta Young Flash.
"Kamu mau kamera apa?" Pak Gambreng sok-sokan menawarkan kepada Young Flash.
"Saya mau Canon EOS RP, murah kok cuma 30 jutaan," ujar Young Flash santai.
__ADS_1
Pak Gambreng membelalakkan matanya. Dia tidak percaya kalau karyawannya itu tidak punya akhlak, meminta dibelikan kamera yang harganya mahal.
"Gundulmu! Jangan sembarangan! Udah sana pergi cari berita kalau tidak saya pecat kamu!" ancam Pak Gambreng.
Young Flash pun langsung kabur menuju lokasi eksekusi.
.
.
.
***
Kediaman keluarga Wijaya.
Dengan kelihaiannya, Young Flash menghindari setiap CCTV yang berada di kediaman keluarga Wijaya. Dia bergerak secepat kilat dan tidak dapat terdeteksi. Dengan cepat dia memanjat pagar tembok tinggi dan berguling di semak-semak.
Dengan berbekal kamera usangnya. Dia mengabadikan setiap momen yang menurutnya berharga.
"Muehehe ... sebentar lagi rumor ini akan terjawab dengan berita yang akurat," gumam Young Flash sembari merangkak di semak-semak.
Akhirnya Young Flash pun sampai di kediaman utama keluarga Wijaya. Dia melihat banyak bodyguard yang berjaga dengan menggunakan teropong.
Dengan gaya absurd-nya dia memfoto setiap gerak-gerik para bodyguard.
"Gua harus segera dapet foto kemesraan antara Nona Jessie dan salah satu bodyguard-nya itu," gumam Young Flash.
"Wah ternyata enak ya rebahan santuy disini?" celetuk Zeno yang ikut-ikutan tiduran di samping Young Flash.
"Iya enak disini adem," jawab Young Flash tidak sadar.
Young Flash pun menyadari keganjilan yang terjadi. Dia langsung menoleh kearah Zeno dan terkejut.
"Astaga! Siapa manusia ini?!" pekik Young Flash.
"Lo itu yang siapa? Ngapain lo foto-foto kegiatan kami?!" Zeno memandang Young Flash dengan sorot mata tajam.
Young Flash ingin kabur dengan menggunakan kemampuan secepat kilatnya. Namun ternyata Zeno lebih cepat dan menarik kerah leher Young Flash.
"Sini ikut gua!" Zeno menyeret Young Flash.
"Ampun, Om!"
Baru kali ini Young Flash tertangkap basah, padahal biasanya dia selalu tidak pernah ketahuan.
.
.
.
***
Next episode comming soon 😁👍
Young Flash (nama asli belum diketahui)
__ADS_1