Balas Dendam Bodyguard Kampungan

Balas Dendam Bodyguard Kampungan
Terbongkar


__ADS_3

Lima belas menit sebelum penembakan tuan Frans oleh Zeno.


Zeno sengaja mendatangi kamar tuan Frans seorang diri. Kebetulan saat itu, nyonya Nelly sedang tidak berada di dalam kamar karena dia sedang menemui temannya. Sebenarnya, itu adalah salah satu rencana tuan Kenan -- agar nyonya Nelly tidak melihat pembunuhan suaminya.


"Masuklah ... ada apa menemuiku? Ada masalah?" tanya Tuan Frans.


Zeno tidak menjawab, sehingga membuat tuan Frans menjadi bingung. Pria paruh baya itu memicingkan matanya dan merasa ada yang aneh dengan raut wajah Zeno.


"Apa Tuan kenal dengan tuan Alfred dan nyonya Marina?" tanya Zeno tiba-tiba.


Tuan Frans tersentak, pikirannya langsung tertuju kepada dua orang sahabatnya yang meninggal secara tidak wajar itu.


"Bagaimana bisa kau mengenal mereka?"


Zeno tersenyum samar, tapi tiba-tiba senyumannya menghilang dan raut wajahnya berubah muram.


"Perkenalkan ... saya adalah anak dari mereka dan saya masih hidup sampai sekarang," jawab Zeno.


Wajah tuan Frans berubah menjadi sumringah, percaya tidak percaya -- pria paruh baya itu merasa senang.


"Bagai--"


Dor!


Belum sempat tuan Frans menyelesaikan kalimatnya, Zeno sudah menembakkan peluru ke bagian dada sebelah kirinya.


Tuan Frans memegang dadanya yang telah tertembus peluru dan mulai kehilangan keseimbangannya. Dia pun terjatuh dan tergeletak dengan darah yang bersimbah.


"Nyawa harus dibayar nyawa. Anda sudah membunuh kedua orang tua saya dan merampas harta mereka!" geram Zeno.


Saat itu juga, Jessie datang dan melihat kejadian itu dengan mata kepalanya sendiri.


.


.


.


***


Jessie masih tidak percaya dengan apa yang dia lihat barusan. Dia berjalan merangkak menuju ayahnya yang sedang sekarat.


"Daddy ... Daddy gak apa-apa, kan?" tanya Jessie dengan suara terisak.


"Di--dia salah paham dengan Daddy, Nak ..." lirih Tuan Frans sambil melirik kearah Zeno.


Jessie tidak paham dengan maksud ayahnya, yang dia tahu kalau Zeno telah melukai ayahnya.


Zeno yang mendengar perkataan tuan Frans menjadi bingung. Apa maksudnya salah paham? Apa dia memang telah salah sasaran?


Pikiran Zeno kacau dan tak bisa berpikir jernih. Dia tak tahu harus berbuat apa.


Jessie yang begitu emosional segera meraih pistol yang dijatuhkan oleh Zeno ke lantai. Dengan berani, gadis itu mengacungkan senjata api itu kearah pria yang dia cintai.


"Nyawa harus dibayar nyawa, gitu kan, Zen?" tanya Jessie dengan mata berkaca-kaca. Tangannya gemetar, sehingga membuat pistol yang dia pegang ikut bergetar.


"Bunuh gua, Jes ... mungkin gua memang pantes mati," ucap Zeno. Matanya juga berkaca-kaca dan perasaannya kacau balau.

__ADS_1


"Maafin gua, Jes ... tapi gua terpaksa. Sebelum lo bunuh gua, gua cuma mau bilang sesuatu. Gua cinta sama lo, Jes."


Jessie menangis, pernyataan cinta yang dia dengar sungguh menjadi sebuah ironi. Entah harus bahagia atau bersedih. Dia tetap menarik pelatuk pistol dan menembakkannya ke Zeno.


Dor!


Peluru menghujam dada sebelah kanan Zeno. Pria tampan itu meluruh ke bawah dengan mengandalkan lutut sebagai tumpuannya. Air matanya mengalir begitu deras, sesak dadanya begitu hebat. Rasa sakit hatinya melebihi rasa sakit tubuhnya yang tertembus peluru.


Jessie yang merasa sangat frustasi melemparkan pistol itu jauh-jauh kearah pintu keluar yang masih terbuka lebar. Dia tak kuasa menahan rasa sedihnya.


Tiba-tiba terdengar suara tepukan tangan yang meriah dari dua orang pria. Ternyata itu adalah tuan Kenan dan Key.


"Hebat! Hebat! Menantuku memang hebat! Kamu mempermudahku untuk membunuh cecunguk ini," ujar Tuan Kenan sambil menatap kearah Zeno.


"Istriku memang hebat, Yah!" sahut Key sambil tersenyum.


Zeno dan Jessie seketika bingung dan tak mengerti dengan ucapan tuan Kenan.


"Om ... apa maksudnya semua ini?" tanya Zeno. Dia menekan dadanya agar darah yang mengalir tidak terlalu banyak.


"Kau mau tahu? Ha-ha-ha!" jawab Tuan Kenan.


"Kenapa om mau membunuhku?"


"Ternyata dendam sudah membutakan hatimu, ya? Kau jadi bodoh dan gampang diperalat," seringai Tuan Kenan.


Zeno menautkan kedua alisnya, dia tak mengerti apa maksudnya.


"Pembunuh ayah dan ibumu yang sebenarnya itu aku bukan Frans, ha-ha-ha! Aku ingin membunuhmu karena memang seharusnya kau mati," tandas Tuan Kenan.


"Kenan! Kau brengsek!" pekik Tuan Frans dengan sisa tenaganya.


Key menarik paksa Jessie menjauh dari situ, Jessie mencoba berontak tapi Key menamparnya dengan keras.


Dengan sisa tenaganya, Zeno berusaha bangkit dan menarik Jessie dari Key. Namun nahas, tuan Kenan menembaki tubuhnya hingga beberapa kali -- hingga membuat Zeno jatuh tak berdaya.


Pandangannya mulai gelap, dia pasrah. Apakah hari itu memang hari kematiannya?


Samar-samar dia mendengar suara Jessie meneriakkan namanya sambil terisak, dia juga melihat wajah gadis itu menangisinya dengan kencang.


Kini pandangannya sepenuhnya gelap dan dia tidak mendengar apapun lagi.


.


.


.


***


Satu bulan setelah kejadian berdarah.


Singapore General Hospital, Singapura.


Seorang pria muda terbaring di sebuah ruangan ICU, lengkap dengan alat-alat medis yang terpasang ditubuhnya. Dia adalah Zeno. Setelah kejadian itu, beruntung nyawanya masih bisa di selamatkan.


Sudah satu bulan, Zeno terbaring koma. Berjuang diantara hidup dan mati. Peluru yang bersarang di tubuhnya terlalu banyak dan dia kehilangan banyak darah. Suatu keajaiban dia masih bernapas sampai saat ini.

__ADS_1


"Kek ... Zeno belum sadar?" tanya Bambang. Dia baru saja datang untuk mengecek keadaan sahabatnya itu.


Kakek Wiro hanya menggeleng pelan dengan wajah sendu.


"Kalo tau bakal gini kejadiannya, aku gak bakal ngijinin Zeno balas dendam," sesal Kakek Wiro.


"Jangan gitu, Kek ... mungkin ini memang jalan hidupnya Zeno," Bambang mencoba menenangkan kakek Wiro.


Kyla yang datang bersama Bambang, merasa sedih melihat kondisi kakak sepupunya masih belum ada perubahan berarti.


"Kalo Zeno gak sadar-sadar gimana, Bang?"


"Hush! Jangan bilang gitu, Zeno orang kuat, pasti dia bakalan sadar secepatnya," Bambang sangat yakin dengan ucapannya.


"Kita panggil Jessie kesini aja, Bang ... tapi hubungan gua jadi kurang baik karena kasus ayah gua dan kak Key," Kyla menghela napasnya panjang.


"Kita coba aja, tapi Jessie sekarang lagi di Amerika, kan? Tuan Frans lagi dirawat intensif di sana," ujar Bambang.


Kyla mengangguk mengiyakan.


"Besok gua pulang duluan ke Indonesia, mau nengok kak Key. Mudah-mudahan keadaan dia udah lebih baik dan bener-bener nyesel," ucap Kyla.


"Maaf ... gua gak sengaja buat ayah lo me--" ucapan Bambang terhenti karena Kyla meletakkan telunjuknya di bibirnya.


"Meninggal itu berarti sudah ajalnya ayah, lagipula lo cuma bela diri dan menegakkan kebenaran. Gua udah ikhlas, Bang," tanggap Kyla sambil mengulas senyuman.


Bambang langsung memeluk Kyla erat.


"Emang gak ada akhlak, peluk-pelukan didepan orang tua dan orang koma," celetuk Kakek Wiro.


Bambang dan Kyla hanya menanggapi perkataan kakek Wiro dengan senyuman.


Apakah Zeno akan segera sadar?


Apakah Zeno dan Jessie bisa bersatu kembali?


.


.


.


***


Next episode comming soon 😁👍


Mohon bersabar ya ... sebentar lagi tamat 🤭🤭


Zeno



Jessie



Key

__ADS_1



__ADS_2