
Hai ... hai ... maaf ya hari Kamis kemarin gak up 😁 ... karena hari Jum'at lebaran Idul Adha jadi author sibuk mempersiapkan untuk lebaran dan gak sempat menuangkan kehaluan hihi...
Selamat hari raya Idul Adha 1441 H bagi yang merayakan 🥰
Happy Reading 😁👍
***
Young Flash, Pak Mahmud, dan Bu Markonah masih kaget atas pertanyaan dari Depe. Terutama kedua orang tua Depe, mereka tidak habis pikir mengapa putri semata wayang yang mereka bangga-banggakan bisa minta kawin dengan orang yang baru dilihatnya.
"Dasar kamu! Mau jadi apa kalo dikit-dikit minta kawin sama orang yang ganteng?" pekik Pak Mahmud.
Ternyata, usut punya usut -- Depe sering kali minta kawin dengan orang-orang ganteng yang pernah dilihatnya. Namun, kali ini berbeda karena Depe sudah jatuh cinta dengan kelincahan Young Flash.
"Aku serius Pap ... lagian cowok ini tiba-tiba ada di kamar aku, jadi aku kira dia adalah sosok pangeran yang akan dijodohkan denganku," kilah Depe.
Pak Mahmud menghela napasnya panjang, Bu Markonah mengelus dada, dan Young Flash garuk-garuk kepala karena gagal paham.
"Eh kamu! Turun dari situ jangan kayak monyet," perintah Pak Mahmud kepada Young Flash.
Tanpa menjawab, Young Flash langsung turun dengan gaya lincah maksimalnya. Dia mendarat sempurna dilantai dengan gaya jongkok mirip katak. Melihat hal itu, Depa jadi makin kagum.
***
Pak Mahmud akhirnya menjelaskan semuanya kepada Depe dan Young Flash yang baru sadar itu. Setelah mendengar penjelasan darinya, mereka berdua akhirnya paham.
"Bapak menemukan kamera saya, gak?" tanya Young Flash panik.
"Tidak ada apa-apa, saya cuma nemuin kamu doang," jawab Pak Mahmud.
Young Flash terlihat frustasi, hasil kerja kerasnya hilang begitu saja. Padahal, sebentar lagi jagat bumi pertiwi akan heboh karena berita yang didapatkan olehnya.
"Terima kasih atas penyelamatan terhadap saya, Pak! Saya harus buru-buru untuk melanjutkan misi saya. Lain kali, saya akan membalas budi," ujar Young Flash sembari berdiri dan membungkukkan badannya.
Ucapan Young Flash direspon dengan anggukan oleh Pak Mahmud.
Young Flash terburu-buru dan hendak keluar dari rumah itu. Namun, Depe menarik lengan Young Flash sehingga membuat pria lincah itu menghentikan langkahnya.
"Ada apa?" tanya Young Flash sembari menoleh dan menautkan kedua alisnya.
"Nama? Nama kamu siapa?" Depe terlihat malu-malu saat menanyakan itu. Wajahnya merona merah bak tomat matang.
"Sebut saja Young Flash. Oke! Selamat tinggal nona manis," jawab Young Flash sembari mengedipkan sebelah matanya kepada Depe.
Dengan terburu-buru dan pastinya lincah, Young Flash pergi dari rumah itu. Depe masih mematung karena kagum dengan sosok pria yang baru dikenalnya itu.
"Tadi bulunya kelihatan dikit," gumam Depe.
Bu Markonah langsung istighfar mendengar gumaman anak gadisnya itu.
"Bulu apa?" tanya Bu Markonah.
"Bulu ketek, Mam...." jawab Depe sembari berjalan pelan ke kamarnya.
Bu Markonah dan Pak Mahmud saling menatap, mereka berdua seraya berpikir -- apa spesialnya bulu ketek bagi anaknya itu.
.
.
.
__ADS_1
***
Semalaman, Zeno tidak dapat menemukan Bang Ismed. Padahal dia sudah mencari pria lucu itu ke segala penjuru. Bahkan Bambang yang baru bertemu dengannya tadi malam, juga tidak tahu kemana perginya Bang Ismed.
"Haish! Ke mana lagi itu orang?" keluh Zeno yang frustasi karena tak kunjung menemukan Bang Ismed, padahal hari sudah pagi dan bahkan mereka sudah apel pagi.
"Ngapain nyariin Bang Ismed?" tanya Bambang penasaran.
"Mau buat perhitungan," jawab Zeno singkat.
Bambang mengeryitkan dahinya karena dia bingung untuk apa Zeno ingin membuat perhitungan dengan Bang Ismed. Tiba-tiba Bambang tersadar akan luka di daun telinga kiri Zeno.
"Kuping lu kenapa, Zen?" tanya Bambang.
"Kena tembak ... lagian masa dari tadi baru sadar kuping gua luka?" protes Zeno.
"Ye ... jangan salahin gua lah! Salahin aja authornya baru nyadarin gua sekarang," elak Bambang.
"Emang authornya aneh ... semalem Non Jessie aja gak sadar kuping gua luka," ucap Zeno keceplosan. Dia langsung tersadar dan menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
"M-maksudnya itu...." ucapan Zeno terhenti karena Bambang menepuk pundak Zeno dan berkata sesuatu.
"Gua udah tau dan liat sendiri," tanggap Bambang sembari mengerlingkan matanya.
"Ssttt ... jangan bilang siapa-siapa," pinta Zeno dengan berbisik ditelinga Bambang.
Bambang merasa terganggu karena hembusan napas hangat Zeno membelai telinganya. Pikiran Bambang menjadi irasional akibat kejombloan yang sudah mendarah daging.
"Jangan deket-deket! Gua masih normal!" pekik Bambang sambil mendorong Zeno menjauh.
"Ye! Gua juga masih normal!" protes Zeno.
"Terus kuping lu, kenapa bisa kena tembak? Seharian kemaren lo ke mana aja?" selidik Bambang.
"Kemaren gua sengaja keluar buat beli hape baru buat kakek gua ... eh terus gua dihadang oleh preman yang bersenjata api dan mereka mau hape baru yang gua bawa, kira-kira ada tiga puluh orang," jelas Zeno.
"Buset! Banyak amat tiga puluh?!" pekik Bambang tak percaya.
"Terus kebetulan kejadiannya di dekat jembatan yang bawahnya ada sungai jadi hapenya malah kecemplung dan mereka kesel, akhirnya kuping gua ditembak," tambah Zeno lagi.
Bambang gagal paham dengan penjelasan Zeno. Jangankan Bambang, author yang nulis saja gagal paham. Apa sebenarnya faedah dari penjelasan Zeno barusan.
"Haish! Sudahlah ... yang penting lu udah ada di sini," tanggap Bambang.
***
Sedang asyik mengobrol, tiba-tiba Jessie menghampiri mereka berdua.
"Kalian berdua ... anterin gua kuliah!" perintah Jessie.
Bambang yang mengetahui ada udang dibalik capcay pun terkekeh melihat Jessie yang sok galak itu. Padahal sudah jelas kalau Jessie sangat menyukai Zeno.
"Kenapa lo bertampang aneh kayak gitu?!" tanya Jessie kepada Bambang dengan nada tinggi.
"Maaf Non! Saya lagi senang karena baru menang lotre," jawab Bambang asal.
"Ck! Sudah buruan kalian ganti baju ... gua gak mau kalian berpakaian kayak bodyguard," perintah Jessie.
"Yang bener, Non?" Bambang seakan tak percaya.
Jessie hanya menganggukkan kepalanya. Dia mengibaskan tangannya kepada Zeno dan Bambang agar cepat berganti pakaian.
__ADS_1
Bambang merasa bahagia. Selama menjadi bodyguard, dia tidak pernah memakai lagi baju fashionable yang dia koleksi.
"Zen! Lu punya baju gaya kagak?" tanya Bambang.
"Ada," jawab Zeno sembari mengingat banyak baju yang dibelikan oleh Jessie tempo hari.
Bambang menatap Zeno curiga, dia tersenyum dengan maksud terselubung.
***
Setelah sekitar tiga puluh menit, Zeno dan Bambang sudah berganti pakaian. Mereka berdua pun langsung menghampiri Jessie yang sedang menunggu di depan mobil SUV mewah bermerek Rolls-Royce Cullinan Black, yang harganya saja bikin mata melotot dan jantung mau lepas dari tempatnya. Karena harganya saja mencapai 5,8 miliar rupiah.
Jessie terperangah melihat ketampanan dua bodyguard-nya yang bertransformasi menjadi orang biasa tanpa menggunakan jas bodyguard. Sebenarnya, lebih tepatnya luar biasa karena mereka berdua tampan maksimal. Apalagi Zeno, pastinya telah membuatnya klepek-klepek.
"Kalian berdua duduk di kursi depan!" perintah Jessie.
"Baik, Non!" sahut Zeno dan Bambang kompak.
***
Sepanjang perjalanan, Jessie hanya diam tak bersuara. Zeno dan Bambang merasa curiga karena majikannya yang cantik itu tidak bersuara sama sekali.
"Non Jessie tidak ap-," ucapan Zeno terjeda karena melihat Jessie yang telah pingsan di kursi belakang.
"Bang! Gawat! Non Jessie semaput!" pekik Zeno.
Bambang yang sedang fokus menyetir pun langsung meminggirkan mobil ke bahu jalan.
Mereka berdua kebingungan dan mencoba menyadarkan Jessie yang pingsan.
"Non! Bangun Non!" panggil Zeno sembari menepuk-nepuk pipi Jessie pelan.
Bambang terlihat panik dan menelpon pihak rumah sakit.
Mata Jessie terbuka perlahan. Kejadian ini mirip dengan kejadian waktu Jessie melihat perut sixpack milik Zeno dan Key di tempat gym.
Apa mungkin Non Jessie gak sanggup melihat ketampanan gua dan Bambang? batin Zeno.
Pikiran Zeno jadi buyar seketika ketika mendengar pengakuan Jessie yang tidak terpikirkan sama sekali olehnya.
"G-gua laper," lirih Jessie.
"Lah?" Zeno terheran karena Jessie pingsan hanya karena lapar.
Ternyata Jessie pingsan karena tidak sarapan dan cukup lama berdiri menunggu mereka berganti pakaian di bawah panas terik. Kenapa juga tidak menunggu di dalam mobil? Lagi pula ganti pakaian saja lama, dasar bodyguard tak berakhlak.
.
.
.
***
Next episode comming soon 😁👍
Zeno
__ADS_1
Bambang